Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Menyadarkan Doni


__ADS_3

***


"Don ! Lu sadar Don ! Yang lu lakuin itu salah Don !" ucap Rifki.


"Demi Mayang"


"Yang sudah berurusan dengan Kanaya, tidak bisa kembali lagi kecuali iman mereka kuat Don !"


"Lu pikir iman gue tipis ?"


"Kalau iman lu ga tipis lu ga mungkin mau nurut sama iblis !"


Doni langsung menarik kerah bajunya Rifki dengan penuh emosi.


"Ngomong apa lu !"


 Rifki langsung mendorong mukanya Doni. Doni pun terdorong ke belakang.


"Kurang ajar !"


"Lu duluan yang mulai"


Ia segera menendang Rifki dan Rifki mencoba terus menghalau. Hingga tendangan ke dua Rifki pun masih sanggup mengahalaunya, sampai...


PAAAKKKKK


"Agghh !"


Tulang pipi Rifki sedikit berdarah akibat tendangan dari Doni. Doni pun sedikit tersenyum.


"Gue bakal buktiin kalau gue bisa nyelamatin Mayang dari Kanaya tanpa harus gue jadi budaknya"


"(Tersenyum tipis) cuih ! Mustahil Don ! Mustahil..."


"Elu ngremehin gue ?"


SRIIIINGGG


Tiba-tiba muncul beberapa pisau dari tangan Doni. Rifki melirik ke pisau-pisau itu lalu tersenyum lagi.


"Senjata lu bukan itu ? Itu punya Kanaya Don"


"Ga peduli"


"Lu pakai senjata lu sendiri ! Jangan pakai senjata itu !! Itu bukan punya lu"


"Brisiiikkkk !!!


"Sejak kapan lu ikut Kanaya ??"


"Sejak semua rencana gue berantakan !!"


"Lu ga punya gue emang ?? Hah !! Ga punya gue lu ??!! Ga harus ke Kanaya Don ! Dia lawan kita, kenapa lu malah gabung sama dia ? Don sadar Don !!"


Doni tak mempedulikan ucapan Rifki. Ia pun memainkan pisau-pisau itu sambil mendekat ke arah Rifki. Ia mencoba menikamkan pisau itu ke perutnya Rifki.

__ADS_1


"Agghh !"


Rifki mencoba memukul lehernya Doni meskipun pisau itu sudah melukainya.


BLAAKKKK


Doni tersungkur sedikit, ia pun maju lagi dan mencoba menikam kembali. Kali ini Rifki langsung menangkisnya dan mengunci tangan Doni di ketiaknya kemudian menariknya kebelakang dengan sedikit mematahkan bagian sikunya.


"Aaaaaggggrrrrhhh !!!"


Pisau itu pun terjatuh bersamaan dengan jatuhnya lutut Doni ke tanah.


"Mana Doni yang terkenal kuat ?? Hah ? mana ??!" ucap Rifki.


Doni masih nyengir kesakitan sambil menatap Rifki penuh dendam.


"Lu bisa ngalahin gue, asalkan lu pakai senjata lu sendiri, lu kan tau, gue Ama lu, lebih hebat lu !"


***


Bu Asiyah yang melihat gerak gerik pak Cahya mulai curiga. Setelah acara selesai dan para tamu undangan pulang Bu Asiyah yang masih di teman oleh pak Cahya dan pak Amin beserta istrinya pun mulai membuka pembicaraan.


"Mohon maaf pak, boleh saya tau mengenai hal yang tadi membuat bapak sampai kaget begitu kagetnya dan berlari meninggalkan tempat duduk bapak" tanya Bu Asiyah dengan lembutnya.


Pak Cahya menoleh ke istrinya, lalu menoleh lagi ke pak Amin.


"Siapa tau tebakan saya benar pak" ucap Bu Asiyah lagi.


"Tebakan ??"


"emmm... Sebelumnya saya minta maaf mbakyu (diam sejenak, lalu menatap ke pak Amin)"


"Ga apa-apa pak, silahkan cerita"


"Ah, mungkin saya kecapean saja mbakyu dan mungkin juga cuma salah lihat"


"Apa yang pak Cahya lihat ?"


"Emmm... Anu..."


"Rombongan makhluk halus ???" ucap Bu Asiyah.


DEGGG


Pak Cahya kaget mendengar kalimat Bu Asiyah.


"Mbakyu tau itu ??"


"(Menarik nafas) dulu sering muncul di sini, kemudian saat Zizi pindah sekolah, lama tak muncul. Muncul lagi saat saya sering bermimpi aneh tentang Zizi."


"emmm... Menurut mbakyu mereka baik atau tidak ??"


"Saya rasa mereka baik pak"


"Baik ???"

__ADS_1


"Saya sering melihatnya di kamar Zizi, terkadang walaupun anaknya tidak di rumah, kamarnya selalu terdengar sangat berisik"


"Jadi, apa itu penghuni rumah ini pak ?" tanya istrinya pak Cahya.


"Saya rasa bukan ya mbakyu ? benarkan ?" kata pak Amin.


"Apa itu khodamnya Zizi mbakyu ??" celetuk mbak Mira istrinya pak Amin.


"Saya justru tidak tau soal khodamnya selama ini, sampai pada saat waktu itu saya mimpi hal yang sama berulang kali, saya ceritakan ke suami ternyata ia pun bermimpi yang sama juga. Ia izin pergi keluar untuk menengkan diri katanya, tanpa ia sadari saya mengikutinya perlahan. Tak lama ia berbicara dengan sesosok harimau putih yang kemudian berubah menjadi lelaki tampan". Jelas Bu Asiyah.


"Lalu bagaimana mbakyu ?" tanya pak Cahya penasaran.


"Lelaki itu berkata sudah tak bisa lagi menjaga Zizi, ternyata harimau putih itu adalah cara suami saya menjaga anak saya yang jauh di sana, namun ternyata itu belum cukup, di sana ada lawan yang lebih kuat. Dari situ saya memahami khodam". Jawab Bu Asiyah.


"Sejak kecil memangnya Zizi tidak ada tanda-tanda kalau dia punya khodam mbakyu ?" tanya pak Cahya.


"Seingat saya, dia hanya mempunyai kebiasaan yang sama seperti ayahnya, ia tau akan ada yang meninggal dunia di hari itu atau satu Minggu sebelumnya" kata Bu Asiyah.


"Apa ia Merasa menggigil ?" tanya pak Amin.


"Tidak, dia hanya bertanya di daerah sini siapa yang sedang sakit ?? Lalu setelah saya jawab si A atau si B, ia bilang katanya akhir-akhir ini dia jadi sering mengantuk dan tak dapat menahannya, semoga Husnul khatimah, begitu katanya. Sama seperti ayahnya, ia bisa merasakan itu dan banyak bicara, kalau ayahnya pasti langsung menghampiri orang yang hendak meninggal itu dan langsung minta izin agar di izinkan untuk mengaji dan menjaga orang tersebut" ucap Bu Asiyah.


"Waah, bener banget, Slamet sering banget kayak gitu, ga peduli sejahat apa orang yang mau meninggal itu padanya, tapi ia tetap baik ketika si orang ini sudah mendekati ajalnya." kata pak Cahya.


"Maaf mbakyu, tadi mbakyu bilang mas Slamet punya khodam harimau putih ??" tanya mbak Win istrinya pak Cahya.


"Iya mbak Win, sepertinya begitu" jawab Bu Asiyah.


"Bukankah harimau putih itu khodam milik pak Lukman, kakek dari ayahnya mas Slamet ??" tanya mbak Win.


"Nah, betul mbakyu, yang saya dengar begitu dulu" ucap pak Cahya.


"Berarti seharusnya Zilvana juga punya khodam dari leluhur mbakyu kalau silsilahnya benar begitu" ucap mbak Win.


"Mungkin punya, ingat ga mbakyu saat Zizi SD, waktu ada kesurupan masal kelas 6 ? Semua anak perempuan kesurupan, cuma Zizi yang ga kesurupan, bisa jadi itu karena Zizi punya khodam dan khodam itu melindunginya" tutur mbak Mira.


Semua terdiam dan suasana menjadi sunyi senyap.


"Jadi, maksud dari mbakyu mengadakan acara ini untuk memulangkan Zizi dan mas Slamet atau ingin membantu proses mereka ??" tanya mbak Mira menghidupkan kembali suasana.


"Saya harap mereka bisa secepatnya pulang" jawab Bu Asiyah.


"Ubah niatnya mbakyu" cegah pak Amin.


Semua mengarah pada pak Amin.


"Kenapa ???"


"Karena bila masalah ini belum selesai dan Zizi ataupun Slamet pulang terlebih dahulu, kejadian seperti ini akan terjadi lagi, akan terulang lagi, jadi... Biarin mereka menyelesaikan masalah ini dulu, sementara kita bantu dengan do'a" jawab pak Amin.


"Mau sampai kapan ? Ini aja sudah satu Minggu lebih mereka belum pulang"


"Maka dari itu, kita bantu lewat do'a, minta bantuan sama sang maha pencipta, agar secepatnya memberikan jalan keluar untuk Zizi dan Slamet"


"Apa ga bahaya ya pak ? Mereka terlalu lama di sana ??"

__ADS_1


__ADS_2