Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Apa gue mau mati ?


__ADS_3

***


Terlihat Mega menghampiri Zidan di teras IPS. Zidan kaget saat melihat kedatangan Mega.


"Kenapa kaget begitu ??" tanya Mega.


Zidan celingukan ke arah belakang Mega.


"Nyari siapa ??" tanya Mega.


"Kamu ke sini sendirian ?" tanya Zidan.


"Menurut lu ??"


"Dimana kanda pat itu ??"


"Gua simpan di dompet"


"Haha, becanda kamu ini"


Mega terdiam.


"Kamu ada masalah apa sama kanda pat ?"


"Kenapa emangnya ??"


"Gelap banget penerawangan aku tentang masa depanmu" ucap Zidan dalam hati.


Ia tak berani mengungkapkannya karena takut kalau Mega malah ketakutan.


"Mereka pergi dan meninggalkan gue tiga tanda garis warna biru di bahu kiri gue"


"Apa kata mereka ?"


"Mereka akan datang lagi untuk menjemput gue"


Zidan tepuk jidat.


"Pantesan gelap"


"Apanya yang gelap ?"


"Ga apa-apa ko, hehe"


"Gue mau mati ya ?"


Zidan menoleh ke arah Mega. Ia menatapnya seolah-olah merasa bersalah karena telah mengajarkan cara untuk bisa memanggil kanda pat.


"Maaf ya Mega ?"


Mega tertunduk lesu. Matanya berkaca-kaca.


***


"Gini aja intinya, kita tuh harus kompak dalam menghadapi Kanaya, kita kan udah tau gimana Kanaya, sifatnya juga dan jurus-jurus ampuhnya" ujar Rifki.


"Gue yang awalnya mau merebut khodam dari Zizi sekarang malah satu kelompok sama dia buat nuntasin Kanaya." ucap Doni dalam hati.


"Gue harap kita bisa kompak ya ? Kali ini Kanaya pasti lebih dasyat lagi. Dia come back untuk kesekian kalinya dan baru kemarin ia merasa di kalahkan. Jadi...."


"Jadi gimana ?? Gue udah kangen banget ini sama ayang gue Kiiii ???"


PLAK !!


Sebuah buku melayang di kepala Doni.


"Bisa serius ga sih Don !!"


"Haduuuuuuh !!! Sakit Kiiiii"


"Tau ah !!"


Rifki pun pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Ki ! Mau kemana ?? Kan belum selesai ??"


Rifki tak mempedulikannya. Ia terus saja pergi dan tak menoleh ke belakang sama sekali. Di tengah perjalanan ia tak sengaja menabrak Mega.


"Sorry sorry !"


Rifki kaget karena yang ia lihat di diri Mega semuanya berubah jadi gelap.


"Lu baik-baik aja Mega ?"


Mega tak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan Rifki.


"Kenapa tuh anak ? adang beras adang ketan, kadang waras kadang edan, haduuuh"


Rifki melanjutkan perjalanannya menuju kelas.


"Ehh ! Tadi kan gue lagi marah sama Doni ya ? Huuh ! Ngeselin emang dia tuh ! Ntar kalau Kanaya tiba-tiba muncul tau rasa lu Don"


***


"Zi, nanti malam ada acara ga ?" tanya Sofia.


"Jam berapa ?"


"8"


"Ga ada kayaknya"


"Heru ngajakin kita makan malam. Katanya sebagai tanda permintaan maafnya ke elu. Gimana ?"


"Sama elu kan ?"


"Iya sama gue"


"Ok deh, nanti kasih tau aja alamatnya"


"Uhh. Makasih ya Zi, elu baik bangeett"


***


"Tapi ko perasaan gue ga enak gini ya ?" ucap Zizi di dalam kamarnya sambil mondar mandir.


Sedangkan Diandra masih asyik terlihat bermain sendiri dengan bonekanya.


"Bismillah saja deh"


Tak lama Sofia pun datang menjemput Zizi. Mereka pun pergi menuju lokasi yang sudah di tentukan.


Sesampainya di sana Heru sudah menyiapkan semuanya dan menyambut mereka dengan manis.


"Alhamdulillah, akhirnya datang juga, silakan duduk" ucap Heru.


Zizi masih ragu terhadap Heru tapi Sofia mencoba meyakinkannya. Entah mengapa suasana cafe di sana agak sepi pengunjung dan jalanan pun nggak rame.


Mereka sedikit becanda dan bergurau. Tiba-tiba perut Sofia mulai mules.


"Aduuh, kok perut gue mules ya ?"


" Kan udah gue bilangin, jangan banyak makan sambal" kata Heru.


"Nggak ko, sambalnya cuma dikit doang"


Lalu Sofia pun berpamitan ke toilet. Sedangkan di sana Zizi nampak sangat canggung dan takut.


"Gimana di sekolah tadi ? Seru ?" tanya Heru mencoba mencairkan suasana.


Zizi hanya menganggukkan kepala. Ia hanya berharap Sofia bisa segera kembali. Zizi mengambil minuman dan mulai meminumnya. Tiba-tiba kepalanya terasa berat dan mulai mengantuk.


"Are you ok ?"


Zizi mencoba terus untuk tetap bugar. Walaupun kepalanya makin terasa sakit. Ia tersenyum pada Heru.


"Makanannya ga enak ya ?" tanya Heru.

__ADS_1


Zizi menoleh ke arah Heru. Ia tau bahwa Heru telah memasukkan sesuatu di dalam makanan atau pun minuman itu.


"Gue ga boleh sampai ketiduran ! ga boleh ga boleh ga boleh !! Sooofff, buruan kemari" ucap Zizi dalam hati sambil terus menahan rasa kantuknya.


"Mau gue antar ke mobil ? Kayaknya lu ngantuk ??"


Zizi udah nggak fokus dengan pertanyaan Heru. Ia hanya berusaha untuk tetap menjaga matanya saja.


"Kuat kuat kuat !! Ayolah Zizi, lu bisa. Aduuuuh, gimana ini ?? Bisa dong !" ucap Zizi dalam hati.


Heru tersenyum tipis sambil memasukkan makanannya ke dalam mulutnya.


"Mungkin ini saatnya gue latihan mengendalikan khodam. Gimana cara memanggil khodam ?? Emmmm.... Oh khodam datanglah... Ahh ! Payah !! Bukan gitu... Ahh ko malah jouska (berdialog dengan diri sendiri di otak)" ucap Zizi dalam hati.


"Zizi ?? Lu baik-baik aja ??" tanya Heru.


"Iya kak"


"Sofia masih berada di toilet, ini dia nge-chat kakak, gimana kalau kita nunggu dia di mobil aja ?"


Zizi udah ngantuk berat, ia pun mencoba menjawab seadanya pada Heru.


"Iya"


"Ya udah, sini gue bantu berdiri" kata Heru sambil mendekat ke arah Zizi.


Zizi bangkit dan menyingkirkan tangan Heru.


"Gue bisa jalan sendiri" ucap Zizi.


"Kuat bener nih anak" kata Heru dalam hati.


Sampailah mereka di dalam mobil. Zizi udah bener-bener ga kuat nahan kantuknya lagi. Ia pun merem-merem dikit. Heru langsung mencoba mengambil kesempatan ini untuk mencium Zizi.


PLAAAKK !!


Pipi kanan Heru kena tamparan dari Zizi. Kini Heru mulai melawan Zizi dan Zizi mulai kewalahan menangkis serangan Heru karena obat tidurnya makin bereaksi.


"Jangan macam-macam lu ya ?"


Zizi mencoba mencari sesuatu untuk bisa membela diri. Namun ia tak mendapatkan apapun di sana. Kancing bajunya mulai di buka satu persatu oleh Heru. Keringat mulai membasahi badan Zizi yang tegang. Zizi mencoba mendorong Heru sekuat tenaga.


"Baj*ng*n lu !! " teriak Zizi.


Heru langsung membungkam mulut Zizi dan alhasil Zizi pun tergeletak. Heru segera menancap gas dan pergi dari sana.


Ia mencari lokasi sepi untuk mengeksekusi Zizi. Setelah mendapatkan lokasi ia segera memindahkan Zizi ke kursi belakang.


PRAAANGGG


Suara botol pecah menghiasi kepala Heru. Zizi masih memegang sisa botol yang kini telah runcing akibat pecah.


"Berani kau macam-macam ??" tanya Zizi sembari bangun dari kursi dan mencoba keluar sambil mengancam Heru menggunakan botol itu.


"Wuiiih sayaang, sabar dong. Kuat juga kau ini ya ternyata. Tidur aja cantiiik"


"(Menarik nafas) gue ga akan ngebiarin lu ngerusak masa depan gue anjiir !!"


"Hahahaha"


Heru segera membalikkan keadaan. Runcing botol itu kini mengarah ke arah Zizi. Tangan Zizi di putar paksa oleh Heru.


"Mana khodam lu ?? Yang katanya selalu ada buat lu ? Mana !!" teriak Heru sambil terus mengancam Zizi.


Jantung Zizi mulai berdegup.


"Gue emang payah !! Gue punya dua khodam tapi sama sekali ga bisa gue kendaliin. Ga bisa panggil di saat genting." ucap Zizi dalam hati.


DUUUAAKKK !!


Heru terpental jatuh saat seseorang menendangnya. Ia adalah pria yang pernah hadir saat Zizi kerasukan di sekolah. Yang mengulurkan tangannya agar Zizi bisa kembali sadar.


"Tak perlu belajar untuk mengendalikan khodam, mereka akan datang membantu saat kau tak sanggup lagi membela diri, bukan membiarkanmu terluka parah terlebih dahulu, tapi mereka tau kemampuanmu, mereka tau kau sanggup dan mampu" ucap pria yang mirip sekali dengan Alwi Assegaf.

__ADS_1


__ADS_2