
Setelah mendengar kalimat Santi, anak-anak yang lain pun bergegas turun. Tapi Santi sudah menyerang sosok itu bertubi-tubi.
"Argh ! Mampus kau !!"
"Santi hentikan !" teriak salah satu dari mereka.
Yang Santi dengar kalimat itu terucap dari mulut sosok itu, bukan dari temannya.
"Jangan harap gue bakal mengampuni dan kasihan padamu !"
Anak-anak itu berlari menuju Santi dan mencoba menarik pisau itu dari tangannya. Santi pun heran, karena kayu itu terasa sangat berat dan ingin melepaskan diri dari tangan Santi.
"Hah"
Tapi Santi tetap mencoba memegang erat kayu itu. Mencoba menghajar kembali sosok itu dengan kayunya. Namun kali ini, tubuhnya seperti ada yang menarik-narik.
"Aaaaaargh !!!" teriak Santi.
Dan itu cukup membuat anak-anak di sana terdiam sejenak dan melepaskan diri dari Santi. Setelah di rasa ringan badannya ia kembali mendekati sosok yang sudah melemah akibat pukul dari Santi. Ia masih terkapar di lantai.
Anak-anak di sana masih terus saja mencoba menghentikan Santi. Kali ini Santi pun ditarik ke belakang dan anak-anak itu pun terjatuh akibat lepasnya kendali Santi.
"Agrh ! Sial"
Sosok itu pun mulai berdiri. Santi segera bangkit dan bersiap melawannya. Kali ini sosok itu mencoba menghindari serangan Santi dengan cara melarikan diri.
"Jangan lari kau !! Dasar pengec*t !"
Ketika Santi hendak mengejar tiba-tiba tangan Santi di tarik. Tapi dalam ilusinya lengan bajunya tersangkut ranting pohon.
"Hufh !" ucapnya sambil menoleh ke lengan bajunya.
Santi mulai menarik paksa lengan baju itu, namun masih belum bisa lepas. Ia melihat sosok itu sudah tak ada di hadapannya lagi.
"Sial, kemana tuh makhluk"
Ia segera mengambil kayu dan memangkas ranting itu.
AAAAAAAAAA
Salah satu anak di sana menjerit sekuat-kuatnya karena jari-jarinya di pukul-pukul pakai pisau.
Santi mendengar teriakkan itu, tapi Santi kira yang teriak adalah pohonnya.
"Makanya, jangan main-main denganku, apalagi mencoba menghalangi jalanku"
Sedangkan anak-anak di sana masih panik, dan mencoba menyingkir dari Santi sejenak. Santi segera berlari mencari sosok tadi.
__ADS_1
"Kemana perginya ??"
Tiba-tiba terdengar suara dari balik pintu, tapi di ilusinya Santi suara itu ada di balik pohon. Santi mencoba mendekat perlahan ke arahnya.
"Hahahaaa, akhirnya ketemu juga kau pengec*t !" ucap Santi setelah menemukannya di balik pohon itu.
Tapi raut wajah Santi tiba-tiba berubah saat melihat sosok itu membawa pisau.
"Gue cuma pakai kayu sedangkan dia pakai pisau ?? Ini ga adil"
Tiba-tiba sosok itu menyerang Santi. Tapi justru anak-anak yang di belakanglah yang berteriak. Santi berusaha menghindari serangan-serangan itu.
"Hufh ! Hampir kena"
Lalu dengan sekejap mata ujung pisau itu sudah berada di dekat mata Santi. Hanya kurang lebih satu atau dua centimeter saja jaraknya.
Santi sesekali menahan nafasnya dan menelan ludahnya perlahan sambil terus menatap sosok itu beserta pisaunya.
"Gue ga boleh mati" ucap Santi dalam hati.
Ia segera menendang tubuh sosok itu dengan sekuat tenaga, alhasil pisau itu terlepas dari tangan sosok itu dan sedikit melukai pipi kanan Santi. Ia segera berlari pergi darinya.
Namun kakinya di tarik dan membuat Santi terjatuh bersama pisau atau kayu yang di pegangnya.
"Uuhhhh !! Lepaaas !" teriak Santi.
Tangan Santi berusaha menggapai kayu tadi, tapi sosok itu malah melempar Santi ke tembok.
Rasanya sudah tak sanggup berkata-kata lagi. Ia hanya merintih lirih di sana. Sosok itu pun mulai berjalan mendekat.
"Lemahnya imanmu bisa menjadikan titik hitam di hatimu bertambah" ucap sosok itu sambil bersiap menancapkan pisau di tubuh Santi.
DUUAAAKKK
Santi bangkit dengan rasa sakit yang masih memenuhi badannya.
"Gue ga kenal elu ! Dan lu ga usah sok suci" ucap Santi.
Sosok itu pun segera mendapatkan ke arah Santi dan mencekiknya. Santi berulang kali menjatuhkannya. Namun sosok itu kembali bangkit dan masih berusaha membunuh Santi.
"Manusia yang tak pernah mempunyai rasa syukur ! Di beri kenikmatan tapi tak pernah kau anggap itu sebagai karunia Tuhanmu, yang kau kejar hanya masalah duniawi saja, yang justru membuamu semakin hina dimata-Nya"
Santi mulai mengepalkan tangannya dan bersiap meninju sosok itu.
DUUUUAAKKK
Pisau itu pun terlempar jauh. Santi segera berlari kesana dan memusnahkannya. Ia mencoba membengkokkan pisau itu dengan sekuat tenaganya walaupun tangannya sampai terluka dan mengeluarkan darah.
__ADS_1
KLUNTINGGGGGGGG
Rasanya sudah tak sanggup lagi membengkokkan pisau itu, pisau itu pun terjatuh dari tangannya.
"Gue belum nyerah" ucap Santi sambil berlari dan memukulkan kayu yang ada di tangannya itu ke leher.
Sosok itu sempat melakukan beberapa gerakan perlawanan, namun Santi sudah mengunci posisi tubuhnya sehingga ia tidak lagi bisa banyak melakukan pergerakan.
"Santi sadar !"
Beberapa anak mencoba kembali untuk menarik tubuh Santi agar tidak melanjutkan kegiatannya. Pisau itu pun berulang kali di tarik dan mencoba di ambil paksa oleh teman-teman di sana, namun Santi begitu kuat mempertahankannya.
Santi mengayunkan kayunya dan menggerak-gerakkan kayu itu ke segala arah agar tak ada yang mengganggunya lagi, anak-anak itu pun mencoba terus menghindari kibasan pisau itu.
"Awas semuanya, minggir dulu" ucap salah satu dari mereka.
"Apa kalian mau mati juga ?!" ucap Santi sambil bersiaga dengan pisau itu walaupun ia tak tau sedang berbicara dengan siapa.
Anak-anak itu pun mundur dan menjaga jarak.
"Apa dia melihat kita ?"
Santi kembali ke sosok tadi. Akibat pukulannya barusan sosok itu bener-bener tak bisa berbuat apa-apa.
"Lu akan mati di tangan gue !"
Sekali lagi Santi memukul lehernya dan mendorong leher itu dengan kayunya (seperti mencekik tapi menggunakan kayu di bagian tengah leher itu).
Sosok itu melambaikan tangannya dan beberapa kali mengisyaratkan tanda menyerah, tapi Santi tetap tidak memperdulikannya.
"Mati kauuuuu !!!!"
CRAAATTT
Darah pun muncrat ke wajah Santi.
AAAAAAAAAA
KLUNTINGGGGGGGG....
Pisau itu terjatuh dari tangan Santi. Ia melongo menyaksikan apa yang ada di hadapannya. Seketika itu suasananya kembali ke sebuah kost miliknya.
Terdengar isak tangis dari belakang tubuhnya. Tangannya terasa perih serta berlumuran darah dan.....
"U...ti"
Ia menundukkan kepalanya, tak kuasa menahan air matanya, dan ia tak sanggup berkata apa-apa lagi. Ia bingung dan tak tau yang sebenarnya terjadi. Gemetar seluruh badannya, terlebih lagi tangannya saat melihat pisau di sampingnya.
__ADS_1
"A...apa yang telah gue lakukan ?? Hiks hiks... Apa yang telah gue lakukaaaaaaan ???"
Santi pun menangis sejadi-jadinya di sana. Sementara teman-temannya hanya bisa diam dan tak ada yang bisa berkata-kata lagi. Sunyi. Hanya air mata yang menggambarkan perasaan mereka.