
***
Nia dan Rita sedang bersembunyi di sebuah ruangan. Mereka terpisah dengan Mega karena tadi terjadi konflik yang cukup menegangkan.
Nia menatap ke arah pojok ruangan yang gelap itu. Sayup-sayup ia melihat ada sesosok yang tengah berdiri di sana.
"Ta !! Itu apa Ta !! Taaa... Itu apa Taaa" ucap Nia sambil terus menabok Rita dan menunjuk ke arah pojok ruangan itu.
"Kamu nanya ?"
"Ente kadang-kadang ente ya !! Gua serius Taaa !!!"
Rita menoleh ke arah pojok itu dan ia pun kaget.
"Astaghfirullahal adzim !!"
"Apa itu Taa ???"
"Hantu Nia"
Setelah mengucapkan kata-kata itu mereka pun saling pandang.
"Hantuuuu" ucap keduanya kompak.
AAAAAAAAA
Nia pun langsung menutup wajahnya menggunakan pundaknya Rita. Rita memeluk Nia erat-erat.
"Pergi sana !! Jangan ganggu !! Pergiii !!"
Nia pun melempar sepatunya ke arah sosok itu. Tapi lemparan itu malah tak mengenainya, tembus dan sepatu itu hanya menimpuk tembok saja.
Nia pun memandang ke arah Rita sambil melongo. Kemudian sepatu itu terlempar kembali ke arah Nia. Padahal kalau di lihat-lihat sosok itu sama sekali tak memegang sepatunya.
AAAAAAA
Sontak saja mereka berdua berlari keluar. Tapi saat mereka sudah keluar yang mereka dapati hanya ruang aula saja. Dimana di sana mereka melihat Mega yang sedang menari.
Tiba-tiba mata Mega menuju ke arah mereka berdua. Nia menoleh ke arah Rita perlahan.
"Taaa...."
Sambil melenggangkan tariannya Mega pun mendekat ke arah mereka.
"Mega ! Ini gue temen lu !! Lu jangan kayak gitu dong ?? Sumpah gue takut"
Mega tak menghiaukan ucapan itu. Bahkan kini anak-anak yang menari lainnya pun mulai mengikuti Mega.
"Taaaaaa !!! Gimana ini ??"
Terlihat tarian mereka mulai aneh. Ada yang memutar kepala hingga kepala itu hingga 360 drajat.
KLEEKKK
AAAAAAAAAAA
Salah satu dari mereka meninggal dengan kepala yang copot. Ada juga yang memutar tangannya hingga patah. Ada lagi yang memutar pinggang mereka sampai mematah-matahkan tubuh mereka sendiri.
Darah pun mulai mewarnai lantai putih di aula itu. Seragam mereka pun sudah tak lagi berwarna putih abu-abu, melainkan merah abu-abu.
"Taaa... Ini ngeri bangeeett !! Hiks hiks..."
MARI MENARI BERSAMAKU....
MARI MENARI BERSAMAKU....
MARI MENARI BERSAMAKU....
MARI MENARI BERSAMAKU....
AAAAAAAAAA
Rita pun menarik tangan Nia untuk segera berlari sekencang-kencangnya. Saat mereka berlari tiba-tiba ada yang menarik mereka dan menyuruhnya untuk ikut bersembunyi di sana.
"Mega ???????"
"Sssstt !!! Diam !"
"Bukannya elu di sana ya ??????"
"Ko e........"
__ADS_1
Mega menatap ke arah mereka.
"Nanti gue jelasin lebih jelasnya ! Sekarang diam dan sembunyi saja !!"
"Ko lu jadi banyak sih ???"
"Iya, ada berapa sih elu ???"
"Ada 5"
"Wuih kayak balon"
Mega menoleh ke arahnya.
"Balonku ada lima... Hehe"
"Yang 4 berbahaya !! Jadi mohon kerja samanya !!"
"Yang 4 berbahaya ??"
"Ko bisa gitu sih ??"
"Gue bilang nanti gue jelasin !! Kalau sekarang gua jelasin yang ada nanti lu bisa ketahuan sama dia !!"
Rita dan Nia saling pandang.
"Terus ? Ini yang elu yang asli atau........"
"Eh Ta... Taaa... Ada kucing"
"Kucing ??"
"Iya, itu kucingnya... Puuuuss"
Rita dan Mega pun heran.
"Darimana datangnya itu kucing ?? Ko bisa ada di situasi kayak gini"
Kucing itu pun mendekat pada Nia. Nia pun mulai menggendongnya. Tapi... Tiba-tiba senyuman di wajah Nia hilang. Wajahnya datar dan tatapannya aneh.
"Nia, lu baik-baik aja ??"
Nia menoleh perlahan dengan tatapan yang menyeramkan. Sorot matanya pun berubah. Rita dan Mega pun berteriak dan melarikan diri.
AAAAAAAAAA
***
Di ruang aula Darmaji masih berduel dengan Kanaya. Walau Kanaya Kanaya yang lain berkeliaran, tapi yang di hadapi Darmaji adalah Kanaya yang asli.
Kanaya melihat ke arah kertas yang sedang di pegang Darmaji. Lalu ia segera melepaskan tangannya dari leher Darmaji. Ia pun mengambil langkah mundur sambil terus menatap kertas itu.
"Jangan macam-macam kau !!" ancam Darmaji.
"Kertas segel. Bukankah itu punya Zidan ??"
Darmaji mencoba mendekati Kanaya, Kanaya pun terus mundur. Tiba-tiba kertas itu terbakar. Sontak saja Darmaji segera melempar kertasnya.
Kertas itu hangus tak tersisa. Hanya ada serpihan abu saja. Kanaya tertawa lepas melihat hal itu.
HAHAHAHAHAAAAAAAAAA
"Kurang ajar !!" seru Darmaji.
"Kau bukan pemilik asli dari kertas itu ! Jadi percuma saja !!"
"Bukankah Zidan juga bukan pemilik asli ?? karena kertas itu ia dapatkan dengan cara membunuh kakeknya sendiri ??"
"Setidaknya ia masih ada keturunan darah dari pemiliknya"
Darmaji mulai ketar ketir, karena semua ajian tak dapat melumpuhkan Kanaya.
"Apa yang harus aku lakukan ??" tanya Darmaji dalam hati.
Kanaya pun mulai memanfaatkan situasi ini untuk mengalahkan Darmaji. Ia pun segera melawan Darmaji.
HIIIAAAAAAKKK
***
"Aaahh !!! Susah banget sih ini kalung di lepas !!" ujar Zidan yang sedari tadi tak bisa melepaskan kalung pemberian Darmaji.
__ADS_1
Sedangkan Rifki segera berlari menghampiri Zizi yang tengah kesakitan. Ia pun merobek baju seragamnya untuk membalut pergelangan tangan Zizi.
"Tahan Zi !!"
"Hiks hiks... Sakit Kiiii"
"Tahan ya ?"
Walau sudah di balut dengan kain tapi darah itu tetap saja menetes deras.
"Kurang ajar Mayang, ga ada yang lain apa yang harus di gigit selain tangan lu ??" ucap Rifki.
Zizi masih meringis menahan perih yang ia rasakan.
"Ini pintu sebelah mana sih ??" tanya Rifki sambil terus mencari bentuk kontak daun pintu.
Sementara itu Doni sedang berusaha membantu Mayang berdiri. Wajah Mayang terlihat sangat marah pada Doni. Ia masih menahan nyeri di perutnya tapi rasa bencinya mengalahkan itu.
Mayang segera mendorong Doni dan mulai memakinya.
"Puas kan lu !! Sakiti aja terus !!"
"May, kan gue ga sengaja"
"Lu seneng kan kalau gue mati !!"
"Ngomong apa sih lu May !!!"
"Aduuhh !!"
"Lu harusnya tau ! Gue itu sayang banget sama lu !! Gue ga mau lu kenapa-napa !!"
Mayang masih menahan emosinya.
"Walaupun dalam hati gue ada rasa seneng kalau lu keguguran ! Tapi gue juga kasihan liet lu kesakitan !!"
Mayang menoleh ke arah Doni.
"Oh. Lu seneng kalau anak ini mati !!"
"Iya"
Mayang segera menyerang Doni. Ia pun segera melupakan rasa sakitnya meskipun darah itu masih saja mengalir ke kakinya.
Di ambilnya kayu dan di pukullah Doni dengan penuh emosi. Doni yang tadinya tak siap pun mulai kewalahan dengan pukulan itu.
"May ! Hentikan May !! May sakit May !!"
Di sisi lain Kanaya mulai menarik nafas, dan entah apa yang terjadi semua kertas-kertas itu pun ikut beterbangan. Angin di sana sangat kuat. Kanaya mulai mengeluarkan jurusnya dan di arahkannya pada Darmaji.
HIIIAAAKKKKKKKK
DUUUAAAKKKKK !!
Darmaji pun terpental jauh. Bersamaan dengan terpentalnya Darmaji, Rifki, Doni dan Zidan pun ikut terlempar ke tembok.
"AUUHHH !!"
"Apa-apaan ini ?!!"
Di sana Doni tak sengaja terlempar ke sebuah pintu dan membuat pintu itu terbuka.
"Itu dia pintunya" teriak Rifki.
Zizi segera bangkit dan mencoba mendekat ke arah Rifki. Tapi Mayang mencegahnya.
"Jangan harap kau bisa keluar dari sini !!"
"May !! Tanganku sakit ! Butuh perawatan, kamu juga, darahmu makin banyak May !"
Tapi Mayang tak mempedulikannya. Ia berjalan mendekati Zizi. Doni segera bangkit dan berlari ke arah Mayang. Di bopongnya Mayang dan segera di bawa lari oleh Doni.
"Apa-apaan kamu Don !! Turunin aku !!" ronta Mayang.
Zizi dan Rifki pun segera keluar dari ruangan itu. Tak ketinggalan Zidan juga mengikutinya.
"Dimana Kanaya ???" tanya Rifki pada Zizi.
"Aku ga akan membiarkanmu mengacaukan rencananya !!"
Rifki dan Zizi menoleh ke arah belakang. Ternyata Zidan sudah bersiap menyerangnya.
__ADS_1
DEGGG !!
"Awas Ziii !!!!"