
***
Hari ini kedatangan pembantu baru di kost putri. Seperti biasa suara gaduh pun terdengar hingga kamar Zizi. Sedangkan Zizi masih tetap santai di kamar sambil menghafalkan beberapa rumus kimia yang nantinya akan di uji di laboratorium.
Tapi ia jadi ga konsen saat suara langkah kaki itu mulai menapaki lantai 4. Mungkin bu Kiandra sedang mencoba mengenalkan beberapa ruang di rumah ini. Zizi pun penasaran, ia mulai membuka pintu kamarnya.
KLEKKK
"Lah ?? Ko sepi ?? Bukannya tadi ada suara langkah kaki kemari ya ??"
Ia mengecek ulang. Tengok kanan dan tengok kiri. Bahkan kamar Tasya pun masih tertutup rapat. Ia mencoba berjalan melihat ke lantai 3. Ternyata sepi juga. Ia mulai turun dan mengecek lantai 2.
"Astaghfirullahal adziiiim... Suara apa yang tadi gue denger ?"
Ia mematahkan pemikiran yang negatif. Ia pun mengecek ke lantai dasar. Bahkan lampu pun belum ada yang menyala.
"Jam berapa ini ??"
Ia pun mendongak ke arah jam dinding.
"Innalillahiii... Jam 1 malam ???"
Zizi segera melihat ke segala arah. Bahkan seragam sekolah yang tadinya ia kenakan kini telah kembali ke baju tidurnya yang semalam ia pakai.
Nafasnya mulai tak beraturan. Jantungnya memompa aliran darah lebih cepat. Tiba-tiba...
KLEEKK KLEEKKK
Suara itu terdengar di bekas ruang kamar Aludra. Suara seseorang yang sepertinya ingin membuka pintu itu.
Zizi bersiap diri. Ia mengambil sapu yang ada di dekatnya. Mencoba perlahan mendekati ruangan itu. Dan...
BLUUUGGG !!
ADUUUUHHHH !!
Mata Zizi seolah-olah copot saat ia kaget melihat Kiandra ada di balik ruangan itu.
"Emm... Mmmaaaf bu, saya kira..."
"Zizi ??"
Zizi pun membantu Kiandra bangun. Lagi-lagi ia seperti tersengat listrik dan mendengar alunan gamelan itu kembali. Namun, ia segera sadarkan diri dan membawa Kiandra ke sofa.
"Maaf ya bu, saya fikir maling"
"(Sambil memegangi jidatnya yang kena pukul) ga apa-apa ?"
Zizi masih berdiri mematung di depan Kiandra.
"Kenapa malam-malam belum tidur ??" tanya Kiandra.
"Em.... Anu bu, lagi ngafalin rumus buat besok"
"Kenapa harus sampai begadang ??"
"Soalnya rumus kimia, besok mau di uji di laboratorium, takut salah, nanti malah meledak"
"Hahaahaa, lucu sekali kamu ini"
"Em... Maaf, ibu sendiri kenapa belum tidur ?"
"Huufh !! Aku rindu sama kak Lulu, makanya aku masuk ke kamarnya, melihat lihat apa yang ia sembunyikan selama ini dariku"
"Apa ibu menemukannya ??"
__ADS_1
"(Tersenyum) dia masih sama, aku kira semakin bertambahnya usianya, ia akan melupakan kejadian yang membuatnya sakit hati, tapi ternyata, ia malah lebih memilih sendiri sampai akhirnya kembali kepada sang illahi"
"Mungkin, almarhum bu Lulu ingin membuktikan kalau dirinya memang tidak bersalah atas kejadian tempo hari, maaf"
"Ya sudah, kembalilah ke kamarmu, tidur. Jangan begadang. Nanti yang ada otak kamu yang meledak, hahaha"
"Hehe, iya bu"
Zizi pun mulai pergi meninggalkan Kiandra sendiri. Sesekali ia menoleh ke arah belakang. Memastikan keadaan baik-baik saja.
Sesampainya di lantai 4, Zizi duduk di meja makan. Melamun sejenak.
"Kenapa saat gue bersentuhan dengan bu Kiandra ada nada dalam ingatan gue ?? Nada itu sepertinya ga asing ?? Tapi... Ahh !! Sudahlah, mungkin hanya kebetulan. Lalu ??? Suara bising apa yang gue dengar hingga mengantarkanku pada bu Kiandra di lantai 1 ?? Apa mungkin dia yang sedang berinteraksi dengan seseorang di sana ?? Tapi kenapa suaranya begitu jelas hingga lantai 4 ??"
***
"Asam kuat + Basa kuat... Asam kuat + Basa lemah... Basa lemah + Asam lemah... Basa kuat + Asam lemah... Aaaahhh !! Susahnya !! Huuufhh !!" keluh Zizi.
"Ngapain sih Zi serius amat" ledek Sofia yang tengah geram memperhatikan Zizi tak hafal-hafal rumus kimia.
"Susah tau !!"
"Ya emang susah. Gue aja males banget, hahahaa"
"Ahh elu !!"
Ketika ia sedang bergurau dengan Sofia, sepintas ia melihat Mega tengah duduk di bangkunya. Sontak saja itu membuat Zizi langsung berdiri dan mundur.
"Kenapa Zi ??" tanya Sofia bingung.
Zizi menarik nafas panjang. Setelah itu ia tak melihat Mega lagi.
"Ada apa ya ?? Tiba-tiba mendatangi gue kayak gini ?? Apa dia butuh pertolongan ?" tanya Zizi dalam hati.
Ia pun segera menghampiri Rifki yang tengah asyik bergurau dengan kawan-kawannya di depan pintu kelas.
"Huussssttt !! Diem. Ini masalah Mega"
Seketika raut wajah Rifki pun berubah menjadi serius.
"Kenapa Mega ??"
"Dia datang tadi, tapi hanya sekilas"
"Kenapa gue ga bisa merasakan kedatangannya ?"
"Itu tuh bener-bener cuma sekilas, bentar banget, cuma duduk di bangku itu, dia hanya diam saja, apa artinya ??"
"Dia merindukan tempat itu mungkin"
"Ki !! Gue serius"
Rifki menarik nafas sambil memejamkan matanya. Mencoba menfokuskan diri. Namun Rifki benar-benar tak bisa melihat Mega di sana.
"Ko bisa ??"
"Jujur saja, setelah khodam gue pernah di ambil alih oleh kanda pat-nya Mega, naluri mata batin gue berkurang"
"Terus ??"
"Ya maka dari itu, gue ga peka sekarang dengan kedatangan makhluk halus, terutama Mega"
Zizi terdiam sejenak. Ia bahkan ga pernah tau bagaimana cara mengaktifkan kembali mata batinnya. Yang ia tau mata batinnya akan aktif kembali apa bila dalam situasi yang membahayakan.
"Andai saja mata batin gue aktif, sepertinya gue bisa mengetahui kronologi kematian bu Lulu dan jugaaa.... tentang bu Kiandra yang saat bersentuhan dengannya serasa kestrum" ucap Zizi dalam hati.
__ADS_1
***
Di kost putra.
Doni terlihat sangat khusyu berdo'a untuk Mayang. Ia melakukan hal itu hampir setiap hari. Apapun yang bisa mengembalikan ingatan Mayang akan ia jalani.
Terlihat ada banyak sesajen pula di kamar Doni. Kepulan asap pun memenuhi ruang kamarnya. Baju milik Mayang pun ia taruh dalam wadah dan di kelilingi bunga 7 rupa.
Doni masih memejamkan mata sambil terus melantunkan bacaan-bacaannya. Ia pun berharap agar ada petunjuk lain selain tetap berdo'a mengharap kembalinya ingatan Mayang.
"Akan ku kembalikan ingatannya, bahkan jiwanya pun akan ku tegarkan, tapi aku minta satu syarat"
Kalimat itu sontak saja membuat buyar lamunan Doni.
"Apa syaratnya ???" ucap Doni sambil termenung.
"Aku mau DIA, jiwanya saja."
Doni terdiam.
***
Di kost putri.
"Ziziiiiii" panggil Tasya.
"Iya kak" jawab Zizi dari balik pintu.
"Udah kenalan sama pembantu baru belum ?"
"Udah dateng ya ?"
"Udah, katanya nyampe jam 1 siang tadi"
"Dia dari mana ?"
"Jawa katanya"
"Jawa ??"
"Ayo turun, kita kenalan"
Zizi pun mengikuti langkah Tasya menuruni anak tangga satu persatu.
"Mbak !! Inj loh yang namanya Zizi" ucap Tasya.
Pembantu baru itu pun menoleh ke arah Zizi. Namun, ia segera menundukkan kepalanya.
"Kenapa ??"
Zizi pun heran. Mereka segera mendekat ke arah pembantu itu. Tapi, ia malah menghindar dan beralasan kalau ia harus mengerjakan tugas dulu.
"Oh gitu, ya udah" ucap Tasya.
Terlihat pula ia seperti ketakutan. Bahkan ia sampai tersandung saat hendak menaiki tangga.
"Emmm.... Gue heran, kenapa sepertinya mbak itu ketakutan ya ??" tanya Tasya.
"Wajah gue serem ya kak ??"
Tasya menoleh ke arah Zizi dan memperhatikan wajahnya.
"Mungkin, wajahmu mirip mak lampir, hahaha"
"Hiishh !! Kakak ini loh ?? Gue serius ??"
__ADS_1
"Ga usah di seriusin. Mungkin dia minder aja"
Tapi Zizi ga percaya. Ia yakin mbak yang satu ini melihat sesuatu dalam diri Zizi. Karena ga mungkin kalau ia tak melihat apapun tapi raut wajahnya begitu ketakutan.