Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Kembalikan kalungku


__ADS_3

***


Aludra masih berusaha untuk bersembunyi dari Kanaya. Tapi ia terus memantau pergerakan Kanaya di aula itu. Saat ia sedang mencari tempat untuk bersembunyi ia tak sengaja menabrak Mega.


"Ya ampun, sorry sorry, ga sengaja" ucap Aludra memelankan suaranya.


Mega hanya melirik saja ke arahnya. Ia hanya duduk saja di sana. Aludra pun ikut duduk juga sambil terus mengawasi ke aula.


"Ini anak kenapa ya ? Ko diem aja begini ? Teman-temannya juga ga ada, setahuku dia itu punya dua teman." kata Aludra dalam hati.


Aludra terus saja memperhatikan Mega. Saat ia hendak menyenderkan kepala ke dinding ia melihat ada anak-anak tak jauh darinya. Ia mencoba mengawasinya.


Ternyata di sana ada anak yang mirip sama Mega. Aludra pun sontak menoleh ke arah anak yang ada di sampingnya.


"Astaghfirullahal adziim !! Ko sama ??"


Aludra mencoba sedikit menjauh darinya. Mega menoleh ke arah Aludra dengan kaku. Aludra menutup mulutnya agar tak bersuara. Mega mengisyaratkan Aludra supaya diam.


"Sssst !!"


Aludra hanya bisa menganggukan kepala saja. Sesekali ia pun menoleh lagi ke aula itu. Di lihatnya juga ada anak yang mirip dengan Mega di kerumunan anak-anak yang sedang menari.


"Ya Allah !! Astaghfirullahal adzim... Astagfirullahal adzim..."


Jantung Aludra seakan-akan hendak melompat keluar. Ia terus saja menutup mulutnya dan menahan rasa takutnya. Mega yang ada di samping Aludra masih sama mengisyaratkannya untuk diam.


"Sssst !!"


Rasanya Aludra hendak menangis.


"Siapa yang ada di sampingku ini ??" tanya Aludra dalam hati.


Lalu seolah-olah Mega memberikan isyarat lagi bahwa Aludra harus melihat ke arah pintu. Mega mengangkat telunjuknya. Aludra pun menolehnya dengan perlahan dan penuh rasa cemas.


DEGG


Ia menutup mulutnya kembali saat melihat apa yang ada di pintu itu. Gemetarlah seluruh tubuhnya. Ada tangan yang hendak memasuki ruangan itu dari balik pintu. Tangan itu sangat menyeramkan. Kuku-kukunya hitam dan mulai mencengkeram daun pintu itu dan perlahan masuk.


Aludra menutup matanya rapat-rapat. Ia pun menarik nafas.


"Ini pasti hanya ilustrasi saja... Nggak mungkin... Ga mungkin"


Kemudian Aludra pun menoleh ke arah Mega. Alangkah kagetnya ia saat mendapati Mega sudah tak ada di sampingnya lagi.


DEGGG !!


"Astaghfirullahal adziim !!! Kemana dia ?" ucap Aludra sembari mencarinya.


***


Di tempat lain Bima pun sedang mencari tempat persembunyian.


"Haduuuh beg* banget sih gue ! Ngapain coba malah lari ke toilet !" ucap Bima geram sendirian.


TESS TESSS TESSS


Suara air menetes itu sangat mengganggu telinga Bima. Ia perlahan mencari sumber suara. Di bukanya satu persatu pintu di toilet itu.


NGEEEKKKK


"Ga ada"


Ia mulai berjalan lagi menuju pintu berikutnya.


NGEEEEKKKK


"Huufh ! Ga ada juga"

__ADS_1


Ia mencoba memperhatikan sudut-sudut toilet itu. Lalu terbesit di hatinya untuk menoleh ke arah atas. Di sebuah dinding pembatas antar toilet itu ia memperhatikannya dari bawah menuju ke atas dan....


DEGG !!


AAAAAAAAAA


Betapa kagetnya Bima saat ia melihat ada sesosok makhluk yang tengah duduk di atas sana. Berambut panjang dan wajah yang menyeramkan dengan kepala miring mengahadap ke arah Bima.


"BAAAAAA !!"


Bima pun langsung melarikan diri. Karena gelap dan panik Bima pun tak sengaja menabrak seseorang. Dan mereka pun terjatuh.


DUARRR


"Sorry sorry"


Ternyata itu adalah Sofia.


"Sofia ??"


"Apaan sih lu !! Segede gini ga liet ??"


"Sorry, tadi gua ga liet jalan soalnya"


"Lu ngapain di toilet cewek ?"


"(Terengah-engah) ada hantu di sana ! Serius ! Ga bohong gua !"


"Ga nanya itu ko !!"


Bima pun berdiri dan mencoba membantu Sofia untuk berdiri juga. Tapi Sofia menolak dan ia pun berdiri sendiri. Bima mencoba menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa hantu itu tak mengikutinya.


"Serius Sof, ada hantu di sana !" ucap Bima sambil menunjuk ke arah toilet tadi.


Ketika Bima balik badan Sofia udah ga ada di sana. Bima pun panik dan mencoba mencarinya.


Di carinya Sofia oleh Bima tapi ia tak menemukannya sama sekali. Itu membuat bulu kuduk Bima berdiri semua.


"Siapa yang tadi gua tabrak ?? Bukannya Sofia ya ??" tanya Bima dalam hati.


HIKS... HIKS... HIKSS


Terdengar suara tangisan seorang wanita di sana. Perasaan Bima penasaran tapi takut kalau yang menangis itu adalah hantu.


Namun ia terus mencoba mencarinya. Saat ia hendak melangkah keluar dari toilet itu tiba-tiba ia melihat ada seorang siswi yang sedang duduk di atas toilet duduk itu sambil menangis.


Jiwa playboy-nya Bima pun muncul kembali. Rasa takutnya hilang entah kemana. Mungkin di taruh di saku celana. Ia pun mulai mendekatinya.


"Ekhem"


Cewek itu masih menutupi wajahnya sambil terisak namun agak sedikit mengecilkan volume tangisannya.


"Ga usah takut, ada aku ko" rayu Bima.


"Kalungku hilang" ucapnya.


"Kalung ??" tanya Bima.


Bima pun lebih mendekat lagi padanya.


"Ga usah sedih, ayo kita cari sama-sama" ucap Bima sambil merangkul pundak cewek itu.


cewek itu masih tertunduk.


"Seperti apa ciri-ciri kalungmu ?"


"Ada inisial hurufnya"

__ADS_1


"Apa hurufnya ?"


"K"


"K ???"


Bima terdiam sejenak. Bukankan ia pernah menemukan juga kalung dengan inisial K waktu itu. Sebelum dia di kejar sama banaspati.


Ia pun mulai meraba saku celananya. Dan ternyata ada di sana. Ia pun tersenyum.


"Akhirnya ku temukan juga cinderella-ku. Dia ku cari-cari selama ini, uhh akhirnya ga jomblo lagi gua, hehe" ucap Bima dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.


Bima pun duduk jongkok di samping cewek itu sambil memegang tangannya lalu mengelus-elus tangan itu.


"Kalau boleh tau siapa namamu ?" tanya Bima.


Cewek itu menoleh ke arah Bima sambil tersenyum.


"Namaku.... Kanaya"


"Oh, Kanaya"


Tiba-tiba Bima terdiam setelah mengucapkan kata itu. Ia berfikir kalau sepertinya ia pernah kenal dengan nama itu.


DEGGG !!


"Ka kaaa kaanaya !!!"


Bima langsung menjauh darinya dan mencoba berlari. Namun kakinya di tarik oleh Kanaya. Kanaya pun tertawa.


AAAAAAAAAA


"Hahahahaaa... Dimana kalungku Bim ?? Hahahahaaa...."


Bima meronta-ronta melepaskan diri. Tapi Kanaya semakin keras tertawa dan terus memegangi kakinya Bima.


"Lepasiin !!"


"Kembalikan kalungku !!"


"Lepasiiin !!!"


"Kembalikan kalungku !!"


"i..... i.... Iya iya, ini (meraba saku celannya) ini...."


Tapi ternyata itu bukan kalung yang ia berikan, melainkan hanya seutas tali putih saja. Sontak saja Bima langsung melempar tali itu. Ia mencoba meraba saku celananya lagi tapi tak ia temukan kalung itu.


Padahal saat Kanaya duduk tadi kalung itu masih berada di saku celananya. Tapi kenapa saat Kanaya meminta kalungnya malah tak ada di sana.


"Hah ??? Kemana kalungnya ?? Ko ga ada !"


Wajah Kanaya mulai menunjukan sisi yang menyeramkan.


"Bu... Bu... Bukannya kamu ada di aula ya ?? Ko ada di sini juga ??" tanya Bima gugup.


"Kembalikan kalungku !!" teriak Kanaya.


Bima terus saja mencari kalung itu. Kanaya mulai terlihat makin marah karena Bima tak memberikan kalung itu.


Jantung Bima makin berdegub melihat wajah Kanaya. Kanaya pun mencekik leher Bima sambil terus berteriak.


"Kembalikan kalungkuuuu !!!!"


"Inikah kalungmu ???"


Terdengar suara wanita tak jauh dari sana. Kanaya menoleh ke arah suara itu. Mata Bima melotot melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Kamu ???"


__ADS_2