Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Pertolongan


__ADS_3

"Jangan pergi dulu Zi" cegah Doni.


"Tapi bagaimana dengan kak Dewi ??"


"Gue yakin, Dewi baik-baik aja ko"


Zizi membuang nafas.


"Gini Zi, kita harus menyelesaikan satu masalah dulu, baru kita pergi ke masalah selanjutnya. Kalau lu pergi, antek-antek ini juga bakalan ikut pergi. Mereka ga sama kayak kita yang punya perasaan welas asih, karena saat lu pergi mereka pikir pekerjaan mereka udah selesai karena lu nggak ada. Yang mereka tau hanya mematuhi peraturan dari tuannya. Saat Tuan mereka itu ga ada, mereka ga mau di atur sama yang lain" tutur Doni.


"Doni mungkin ada benarnya Zi, lagian kan elu cuma tinggal duduk manis saja di situ, ga di suruh ngapa-ngapain ko" kata Rifki.


"Kak Dewi baik-baik saja ko Zi, sama halnya dengan kak Tasya" ucap Zidan.


"Darimana lu tau kalau mereka baik-baik saja ?" tanya Zizi.


"Untuk kak Tasya, bungkusan kain merah itu sudah aku titipkan ke Devano, aku yakin dia segera mengantarkannya ke sana. Jadi, aman dong ?" kata Zidan.


Zizi mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah itu Zizi pun duduk kembali. Kemudian terlihat Darmaji mulai sedikit kejang, wajahnya nampak pucat karena kehabisan darah.


Mereka berempat pun memperhatikan detik-detik sakarotul mautnya Darmaji. Ia terlihat ingin menjerit namun tak punya daya lagi.


Semua anak di sana menundukkan kepalanya. Sedikit menghormati kepergian Darmaji untuk selama-lamanya.


Darmaji pun menghembuskan nafas terakhirnya di tali gantungan dengan lidah yang tertancap belati.


"Innailaihi wa innailaihi rojiuuun"


Rifki pun mendekat ke arah Darmaji, ia mengusap matanya yang masih terbelalak agar bisa tertutup. Dalam sekejap ruangan itu jadi nampak sangat sunyi.


Kemudian mereka melanjutkan pagar yang sempat terjeda. Tak lama pagar itu pun selesai.


"Mentok sampai atap ?" tanya Zizi.


"Iya" jawab Doni.


"Bagaimana kalau ia hanya pingsan dan belum mati ?" kata Zizi sedikit mengingatkan.


"Udahlah Zi, ga perlu terlalu khawatir. Dia pantas ko dapat hukuman kayak gitu setelah apa yang ia lakukan selama ini"


"Ingat !! banyak wanita jadi korbannya, dan kau pun hampir saja jadi mangsa selanjutnya oleh Darmaji"


"Lalu ?? Apa nanti para tetangga tidak curiga ?"


"Serahkan pada kami." jawab salah satu antek-antek itu.


Zizi menoleh.


"Kata Harimau putih kamu di suruh menjaga tempat ini, apabila Zizi mengizinkan akan kami lakukan titahnya"


Zizi sedikit melongo.

__ADS_1


"Apa kata Harimau putih ?" tanya Zizi.


"Kami di suruh mengepung rumah ini, sehingga tidak ada satu orangpun yang akan kembali melihat rumah ini, kecuali orang dengan ilmu dan bakat tertentu."


Zizi menoleh ke teman-temannya.


"Gue ga nyangka bakalan di mudahkan dalam misi kali ini" ucap Rifki.


"Perjuangan kita selama ini ga sia-sia. huuuffh !"


"Baiklah, lakukan yang terbaik buat kita semua. Jika ada hal yang nantinya mengganggu kalian beritahu kami" ucap Zizi.


"Baik"


Antek-antek itu segera menempatkan diri mereka masing-masing. Sedangkan Zizi dan yang lain bersiap pulang.


Mereka terdiam sejenak di atas motor saat melihat rumah itu tiba-tiba lenyap dari pandangan. Hanya ada dataran tanah luas di hadapan mereka.


"Kalau ada tukang bank ke sini kaget ga ya ?" ucap Rifki ngelantur.


"Hahahaa"


Kemudian rumah itu nampak kembali karena mereka mempunyai ilmu istimewa.


"Ko muncul lagi rumahnya ??"


"Udah ah ! ayo pulang. Itu sudah bukan urusan kita lagi"


"Disini saja, nampak sepi dan lokasinya cukup asri" ucap Rifki.


Semuanya pun turun dari motor walaupun mata sudah tak sanggup membuka lebar. Rifki mulai membuka tali di jaring halus itu dengan perlahan.


"Bismillahirrahmanirrahim"


Keluarlah asap putih dari jaring itu. Mereka memperhatikan satu persatu dari asap itu. Sayangnya asap itu tak kunjung berubah menjadi sosok yang mereka inginkan, melainkan hilang bak di tiup angin.


"Huuffh ! sudahlah, yang penting kita sudah melepaskannya"


"Padahal pengen banget ketemu dan bisa lihat mereka lagi"


"Oh iya, kalian ko bisa-bisanya sih percaya gitu sama sama antek-antek itu, kalau nantinya antek-antek itu menghianati kita gimana ?? bisa jadi kan mereka awalnya hanya pura-pura baik ke kita, setelah kita pergi barulah mereka menolong Darmaji"


"Menurut gue sih mereka bener-bener ikhlas, kalau mereka hanya pura-pura, ga mungkin mereka bakalan diam saja saat Darmaji mengalami sakarotul maut."


"(Menarik nafas) sudah ah ! ayo pulang, tujuan kita ke rumah itu tuh cuma buat ngambil bungkusan warna merah itu, soal kematian Darmaji itu di luar prediksi"


"Kita lihat saja nantinya, sekarang kita pulang dulu, mengistirahatkan badan, cape"


Kemudian mereka kembali ke motor dan melanjutkan perjalanan pulang. Zizi masih di bonceng Rifki. Di tengah perjalanan Zizi benar-benar mengantuk.


"Hoooaaammm !"

__ADS_1


Ia pun menyenderkan kepalanya di punggungnya Rifki. Kemudian tangannya berpegangan ke perut Rifki.


DEGG !!


"Ko jantung gue dah dig dug ya ? di peluk Zizi dari belakang kayak gini" ucap Rifki dalam hati.


Sesekali Rifki menoleh ke arah tangan Zizi sambil tersenyum tipis. Karena terlalu mengantuk Zizi pun tak sengaja melepas pegangan tangannya. Sontak saja Rifki langsung menariknya kembali, kemudian ia memegangi kedua tangan Zizi.


"Sorry ya ? gue ngantuk banget" ucap Zizi.


"Ga apa-apa ko, ini maaf ya gua pegangin tangan lu, biar ga jatuh"


"Iya" ucap Zizi singkat.


Lalu ia menyenderkan kembali kepalanya di punggungnya Rifki. Entah apa yang Rifki rasakan, namun rupanya itu membuat bibir manisnya tersenyum.


Sesampainya di kost putri, Zizi segera mengecek keadaan di sana walaupun kondisi ngantuknya sudah tak mampu ia tahan.


"Sepi ??"


Ia pun mengetuk pintu kamar Dewi.


TOK TOK TOK !!


"Permisi kak ??"


TOK TOK TOK !!


Tak lama terdengar langkah kaki mendekat ke arah pintu.


KLEEK !


"Eh elu Zi, ada apa ?? " tanya Dewi sambil mengucek-ucek matanya.


"Emm, nggak apa-apa ko, syukurlah kalau kakak baik-baik saja"


Seketika itu Dewi terdiam. Seolah-olah ada yang aneh pada dirinya saat Zizi bilang "Syukurlah kalau kakak baik-baik saja"


"Jam berapa ini ?" tanya Dewi.


"Jam 4 pagi kak"


Lagi-lagi Dewi terdiam. Zizi fikir, mungkin kak Dewi masih ngantuk, makanya jadi pendiam gitu.


"Ya udah kak, gue ke atas dulu ya ? kakak silahkan istirahat kembali" ucap Zizi.


Dewi hanya menganggukkan kepalanya saja. Kemudian Zizi Pun pergi. Ditengah tangga Zizi menoleh ke belakang ke arah Dewi yang masih diam mematung di sana.


"Gue yakin ada yang ga beres, tapi.... ahh ! sudahlah, gue ngantuk"


Zizi pun naik ke lantai 4 dan langsung masuk kamar lalu tidur. Sedangkan Dewi yang masih di penuhi tanda tanya ia menutup pintu sambil terus bertanya pada diri sendiri.

__ADS_1


"Kenapa gue ga bisa inget kejadian kemarin atau tadi sore, terus ? kenapa tiba-tiba gue ada di kamar ? apa gue cuma mimpi ?"


__ADS_2