
***
"Jadi, kakak lihat kalau di atas lemari itu ada makhluk hitam besar yang sedang menatap ke arah pak Ilyas ?" tanya Zizi sambil mengaduk susu di gelas.
"Iya Zi, lu mau percaya apa kagak terserah lu ! Intinya itu yang gue lihat"
"Emm... Mungkin kakak kecapean aja kali"
"Stop deh ! Gue tau, lu sebenarnya bisa lihat makhluk kayak gitu kan ? Kanaya aja bisa lu lihat ko"
"Maaf kak, mata batin gue kadang on kadang off, hanya ketika gue dalam bahaya, baru deh modenya on dengan sendirinya"
"Oh gitu"
"Ada yang mau di ceritakan lagi ?"
"Gue pengin tau aja, di tangga lantai 4 ada apanya ? Kenapa seolah-olah ada yang terus memperhatikan gue saat gue masak dan makan ?"
Zizi duduk di samping Tasya.
"Kak, gue sendiri masih bingung, gue bener-bener ga tau ada apa di sana ? Saat gue menuruni tangga, bayangan yang berbeda yang gue lihat, itu bukan bayangan gue sendiri"
DEGG !
"Bener Zi ! Itu juga gue alami, bayangan itu lebih tinggi dari bayangan gue"
"Nah, berhubung ilmu gue belum setinggi dan sedalam itu, gue ga tau ada apa sebenarnya di sana"
"Kenapa ga lu coba tanyakan ke khodam lu ?"
"Kak, gue aja belum bisa mengendalikan khodam. Gimana gue bisa ngobrol sama mereka ?"
"Huufh ! Sejauh ini lu hanya dapat keberuntungan saja ternyata"
Zizi pun tersenyum.
"Gimana rasanya pas khodam lu itu lagi bertarung ? Elu merasakan apa gitu ??"
"Yang pertama mata kita berkedut kak"
"Itu mah gua sering, terus"
"Kadang terasa kesemutan sampai-sampai di sentuh aja ga berasa"
"Lah ?? Itu gua juga pernah, lalu ??"
"Lalu, badan kita suka ngilu atau sakit padahal kita ga ngapa-ngapain"
"Waah, ini mah tandanya gua juga punya khodam Zi"
"Semua orang juga punya kak, tapi tergantung khodamnya. Ada yang hanya menjaga, melindungi, dan ia sengaja tak menampakkan diri"
"Oh gitu ya ?"
"Iya kak"
"Tapi yang pasti. Khodam lu serem !!"
"Ih kakak belum tau aja, khodam gue ganteng banget kak"
"Mirip Alwi assegaf ga ?"
"Nah, betul. Mirip banget kak"
"Halah ! Bohong aja lu ! Udah ah mau tidur" ucap Tasya sambil beranjak pergi.
"Gue serius kak"
"Bodo amat !! Khodam lu brisik kadang-kadang !!" kata Tasya sambil memasuki kamarnya.
"Berisik ???"
***
Pagi ini sudah ada suara bising di lantai bawah. Zizi masih mager untuk turun, ia pun hanya sekilas mendengar percakapan mereka.
"Jangan-jangan yang datang ?? Adiknya bu Lulu ? Ah bodo amat, nanti juga kalau pas turun ke bawah ketemu ko"
Setelah selesai semua Zizi pun keluar kamar. Pas mau mengunci pintu, di kunci itu ada kunci yang berbeda.
__ADS_1
"Ko di taruh di sini ?? Kunci siapa ini ?"
Ia pun mencoba mencari Tasya.
"Kak Tasya, ini kunci punya kak Tasya bukan ? Kak ? Kakak dimana ?"
Lama tak ada jawaban Zizi pun turun ke bawah.
"Lihat kak Tasya ga ?"
"Ada di lantai 1 tadi"
"Ok, makasih"
Zizi pun menuruni tangga itu. Seperti biasa, bayangan yang ia lihat bukanlah bayangan dari dirinya. Tapi Zizi mencoba tak mempedulikannya.
"Kamu.... Zizi ya ?"
Zizi menoleh ke sumber suara. Di sana terlihat seorang wanita berparas cantik. Ya mirip dengan Aludra, hanya saja ini versi yang lebih modern.
"Iya"
"Aku Kiandra, adiknya kak Lulu"
"Oh, iya bu, salam kenal. Maaf kalau saya kesiangan"
"Tidak ko"
Mereka pun sedikit berbincang hingga Zizi lupa dengan kunci yang akan ia tanyakan pada Tasya.
***
"Sepi ya ga ada Mega ?" ucap Nia.
"He.em... Sepi banget, padahal biasanya kita yang bawel, tapi setelah Mega pergi ko kita malah yang kesepian gini ya ?" kata Rita.
"Udaaah, ikhlasin aja, do'akan saja semoga dia tenang di sisi-Nya" tutur Sofia.
"Sekarang ada dua meja kosong di kelas ini, huufh ! Mega dan Mayang. Siapa selanjutnya yang akan menyusul mereka ??"
"Huuush ! Ngawur aja lu !"
"Kenapa nyalahin Zidan ? Bukannya sudah takdirnya Mega ya ?"
"Ehh ! Gue jadi inget. Gue pernah nyoba saran dari Mega"
"Apa itu ?"
"Melihat kembaran ghoib"
PLAAKKK !!
Sebuah buku melayang ke kepala Nia.
"Haduuuuh !!"
"Lu kadang-kadang ga waras ya ?"
"Kan penasaran cuy !"
"Terus gimana ? Berhasil ??"
"Sumpah merinding... Kejadiannya tuh pas mau maghrib, gue masuk kamar, rebahan sambil main hp, tiba-tiba di depan meja rias gue ana sosok yang lagi duduk di sana. Auto kaget dong ?"
"Lu ngaco !!"
"Gue serius ! Pas waktu itu Mega bilang suruh ambil 7 helai rambut, 7 kuku, lalu d bungkus dengan kain putih dan di kasih perasan air jeruk purut"
Rita dan Sofia saling memandang.
"Dia beneran datang, kembaran ghoib gue..."
Suasana di kelas itu tiba-tiba saja jadi sunyi dan semuanya membisu.
"Gue yang tadinya lagi rebahan langsung ganti posisi duduk dong. Memperhatikan sosok yang ada di depan cermin itu. Tubuh gue udah gemetar, dia pun dengan perlahan menoleh ke arahku, dan...."
DOOORRR !!!
AAAAAAAAAA
__ADS_1
"Zizi !!"
"Ngagetin aja"
"Kenapa sih kalian ? Serius amat ??"
"Ga ada apa-apa ko"
"Ga ada apa-apa ko mukanya pada pucet gitu"
"Hehe, efek belum sarapan Zi"
Zizi hanya tersenyum lalu duduk di bangkunya. Meletakkan tas dan merapikan baju serta rambutnya.
"Ehh, kuncinya ??" ucap Zizi saat merasakan ada sesuatu di saku bajunya.
Lalu Zizi teringat dengan wajah Kiandra.
"Kenapa wajahnya ga asing ya ? Apa sebelumnya kita pernah bertemu ? Tapi katanya dia baru pertama kali ke Jakarta setelah 10 tahun yang lalu, terus... Gue lihat dimana ya ???"
KRIIIIIINGGG
Bell masuk pun berbunyi.
"Zi, nanti istirahat kita ngobrol sama Rifki ya ?" bisik Sofia.
"Yang kemarin ga jadi itu ?" tanya Zizi.
"Iya"
Zizi menganggukkan kepalanya.
***
Jam istrahat Sofia dan Zizi pun menemui Rifki dan mencoba menceritakan tentang arwah Aludra yang tak bisa Zizi lihat.
"Ya mana gua tau, gua aja ga bisa komunikasi sama Mega" ucap Rifki.
"Hah ?? Ko bisa ?"
"Ada yang aneh sih di sini"
"Bukannya arwah itu masih berada di sekitaran rumah ya harusnya ?"
"Emm... Atau mungkin arwah itu di bawa oleh seseorang ?"
"Maksudnya di bawa ??"
"Disandra ?"
"Bisakah menyandra arwah ??"
"Tentu bisa"
"Kayaknya Doni lebih paham deh"
"Ahh males gue berhubungan sama tuh anak !"
"Lah ? Kenapa ???"
"Ya mana gua tau, tiba-tiba aja sikapnya berubah gitu. Mana gua juga di usir dari kamar gua sendiri lagi"
"Sebegitu sayangnya ya Doni ke Mayang ?"
"Kenapa ga dia buka lagi aja portalnya dan mengambil Mayang lagi"
"Membuka portal dimensi lain itu bahaya"
"Iya sih, tapi kan Doni jadi aneh gitu, ga seru tau"
"Ya mau gimana lagi"
"Lu yakin Ki, ga bisa komunikasi sama Mega ??"
"Serius gua Zi... Ngapain juga gua bohong"
"Ko gua curiga sama Zidan ya ??"
Sofia dan Rifki menoleh ke arah Zizi.
__ADS_1