Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Dimana kain itu ?


__ADS_3

***


"Pulanglah nak, ini sudah larut malam. Bukankah besok kamu sekolah ? Untuk masalah ini, kita bisa mencobanya esok hari lagi"


"Sudah terlalu lama bu, aku hanya ingin ia secepatnya kembali"


"Mungkin belum di izinkan sama Allah"


"Bolehkah aku coba sekali lagi bu ?"


"Kamu mau nginap lagi seperti kemarin ?"


Ia terdiam.


"Nak Doni, ibu tau perasaanmu, ibu pun jauh lebih besar punya harapan sama Mayang daripada kamu"


"Setidaknya tolong beri izin untukku mencobanya kembali"


"Apa sebelumnya sudah ada titik terang ?"


"Huufh ! Dunia ghoib terlalu luas bu, untuk mencari Mayang yang tak tau keberadaannya. Bahkan susah mendapatkan sinyalnya"


"Istirahatlah dulu, besok boleh di coba lagi. Atau jika tidak, bawalah teman. Lama ibu tak melihat teman-temanmu ? Mereka baik-baik saja bukan ?"


Doni tersenyum.


"Ada masalah dengan mereka ?"


"Tidak bu, mereka ada tugas lain"


"Bagaimana kabar Darmaji ?"


Doni menoleh ke arahnya.


"Dia...."


"Ku harap ada kabar duka darinya. Hilang dan lenyap dari muka bumi ini"


Doni terdiam. Ia tau Darmaji masih hidup, tapi ia tak mau jika ibunya Mayang tau hal itu. Karna baginya Darmaji adalah penyakit yang harus di tuntaskan dan di lenyapkan tanpa sisa.


Tanpa mereka tau, bahwa melenyapkan seorang Darmaji sangatlah susah. Karena ia punya rawarontek yang sudah cukup dalam. Belum lagi ajian-ajian ilmu hitam lainnya.


Hingga kini Doni saja tak mengetahui ilmu apa yang sudah di pelajari lagi oleh Darmaji. Ia hanya bisa bersiap siaga saja.


"Baiklah bu, biar ku lanjutkan di kost saja, do'akan saja semoga aku bisa menemukan sebagian dari jiwanya Mayang"


"Aamiin, baiklah. Hati-hati di jalan nak, jika sudah sampai rumah kabari ibu"


Doni tersenyum dan kemudian pamit pergi dan meninggalkan rumah itu.


"Sesusah inikah menemukanmu May ?? Apa Kanaya ada di balik ini semua ??" tanya Doni sambil melangkah menuju motornya.


***


Di kost putri.


Zizi sedang berada di kamarnya Tasya, mencari sesuatu bersama Devano. Tapi mereka tetap dalam pengawasan Kiandra.


"Sudah dapat ??" tanya Kiandra.


"Belum bu" jawab Zizi.


"Ini sudah jam 9 malam, sebaiknya Devano pulang" ucap Kiandra.


"Tapi barangnya belum ketemu bu" kata Devano.


"Bisa di cari besok lagi. Atau kalau nggak tanyakan ke Tasya, dimana dia menaruh barang itu"


Zizi menoleh ke arah ke arah Devano dan memberi kode supaya ia pulang saja. Dengan tak bersemangat Devano pun meng-iyakannya.

__ADS_1


Walau sebenarnya ia tak tenang kalau barang itu belum ketemu. Karena ia takut kalau nantinya ia bakalan di hantui Tasya lagi.


"Zi, cari yang bener ya ?" ucap Devano saat hendak pergi.


"Iya kaaaaak !! Sudah sana !"


"Sumpah gue ga tenang kalau barang itu belum ketemu"


"Memangnya kenapa ??"


"Emmm... Anu"


"Apa ???"


"Sebenarnyaaa.. Gue di hantui sama Tasya, Zi"


Zizi mengangkat satu alisnya.


"Serius"


"Kan kak Tasya masih hidup"


"Nah, itu dia anehnya"


"Gini aja deh, sebenarnya apa isi dari kain merah itu ??"


Devano pun tengok kanan kiri.


"Gue pulang dulu, udah malam"


Devano pun buru-buru mengegas motornya.


"Yeee !!! Tuh anak !!"


***


Di kost putra.


Doni tak menjawab, ia berlalu begitu saja.


"Selama ini gue menganggap lu adalah guru gue, jadi yang lu lakuin gue tiru, dan gue praktekin. Sekarang gue di ajarin cuek dan ga punya rasa peduli sama lu. Ok ! Gue beli"


Doni menghentikan langkahnya. Sebenarnya ia tak ingin melakukan ini, ia ingin Rifki konsen sama Zizi dulu. Biar Doni urus urusannya sendiri untuk mencari setengah dari jiwanya Mayang.


Ia tak ingin Rifki tau akan hal ini. Walaupun ia sempat pernah memergoki aksinya. Namun tak ia jelaskan maksud dari semuanya.


"Lu tau nggak ?? Zizi butuh bantuan ? Lu tau nggak ?? Darmaji datang dan membuat ulah lagi ?? Lu tau nggak...."


Belum selesai bicara Doni pergi meninggalkan Rifki.


"Emang temen ga berguna lu !!"


DEERRR !!


Doni membanting pintu kamarnya. Kemudian melempar tasnya dan duduk di balik pintu itu.


"Gue tau Ki ! Zizi butuh bantuan. Gue tau, Darmaji datang lagi. Gue tau !! Gue tauuu !! Gue cuma mau fokus ke Mayang dulu !! Cuma dia yang membuat gue semangat dalam menjalani hidup Ki ! Cuma Mayang Ki ! Gue ga mau fikiran gue terbelah kemana-mana. Gue cuma mau fokus ke satu tujuan dulu Ki !! Terserah lu mau anggap gue apa ! Gue janji gue bakalan bantu kalian kalau masalah gue sudah selesai"


***


Suara getar hpnya Zizi mengagetkannya saat Zizi sedang membaca buku.


"Siapa sih ??"


Di lihatnya ponsel itu dan ternyata dari Devano.


"Kak Dev ??"


Lalu di bacanya sebuah pesan itu.

__ADS_1


"Sorry ya tadi gue buru-buru cabut, soalnya udah malam, takut gue ga berani pulang"


"Oalaah, kakak ini penakut juga ?" ledek Zizi.


Kemudian Devano pun menelponnya.


"Iya kak, ada apa ?" tanya Zizi lewat via suara.


"Gue mau bilang kalau kain merah itu isinya..."


"Yes ! Akhirnya rencana gue sama Rifki berhasil buat nakut-nakutin Devano, dan ngaku juga rahasia apa yang di sembunyikannya" ucap Zizi dalam hati.


Ia segera mengirim pesan ke Rifki.


"Waaah, serius nih anak ?? Beneran secepat itu ?? Setakut itukah Devano sama hantu ??" tanya Rifki di depan layar ponselnya.


Ia segera membalas pesan dari Zizi.


"Lalu ? Apa isi kain merah itu ??"


Tak lama Zizi pun membalasnya.


"Hah ?? Serius Zi ??"


"Gue juga ga nyangka tadinya, gue kira pas dulu Tasya cerita itu, dia udah membuangnya. Tapi nyatanya dia malah menyimpannya sebagai jimat"


"Pantas saja mba Mala, ehh mba kuntinya ngikutin dia terus, orang rambutnya aja di simpan sama dia, oalah Sya Syaaaa..."


"Pertanyaannya cuma satu, dimana sekarang kain merah berisi rambutnya mba kunti itu ?"


Rifki terdiam.


"Kalau di kamarnya Devano ga ada, di kost juga ga ada, satu-satunya ya di antara tas bajunya Tasya, Zi"


"Tas bajunya Tasya ??"


***


"Mamaaaaaaaaa !!!" teriak Tasya sangat kencang.


Sontak saja kedua orang tuanya pun langsung menghampirinya. Ia sudah berada di pojok kamarnya sambil menahan rasa takut.


"Kenapa orang ini ada di kamar Tasya !!"


"Nak, sabar dulu"


"Jawab Ma !!! Kenapa ??"


"Dia menjagamu nak"


"Pria mesum macam dia tak pantas menjaga Tasya Ma !!"


"Diam kau !!" teriak Darmaji.


Tasya menatap ke arahnya.


"Lalu ? Apa bedanya aku dengan pacarmu ??"


Tasya terdiam.


"Bukankah sama saja ?? Dia menjamahmu gratis tanpa syarat bukan ?? hanya dengan ucapan manis dan janji palsu kau membarikan mahkotamu ? Lalu sekarang bagaimana kabarnya ?? Bukankah dia membuangmu seperti sampah ? Saat dia tau kau sakit parah ??"


Tasya terpaku mendengar kalimat itu. Ia baru sadar bahwa selama ia sakit ia tak melihat kekasihnya.


"Benarkah Devano telah membuangku seperti sampah saat dia tau sakitku parah ??" tanya Tasya dalam hati.


"Aku di sini untuk membantumu, mari sembuh, mari pulih dan buktikan ke dia bahwa kau masih berharga !!" ucap Darmaji sedikit merayu.


Entah mengapa perasaan terbakar api yang begitu bergejolak ada di dalam dada Tasya saat mengingat Devano.

__ADS_1


"Tunggu pembalasanku Devano !"


__ADS_2