
***
Pulang sekolah Zizi dan anak kost lainnya kaget saat melihat ada banyak anak di kost itu.
"Mereka ngapain ??" tanya Tania.
Salah satu dari mereka pun mencoba bertanya.
"Raya, lu ngapain di sini ??" tanya Intan.
"Gua mau kost di sini lah" jawabnya.
"Kost di sini ?? ko bisa ?"
"Loh ? memangnya ga boleh ? pemilik kost ini aja ngizinin, lagian ya ? kita dapat potongan harga, daripada di kost gua kemarin, malah naik cuy. Mending pindah dong" tuturnya.
"Hah ??"
Zizi dan yang lain merasa heran. Satu lagi yang mencengangkan adalah kembalinya Tasya ke kost itu. Mereka hanya saling pandang saja.
"Itu Tasya ??"
"Waaah, hati-hati aja nih"
Yang lain segera menghampiri Tasya, sedangkan Diana menarik tangan Zizi.
"Lu yakin ini bakalan baik-baik aja ?" tanya Diana sedikit khawatir.
"Percayakan semua kepada Allah"
"Tapi kan tetap saja ada rasa was-was"
"Terhadap ??"
"Makhluk halus"
"Bentengi diri dengan ayat-ayat suci"
"Bukankah mereka juga bisa membaca ayat suci ? terutama ayat kursi"
"Sebagian dari mereka memang bisa membaca ayat kursi, tapi para jin atau setan ga bakalan membacanya sampai akhir ayat. Itulah yang menjadi kelemahan mereka"
"Ohhh, jadi... mereka akan menggangu agar kita ga bisa menyelesaikan ayat itu ?"
"Iya, bacalah 7 kali untuk perlindungan"
"Tapi kadang tiba-tiba aja nge-lag pikirannya pas di depan kita tuh ada sosok ghoib"
"Iman kita kurang"
"Apa lagi kalau udah mencium aroma mistik, uhh merinding"
Zizi menoleh.
"Mereka memang suka mengganggu dengan cara yang kita takuti, misal nih, kita takut dengan aroma, mereka akan mendatangkan aroma itu"
"Jadi penasaran sama aroma para makhluk halus"
"Melati ??"
"Mba Kunti bukan ??"
Zizi tersenyum.
"Kalau bau ****** apa Zi ?"
"Mba Kunti juga, kadang tapi. Susah di tebak sih"
"Terus kalau kayak pocong ? genderuwo ? Wewe gombel ?"
"Biasanya kalau pocong identik wewangian mistik, wangi yang jarang kalian cium. Kalau Wewe gombel dan Sunder bolong hampir sama, yaitu anyir, bau darah"
"Ko merinding ya gue ? terus yang lain ??"
"Emmm.... apa ya ?? mungkin kalau kayak sejenis jin, aromanya itu semacam bau kemenyan"
"Pernah denger, kalau yang bau singkong bakar ??"
__ADS_1
"Oh, itu genderuwo, haha. Hati-hati aja kalau udah ketemu dia"
"Ih, Zizi ! jangan gitu dong"
"Udah ah, ayo gabung sama yang lain, kenalan juga sama anak-anak baru itu, yaa walaupun udah kenal"
Diana pun mengangguk dan mulai berjalan bersama Zizi menghampiri yang lainnya.
***
"Akan ku pastikan 100 hari kedepan kau akan pulang"
"Aku ga peduli, yang ku pedulikan hanya melindunginya sekuat dan sepenuh jiwa dan ragaku"
"Hahahahaaa, ambisimu memanglah hebat, aku acungi jempol"
"Yang ku pegang teguh adalah, kejahatan ga akan pernah menang"
Ia mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Biasanya orang jahat adalah dia yang dulunya baik tapi di sia-siakan"
"Kau bukan di sia-siakan, kau hanya salah faham !"
"Salah faham ? tapi tak ada yang mau menjelaskan !"
"Kau yang tak mau mendengarkannya"
"Halah ! persetan... Hiiiiaaaaakkkkk !!!!"
***
"Permisi Bu Kia, dari tadi aku nyariin mba Mala tapi ko ga ada ya ?" tanya Intan.
"Oh, mba Mala pulang, lagian tempat ini sudah penuh dengan anak-anak, jadi mba Mala ga kebagian kamar. Ada urusan juga katanya di kampung. Ada apa nyariin dia ?"
"Oh, nggak sih Bu, tadinya mau minta masakin sayur, tapi kalau ga ada ya udah, aku masak sendiri aja"
"Mau masak atau mau ibu pesankan saja ? nanti biar sekalian buat semua anak di sini"
Zizi sebenarnya sedang memperhatikan mereka dari kejauhan, Kiandra pun sebenarnya mengetahuinya, namun ia pura-pura ga melihat Zizi.
"Baik sih sebenernya orang itu, tapi kalau lagi ga waras bahaya banget" ujar Zizi dalam hati.
Zizi pun beranjak pergi menuju kamarnya. Di tengah perjalanan ia di sapa oleh Uti.
"Hay Zizi"
"Eh, Uti, kamarmu di sini ?"
"Iya, kamarmu di mana ?"
"Di lantai 4"
"Owh, ya udah, siapa tau mau istirahat"
"Iya, duluan ya ?"
Uti pun melempar senyuman manisnya lalu menutup pintu kamarnya. Zizi melanjutkan perjalanannya. Tiba-tiba ia di sapa lagi.
"Hay Zizi"
DEGG !!
Zizi langsung menoleh ke belakang. Ia heran, pasalnya yang menyapa itu Uti lagi, padahal seharusnya ia sudah ada di lantai 3.
Zizi hanya memberikan senyuman padanya tanpa berkomunikasi, Zizi segera lari ke lantai selanjutnya.
"Hay Zizi"
DEGG !!
Jantungnya hampir saja copot. Zizi menahan amarah. Mencoba senyum kepada Uti. Setelah itu ia mengatur nafasnya kembali, memejamkan matanya lalu menghembuskan nafas perlahan-lahan.
Ia melihat jam di tangannya. Jam menunjukan pukul 17 : 56. Sebentar lagi adzan Maghrib, tapi Zizi masih di buat berputar-putar di ruangan itu.
"Bismillahirrahmanirrahim... Allahulaa illaha Illa huwal hayyul qoyyuum, laa ta'khudzuhuu sinatuwwalaa na'um lahuu maafissamawati wa maa fil Ardhi......,"
__ADS_1
***
Di kamar Ratih.
"Susah banget sih nih soal kimia ! uhh (melempar buku) kesel gue !"
Kemudian ia teringat kalau Raya ada di kost itu.
"Ehh, Raya kan jago kimia, kenapa gue ga minta tolong aja sama dia"
Ia pun segera bergegas, mengambil kembali buku yang ia lempar tadi dan segera berlari menuju ruang kamar Raya.
"Ehh, pintu kamarnya ngebuka"
Ratih pun dengan perlahan mendekat. Disana ia melihat Raya tengah melaksanakan sholat.
"Oh, lagi sholat ya ?" ucap Ratih lirih.
Akhirnya Ratih pun duduk di depan pintu kamar itu. Sambal nunggu Raya selesai sholat ia pun memainkan ponselnya.
Sambil sesekali menoleh ke arah Raya, Ratih masih tetap menunggu di depan pintu itu.
"Ko lama ya ?" ucapnya dalam hati.
Tiba-tiba ia mendapat pesan dari Raya. Ratih pun kaget.
"Lu nge-prank gue Ray ??" ucap Ratih pada Raya yang masih mengenakan mukena.
Tapi Raya nampak diam saja. Ratih mencoba mendekatinya perlahan.
"Ray..."
Tiba-tiba Raya berbalik dan menakuti Ratih. Ratih yang kaget pun menjerit dengan sangat keras.
AAAAAAAAA
"Hahahaha"
Terdengar suara tawa Raya yang membuat Ratih kesal.
"Gila lu !! magrib-magrib nge-prank orang !! kualat ntar lu !!" ucap Ratih penuh emosi.
"Hahahaa, sorry sorry, becanda Tih"
"Ga ada becanda kayak gitu !! ntar lu ngerasain sendiri baru tau rasa lu !! jangan main-main di sini"
"Ah Ratih, jangan gitu deh, maaf deh maaf, ga akan ngilangin lagi deh, maaf ya ??"
Ratih masih terlihat kesal.
"Memangnya kamu pernah ya di takutin sama hantu beneran ?? sampai-sampai gue prank gitu aja lu syok banget ??"
Ratih masih enggan berbicara.
"Emang di sini beneran banyak hantunya ya ??"
Ratih masih diam membisu.
"Ratih, ngomong dong, diem aja lu dari tadi, Tih, Ratih"
Raya mulai merasakan hal yang tak mengenakkan. Ia mulai cemas.
"Tih, jangan bikin gue takut deh, Tih"
Tiba-tiba Ratih kejang. Raya pun jadi tambah panik.
"Tih, lu kenapa Tih ?? Ratih ??" ucap Raya sambil menggoyang-goyangkan badan Ratih.
"Hahahaha"
PLAAKK !!
"Auh !! sakiiit Raya !"
"Ga tau gue panik beneran !!"
"Hahaha,, 1 1. Lu kira cuma lu doang yang bisa nge-prank ?? gue juga weeeee..."
__ADS_1