
***
Malam ini angin sepoi-sepoi. Bintang berkedip genit ke sang rembulan. Rembulan yang malu menutup badannya setengah dengan kabut.
Tapi kabutnya terlalu tipis, dan hilang ketika sang angin meniupnya. Rembulan mulai memicingkan matanya pada angin. Ia kesal karena bintang-bintang selalu menggodanya.
Oh indahnya ketika alam sedang becanda. Tapi tak seindah masa depan Mayang. Hidupnya hancur lebur bagai kapur yang di guyur air.
Mungkin hidupnya seperti kerikil yang terlempar ke dalam lautan. Tenggelam dan tak bisa kembali ke permukaan.
TOK TOK TOK
"Siapa ?"
"Boleh saya masuk"
Suara itu tak asing. Seketika orang dalam rumah itu senyap. Ia mengulangi mengetuk pintu lagi. Namun tak ada jawaban.
"Izinkan aku berbicara dengan calon anakku"
TAP TAP TAP
Suara langkah itu mulai mendekati pintu.
GERIIITTT
"(Tersenyum) akhirnya, kau mau menemuiku juga"
"Mau apa lagi kemari ??"
"Aku....."
"Masuklah nak !!! Mama tak sudi orang ini berkunjung ke gubug kita lagi !!"
"Aku hanya ingin tau kabar dari calon anakku"
"Anakmu ??!!! Cuih"
"Ma, masuklah ke dalam, aku akan bicara sama dia di luar"
"Mama ga akan mengizinkan kau pergi bersama laki-laki dajjal ini !"
"Percayakan semuanya padaku, aku bisa menjaga diri"
"Tidak ! Mama sudah pernah memberi sebuah kepercayaan kepadamu untuk menjaga diri, tapi apa hasilnya ?!! Kali ini tidak akan terulang lagi !! Mama yakin dia datang kemari untuk menikmati tubuh gratismu lagi !!"
Tiba-tiba pria itu mencengkeram kedua pipinya.
"Jaga ucapmu !! Atau ku bunuh kau !"
"Lakukanlah !! Asal jangan kau sentuh anakku lagi !!"
"Beraninya kau berkata seperti itu !! Setelah sekian lama ku tanggung jawabi kebutuhanmu !!" ucapnya sambil mendorong wanita itu.
PLAKKK
Sebuah tamparan melayang di pipi.
"Jangan kau sentuh ibuku !!!"
"Sekarang sudah berani kau !!" ucapnya dengan nada kesal.
"Kau hanya seorang buron ! Aku teriak pun kau langsung di kejar polisi. Jadi, ga usah sok keras!" tegasnya.
"Mayang sari Mayang sari, kau itu hanya gadis murahan ! Bahkan lebih murah daripada pelac*r !"
__ADS_1
"Diam kau Darmaji !!! Rasanya muak aku lihat wajahmu ! Ingin sekali aku menghabisi nyawamu !!"
"Hahahaaaa, anak lemah macam kau bisa apa ?? Palingan hanya bisa menggores saja"
"Oh ya ??"
"Kau bisa selamat karena ada teman-temanmu kan ?? Coba kau sendirian ?? Mati kau !!!"
DUAKKK !!
"Kuranga ajar !!!"
Kemudian ia menarik rambutnya dengan keras, ibunya berteriak supaya melepaskan tarikan itu.
"Bukankah kau datang kemari bertujuan untuk menanyakan kabar anakmu ?? lalu mengapa kau siksa kembali calon ibu dari anak itu ??"
"Aku datang kemari baik-baik, tapi kalian sambut dengan siraman api !!"
Ibunya terdiam. Tiba-tiba Mayang mengajak Darmaji keluar. Katanya ada yang ingin ia bicarakan. Ibunya cemas, tapi itu kemauan Mayang. Ia hanya bisa berdo'a semoga anaknya baik-baik saja.
Lama ia menunggu. Lagi-lagi di lihatnya jendela rumahnya. Tapi belum ada tanda-tanda Mayang pulang.
"Kemana kamu nak ?? Mama ini cemas menunggumu, apalagi, kamu sedang hamil muda, ya Allah gimana ini"
Ia mondar mandir terus di depan pintu. Sesekali menengok ke jendela, lagi dan lagi. Ia lakukan sampai lelah rasanya. Bahkan sampai jam 12 malam Mayang belum juga pulang.
"Ya Allah apa yang terjadi dengannya ??" ucapnya sambil bergetar saking cemasnya.
Ia duduk bersender di depan pintu itu. Terus menunggu kepulangan Mayang. Air mata tak henti menetes, do'a terus saja mengalir dari mulutnya.
Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 2 pagi. Tapi Mayang belum juga pulang. Kini gerimis mulai datang. Pikirannya mulai ga karuan.
"Kemana harus aku cari ?? Ya Allah tolong lindungi anakku"
Hujan makin deras, petir pun seakan tak mau kalah menunjukan kehebatannya.
Pukul 3 pun berlalu, tapi benar-benar tak ada tanda kalau Mayang pulang. Semakin kencang ia menangis bersamaan dengan air hujan dan kilauan sambaran petir.
"Dia anak pertama, jika dia meninggal, nanti siapa yang akan menjaga adik-adiknya kalau aku telah meninggal juga, hiks hikkss"
ALLAHU AKBAR ALLAAAAHU AKBAR
GERIIIITTTT
Ia menoleh ke arah pintu itu.
"Mayang ????"
Mayang hanya diam saja tanpa suara.
"Apa yang terjadi nak ???"
Mayang hanya menoleh ke arah ibunya.
"Mayang mau tidur ! Bangunkan Mayang jam 6 pagi. Mayang mau sekolah" ucapnya dengan tatapan yang kosong.
Ibunya benar-benar heran dan bingung.
"Mayang baik-baik saja ko Ma, mama ga usah khawatir sama Mayang"
Ibunya hanya menatapnya saja dengan terpaku.
"Apa yang terjadi denganmu nak ??" kalimat itu yang selalu ada di benak ibunya.
***
__ADS_1
Di kost putra.
"Ki, gua ko rindu ya sama Mayang" ucap Doni sambil memakai sarung dan peci.
"Ealah, rindu ko ngomong ke gua, temuinlah" jawab Rifki sambil menaruh peci dan sajadahnya.
"Mana mau dia di temuin" kata Doni sambil Doni.
"Di intip aja" ledek Rifki.
"Apaan sih lu ? Kasih solusi yang bener ngapa !"
"Ya mana gua tau, yang rindu kan lu, cari solusi sendiri lah"
"Lu ga pengin bantuin gua ?" tanya Doni.
"Ya pengin, tapi kan ga tau caranya, dia aja ga mau di temuin, padahal aku juga pengin banget nanya-nanya ke dia" kata Rifki sambil duduk di samping Doni.
"Kapan ya dia ke sekolah lagi ?"
"Berdo'a saja, semoga secepatnya Mayang bisa sekolah lagi dan ngilangin rasa traumanya"
"Ya udah deh, sholat subuh dulu lah, biar ga terlalu resah karena rindu" ucap Doni sambil berdiri dari kursi duduknya.
"Ya udah sana, gua mau tidur lagi deh, masih ngantuk" kata Rifki sambil berjalan ke kasurnya.
"Entar rezeki lu di patok ayam loh, ga boleh tau abis subuh tidur lagi ! Ga baik buat kesehatan"
"Lu ceramah mulu, sholat dulu sana ! Ujan-ujan gini enaknya tuh tidur lagi" jawab Rifki sambil memeluk gulingnya.
Doni pun mulai menggelar sajadahnya dan menunaikan ibadah sholat subuh. Sementara Rifki yang sudah sholat terlebih dahulu ia malah tidur lagi. Baru saja ia memejamkan matanya tiba-tiba ia melihat Mayang ada di dekat jendela kamarnya. Sontak saja Rifki pun terjaga.
"Mayang ??"
Rifki menoleh ke arah Doni yang masih berdiri tegak dalam ibadahnya.
"Ini karena gue rindu juga atau karena emang dia ada di sini ???"
Lagi-lagi ia menoleh ke arah Doni. Kemudian ia bangun dan menaruh bantalnya, lalu memberanikan diri membuka jendela itu.
CEKLEKK
Doni menoleh ke Rifki.
"Katanya mau tidur lagi ?? Ko ga jadi ?" tanya Doni.
"Ada Mayang"
Doni menaikan satu alisnya. Lalu berjalan mendekati Rifki.
"Oh, ternyata pas aku sholat tadi kamu tidur beneran ya ? Hahahaa"
"Gua serius Don !" kata Rifki dengan wajah yang tak becanda.
"Mayang di sini ?? Ga mungkin Ki"
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini Don"
"Jarak rumah Mayang jauh Ki ! Ga mungkin sepagi ini dia sudah berada di sini ? Jam berapa dari rumah ??"
Rifki menoleh ke arah Doni.
"Benar juga, tapi gue merasakan kalau Mayang ada di sini ??"
"Nglindur nih anak, gue yang rindu aja ga segitunya Ki menghayalnya" ucap Doni sambil rebahan dan membaca jadwal pelajaran hari ini.
__ADS_1
Rifki terdiam. Terlintas kembali bayangan Mayang yang berada di dekat jendela itu.