
Setelah aksesoris itu remuk, kekuatan ketiga anak itu pun pulih kembali. Zidan segera berlari mendekat ke arah Mega. Ia pun merebut Mega dari genggaman Rifki. Ia segera membopong Mega dan berlari secepat kilat.
SEETTTTTTTT
Rifki melongo sekilas. Tiba-tiba ia merasakan kehilangan. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya ketika Zidan membawa lari Mega.
"Cemburu ??? Ah ga mungkin" ucap hati Rifki bergemuruh.
Tapi pada kenyataannya ia memang sedikit cemburu melihat kedekatan mereka. Bukankah Zidan lebih bersikap hangat kepada Mega ? Sedangkan Rifki sendiri begitu dingin terhadap Mega.
"Semoga kau baik-baik Mega" ucap Rifki lirih.
Diandra masih saja berada di atas tubuhnya Darmaji. Tangannya masih menempel di dada itu. Sedangkan Zizi sudah melepaskannya sedari tadi. Tapi kalau di lihat-lihat Diandra seperti memegang sesuatu di tangannya. Seperti sebuah pisau kecil.
"Dek ? Kamu mau ngapain ?" tanya Zizi.
Diandra menoleh ke arah Zizi sambil tersenyum.
"Ssssttt !! Nanti papa tau"
Zizi mengangkat satu alisnya. Tiba-tiba...
CRUUUKKKK !!!
AAAAAA !!!
Pisau itu di tancapkannya di didada Darmaji.
"Aku mau makan hati dan jantungnya papa, xixixixiii...."
Paniklah Darmaji saat mendengar kalimat itu. Rasa sakitnya bertubi-tubi. Kini ia harus berhadapan dengan anaknya sendiri yang bahkan hendak memakan hati dan jantungnya.
CRUUUKKK !!!
AAAAAAAA !!!
Zizi memejamkan matanya. Tak kuasa ia melihatnya. Diandra mulai membelah dada itu dengan paksa. Darmaji masih dalam kondisi sadar, hanya saja ia merasa tak berdaya.
Diandra tersenyum saat dada Darmaji kini telah berlubang. Darmaji mulai benar-benar tak kuasa menahan rasa sakitnya. Ia perlahan tak sadarkan diri.
Bersamaan dengan itu Mayang pun tak sadarkan diri karena belum siap menerima khodam.
"May ??? May bangun May ?"
Diandra menoleh ke arah Mayang. Dengan tangan dan mulut penuh dengan darah ia mendekati Mayang. Memeluknya lalu menciumnya.
"Ma, papa sudah mati, kali ini Diandra sudah memakan jantung dan hatinya, agar papa ga bisa hidup lagi, mama ga perlu takut lagi. Mama ga perlu cemas lagi. Mama akan baik-baik saja setelah ini. Diandra pengin lihat mama bahagia. Ma... Diandra pamit pergi ya ma ? Diandra sayang sama mama" bisik Diandra dengan lembut di telinga Mayang.
Mayang pun terbangun.
"Nak ???"
Diandra tersenyum tapi ia tetap berjalan dan mulai menjauhi Mayang.
__ADS_1
"Nak ???"
Diandra makin jauh dan Mayang hanya bisa meneteskan air mata.
"Mama juga sayang sama Diandra"
Doni mencoba menenangkan Mayang. Mengelus bahunya dan memeluknya. Mayang pun menangis melihat kepergian Diandra.
"Diandra"
***
"Susteeeer !!! Tolong.. Tolongin teman saya ini !" teriak Zidan di depan ruang UGD sambil membopong Mega.
Beberapa suster keluar dari ruangan dan membukakan pintu, kemudian di siapkannya sebuah brankar. Mega di dorong masuk sedangkan Zidan di suruh menunggu di luar.
Dengan panik dan gelisah Zidan menantinya di depan pintu. Kemudian ia di arahkan untuk segera mendaftarkan pasien.
"Haduh !! Dompet aku di motor ! Mana motornya ga aku bawa lagi ! Duuuh... Chat Rifki kira-kira mau ga ya dia nganterin motornya ke sini ?"
Tak lama seorang dokter keluar dan memberitahu kalau Mega harus segera di rontgen untuk mengetahui luka dalamnya karena Mega terus saja mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Lakukan yang terbaik buat Mega Dok ! saya ngikut saja" ucap Zidan begitu lemas.
Setelah para perawat itu pergi Zidan keluar dan hendak kembali lagi ke tempat semula.
"Tapi ini rumah sakit, banyak orang berlalu lalang, dan juga... Ada cctv, ga mungkin kalau aku pakai kekuatan buat bisa lari, haduuh ! Rifki ga balas-balas lagi, gimana ini"
"Tapi sus, saya mau...."
"Tunggu di luar sebentar ya kak, kami pasti mengusahakan yang terbaik buat para pasien, kakak tenang saja, jika pasien membutuhakan sesuatu nanti kami akan memberitahukannya kepada kakak"
Zidan sedikit kecewa, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia pun menunggu di luar. Ia merasakan ada yang ga beres di ruangan Mega.
"Ada apa ini ?? Kok perasaanku ga tenang ? Mega ??"
***
"Puas lu Her ! Nyakiti adik-adik lu ??" ucap Bima.
Heru masih diam saja di sana. Bima mencoba membawa Sofia ke dalam mobil Heru. Heru masih tak bergeming. Di saat ia sedang memperhatikan Bima ia melihat ada seorang wanita muncul dari balik semak-semak.
"Wow"
Ia begitu cantik. Ia hanya memakai kain yang di balutkan di badannya dari atas dada hingga paha saja. Ya, dia lah teman Bima. Tapi kali ini Bima tak melihat kedatangannya.
Heru menoleh ke kanan dan ke kiri. Wanita memanggilnya dengan sebuah kode lambaian tangan yang begitu gemualai. Jiwa playboy Heru meronta-ronta.
Heru tersenyum lalu mendekatinya. Bima yang melihat Heru mulai berjalan menuju ke sebuah semak pun berteriak memanggilnya.
"Her !!!"
Heru tak mempedulikannya. Ia terpesona dengan kecantikan wanita itu. Wanita itu makin berjalan ke semak yang rumputnya tinggi-tinggi. Itu justru makin membuat Heru penasaran dan liar.
__ADS_1
"Mau kemana cantiiik ?? Sini sama abang, jangan ke tempat yang sepi dan gelap ah !" ucap Heru.
Tapi wanita itu masih terus berjalan ke semak yang makin gelap. Bima diam-diam mengikutinya dari belakang.
Sedangkan Zizi, Doni dan Mayang berada di mobil menjaga Sofia. Sedangkan Rifki pergi ke rumah sakit mengantar motor Zidan. Tapi kemudian Zizi pergi menyusul Bima.
"Kak Bim, dimana kak Heru ?" tanya Zizi.
"Gue kehilangan jejak Zi"
"Di sini semak-semaknya tinggi kak Bim, bahkan sinar rembulan pun tak bisa menembus menerangi sampai ke sini"
"Iya Zi, dia ko bisa sih masuk ke sini gitu aja"
"Teman kakak merayu kak Heru"
"Teman gue ?? Yang mana ?"
"Yang selalu ada di pundak kak Bima"
"Astaghfirullahal adzim ! Bahaya ini Zi ! Mana tahan Heru sama yang begituan ? Ayo buruan cari dia"
"Iya kak Bima, tapi kemana ? Ini makin gelap ?"
Bima berhenti sejenak.
"Liliana ?? Kamu dimana ??" teriak Bima.
"Liliana ???" tanya Bima.
"Iya, itu namanya"
Tapi tak ada jawaban sama sekali. Tiba-tiba Zizi mempunyai gambaran bahwa Heru sedang berada di tepian sebuah jurang di perbatasan tempat itu.
"Ikut aku kak !" ucap Zizi sambil berlari dan menarik tangan Bima.
Mereka segera berlari menuju lokasi yang di tuju. Di sana sudah ada Sofia, Mayang dan Doni. Segera saja mereka bertanya dimana Heru.
"Itu" ucap Mayang sambil menunjuk ke arah tepian jurang.
"Astagfirullahal adziiim.... Heeer !! Sadar Her !! Jangan kesitu !" teriak Bima.
"Bim...." ucap Sofia tiba-tiba memeluk Bima sambil menangis saat melihat Heru dalam bahaya.
Bima bingung harus berbuat apa, karena beberapa langkah lagi Heru jatuh ke jurang. Namun dalam pandangan Heru ia sedang berada di sebuah ruangan yang besar dan sangat terang.
Di sana ia melihat banyak sekali botolminuman keras berbaris rapi dan foto gadis tanpa busana. Liliana tersenyum manis sambil terus saja menghoda Heru.
Heru melihat di belakangnya adalah sebuah kasur besar yang sangat empuk. Jadi ketika Liliana berulah sambil mendorong Heru, ia merasa nanti akan jatuh ke kasur itu.
Liliana mulai melangkah maju mendekati Heru, dan semakin dekat. Heru makin liar pikirannya saat Liliana memaikan bibir dan rambutnya. Lilianapun mendorong Heru.
"Liliana jangaaaaaaan !!!"
__ADS_1