Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Di hantui


__ADS_3

Dewi duduk termenung di depan piring sajinya. Ia menatap satu persatu orang-orang di sekitarnya. Ada yang sedang dengan lahapnya menyantap hidangannya, ada juga yang sama seperti dirinya yang hanya memandangi makanan itu saja.


"Bagaimana cara keluar dari tempat ini ? di sini sangat panas" ucap Dewi dalam hati.


Ia mencoba terus mencari seseorang, siapa tau disana ada orang yang ia kenali.


"Kemana wanita yang katanya mengenalku ?? mengapa ia tak nampak sama sekali ??"


Tiba-tiba ada yang menjambak rambutnya dengan sangat keras.


"Auh !! sakit" teriak Dewi.


"Disini tempatnya orang makan ! bukan tempat untuk melamun !! kau sudah di bawa ke tempat ini, kau harus ikuti dan patuhi peraturan di sini !!"


"Iya, iya, ampun. tapi gue mohon lepasin dulu, sakiiiiiiiit"


Bukannya di lepaskan dengan perlahan, tapi ia melepaskannya sambil mendorong Dewi sehingga Dewi jatuh tersungkur dan kepalanya malah membentur lantai.


"DEWIIII !!!"


Zizi terbangun dari tidurnya.


"Hufh !! mimpi ??"


Ia mencoba mengingat semua kejadian tadi. Ia mengusap wajahnya berkali-kali untuk memastikan bahwa itu beneran hanya sebuah mimpi.


"Jika itu beneran Dewi, berarti yang di kubur kemarin bukanlah dia. Lalu ? Apa mungkin Bu Kiandra yang tega melakukan ini semua ??"


***


TOK TOK TOOK !!


Suara pintu kamar Diana terdengar ada yang mengetuk.


"Siapa ya ??"


Tapi ia masih enggan beranjak dari tempat tidurnya. Tiba-tiba pintu kamar mandinya terbuka dengan sendirinya, kemudian menutup lagi.


Sontak saja itu membuat bola mata Diana membesar dan membulat. Ia menelan ludahnya, mencoba mengucek matanya siapa tau ia salah lihat.


"Hufh ! ga mungkin, ini masih bisa di bilang sore, belum terlalu malam, ga mungkin hantu muncul jam segini"


Suara derit pintu kamar mandi terulang kembali. Diana menatapnya dengan seksama. Pintu itu lagi-lagi membuka dan menutup sendiri. Ia mulai sedikit gemetaran.


"Ini beneran ya ??" ucapnya sambil menahan rasa takut.


"HUSSTTT !!"


Suara orang memanggil itu nampak terdengar jelas meskipun tak ada siapapun disan selain Diana.


"HUSSTTT !! HUSSTTT !!"


Kali ini makin jelas suaranya dan membuat sekujur tubuhnya merinding.


"HUSSTTT !!"


AAAAAAAAAA


Diana segera bersembunyi di balik selimutnya.


***

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, tapi Ratih masih sibuk dengan ponselnya di tempat tidur. Tiba-tiba lampunya mati.


Ia menengok sekeliling, ruangannya begitu sepi dan gelap. Pintu kamar masih terbuka. Sayup-sayup ia melihat ada yang mendekat ke arahnya.


"Siapa ??"


Angin mulai terasa dingin. Gorden jendela berkibar saat ia tertiup angin dan saat ada yang mendekat.


Mata Ratih melotot saat ia mulai sadar siapa yang mendekat ke arahnya.


"Nggak !!! nggaaak !! jangaaan ! jangan mendekat !!!!"


Ratih segera menarik selimutnya, namun sosok itu malah ikut masuk ke dalam selimut.


AAAAAAAA


Ratih segera melempar selimut itu dan segera lari keluar kamar. Tiba-tiba lampunya menyala kembali. Ia masih ngos-ngosan karena begitu syok dengan makhluk itu.


"Hufh !"


Ia mencoba masuk kembali ke kamarnya. Mencoba mencari sosok tadi, namun tak ia temui.


"Gue yakin tadi masuk sini, ihh gue aja sampai merinding gini, tapi ko, ga ada. kemana ya ??"


Sambil menahan rasa takut ia mulai menaiki tempat tidurnya kembali. Berharap sosok itu udah pergi dari sana.


"Mudah-mudahan udah pergi" ucapnya sambil menarik selimut itu dan mencoba merebahkan badannya ke tempat tidurnya.


“BAAAAA !!"


AAAAAAAAAAAA


***


"Iya, mama tenang aja, semuanya baik-baik saja ko, Kia bisa ko jaga kost ini dengan baik, percaya aja sama Kia" ucapnya lewat via suara.


Tak lama ia pun mengakhiri panggilan itu.


"Tapi ga harus berbuat curang kan ??" ucap Zizi yang tiba-tiba saja muncul di hadapan Kiandra.


"Bikin jantungan aja kamu ini !! tau sopan santun ga ??" omel Kiandra.


"Gue cuma pengin Dewi balik ke sini !!"


"Gila kamu ini ! dia udah meninggal ! mana bisa di suruh balik lagi ke sini ??"


"Oh meninggal ?? meninggal atau di jadikan tumbal ??"


"Jaga ucapanmu ya !!"


"Bener kan ??"


"Kalau ngomong itu harus ada bukti ! kalau ga ada bukti itu jatuhnya memfitnah namanya !!"


"Ok ! ayo kita bongkar makamnya kak Dewi"


"Silahkan aja minta izin ke orang tuanya Dewi, boleh ga makan anaknya yang baru meninggal di gali lagi ? ga mikir ya betapa sedihnya mereka ?"


Zizi terdiam. Harusnya ia mengumpulkan bukti terlebih dahulu sebelum ia berbicara seperti itu pada Kiandra. Karena pasti Kiandra sudah menyusun rencananya mateng-mateng.


***

__ADS_1


"Lu serius ??" tanya Diana.


"Seriuslah. Masa iya gua bohong"


"Soalnya semalam gua juga di takut-takutin"


"Mba Kunti juga ??"


"Ga tau, dia ga menampakkan dirinya, cuma mainan pintu kamar mandi, sama manggil-manggil gitu, hust hust ! gitu deh pokoknya"


"Masih mending elu sih, lah gue, ia dari ujung lari masuk ke selimut gua, auto kaget dong, gila"


"Apa mungkin itu adalah hantunya Dewi"


"Itu jelas-jelas mba Kunti, bukan Dewi"


"Ya kan siapa tau, bisa jadi dong ??"


"Emm... tapi kan kita ga ada salah apa-apa sama dia ? dia meninggal juga bukan karena kita"


"Kalau di pikir logika ya iya. Tapi kalau di pikir agak melenceng dikit, bisa jadi dia pengin kita mengungkap kematiannya, atau dia mau apa gitu, kan kita ga tau"


"Tapi kalau yang nakutin gua semalam sih gua yakin bukan Dewi, jelas-jelas itu mba Kunti, ahh sudahlah, merinding gua"


"Hufh ! jujur sebenarnya gua pengen banget pindah kost, tapi sudah terlanjur nyaman di sana dengan fasilitas yang lengkap tapi murah"


"Iya, sama gua juga pengin pindah, tapi mau bagaimana lagi, di kost itu murah karena ada hantunya"


"Tapi sebelum Bu Lulu meninggal semua baik-baik aja"


Tiba-tiba mereka mencium aroma melati. Mereka saling pandang dan akhirnya sama-sama lari pergi dari tempat itu.


***


"Iya, yang di kubur biasanya batang pisang atau bisa di ganti dengan yang lain" ucap Rifki.


"Pohon pisang ??" tanya Zizi heran.


"Iya, karena orang yang di jadikan tumbal tuh antara roh dan jasadnya itu ga kayak orang meninggal kayak biasanya"


"Gue yakin, yang semalam gua lihat itu bukan hanya sekedar mimpi"


"Betul, bisa jadi itu sebuah petunjuk"


"Gue udah ada firasat buruk waktu di rumahnya Darmaji, tapi kalian malah mencegah gue buat pulang, gini kan jadinya, nyesel gue"


"Ya kan Doni bilang bakalan baik-baik aja"


"Tasya yang gue kira bakalan meninggal duluan, tapi dia malah selamat, sedangkan kak Dewi yang gue kira baik-baik aja, dia malah yang di jadiin sasaran utama"


"Gue rasa Dewi tau sesuatu tentang Bu Kiandra"


Zizi menoleh ke arah Rifki.


"Maksudnya ?"


"Bisa jadi, Dewi mengetahui rahasia Bu Kiandra, maka dari itu, dia cepat di musnahkan"


Zizi terdiam sejenak. Ia masih ingat waktu melihat Dewi yang seperti orang kebingungan saat di tanyai Zizi waktu itu.


"Coba deh minta petunjuk sama Allah, apa yang sebenarnya terjadi pada Dewi pada saat lu merasa dia ga baik-baik aja"

__ADS_1


__ADS_2