Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Nak, bangun


__ADS_3

"Allahu Akbar"


Kalimat itu kemudian di ikuti oleh ibunya sebagai makmum. Sampai pada saat Zidan bersujud, waktunya pun habis.


Pak Slamet menoleh ke arah Zidan, namun ternyata Zidan tak ada di sampingnya. Ia melihat bahwa Zidan yang sedang berada di dekat ibunya sambil terus menangis.


Ibunya masih bersujud, karena Zidan belum bangkit dari sujudnya. Setelah ada 5 menit tak kunjung bangkit dari sujudnya, ibunya pun mulai khawatir, ia bangkit duluan sambil memperhatikan anaknya itu.


"Zidan..." panggilannya dengan lembut.


Zidan masih tak bergeming. Sekali lagi ibunya memanggilnya, namun masih tetap sama. Ibunya langsung bergegas ke arah Zidan.


"Nak !"


Arwahnya Zidan tak kuasa menahan tangisannya, kali ini ia benar-benar menangis sejadi-jadinya di samping ibunya yang sedang mencoba membangunkan anaknya.


"Nak bangun nak ! Kamu kenapa nak ?" ucap ibunya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Zidan dan mulai panik.


Arwahnya mencoba memeluk ibunya, walaupun sang ibu tak dapat merasakan pelukan itu.


"Naaaak !! bangun !"


Melihat ibunya cemas dan mulai menangis Zidan makin tak tega. Ingin sekali rasanya ia kembali ke tubuh itu, namun ia sudah tak mau lagi bila harus menumbalkan teman-temannya demi untuk kehidupannya.


"Ibu..."


Ia bahkan tak mampu untuk menggerakkan bibirnya lagi. Tangannya hendak menyentuh pipi ibunya namun ia urungkan.


"Hiks... Hiks... Maafkan aku Bu.... hiks... Hiks..."


Ia pun bangkit dan pergi meninggalkan ibunya dan jasadnya disana. Ia tak kuat bila harus terus melihat kejadian itu.


Langkahnya memang sangat berat, apalagi harus meninggalkan ibunya yang dalam keadaan menangis. Tapi, ia berusaha agar tak lagi menengok ke belakang.


"Terimakasih banyak pak" ucap Zidan sambil terus berjalan menuju sebuah cahaya tanpa menoleh ke arah pak Slamet.


Ia pun mulai hilang dari pandangan pak Slamet. Setelah sadar pak Slamet sudah berada di tempat Kanaya lagi. Kertas segel itu pun terbang tertiup angin dan mulai berubah menjadi abu.


DUUUAAKKKK


Tiba-tiba saja pak Slamet di hantam oleh sesosok makhluk disana. Pak Slamet yang kagetpun tak kuasa untuk melawan.


"Auuhh..."


Paha kanannya berdarah lagi, luka sayatan itu kembali terbuka akibat terjatuh tadi.


"Agghh !"


SRIIIINGGG


Pak Slamet langsung menoleh ke arah suara itu.


"Kanaya"


Mata pisau yang lancip itu seolah-olah sudah bersiap untuk meminum darah. Kanaya berjalan mendekat. Pak Slamet langsung berdiri sambil menahan sakit di paha kanannya.


DUUUAKKKK


Kanaya terhempas ke tanah ketika tendangan Zizi mengenai punggungnya. Kanaya langsung melemparkan pisaunya ke arah Zizi.


SRAAAKKKK


"Aghhh !"


Pisau itu mengenai lengan tangan kanannya Zizi.


"Zi..." teriak pak Slamet.

__ADS_1


"Akhirnya, pisauku minum darahmu juga Zi, hahaha, sekarang kau kejam juga ya ? Hahaha"


"Maaf, sebenarnya aku tak ingin ada kekerasan, tapi melihat situasi ini, rasanya kaki dan tanganku ingin sekali bertindak". Ucap Zizi sambil memegangi lengan itu.


Kanaya menoleh ke Zizi kemudian bangkit berdiri.


"Dulu kau janji, katanya kau akan pergi setelah kematian Aludra, tapi apa ??" tanya Zizi.


"(Tersenyum tipis) Hahahahaa, itu hanya alasanku saja, aku memang ada dendam sama Aludra dan Agung, tapi mereka gata (telah pergi) dan aku masih ingin melakukan Holokaus (penghancuran / pembunuhan besar-besaran) sebelum aku lenyap"


"Sayang sekali, kau cantik tapi kau kejam"


"Sama seperti pisauku ? Padmarini (indah serta tajam)"


"Hilangkan pedarmu (bencimu)"


"Dulu citta (maksud hati) ingin sekali jadi anak yang baik, tapi, kejadian demi kejadian yang aku alami membuatku sadar, bahwa baik hanya akan dimanfaatkan dan di sia-siakan"


"Kau salah Nay !"


"Diam kau !! Aku cumbana (mencium) aroma yang sangat nikmat dari tubuhmu yang sebentar lagi akan menjadi milikku, serta darahmu itu membuatku tergoda"


"Mungkin ada yang salah dengan hidungmu Nay !" teriak pak Slamet.


Kanaya menoleh ke pak Slamet kemudian tersenyum.


"Aksa (mata) yang indah pak untuk melihat detik-detik terakhir kehidupan anakmu"


"Anila (angin) pun tau, Allah akan melindungi hambanya yang tak bersalah".


"Anila ?? Hahahaha...."


Kanaya merubah hembusan angin di sana secara bergantian, dari yang sepoi-sepoi sampai yang begitu dahsyatnya dan mampu menerbangkan apapun yang ada di sana.


"Lihatlah ! Aku saja mampu mengendalikan angin-angin ini ! Jadi, tak usah kau bicara seperti itu !! Anila hanya akan menjadi saksi bisu antara kita, dan antara kematian Zilvana dan keabadianku, hahahaha"


"Anagata ?? Hahahaha, tidak ada anagata untuk Zilvana pak"


"Mimpimu terlalu tinggi"


Kanaya langsung terdiam dan menatap ke arah pak Slamet.


"Lingsir wengi... Sepi durung bisa nendra


Kagodha mring wewayang


Ngerindhu ati


Kawitane


Mung sembrana njur kulina


Ra ngira yen bakal nuwuhke tresna


Nanging duh tibane


Aku dhewe kang nemahi


Nandang branta


Kadung lara


Sambat sambat sapa...."


Udara di sana terasa sangat dingin, daun-daun berguguran dan pasir-pasir di sana tiba-tiba bergerak, kemudian munculah makhluk-makhluk dari dalam pasir itu.


Seperti benih kacang yang baru tumbuh, makhluk-makhluk itu mulai terlihat dan nyata.

__ADS_1


"Aku ga suka jika di sepelekan" ucap Kanaya.


Makhluk-makhluk itu mulai berjalan mendekat ke arah pak Slamet dan Zizi.


"Zi, mundur !!"


Zizi menoleh ke ayahnya.


"Tidak ada kata mundur pa... Ayo lawan !"


"Lenganmu terluka nak"


"Tidak apa ko pa, ini harus secepatnya kita akhiri"


Makhluk-makhluk itu terus saja muncul dari dalam tanah, makin lama makin banyak.


"Zi mundur !!" ayahnya mengulangi ucapan itu dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya.


Zizi menoleh ke ayahnya.


"Kalau papa peduli dengan masa depan Zizi, ayo lawan pa !"


Ayahnya terdiam sejenak. Tiba-tiba Kanaya memerintahkan makhluk-makhluk itu untuk menyerang mereka berdua.


SRAAAAAAKKKKK


Suara seretan sapu terdengar nyaring disana.


"Doni ??"


Doni sedikit memainkan sapu lidi gagang palemnya walau ia banyak luka dan bajunya pun tak luput dari tumpahan darah.


"Apa maksudmu ?" tanya Kanaya.


"Aku mau melawanmu !!" jawab Doni dengan lantangnya.


"Kau gila ?? Bagaimana dengan kesepakatan itu ?" tanya Kanaya lagi.


"Kesepakatan yang mana ?? Kau egois !! Bahkan di saat aku mau mati kau sama sekali enggan melirikku !!" ucap Doni.


"Oh, jadi kau batalkan perjanjian itu ? Apa kau sudah lupa dengan Mayang ??"


"Ahhh !! Persetan dengan persetujuan manipulasimu !! Aku akan tetap menyerangmu !! Hiaaakkkk...."


Kanaya segera jaga jarak agar tak terkena sapu lidi gagang palem itu. Sementara Doni sedang menghajar beberapa makhluk yang menghalanginya untuk menuju ke Kanaya. Tiba-tiba datanglah Rifki menyerang Doni.


DUUAAAKKKK


"Apa-apaan ini ??" tanya Doni.


Rifki tak memperdulikan pertanyaannya, ia terus saja menyerang Doni.


"Ki !! Hentikan !!!" teriak Doni.


"Tidak !! Dan gue ga akan biarin lu menang !"


"Ki !!"


Rifki terus saja memukuli Doni habis-habisan sampai sapu lidi gagang palem itu pun terlepas dari genggamannya.


SRAAKKK


Rifki menoleh ke sapu itu dan sedikit kaget.


"Apa maksud lu pakai sapu ini di sini ??" tanya Rifki yang kemudian menghentikan pukulannya.


"Gue mau nyoba bantuin Zizi Ki...."

__ADS_1


DEGGG


__ADS_2