Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Bima


__ADS_3

Bima masih duduk di ruang UKS sekolahan. Ia merasa kesal dengan Doni dan Rifki yang selalu ikut campur. Belum lagi ia baru di kalahkan oleh Zidan adik kelasnya. Ini malah ketambahan Doni dan Rifki.


"Apa-apaan coba ? Hampir padahal ! Hampiiiir ! Ahh !"


Ia terus saja kepikiran dengan kejadian tadi saat ia hampir membuka kancing baju Zizi. Tiba-tiba Doni dan Rifki mengetuk pintu sambil memvideokannya.


"Waaah, ada moment yang berharga gaeess" ucap Doni.


Bima langsung menelan ludah saat kamera itu menangkap wajahnya.


"Apa-apaan lu ? Matiin kameranya !!" ucap Bima.


"Di matiin juga percuma, udah ketangkep juga ko" jawab Doni.


"Lu live ??!!" bentak Bima.


Kemudian Bima menarik Rifki dan mulai menghajarnya. Lalu membanting hpnya Doni. Doni menatap tajam ke arah Bima.


"Bisa kita selesaikan di luar ?" kata Doni dengan santainya.


"Kasihan, takut Zizi bangun" lanjut Rifki.


Dengan amarah yang begitu menyala Bima pun keluar. 1 lawan 2.


Awalan Rifki sempat babak belur karena ternyata Bima jago bela diri, sedangkan Doni cuma luka kecil saja.


"Cuih !! (meludah darah karena perutnya di hantam keras oleh Bima) kejahatan ga akan pernah menang Bim !" ucap Rifki.


"Bac*t lu !! Sini maju !!" tantang Bima.


Rifki dan Doni pun sepakat untuk mengeroyok Bima. Rifki mengincar dari arah belakang dan Doni memancing dari depan.


BLAKKK


Bima terkena pukulan di punggung belakang oleh Rifki dan berhasil memelintir tangannya serta menjatuhkan badannya.


Kemudian ia di berdirikan oleh Doni. Lalu di hajarnya perut serta badannya. Sedangkan Rifki terus berusaha memeganginya agar tak kabur. Alhasil Bima pun mampu di kalahkan.


"Ga ada kapok-kapoknya lu buat onar ! Masih berani mau ngambil keperawanan Zizi ?"


karena Bima udah babak belur ia tak mampu lagi menjawab pertanyaan itu.


Saat sedang mengingat kejadian itu Bima mendengar suara teriakan seorang wanita di luar ruangan UKS. Ia buru-buru keluar dan mencarinya.


DEEP DEEP DEEP


Lampu ruangan mulai berkedip genit. Bima meneruskan berjalan menelusuri ruang demi ruang.


BYAAARRR


Sinar lampu begitu terang menyilaukan. Disana terlihat jelas seorang anak berseragam SMA sedang duduk sendirian.


Bima yang play boy mencoba mendekatinya. Siapa tau si cantik itu yang lagi butuh perhatian dan rayuan. Bahkan rasa sakit yang kena pukulan pun langsung hilang.


"Lagi ngapain dek, sendirian aja ?" tanya Bima dari arah belakang.


Ia masih diam saja. Kemudian ia berdiri dan berjalan. Bima bingung, lalu mengikutinya. Ia menuju ke IPA. Bima masih mengikutinya.


Sesekali ia berhenti. Bima juga berhenti. Bima benar-benar penasaran dengan gadis itu. Berambut panjang dan memakai bandana merah. Ingin sekali rasanya melihat wajahnya.


KLETEK

__ADS_1


Sebuah kalung terjatuh darinya. Tapi ia tetap berjalan, sedangkan Bima mencoba mengambilnya.


"K ??"


Kemudian Bima menoleh dan mencari gadis itu, tapi kok ga ada. Ia memasukan kalung itu ke dalam sakunya. Ia berdiri dan melihat sekeliling.


"kayak kenal aku sama tempat ini ?" ujarnya.


Ia mencoba mengingat-ingat kembali. Tapi sama sekali ga ia ingat. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang saja. Dilihatnya jam di tangannya baru menunjukan pukul 18 : 09.


"Udah maghrib ya ? Ko aku masih di sini ? Pulang ah"


Ia menuju tempat parkir dan segera menyalakan motornya. Saat motor sudah berjalan ia melihat gadis tadi sedang berjalan di tempat itu. Tapi sayang sekali ia mengambil arah menuju ke gerbang dan gadis itu menuju ke arah belakang.


"Loh ? Mas Bima ko baru pulang ?" tanya satpam di sana.


"Iya pak, ketiduran"


"Enak sekali ketiduran sampai jam segini"


"Di dalem juga masih ada cewek ko pak"


"Ahh mas Bima ngawur ! Anak-anak sudah pulang semua"


"Ehh bapak ga percaya, tadi aku lihat ko, dia pakai bandana merah malah. Ke arah belakang tapi"


"Udah ah ! Ini kebanyakan tidur, makanya ngelindur"


"Yee, di bilangin ga percaya, ya udah deh, pulang dulu ya pak"


"Iya mas Bima, hati-hati loh ya di jalan, sandekala ini, nanti ada kalong wewe"


"Kalong wewe itu apa pak ?"


"Oalah pak, jaman sekarang makhluk kayak gitu udah punah pak"


"Punah, yo ndak mungkin mas"


"Udah ah, bapak ngajak ngobrol terus"


"Yo wis, hati-hati, awas ada banaspati"


"Banaspati ?"


"Iya, hantu yang menyerupai bola api dan makin takut orangnya makin besarlah apinya"


"Ahh bapak kebanyakan nonton film ini, udah ahh !"


NGEEEENGGGG


"Di bilangin ndak percaya !"


Tapi Bima sudah melaju dengan kencang ke jalan raya. Ia mengendarai dengan bersenandung. Ia pun tak ketinggalan untuk tetap melihat ke spion.


Sesekali ia menengok ke belakang. Untuk memastikan semua aman dan baik-baik saja. Sekilas ia melihat ada sinar terang yang menyilaukan di antara spionnya.


"Apaan sih itu ??"


Ia masih ga terlalu peduli dengan hal itu.


"Motor ko pakai lampu kayak gitu !" gumamnya

__ADS_1


Alangkah kagetnya saat ia melihat spion lagi ternyata ada sebuah api berbentuk bola kecil melayang rendah di udara.


Kali ini sinar apinya lebih jelas karena tidak terganggu lampu kendaraan lain. Bima mulai curiga.


"Halu ini, gue pasti halu ! Ga mungkin itu ! Pak satpam bohong ! Ini gua di jalanan loh ? Masa iya dia berani ?" ucapnya.


Dan ternyata api kecil itu terus mengikutinya. Paniklah Bima. Ia memacu kencang motornya sambil terus memantau ke arah belakang.


"MAKIN TAKUT ORANGNYA MAKIN BESAR APINYA"


Kalimat itu terngiang-ngiang di kepalanya.


"Ga mungkin ga mungkin ga mungkin ! Halu ! Ini pasti halu"


Tiba-tiba....


GLEKK !!


Motornya mati pas di jalanan yang sepi.


"Ini mah innalillahii"


Lemes rasanya. Ia tengak tengok tapi beneran ga ada orang. Api itu semakin mendekat.


"Oalah gawaaatt !!"


Ia benar-benar panik dan ga tau harus apa. Motornya udah berulang kali di nyalakan tapi ga mau nyala.


"Kenapa tadi gue ga dengerin omongan tuh satpam ! Gini kan jadinya ? Ga ada pengalaman ngadepin hantu ! Gilaaaa !!! Apa solusinya ini ?? Ga mungkin bisa tenang kalau yang ada di hadapan kita itu hantu api ! Makin takut orangnya makin besar apinya djanc*k !!! Ayat kursi ga hafal ! Yasin apa lagi ! Al ikhlas doang mana mempan ! Bahkan Al fatihah gua aja parah ! Mau lari nanti tetap aja di kejar ! Emang sial ini hari !"


Dalam kepanikannya ia melihat ada sebuah sungai kecil. Ia berfikir, mending njebur aja deh daripada di lahap sama setan api itu.


"Dari pada gue mampus ! Mending gue basah kuyup deh"


Tanpa pikir panjang ia pun mendekati sungai itu dan mulai berjalan di antara semak-semak. Kemudian ia melompat ke sungai itu. Baunya ga karuan pokonya deh itu sungai. Tapi karena api itu juga sudah mulai membesar dan mendekat, bahkan sudah di atas kepalanya, mau ga mau ia harus tetap berada di dalam air itu hingga hantu bola api itu pergi.


Tunggu dan di tunggu api itu belum juga pergi. Sedangkan Bima sudah ga kuat untuk menahan nafas.


"Pergi dong pergi !" ucapnya dalam hati.


Ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap bisa berada di dalam air itu. Walau sebenarnya air itu sangatlah kotor.


Saat ia sudah benar-benar pasrah dengan keadaan karena tak kuat menahan nafas lagi Banaspati itu pun pergi, dan Bima pun mulai muncul ke permukaan dengan keadaan yang tak berdaya. Walau masih setengah sadar.


Kemudian di tengah antara sadar dan ga sadar ada yang melintas dan tak sengaja melihatnya. Waah beruntung sekali anak ini, padahal dia jahat loh, masih aja ada yang menolong.


Ia seorang perempuan cantik nan berbadan aduhai, hanya mengenakan kain yang ia balutkan untuk menutupi badan saja. Berkulit putih dan mulus. Bima tersenyum melihatnya. Sayang sekali ia sudah tak berdaya.


"Mas, mas, sadar mas !"


Bima pun tersadar dan mulai membuka matanya. Ia masih dalam keadaan basah kuyup dan ia tergeletak di tepi jalan.


"Mas ga apa-apa ?"


Ia pun mulai melihat sekeliling dan ternyata ga ada perempuan di sana, hanya ada 2 orang pria bapak-bapak saja. Dengan lemas ia pun menjawab.


"Iya pak iya, saya ga apa-apa, terima kasih ya pak ?"


"Sama-sama mas, kami pergi dulu, lain kali hati-hati !" tutur pria itu.


"Iya pak"

__ADS_1


Bima masih dalam keadaan bingung.


"Kemana perempuan itu ?"


__ADS_2