Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Maafkan aku


__ADS_3

Zidan berjalan mendekati Mega, tapi tiba-tiba ia di tarik oleh salah satu kanda pat di sana. Rifki yang sudah loyo pun masih di hajar oleh para kanda pat lainnya. Zidan segera menangkisnya lalu terjadilah perkelahian lagi.


"Apa lagi yang kau mau ? Bukankah kau yang membelenggu Mega ?? Kau yang telah membuat perangkap agar Mega selalu mencarimu dan menanyakan dengan berbagai hal tentang dunia ghoib padamu ??"


"Niatku tidak ada sama sekali tentang membelenggunya. Aku hanya sekedar membantu saja"


"Terlalu licik permainanmu !!"


HIAAAKKKK


"Oh tidak ! Yang ku hadapi adalah Anggapati. Yang menguasai sebuah emosi. Jika ia menang tentu saja nyawa Mega akan melayang" ucap Zidan dalam hati.


Zidan terus saja menangkis serangan dari Anggapati. Sesekali ia mengeluarkan sedikit jurusnya dan di layangkan kepada Anggapati.


HIIIAAAKKKK


CRUUUSSSSS....


TINGGG...


Nampaknya Anggapati sudah terbiasa dengan jurus-jurus dadakan yang ia dapatkan, sehingga ia terlalu lihai dalam menghindarinya.


Rifki sepertinya sudah terlalu berputus asa dalam menghadapi para kanda pat itu. Ia pun memanggil khodamnya.


"Jangaaan !!" teriak Zidan saat melihat Rifki mulai duduk bersila.


Rifki tak menghiraukan hal itu. Ia terus saja memfokuskan diri untuk memanggil khodamnya.


Zidan hendak menghentikan Rifki tapi Anggapati menghentikannya terlebih dahulu.


"Lepaskaaan !! Ki... Dengerin aku, jangan kau panggil khodammu di situasi ini... Kau bisa..."


Belum selesai bicara ia sudah di hajar oleh kanda pat.


DUAAKKK !!


Zidan di tendang oleh Anggapati. Ia pun muntah darah.


"Ukhuuk ukhuk !! huueekk !!"


Zidan segera mengelap mulutnya dan kembali melawan Anggapati. Tupih Muli sudah berada di belakang Rifki sekarang. Nampaknya Rifki sudah percaya diri kali ini untuk bisa melawan 2 kanda pat itu.


"Sini maju ! Sekarang aku siap !" ucap Rifki sambil berlagak dengan pose ala pesilat profesional.


"(Tersenyum tipis) beraninya kau keluarkan khodammu di sini ? Apa kau tak takut kehilangannya ?"


Rifki mengerutkan dahinya.


"Apa maksudmu ??"


"Ambillah resikomu anak muda !! HIAAAAKKKKK !!!"


Rifki melawan 1 kanda pat dan Tupih Muli pun melawan kanda pat lainnya. Zidan masih terlihat ngos-ngosan melawan Anggapati. Sedangkan kanda pat satunya lagi masih menjaga Mega di sana.


Sesekali Rifki melihat ke arah Mega yang terlihat sangat kesakitan dengan belenggu rantai yang ada di badannya dan 1 pisau yang menusuk di lehernya akibat serangan meleset dari Diandra.

__ADS_1


"Tunggu gue Mega ! Gue janji bakalan nolongin lu ! Walaupun nyawa gue sebagai taruhannya" ucap Rifki sambil terus melawan kanda pat itu.


Zidan kini makin dekat dengan Rifki. Sambil terus menangkis dan terus melawan ia pun mencoba berkomunikasi dengan Rifki.


"Tarik kembali khodammu Ki !! Kamu bakal kehilangan dia jika kalah dari para kanda pat di sini"


Rifki menoleh ke arah Zidan, alhasil Rifki pun kena sambaran dari kanda pat itu.


DUUEERRR !!


KROSAAKKK !!


AAGGGHH !!


"Kehilangan khodam ??" tanya Rifki dalam hati.


BUUUGHH !!


Rifki di pukul oleh kanda pat itu hingga ia tergeletak. Namun Rifki masih sadar dan segera bangkit untuk melawan. Di sini Rifki benar-benar babak belur di buatnya.


Zidan pun berhasil di buat tak berdaya oleh Anggapati. Sedangkan Tupih Muli pun kalah dan harus jadi tawanan para kanda pat di sana.


Rifki memegangi kepalanya, ia rasa bumi ini sedang berguncang hebat, bahkan ia seperti sedang di putar-putar di dalam sebuah roda.


"Aaaaarrghh !!!!!" teriak Rifki.


Darah pun mulai keluar dari hidung Rifki. Rifki mengelapnya sambil sesekali memegangi kepalanya. Ia mencoba berdiri dan hendak melawan lagi. Tapi Zidan menariknya.


"Apaan sih lu !! Lepasiin !!" teriak Rifki.


"Ga ! Gue harus nolongin Mega !!"


"Kamu lihat itu ! ( menunjuk ke arah Mega yang sedang di paksa pergi oleh salah satu kanda pat )"


TUT TUT TUUT TUTTTT


Suara mesin elektrokardiograf mulai menunjukkan tanda bahaya bagi pasien. Garis itu sesekali muncul herizontal dan membuat mamanya Mega panik.


"Ki...." panggil Mega.


"Megaaaaa !!" teriak Rifki sambil beranjak dan hendak berlari menuju Mega.


Lagi-lagi Zidan menghentikannya.


"Lepas !! Lepasss !! Aaaaaaaargghh !!! Hiks hiks..."


"Cukup Ki !! Kita belum terlalu kuat untuk hal ini. Lihatlah sekarang. Khodammu saja jadi tawanan mereka !!"


"Huaaaaaaaaaaarrgghh !!!! Hiks hiks.."


Rifki menangis sejadi-jadinya. Zidan memeluk Rifki dan menepuk-nepuk punggungnya.


"Megaaaaaaaaaa !!!"


Telihat Rifki begitu kecewa dengan keadaan ini. Ia tak mampu menyelamatkan Mega.

__ADS_1


"Hiks hiks.... Megaaa !! Aaaaaaaghhh !! Hiks hiks"


Tak kuasa lagi Rifki menahan kesedihannya. Bahkan rasa sakitnya yang terkena pukul itu hilang dan terganti dengan rasa sakit kehilangan Mega. Rasa sakit ini justru malah terasa teramat sakit.


TUUUT TUUUT TUUUUUUUUTTTTTT


"Mega !! bangun Mega !!" panggil mamanya sambil mengoyang-goyangkan tubuh Mega.


Dokter di sana pun hanya bisa membuang nafas pendek.


"Dok ! Anak saya baik-baik saja kan Dok ?? Dok jawab Dok ??!!"


"Kami minta maaf....."


"(Meneteskan air mata) nggak mungkin Dok !! Ga mungkiin..... Megaaaaa ! Bangun nak ! Bangun sayang"


Rifki diam mematung di sana menyaksikan kepergian Mega untuk selama-lamanya. Air mata terus saja mengalir di pipi Rifki tiada henti.


Zidan pun sebenarnya merasakan sakitnya kehilangan Mega. Namun ia tak begitu menunjukannya di hadapan Rifki. Perhatian-perhatian kecil yang kadang Zidan berikan kepada Mega terasa terulang kembali di dalam mata hatinya.


Keluguan dan kepolosan Mega pun kian menambah rasa bersalah Zidan terhadap Mega. Ia yang mengajarkan cara mendekatkan diri dengan para kanda pat itu. Tapi karena kelemahan ilmu yang di miliki Mega, kini Mega malah terbawa oleh para kanda pat itu.


"Maafin aku Mega, ini di luar kendaliku" ucap Zidan dalam hati.


Mereka masih duduk di ruanga ICU sambil memperhatikan Mega dan para perawat yang mulai mencabut alat-alat dan mulai mengemasnya kembali.


Tatapan Rifki kosong dan air mata masih saja menetes di pipi. Zidan mengajak Rifki untuk kembali ke raga mereka agar bisa turut serta mendorong Mega ke kamar duka.


"Ayo Ki..." ucap Zidan sambil mengulurkan tangannya.


Rifki hanya menolehnya saja tanpa meraih tangan itu.


"Bentar lagi mereka keluar, sedangkan raga kita masih terlihat tidur di kursi"


Dengan malas Rifki pun bangkit kemudian berjalan dengan lemas sekali.


GERIIIITTTT


Suara pintu ruang ICU terbuka lebar. Seseorang dengan tubuh tertutup kain hingga ke wajahnya mulai terlihat keluar di dorong para perawat. Sedangkan mamanya Mega di rangkul ayahnya sambil sesekali menguatkan hati sang ibu.


"Mega pa, Megaaaa... Hiks hiks... Mega... Hiks hiksss..."


"Sabar ma, sabaaar"


Ayahnya pun tak kuasa menahan air matanya. Walaupun secara medis Mega tak ada penyakit apapun, bahkan pasca di rontgen pun tak ada apapun di dalam tubuhnya, semua dalam keadaan normal.


Tapi secara ghoib ada pisau di leher Mega yang mengakibatkan Mega terus saja memuntahkan darah. Di tambah sebuah belenggu rantai telah membuat tubuhnya tak mampu bergerak.


Rifki dan Zidan ikut mendorong Mega menuju ke ruang duka. Rifki pun benar-benar tak kuasa menahan rasa sakit di hatinya saat melihat Mega sudah tak bernyawa di hadapannya.


Ia menghentikan langkahnya dan membiarkan yang lain berjalan terlebih dahulu. Zidan yang menyadari itu pun berhenti dan memandangi Rifki yang tengah galau berat.


Zidan melangkah pelan ke arah Rifki. Menepuk pundaknya dan mengajaknya duduk.


"Lihatlah di sana (menunjuk ke arah depan pintu kamar ICU)"

__ADS_1


Rifki pun menoleh.


__ADS_2