Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Terlampaui hebat


__ADS_3

"Kakak udah ga kuat, sakiiiiit" rintih Aludra.


"Sakit ?? Owwwwh kasihan sekali" ucapnya.


"Tolongin kakak" kata Aludra sambil mengulurkan tangannya.


"Apa ?? Tolong ???"


BLUUGGG !!


Kepala Aludra terjatuh ke lantai saat tendangan kaki melayang di kepalanya. Aludra masih setengah sadar, tapi darah mulai mengalir dari kepalanya.


SRIIIING


Suara pisau itu terdengar cukup nyaring saat menyentuh gagang lemari besi. Kemudian suara langkah kaki mulai terdengar mendekat ke arah Aludra.


Ia mengguncang badan Aludra dengan sangat keras dan membalikkan badan Aludra ke posisi telentang. Saat itu juga Kanaya langsung memasuki badan Kiandra dan segera...


CRAAAATTTT


Darah merah segar itu muncrak ke muka Kiandra. Tanpa rasa bersalah ia mengulanginya lagi. Menusukkan pisau itu ke perut Aludra.


CRAAATTTT


Aludra sudah tak sanggup bersuara lagi. Ia sudah sangat lemah. Ia pun tak sadarkan diri dengan kondisi darah yang mengalir cukup deras dari perutnya yang di tikam dua kali oleh Kiandra.


Setelah di rasa cukup Kanaya keluar dari tubuh Kiandra.


KLUNTIIINGGG


Suara pisau terjatuh dari tangan Kiandra ke lantai. Ia memandangi wajah Aludra tanpa ekspresi. Badannya sangat lemah. Tanpa ia sadari air mata pun mulai membasahi pipinya.


"Hiks.. Hiks... Kak Lulu ??" ucapnya lirih.


Lalu ia menoleh ke Kanaya yang sedari tadi tersenyum puas melihat kematian Aludra.


_________________###___________________


"Hiks... Hiks... Hikss... Bu Luluuuu"


Anak-anak kost di sana bingung melihat Dewi yang menangis dalam keadaan belum sadarkan diri.


"Wi, Dewi bangun"


Kemudian Dewi perlahan mulai membuka matanya. Tapi ia justru menangis tersedu-sedu melanjutkan tangisan tadi.


"Huaaa... Hiks hiikkkss hiikkkss..."


"Elu kenapa Wi ??" tanya Diana.


"Hiks... Hiks... Bu Luluuuuu... Hiks hiks.."


"Bu Lulu ?? Kenapa bu Lulu ? Ada apa ??"


"Bu Kiandra, hiks... Hiks..."


"Tadi bu Lulu, sekarang bu Kiandra. Yang bener yang mana ?" tanya Tania.


Tak lama Kiandra pun sampai di kost itu. Ia langsung menuju kerumunan.


"Ada apa ini ??" tanya Kiandra.


Sontak saja itu membuat Dewi langsung menjerit histeris.


AAAAAAAAAAA


Ia pun langsung memeluk teman di sampingnya.


"Kagetnya gitu amat ?" tanya Kiandra.


Dewi masih bersembunyi di balik pundak temannya dengan nafas ngos-ngosan.


"Ini tumben ngumpul ? Ada apaan ??" tanya Kiandra dengan lemah lembut.


"Itu bu, tadi... Dewi pingsan di depan mesin cuci" jawab Tania.

__ADS_1


"Oalah pingsan. Belum makan kali" kata Kiandra.


"Katanya sih lihat makhluk tak kasat mata"


"Hahah, mana ada. Kurang tidur kali kamu Wi"


Dewi masih enggan menoleh ke arah Kiandra. Ia memalingkan wajahnya ke arah tembok.


"Ya udah, ini kan udah malam. Semuanya kembali ke kamar" kata Kiandra.


"Ga mau !" teriak Dewi.


Teriakan itu membuat semua yang ada di sana kaget, termasuk Kiandra.


"Kenapa nih anak ?" tanya Kiandra dalam hati.


"Dasar pembunuh !!" cetus Dewi.


Semua yang ada di sana menatap ke arah Dewi. Meskipun Dewi takut tapi ia tetap menatap ke arah Kiandra. Kiandra hanya diam kemudian pergi meninggalkan mereka.


"Ga punya perikemanusiaan !!" ucap Dewi dengan nada gemetaran.


Kiandra menghentikan langkahnya kemudian berbalik arah menghadap Dewi. Dewi langsung bersembunyi di balik badan Tania.


"Kenapa harus sembunyi ?" tanya Kiandra.


Tania pun menggeser badannya, sehingga Dewi pun mulai terlihat oleh Kiandra.


"Kata-katamu harus di pertanggungjawabkan !" ucap Kiandra dengan nada mulai meninggi.


Ia baru saja di buat emosi di rumah Tasya, kini ia harus mendengar kata-kata yang tidak mengenakkan telinga.


"B.... Bu.. bukankah Bu Kia yang telah membunuh Bu Lulu ??!"


DEGG !!


Semua anak di sana pun kini bergantian menatap ke arah Kiandra. Kiandra hanya tersenyum.


"Bagaimana bisa saya membunuh kakak saya sendiri ?? bukankah kalian juga tau, saya baru datang ke Jakarta setelah kakak saya meninggal. Gimana cara saya membunuh sedangkan jarak kami begitu jauh ??"


"Bu Kia bukan manusia !"


***


"Oh, tentu. Biarin aja dia, biar mati dengan sendirinya. Geram banget gue, uuuhh !! Pengin ngremes-ngremes mukanya deh ! Uh"


Darmaji masih melotot ke arah mereka dengan lidah yang terus saja mengeluarkan darah karena belati miliknya sendiri.


"Oi ! tak usahlah kau menatap kami dengan pandangan macem tuh ! serem kali kau ini, hahahaa"


"Berapa lama segel itu akan berfungsi ?" tanya Zizi.


"Selama segel itu masih menempel di tubuh korban, segel itu akan terus berfungsi"


"Jadi, jangan biarkan ada tikus atau hewan lainya mengambil segel itu"


"Gimana tikus bisa mengambil segel ?"


"Bisa saja dengan cara memakannya"


"Ok, jadi gini aja, kita buat pagar untuk mengurung Darmaji"


"Pagar ??"


"Iya, pagar. Pakai batako"


"Malam-malam gini njir, mana ada toko bangunan buka, ngadi-ngadi lu !"


"Buat apa kita punya khodam kalau ga bisa di andelin ?"


Semua anak itu pun menoleh, kemudian setuju. Mereka mulai memanggil khodam mereka dan segera memasang batako di sekitar tubuh Darmaji"


"Semoga sebelum subuh berkumandang semuanya sudah beres"


Tiba-tiba datanglah segerombolan antek-anteknya Darmaji. Paniklah mereka. Mereka tak siap apapun. Dan di tangan mereka hanya ada ember dan adukan semen.

__ADS_1


"Hufh ! gue kira udah kelar" ujar Rifki.


Mereka pun mulai mendekat. Rifki dan yang lain pun segera menaruh peralatan mereka dan bersiap siaga.


"Biarin khodam kita yang melanjutkan kerjaannya, kita hadapi dulu mereka"


Tapi, para antek-antek itu malah menuju ke arah tumpukan batako.


"Woi !! Jangan dong" ucap Rifki panik.


"Biarkan kami ikut membantu" ucap salah satu dari antek-antek itu.


Mereka bertiga pun heran.


"Membantu ??"


Terlihat mereka mulai mengambil batako itu dan mulai memasangnya. Zidan kemudian ingat kata-kata dari Mbah Singadita “ini nantinya akan menguntungkan bagimu".


Zidan pun menoleh ke arah Zizi kemudian tersenyum.


"Hebat"


"Apanya ?"


"Apa kalian tau sekarang siapa tuan dari antek-antek itu ?" tanya Zidan.


"Sekarang ???"


"Iya, sekarang siapa tuannya ??"


Mereka berdua menoleh ke arah Zizi. Zizi pun heran dengan tatapan mereka, ia tak tau apa-apa.


"Ko bisa ?" tanya Rifki.


"Beberapa dari mereka menjilat darahnya Zizi, maka dari itu mereka akan tunduk pada Zizi"


"Hah ??? Tunduk sama gue ?"


"Tapi bukankah dia dari tadi diam saja ? ga manggil ??"


"Iya, gue diem aja ko"


"Para antek-antek itu tau kalau Zizi butuh bantuan. Harus selesai sebelum subuh. Makanya mereka datang"


"Oalaaah, edyaan !"


Tiba-tiba Zizi berteriak.


"Dewi !!"


"Kenapa Zi ?"


"Gue harus pulang"


***


"Oh ya aku bukan manusia ? Darimana kau tau ?" tanya Kiandra.


Dewi terdiam.


"Mimpi ?? Iya ?? Dari mimpi ???" tanya Kiandra.


"Kenapa kalau lewat mimpi ? Takut ketahuan ? Takut kebongkar ?" kata Dewi.


Tiba-tiba muncullah mba Mala. Sontak saja Dewi langsung mundur.


"Apa kau kuntilanak !! Ga usah kau ikut campur" ucap Dewi.


"Kuntilanak ??" tanya anak-anak di sana dengan kompak.


"Iya. Dia itu kuntilanak (munujuk ke arah Mala) dia bukan manusia !"


Mala menoleh ke arah Kiandra. Kiandra hanya diam.


"Ngaku saja kau ! Kau bukan manusia kan ??"

__ADS_1


"Hihihihihiiiiiii"


Sontak saja semua anak menyatu dan saling berpelukan.


__ADS_2