Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Apa dia sudah mati ?


__ADS_3

"Lepaskan Rifki atau kau tak akan bisa melihat matahari esok pagi !" ucap Zizi.


"Hahahaaa, hanya esok pagi ? siangnya masih bisa ? hahahaaa"


Ketika Darmaji masih tertawa Zizi tiba-tiba sudah berada di hadapannya kemudian ia mendorong dada Darmaji dengan kuat. Terlepaslah Rifki dan jatuh terguling oleh lilitan tirai.


"Cepat pergi keluar ! sementara dia ku urus !!" ucap Zizi.


Rifki segera melepaskan diri dari tirai itu dan segera berlari keluar. Darmaji makin naik darah melihat mereka.


"Beraninya kau !"


JEDERR !!


Pintu itu tertutup dengan keras.


"Buka saja Ki !"


Darmaji menoleh ke arah Zizi. Ia pun mendekatinya. Sedangkan Rifki berusaha keluar dari sana. Darmaji segera mencekik Zizi dengan sangat kuat saking marahnya.


"Ini sudah melewati batas kesabaranku !"


Zizi mencoba melepaskan tangan Darmaji. Namun Darmaji justru semakin kuat mencekiknya hingga Zizi merasa sudah hampir kehabisan nafas.


Zizi mulai mengerakkan kakinya dan ia segera menendang Darmaji.


DUAKK !


Darmaji terpental kebelakang.


UKHUK ! UKHUK !!


Zizi mencoba menenangkan diri dan mengambil nafas.


KLEEK !!


Rifki berhasil membuka pintu itu dan segera berlari meninggalkan Zizi. Karena ia tau, Zizi pasti akan baik-baik saja.


Darmaji tersenyum.


"Hebat ! kau sengaja membiarkan mereka bertiga pergi, agar kau bisa berduaan denganku bukan ?" tanya Darmaji sambil mendekat kearah Zizi.


Zizi hanya menatapnya saja sambil terus berjaga.


"Kau tak mau mereka melihat permainan kita ?" tanya Darmaji lagi.


Zizi masih enggan untuk meladeni pertanyaan Darmaji.


"Apa kau tau, aku ga akan pernah mati sebelum bisa menodai mu ! aku ingin khodam yang kau miliki pergi meninggalkan mu ! aku terlalu benci padamu yang selalu bisa mengalahkanku ! padahal kau hanyalah gadis biasa yang hanya bermodalkan keberuntungan !"


Zizi tersenyum.


"Sampai mati pun tak akan aku berikan keperawananku untukmu ! meskipun harus melawan sampai titik darah penghabisan. paham ?"


"Hahahahaaa"


Tiba-tiba Darmaji menarik tangan Zizi. Lalu Darmaji melempar Zizi ke sebuah ranjang. Zizi berusaha melawannya namun hasrat Darmaji semakin kuat.


"Lepass !! mau apa kau !!"


Darmaji menarik baju Zizi hingga sobek. Kancing bajunya pun terlepas karena di buka paksa.

__ADS_1


"Hahahaaa, ayo kita mulai saja, mumpung sepi, hahahaha"


"Cuih ! ga Sudi ! lepaaasss !! uh !"


"Hahahaaa, woow, sangat menggoda"


"Lepaaas !"


Zizi masih berusaha melawannya hingga tangan Darmaji pun melayang ke arah pipinya Zizi.


PLAAKK !


Zizi terdiam dan merasakan sakit di pipinya.


"Apa susahnya diam !! tinggal diam saja ! dan nikmat. hahaha"


Darmaji mulai mendekatkan wajahnya ke leher Zizi dan mulai mencium aromanya. Ia makin nafsu ketika melihat ke arah sobekan baju milik Zizi.


"Bajumu sudah sobek ! buka saja !! ayo cepat buka !!"


Zizi tak bergeming.


"Argh ! lama !! sini biar ku buka !"


Zizi memejamkan matanya dan seketika itu tubuh Darmaji seperti ada yang mengendalikanya.


"Hoi !! kenapa ini ? ada apa ??"


Ia di tarik mundur. sedangkan Zizi masih terbaring di sana. Lalu kedua tangan Darmaji di ikat kuat oleh sebuah tali. Begitu juga dengan kakinya.


"Apa-apaan ini !" teriak Darmaji.


DUUAAKK !!


Salah satu dari mereka melempar jaket ke arah Zizi. Zizi terbangun dan mulai memakainya kemudian bergabung dengan mereka.


"Maaf, kami tidak tega meninggalkanmu seorang diri. Aku tau kau bisa melakukannya, tapi aku yakin masih butuh pertolongan jika menghadapi cecenguk macam dia !" ucap Zidan.


Zizi tersenyum.


"Dasar anak-anak kepar*t !! turunkan dan lepaskan aku !!" ronta Darmaji.


"Begitu kah caramu memohon ?" tanya Doni.


"Kurang ajar !!"


"Menyerahlah. kami kasihan melihatmu seperti ini" ucap Zidan.


"Tobat kawaaan, tobaaaat" ledek Rifki.


Darmaji menatap mereka dengan tatapan penuh dendam. Dengan penuh marah Darmaji menarik ikatan itu hingga tali itu pun terlepas.


Mereka kaget, tapi segera ambil tindakan dan bersiap melawannya.


"Kau pikir aku tak bisa melakukannya ??! kau pikir ku masih seumuran dengan kalian dan menganggap lemah ilmuku ?! ayo maju ! kita tanding lagi ! tadi, pemanasan yang hebat" ucap Darmaji sambil melepaskan tali di kakinya.


"Ayo ! siapa pula yang takut melawanmu !!" jawab Doni.


HIIIAKKK


Darmaji melempar tali itu ke arah Doni. Doni berusaha untuk menghindarinya. Kemudian ia mencoba menarik tali itu dan di bantu oleh Rifki dan Zidan.

__ADS_1


“Hahahahaa, by one kalau berani !"


Mereka bertiga saling menatap kemudian melepaskan tali itu. Hanya tinggal Doni saja yang masih memegangnya. Rifki dan Zidan begeser tempat sambil terus menetap ke arah Darmaji.


"Kalian seperti hama yang selalu menggangguku ! merusak hal yang sudah ku tanam dan ku rawat dengan baik !"


Tanpa Darmaji sadari, keempat anak itu sudah saling memegang tali masing-masing. Di sebelah kanan dua anak dan di sebelah kiri dua anak.


"Yang pantas di sebut hama adalah dirimu, Darmaji ! kau lah perusak anak bangsa ! kau lah yang menghancurkan masa depan, cita-cita dan harapan mereka !" ucap Zizi.


"Sebagai hama, sudah pantaslah kau harus di lenyapkan !" kata Rifki.


"Kurang ajar !!"


Dengan cepat keempat anak itu segera melempar tali itu ke tangan kanan dan tangan kiri, ke kaki kanan dan kaki kiri.


“Arrghh !! sial !"


Mereka berempat segera mengumpulkan tenaga untuk tetap bisa menjaga kestabilan tali itu. Karena tadi saja, Darmaji bisa lolos dari jerat mereka.


"Hahahaha, begini ya permainan kalian ? memainkan orang tua ? tak punya sopan santun !"


Darmaji pun memutar badanya, alhasil keempat anak itu pun ikut tertarik dan Zizi pun terlempar. Ketiga anak itu malah tertangkap Darmaji.


"Auh !!"


"Hei Zizi ! ga usah sok kuat ! kamu itu perempuan ! tetap akan lemah bila harus menghadapi seorang pria !!" teriak Darmaji.


Mereka bertiga segera melawan dan meloloskan diri dari Darmaji. Dan terjadilah perkelahian.


"Kau salah ! perempuan bukan untuk di lawan ! tapi untuk di lindungi !" ucap Zidan sambil sesekali menghajar Darmaji.


Darmaji mengambil satu tali dan di kibaskan tali itu. Auto ketiga anak itu minggir sejenak. Darmaji merubah tali itu menjadi ular yang besar.


Doni pun tak mau kalah. Ia merubah tali itu menjadi sebuah tongkat panjang. Kemudian melemparkannya ke arah Rifki dan Rifki melempar talinya ke Doni. Doni merubahnya lagi menjadi tongkat lalu melemparkannya ke arah Zidan, Zidan melempar talinya ke Doni dan Doni pun mengubahnya menjadi tongkat juga untuk melawan ular itu.


"Sakti juga kau sekarang" tutur Darmaji.


Ketiga anak itu pun menatap ke arah Darmaji dan ular itu sambil sesekali memainkan tongkat-tongkat itu.


Dengan aba-aba dari Darmaji ular itu pun menyerang ketiga anak itu. Sedangkan Darmaji mendekati Zizi.


Zizi pun menjaga jarak dan bersiap melawannya. Dengan sedikit pemanasan dan peregangan Zizi pun menantang Darmaji.


"Anak cur*t !! sok-sokan nantang ! hahahaha"


Zizi pun ambil strategi dan mengaturnya. Setelah di rasa cukup, Zizi pun tersenyum.


"Berani mendekat, bahaya mendarat !" ucap Zizi.


Tapi Darmaji tak menghiraukannya. Ia tetap melangkah maju. Zizi mengambil beberapa langkah mundur ke belakang. Ia berhenti dan....


HIAAAKK !!


Zizi melempar sebuah pisau ke tali gantungan lampu hias di ruang tamu itu. Darmaji sontak mendongak ke atas dan...


AAAAAAA


BRAAAKK !!!


Lampu itu jatuh tepat di kepala Darmaji. Ketiga anak itu pun langsung menoleh dan segera berlari mendekatinya.

__ADS_1


Mereka sedikit ga percaya kalau ini bakalan terjadi.


“Apa dia sudah mati ??"


__ADS_2