
***
Selesai sholat Dewi langsung lari dan lompat ke atas ranjang. Bahkan mukenanya masih ia pakai dan belum ia buka saking takutnya.
Ia segera meraih ponselnya sambil terus duduk meringkuk ketakutan. Ia terus saja melirik ke semua sisi. Mencoba mencari sosok yang menakutinya.
"Ya Tuhaaaan, kenapa gue selalu di hantui, gue takuuuut" ucapnya sambil terus berfikir akan meminta pertolongan pada siapa.
Lama ia duduk termenung di sana. Namun, ia pun berfikir ga mungkin kalau ia akan terus menerus duduk di sana.
Kemudian ia memberanikan diri melepas mukena itu dan melipatnya. Ia pun mulai melangkahkan kakinya turun dari ranjang itu menuju sajadah yang masih tergelar di lantai.
"Huuufh ! Bismillah"
Saat ia sedang melipat sajadah itu, ia melirik ke dalam cermin di meja riasnya. Ia pun penasaran dan mendekat. Saat ia memperhatikan ke dalam cermin itu, ternyata bukan pantulan dirinya yang ia lihat, melainkan Tasya yang sedang bersenandung lagu jawa.
"Astaghfirullah" ucap Dewi sambil menutup mulutnya yang syok melihat pantulan itu.
Dewi hanya bisa terdiam di sana, memperhatikannya lewat sebuah cermin. Sesekali ia pun reflek ketakutan saat melihat kedua bola mata Tasya semuanya berwarna putih.
"Ya Allah Syaa..."
Ia pun bingung, mau beranjak pergi dari sana atau tetap stay memantau Tasya. Ada rasa penasaran juga saat ia berfikir pergi meninggalkan cermin itu.
Tiba-tiba bonekanya terjatuh dan mengagetkannya. Padahal jika di pikir itu tak masuk akal, karena posisi boneka itu sebenarnya berada di tengah ranjang.
"Ko bisa ??" tanya Dewi heran.
Ia pun mengambilnya. Saat ia mengambil boneka itu tak sengaja jarinya menyentuh layar hp, layar itu pun bergeser ke kamera. Dewi pun melihat ke arah ponselnya.
Ia mencoba memandangi dirinya di kamera depannya yang sedang menyala. Tiba-tiba ia kaget saat ia melihat ada sosok bergaun putih berambut panjang sedang berdiri melayang di belakangnya.
"Astaghfirullahal adzim !" ucapnya sambil menurunkan hp itu dan menoleh ke belakang.
Namun, saat ia menoleh ke belakang, ia tak mendapati siapapun di sana. Dewi pun mengangkat kembali ponselnya dan menekan kamera.
Lagi-lagi ia terkejut karena sosok itu masih berdiri di sana. Sontak saja ia segera berlari keluar dan naik ke lantai atas menuju kamar teman-temannya.
TOk TOK TOK !!
Satu persatu pintu ia ketuk sambil sesekali menoleh ke belakang. Ia semakin gemetar saat tak ada yang mau membukakan pintu untuknya.
TOK TOK TOK !!
"Tan ! Intan buka pintunya !! ini gue Dewi" ucapnya dengan suara gemetaran.
Beberapa menit ia menunggu, namun tak ada jawaban juga. ia mengetuk kembali pintu yang lain.
TOK TOK TOK !
"Diana ! buka pintunya dong, ini gue Dewi"
KLEK !!
Suara pintu terbuka. Dewi menoleh ke arahnya.
"Tania. Tan tolongin gue ! Gue boleh kan nginep di kamar lu ?" tanya Dewi sambil menghampiri Tania.
__ADS_1
Tania menganggukkan kepala dan mempersilahkan Dewi untuk masuk.
"Elu kenapa lagi ??" tanya Tania.
"Emmm....."
"Di ganggu lagi ?"
"Elu tau kalau gue sering di ganggu ??"
"Sebenarnya, pas lu masak mie di sini, kita semua lihat elu sama sosok yang lumayan menyeramkan"
"Dimana dia ?"
"Di belakang lu"
DEGG !!
"Maka dari itu kita buru-buru masuk kamar masing-masing. Gue denger langkah lu menuruni tangga. Gue yakin di saat itu lu mulai sadar, bahwa ada sosok yang berada di belakang lu"
"Seperti apa sosok itu ?" tanya Dewi.
"Lebih mirip mba kunti, berambut panjang dan berjalan melayang, kakinya ga nempel lantai woi ! Itu yang bikin kita merinding"
DEGG
"Tapi, sosok itu sama sekali ga melirik atau menoleh ke arah kita. Hanya fokus ke arahmu saja"
Dewi terdiam.
Dewi tak menjawab. Ia hanya menoleh sebentar ke arah Tania.
***
"Bu Kiandra, apa yang harus kami lakukan ?" tanya orangtuanya Tasya.
Kiandra bingung dan ia hanya diam saja.
"Apa kami perlu memanggil ustad atau dukun ? Untuk mengusir setan yang ada di tubuh Tasya ?? Atau bu Kia sendiri bisa mengusir setannya ??"
"Jalan satu-satunya adalah mengembalikan apa yang sudah di ambil oleh Tasya !"
"Memangnya apa yang Tasya ambil ?"
"Ia mengambil rambutnya mba kunti"
DEGG !
"Mana mungkin ! Itu jelas tak masuk akal !!" ucap ayahnya dengan nada sedikit kesal pada Kiandra.
"Kalau bapak tak percaya, tanya langsung ke Tasya !" jawab Kiandra.
Kedua orang itu pun menoleh ke arah Tasya yang masih duduk di tepian ranjangnya sambil menyanyikan lagu jawa dengan ekspresi datar nan menyeramkan.
***
"Apa dia sudah mati ??" tanya Rifki.
__ADS_1
Tak seorangpun menjawab pertanyaan itu. Mata Zizi, Doni dan Zidan bahkan tetap menatap ke arah Darmaji yang di penuhi darah akibat kena pecahan lampu.
Tiba-tiba jari jemari Darmaji mulai bergerak. Semuanya pun mundur dan segera berjaga. Mengambil alat untuk melindungi diri.
Dengan perlahan namun pasti Darmaji pun mulai bangkit. Namun Doni segera mengarahkan agar segera menyerangnya sebelum ia sadar betul.
"HIIIIAAAKKKK"
Mereka segera memukuli Darmaji dengan penuh semangat. Darmaji yang tak siap pun terjatuh lagi.
BRRAAKKK !!
Darmaji terjatuh kembali setelah mendapat pukulan bertubi-tubi dari empat anak itu.
"Cepat ambil tali !! Ikat dia !!" seru Doni.
Mereka segera mengikat kaki dan tangannya. Menarik tali itu dan mengaitkannya di tiang-tiang rumah itu.
Darmaji sekarang sudah seperti serangga yang menempel di jaring-jaring laba-laba. Tiba-tiba terdengar suara tawa yang sangat keras.
"Hahahahaaa !! Berapa kali lagi kalian melakukan pekerjaan yang sama dengan hasil nol besar juga ? Hahahahaa ! Sampai kapan ?? Hahahaaaa"
"Diam kau !! Atau akan ku segel dirimu !" ucap Zidan.
Rifki dan Doni saling memandang.
"Kenapa ga dari tadi ?" kata mereka berdua bebarengan.
"Khilaf bro" ucap Zidan sambil nyengir.
Ketika Zidan hendak menyegel Darmaji tiba-tiba Zizi seperti ada yang menyerang, namun tak kasat mata.
"Itu ruh-nya Darmaji Zi ! Awas ! Hati-hati !!"
Tiba-tiba Zizi merasa ada yang mencekik dirinya. Sedangkan ketiga anak itu masih diam mematung di sana. Saling memegang tali yang mengikat pada tubuh Darmaji.
"Lebih baik cepat kamu segel ilmunya !" teriak Doni pada Zidan.
Zidan pun bersiap. Ia menyerahkan tali pegangannya pada Doni kemudian ia mulai berkonsentrasi.
Zizi mulai mencoba melepaskan cekikan itu. Dengan bantuan khodamnya ia pun mampu melihat ruh itu.
Zizi segera mencengkeram tangan Darmaji dan mendorongnya hingga ia masuk kembali ke raganya. Bertepatan dengan itu Zidan pun siap menyegel Darmaji.
"Bismillahirrohmanirrohim !!"
Segel itu ia tempelkan di pergelangan tangan kiri dan pergelangan tangan kanan, kemudian ia letakkan juga di pergelangan kaki kiri dan kanan.
AAAAAAAAAA
Suara itu sangat memekakkan telinga. Teriakan Darmaji kini mulai melemah saat Zidan selesai membaca do'a.
Kemudian kini tinggal tugas Zizi untuk melenyapkan Darmaji dari pandangan. Menusuk jantungnga dengan belati milik Darmaji itu sendiri.
SRIIINGG
Suara itu membuat Darmaji melotot.
__ADS_1