
***
Dirumah Zizi.
"Mbakyu, sepertinya kita harus melakukan sesuatu" ucap pak Cahya.
"Benar mbakyu, jangan sampai Zizi dan Slamet melebihi 100 hari di alam ghoib" kata pak Amin.
"Terus gimana ?" tanya Bu Asiyah.
"Setidaknya kita cari dulu dimana gerbang dunia ghoib tempat Kanaya berada" kata pak Cahya.
"Mencari gerbang dunia ghoib ?? Dimana pak ??" tanya Bu Asiyah lagi.
"Nah, itu dia yang sulit mbakyu, pas kita masuk ke kost yang di Jakarta itu kita ga merasakan ada gerbang ghoib disana, hanya saja memang banyak makhluk halus yang menghuni kost itu" tambah pak Amin.
"Terus ??"
"Kita harus ke Jakarta lagi mencari gerbang itu"
"Lalu bagaimana dengan suamiku ?"
Pak Cahya dan pak Amin pun saling pandang. Karena Slamet pun masih terbaring di tempat tidur dengan tak sadarkan diri alias tak menyatu antara jiwa dan raganya.
***
Sementara Zizi dan pak Slamet masih sibuk melawan makhluk-makhluk itu. Mereka terpisah jauh. Pak Slamet bahkan tak sempat untuk menoleh ke arah Zizi.
Sedangkan Zizi, berkali-kali terjatuh dan tersungkur karena hantaman dari makhluk itu.
"Katanya gue punya khodam, kenapa gue ga bisa mengendalikannya !! Bahkan di saat keadaan gue mulai sekarat ! Dimana dia ?? Dimanaaaa ???" ucap Zizi dengan mata yang mulai berkaca-kaca namun terus mencoba bangkit melawan.
Lagi-lagi Zizi harus terjungkal saat menghadapi mereka. Namun ia tak menyerah, ia tak mau kalau Kanaya yang menang, apa lagi ada sang ayah yang turut menyusulnya.
"Gue belum kalah !!" teriak Zizi memberi semangat pada dirinya sendiri.
Saat ia hendak berdiri, tangannya menyentuh sesuatu. Zizi sedikit kaget. Lalu ia pun mencoba mengorek pasir itu.
"Pedang ???"
Ia mencoba mengambilnya.
"Punya pak Cahya" ucapnya dalam hati.
Tiba-tiba saja angin muncul dengan begitu dahsyatnya dan membuat Zizi harus menutup wajahnya.
"Tidak semua khodam mempunyai tenaga saat memasuki beberapa wilayah. Dan khodammu termasuk yang lemah, makanya ia tak bisa membantumu saat ini"
Zizi tak bisa melihat siapa yang sedang berbicara dengannya. Ia hanya mengenali suara itu, seperti suara dari Kanaya.
__ADS_1
"Jauhi pedagang itu sekarang !!"
Zizi menundukkan kepalanya sambil sesekali melirik ke arah pedang itu dan mencoba untuk menyentuhnya.
Angin masih kencang di sana, Zizi pun berulang kali kelilipan dan mulutnya pun sesekali kemasukan debu.
Ia masih berusaha untuk menggapai tangkai dari pedagang itu dengan mata yang masih tertutup. Mencoba meraba dan berusaha berpegangan pada gagangnya.
"Ah, dapat !" ucap Zizi dalam hati saat ia berhasil menyentuh gagang pedang itu.
Angin pun tiba-tiba berhenti berhembus. Kanaya sedikit kaget melihat hal itu. Yang ia tau, tidak satupun orang yang bisa mengendalikan pedagang itu kecuali ia adalah pemilik aslinya.
"Menjauh kau dari pedagang itu !!"
Zizi mencoba berdiri dan mulai menarik pedang itu dari tumbukan debu.
"Kau tidak akan bisa melakukan itu Zi !"
Ternyata pedagang itu begitu berat. Satu tangan Zizi pun tak mampu untuk mengangkatnya. Melihat hal itu Kanaya pun tersenyum.
"Tanganmu akan melepuh saat kau memeganginya begitu erat" ucap Kanaya.
Zizi masih berusaha untuk mengangkatnya meskipun kini ia merasakan tubuhnya mulai bergetar.
"Aku memang takut dengan pedang itu, tapi aku memperingatkan ke kamu agar kamu tidak kenapa-napa nantinya"
Zizi masih tak mau bicara pada Kanaya. Ia tau ia sudah harus mengakhiri semuanya sebelum terlambat. Dan ia tak mau kalau ayahnya terlalu lama di sana.
Zizi terdiam, ia tak lagi berusaha untuk mengangkat pedang, ia hanya berpegangan saja di sana.
"Sebagai manusia, aku sadar akan sebuah kematian. karena itu pasti terjadi, pada siapapun yang bernyawa, bukan hanya aku, mungkin teman-temanku juga akan mengalaminya suatu saat nanti"
"Baiklah, dan coba kau lihat ini" ucap Kanaya sambil mengibaskan selendangnya ke wajah Zizi.
Seketika itu ia melihat ayahnya sudah tergeletak di sana dengan bersimbah darah.
"Papaaaa !!!" teriak Zizi histeris.
Ia melepaskan tangannya dari genggaman pedang itu dan segera berlari ke arah ayahnya sambil meneteskan air mata.
"Papaaaaaa.. Bangun paaaa !!! Pa banguuun !!"
Ayahnya masih terbujur kaku di sana. Tiba-tiba tenggorokan Zizi sakit dan begitu kering rasanya. Ia bahkan tak bisa mengeluarkan suara apapun.
"Ya Allah kenapa ini...."
Ia mencoba memukul-mukul kecil di bagian tengkuknya berharap ia bisa mengeluarkan sesuatu dari dalam tenggorokannya itu.
Ia pun mulai mual dan muntah disana. Ia kaget saat melihat muntahannya sendiri.
__ADS_1
"Hah ???!!!! Rambut ???" ucapnya dalam hati.
Ia mencoba terus menarik rambut itu, namun rambutnya terlalu panjang. Ia semakin mual. Namun, rambut itu seperti tak ada ujungnya.
"Huueeekkkkk"
Ia berusaha membangunkan ayahnya, namun ketika ia menyentuhnya ayahnya berubah menjadi debu. Ia makin tak karuan.
Rasa mualnya begitu hebat, sampai-sampai Zizi tak menyadari bahwa rambut yang keluar dari mulutnya mulai melilit tubuhnya.
"Ukhuuk-ukhuukk !! Hueekkkk... Hueekkkk !!!"
Ia menoleh ke arah belakang, di lihatnya pedang yang sempat ia pegang tadi. Ternyata pedang itu berdiri tertancap di atas pasir dan tak lagi tergeletak.
"Mungkin harus ku potong rambut ini" ucap Zizi dalam hati sambil terus menahan rasa mualnya.
Ketika ia hendak berdiri, ia pun terjatuh karena rambut-rambut itu telah melilit penuh di badannya.
BRAAAKKKK
"Hiks... Hiksss..."
Zizi hanya bisa menangisi keadaannya. Bahkan di sana tak ada seorangpun yang bisa ia mintai pertolongan.
***
Sementara pak Slamet sendiri masih sibuk melawan makhluk-makhluk di sana.
BRAAKKKKK
Ia terjatuh, tendangan kali ini membuat darahnya muncrat dan ia sedikit kehilangan tenaganya.
"Astaghfirullah hal adziiim" ucapnya sambil memegangi dadanya yang sakit.
Makhluk-makhluk itu terus saja mendekat, ia tak ada tenaga lagi untuk melawan. Ia pun melempari mereka dengan segenggam debu yang ia ambil dengan satu tangannya.
"Bismillahirrahmanirrahim !! Hufffgh !!!"
Itu lumayan untuk menyita waktu. Ia pun terus saja mengambil pasir di sana untuk di lemparkan ke makhluk-makhluk itu.
Saat ia hendak mengambil lagi ia pun menyentuh sesuatu, seperti kayu. kemudian tanpa berpikir panjang, ia pun mengambilnya.
"Sapu lidi gagang palem ??"
Ia seperti mendapatkan tenaga tambahan. Ia mampu berdiri tegak kembali untuk melawan makhluk-makhluk di sana.
"Entah ini punya siapa, atau mungkin ini bantuan dari Allah, intinya aku berterima kasih sekali ya Allah ! Bismillahirrahmanirrahim... Ayo kita lanjutkan"
Sementara di tempat lain Doni si pemilik sapu lidi gagang palem itu merasa bahwa ada yang menggunakannya. Ia hanya berdoa semoga yang menggunakan itu adalah orang yang baik.
__ADS_1
"Ki !! Sapu lidi gagang palemku di pakai orang"