Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Sofia dan Bima


__ADS_3

"Kembalikan kalungkuuuu !!!!"


"Inikah kalungmu ???"


Terdengar suara wanita tak jauh dari sana. Kanaya menoleh ke arah suara itu. Mata Bima melotot melihat ke arahnya.


"Kamu ???"


Terlihat seorang wanita yang hanya membalut badannya menggunakan kain yang hanya menutupi bagian dada hingga ke atas paha saja. Ia terlihat basah kuyup. Kulitnya pun berkerut mungkin karena terlalu lama di berendam di air.


Ia mulai berjalan mendekati Kanaya sambil membawa sebuah kalung berinisial K. Kanaya terdiam, wajahnya agak lusuh.


" Kau tamu tak di undang !" ucap Kanaya.


"Setidaknya aku mengembalikan kalungmu kan ?" ucapnya sembari memberikan kalung itu.


"Aku tak suka kau ada di sini"


"Kenapa ? Karena ini daerah kekuasaanmu ??"


"Mau apa kau kemari ?"


"Cuma menjaga Bima saja"


"Kau suka pada pria macam dia ? Hih amit-amit !"


"Sebenarnya tidak ! Tapi...."


"Hahahahahaaaaa... Hahahahaa.... Haahahahaa"


Kanaya memotong pembicaraanya lalu tertawa terbahak-bahak.


Bima masih melongo di sana. Perempuan yang ia lihat ini adalah perempuan yang sering muncul di mimpinya.


"Karena dia mampu memuaskanmu, hahahaha" ejek Kanaya.


Tiba-tiba wanita itu menyerang Kanaya. Terjadilah perkelahian di sana. Bima hanya di buat terpaku oleh mereka.


"Kau wanita jelek !! Menyingkir saja kau !!" ucap Kanaya sambil terus menyerangnya.


"Aku tak ada urusan denganmu !!"


"Dasar wanita penggoda !!"


"Diam kau !!"


"Hahahahaa..."


"Setidaknya aku tak punya rasa dendam seperti kau !!"


Wajah Kanaya menyeringai. Lalu ia mencekik Bima dengan kekuatannya. Sedangkan tangan yang satunya masih menangkis serangan wanita itu.


Ia merebut Bima dari Kanaya. Sontak Bima pun di buat melayang olehnya. Kanaya tak mau kalah. Ia pun menarik Bima dan membawanya ke atas rooftop. Ia pun mengejarnya.

__ADS_1


Bima panik saat ia sudah berada di ambang garis tepi. Cuacanya mendung dan langit berwarna gelap. Sesekali sambaran petir menghiasi lagit itu. Rintik hujan masih menetes dan mengenai tubuh Bima.


Kemudian Bima di tarik lagi ke dalam toilet itu. Ia berasa recall karena tak perlu naik turun tangga tapi bisa kembali ke tempat semula dengan cepat.


Jantungnya seolah-olah sedang di pacu dengan paksa. Wanita itu selalu berusaha melindungi Bima dari amukan Kanaya.


"Pria seperti dia tak layak hidup ! Menjijikan" pekik Kanaya.


"Tenang saja, aku akan membawanya ke alamku"


DEGG !


Bima kaget mendengar perkataan wanita itu.


"Bagus ! Biar ku bantu, agar cepat sampai ke alammu !" ucap Kanaya.


"Tak perlu ! Aku bisa melakukannya sendiri"


"Sombong !! Aku hanya sudah muak dengan tingkahnya yang selalu memanfaatkan kepolosan seorang wanita yang menyukainya ! Sudah berapa nyawa bayi melayang karena ulahnya !! Dia juga tak pernah mengingat pada yang memberinya nyawa ! Untuk apa dia hidup ?? Orang seperti itu tidak pantas ada di dunia ini !! Ingin sekali rasanya memusnahkan semua pria yang punya perilaku menyeleweng !!"


Bima tertegun mendengar kata-kata Kanaya. Lalu wanita itu mendekati Bima.


"Mau kah kau ikut denganku ? Akan ku buatkan kau sebuah istana megah dan akan ku jadikan kau seorang raja satu-satunya di negri itu"


Bima terdiam dan tatapannya kosong.


"Akan ku buatkan kau sebuah ruang ketenangan. Dimana di ruang itu hanya kau saja yang bisa memasukinya. Takan ada seorang pun yang akan mengganggumu di ruangan itu. Kau akan benar-benar merasakan kedamaian disana" rayu wanita itu sambil mencolek-colek pipi dan bibir Bima.


TIDAK !!


"Sofia" ucap Bima.


Sofia mendekat ke arah Bima.


"Bim !! Lu jangan mau ikut sama dia !"


Bima hanya menatap ke arah Sofia saja.


"Lu tau ruangan yang di maksud dengan wanita tak berpakaian ini ??" tanya Sofia.


Bima menoleh ke arah wanita itu.


"Itu adalah liang lahat !! Alias kuburan Bim"


DEGG !!


"Hahahahaaaaaa....."


Terdengar gelak tawa di sana mengisi kekosongan ruangan yang suram.


"Sofiana Dirgantara. Adik yang tak di anggap oleh Bima Dirgantara dan Heru Dirgantara. Saudara satu ayah tiga ibu, hahahaaa"


"Gue ga peduli mau di anggap atau nggak sama kakak-kakak gue !! Tapi gue ga rela kalau lu ambil dia dari gue !!" tegas Sofia.

__ADS_1


"Sofia ! Bodoh sekali kau ya ? Mereka saja tak pernah mempedulikanmu ! Karena bagi mereka ibumu adalah perusak rumah tangga dari ibunya Bima."


"Lalu apa bedanya gue sama Bima !! Bukankah mama Aneta juga merusak rumah tangga mama Dita, mamanya kak Heru ?? Itu ga penting ! Hanya masa lalu saja"


"Lalu kenapa Bima dan Heru bisa akur sedangkan kau masih di acuhka oleh mereka ???"


Sofia terdiam. Kemudian ia menatap Bima sambil menahan air mata.


"Kenapa Bim ?? Kenapa kalian ga bisa nerima gue sepenuhnya ?? Kenapa lu sama Heru bisa akrab layaknya saudara kandung ? Sedangkan kau memandangku seperti musuh ?? Kenapa Bim ?? Kenapaaaa !!"


Bima tak mampu menjawab pertanyaan itu. Walau sebenarnya dalam hati kecilnya ia hanya ingin memeluk Sofia saat ini. Ia sadar kalau selama ini ia sangat sangat sangat membenci Sofia hanya karena mamanya selalu membuat mama Aneta bersedih.


"Tak perlu kau bertanya padanya Sof ? Dia takan mampu menjawabnya. Dia melakukan sedikit kesalahan padaku, aku akan membuatnya mempertanggung jawabkannya. Dia harus ikut denganku !"


"Tidak !!! Bima ga boleh ikut ke alam ghoib !!"


"Bisa apa kau ?? Mau melawan perkataanku ??"


Wanita itu pun bersiap menyerang Sofia.


"Jangan sakiti dia !!" teriak Bima.


Sofia menoleh ke arah Bima. Seakan-akan ia tak percaya kalau Bima membelanya.


"Sebenarnya gue udah tau !! Lu selalu mengikuti gue kemanapun gue pergi. Lu selalu ada di kamar gue ! Mengawasi gue di pojok kamar yang gelap ! memeluk gue dari bawah kolong tempat tidur ! Menyerupai bantal guling yang selalu gue dekap erat ! Hadir dan bermain di alam mimpi !! Dan.... Dan... Selalu ada di pundak gue. Gue ga tau kesalahan apa yang udah gue buat. Izinkan gue buat perbaiki semuanya" ucap Bima sambil sesekali menyeka air matanya.


"Hahaha... Bagus ! Akan ku ajarkan kau semuanya dan kau akan menjadi yang terbaik ! Maka dari itu ikutlah denganku !!"


"Tidaaak !!! Bima ga boleh ikut"


"Gue sebagai lelaki, mau membuktikan kalau gue orangnya juga punya rasa bertanggung jawab"


"Nggak Bim !! Dia hanya...."


"Maafin gue Sof ? Gue ga bisa jadi kakak yang baik buat lu ! Bahkan baru kali ini gue ngobrol sama lu ! Dari kecil gue enggan banget liet muka lu ! Tapi jujur kali ini, ternyata gue ada rasa sayang ke elu, hati gue mulai mengakui kalau lu adik gue, maaf kalau selama ini gue terlalu egois, munafik dan bahkan pura-pura ga kenal sama lu !"


Sofia terdiam.


"Mungkin ini yang terbaik. Gue emang pantas dapetin hukuman Sof !"


"Tapi ga gitu Bim"


"Sudah ya ? Gue mau ikut sama wanita itu"


Sofia masih tak percaya dengan kata-kata Bima. Ia mulai melangkah pergi. Bima seperti terhipnotis. Lalu Bima menoleh ke arah Sofia dan ia tersenyum.


Itu adalah senyuman pertama yang di berikan Bima kepada Sofia. Sejak kecil Bima sudah sangat membenci Sofia, jadi boro-boro senyum, berjumpa saja Bima memalingkan wajahnya.


Hati Sofia seakan-akan tertusuk seribu duri. Mengapa ia harus melihat senyuman itu di saat-saat seperti ini.


"Biiiim !!!"


Bima terus melangkah pergi bersama wanita itu. Semakin jauh dan jauh. Dan sekarang tenggelam oleh kabut hitam.

__ADS_1


"Bimaaaaaa !!"


__ADS_2