
Dimana Kanaya ???" tanya Rifki pada Zizi.
"Aku ga akan membiarkanmu mengacaukan rencananya !!"
Rifki dan Zizi menoleh ke arah belakang. Ternyata Zidan sudah bersiap menyerangnya.
DEGGG !!
"Awas Ziii !!!!"
Rifki terpental jauh saat Zidan melayangkan ajiannya.
DUUUAKK !!
AAAAKH !
Kini Zidan bersiap untuk menyerang Zizi. Zizi masih kesakitan menahan tangan kirinya. Ia hanya bisa melangkah mundur untuk menghindari Zidan.
"Bersiaplah" ucap Zidan.
Zizi sudah pasrah karena ia tak bisa apa-apa lagi. Saat ajian itu sudah dalam keadaan penuh Zidan segera melayangkannya ke arah Zizi.
"Ziziiiii !!!" teriak Rifki sambil berdiri hendak menghampiri Zizi.
Zizi hanya bisa menutup matanya saja. Tapi tunggu dan di tunggu ia tak merasakan apapun. Dan ia mulai perlahan membuka matanya.
DEGG
Zidan terkapar di lantai.
"Apa yang terjadi ?" tanya Zizi.
Harimau itu menoleh ke arah Zizi.
"Harimau putih ??"
"Pergilah. Obati dulu lukamu !! Ini biar jadi urusanku !!"
Zizi menganggukkan kepala kemudian berlari.
"Aah !! Sial !!" keluh Zidan.
Terjadilah pertarungan antara Zidan dan Harimau putih itu. Sedangkan Rifki pergi menyusul Zizi. Di tengah perjalanan Zizi sudah tak sanggup menahan rasa sakitnya, pandangannya mulai kabur.
"Lewat sini Zilvana"
Zizi berhenti sejenak, ia memandang ke arah suara itu. Sayup-sayup terlihat seorang lelaki berdiri tak jauh darinya.
"Pak Agung ??"
Ketika Zizi hendak melanjutkan perjalanan ia sudah tak kuasa menahan rasa sakitnya. Ia pun pingsan.
"Zi !!!"
Rifki segera membawanya ke tempat yang aman dan sedikit ada pencahayaan. Ia segera mencari air untuk membasuh darah yang ada di pergelangan tangan Zizi.
"Baik-baik di sini Zi !"
Setelah beberapa menit Rifki pun kembali. Ia segera melepaskan balutan kain yang ada di tangan Zizi dan mengalirkan air di tangan itu. Setelah tangan itu bersih Rifki memejamkan matanya.
"Bismillahirrohmanirrohiim................."
Ia mulai mengelus tangan itu. Ia menggunakan penuh tenaganya untuk menyembuhkan lukanya.
"Tahan Zi... Mungkin ini akan sedikit perih"
Ia yang mempunyai ilmu memulihkan luka dengan cepat pun tak sia-siakan untuk menolong Zizi.
Setelah di rasa selesai ia meniup tangan Zizi. Kemudian ia menarik nafas dan beristirahat sejenak.
"Alhamdulillaaaah" ucapnya lemes.
***
"Tangio nduk !! Kanaya sudah terlalu banyak memakan korban" bisik mbok Tasma.
Di perlihatkannya mayat-mayat yang jadi korban Kanaya. Termasuk pak Agung.
"Pak Agung ???"
"Iyo, wis saate koe maju, aku ndukung ono mburimu"
"Jika yang lebih kuat dariku saja tak mampu mengalahkan Kanaya, apalagi aku, yang tak punya kekuatan apa-apa"
__ADS_1
"Tapi kau punya sebuah amalan"
"Amalan ??"
"Masih ingat kalimat yang di ajarkan ayahmu saat di teras malam itu ??"
Zizi mencoba mengingatnya.
"Iya mbok, Zizi ingat"
"Itu adalah satu-satunya kalimat yang di takuti Kanaya"
"Baik mbok"
"Bangunlah...."
Zizi perlahan mulai membuka matanya. Ia melihat Rifki berada di sampingnya.
"Zi ?? Sudah sadar"
Zizi hanya mengedipkan kedua matanya.
"Alhamdulillah" ucap Rifki sambil menarik nafas lega. "Hufh !"
Zizi segera duduk. Ia pun kemudian bangkit.
"Mau kemana Zi ??"
"Mau menghentikan Kanaya"
"Tapi kamu baru sadar"
"Ga apa-apa ko Ki, insya Allah aku kuat"
Mereka pun mulai berlari kecil menuju lokasi.
"Dimana Kanaya Zi ?"
"Aula"
Rifki menoleh ke Zizi dengan sedikit rasa heran.
"Darimana dia tau kalau Kanaya di sana" tanya Rifki dalam hati.
Saat mereka hendak menambah kecepatan larinya mereka malah tak sengaja menabrak Aludra dan Mega.
BRUUUGGG !!
"Aduuuuuhhh" rintih Mega.
"Maaf maaf !" ucap Zizi.
"Zizi ???" kata Aludra.
"Bu Lulu ??"
"Kamu mau kemana ??"
"Mau menghentikan Kanaya bu"
"Jangan ke sana !! Berbahaya"
"Tidak masalah bu, bukankah saya pernah berkata pada ibu, kalau saya rela mengorbankan nyawa saya demi menyelamatkan semuanya"
"Nggak Zi !! Nggak usah. Percuma. Ibu ga mau kehilangan kamu"
"Percaya sama Zizi bu, kita akan baik-baik saja"
"Ko Zizi bisa sama ayang beib Rifki sih ?? Ngapain ya ? Berduaan di tempat gelap ! uuuhh.. Kesel gue sama Zizi. Abis ngapain mereka ya kira-kira ??" tanya Mega dalam hati.
Mereka pun mulai berjalan menuju aula. Mega pun sengaja mendekati Rifki.
"Lu ga kenapa-napa kan Mega ??" tanya Rifki.
DEGGG
"Demi apa Rifki mengkhawatirkan gue ?? Rasanya bunga di hatiku mekar semuanya... Ya ampuuuuun" ucap Mega dalam hati.
"Mega ??"
"Eh ! Iya, gue baik-baik aja ko"
"Oh iya, Nia mana ??"
__ADS_1
Mereka pun menoleh ke kanan, ke kiri dan belakang. Tapi Nia ga ada.
"Dia lagi main, hehe"
"Main ??"
"Iya, main sama kucing, ya kan Ta ?"
Rita hanya nyengir saja. Akhirnya mereka sampai juga ke aula. Di sana sudah benar-benar berantakan. Dan Darmaji pun sedang di hajar habis-habisan oleh Kanaya. Ia terlihat sudah sangat kehabisan tenaga.
"Hentikan Nay !! Cukup !" teriak Aludra.
Kanaya langsung menoleh ke arahnya. Tatapan matanya membuat Aludra merinding.
"Sudah cape kau bersembunyi ??" tanya Kanaya.
Aludra tak menjawab. Kanaya pun menghentakan kakinya dan semuanya terpental jauh.
WUUUSSSSSS
DUUUAAKKK !
KRAAATAAKKK !!
Kanaya menarik kaki Aludra dengan kekuatannya.
"Lepasin Nay !!"
Aludra di buat melayang oleh Kanaya dalam keadaan terbalik, kaki di atas dan kepala di bawah.
"Oh. Lepasin ya ?? Kayak gini (menjatuhkan Aludra dengan keras)"
BRUUGG !!
"Bu Lulu...." teriak Zizi.
Zizi segera bangkit. Ia mengambil debu bekas kertas segel punya Zidan. Kanaya diam memperhatikan.
"Jika kertas segel ini tak mampu lagi menyegelmu ! Izin aku untuk mengembalikanmu ke alam damaimu" ucap Zizi.
Kanaya menarik Aludra kembali. Ia mengancam akan membunuh Aludra jika Zizi berani bertindak lancang pada Kanaya.
"Zii... Sudahlah ! Ibu rela pergi bersama Kanaya, kalau itu bisa membuat kedamaian sekolah ini kembali" tutur Aludra.
"Hahahahahaaa... Kau yakin mau ikut denganku ?!" ucap Kanaya sambil mencekik Aludra.
KKKEEEEHHHKKK !!!
"Kanayaaaa !!!" teriak Zizi.
Kanaya menoleh. Zizi mulai melantunkan sebuah kalimat. Zizi pun memegang kepala Kanaya.
BREEEGG
Kanaya terjatuh ke lantai bagaikan boneka. Badannya lemas sekali mendengar kalimat itu. Ia diam tak bergeming sama sekali. Aludra pun terbebas dari cekikannya.
"Atau mau ku bacakan 3 kali supaya kau hancur ??" ancam Zizi.
Kanaya masih diam. Zizi mengulangi kalimat itu. Melantunkannya kembali di hadapan Kanaya. Kanaya pun berteriak.
"TIDAAAAAKKKKKK !!! Hantikan Zilvanaaa !! Kau membuat tulang-tulangku hancuuuuur !! AAAAAAAAAAAAAAAAAA"
Semua yang ada di sana pun menutup telinga saat Kanaya berteriak sangat kencang.
"Akan ku hentikan bacaanku ! Asalkan kau berjanji takan membuat keonaran lagi di sini !! Jika bisa pergilah dari sini dan silakan cari tempat lain lagi"
"Baik." jawab Kanaya datar.
Tapi rasanya ucapan Kanaya sulit untuk di percaya. Setidaknya Kanaya sudah tak berdaya lagi.
"Aku hanya minta sedikit keadilan. Kenapa semuanya seakan-akan mencintai Aludra ?? Apa aku ga pantas mendapatkan cinta dan kasih sayang ??" ucap Kanaya.
"Nay"
"Hiks hiks... Aku benci terhadap diriku sendiri !! Mengapa tak mampu membuat orang-orang berkesan baik padaku. Tolong jangan hancurkan aku lagi Zilvana, aku mohoon."
"Baik Nay, sekarang pulanglah. Kami sudah terlalu lelah"
"Aku mau pulang ke Sarenjana. Tapi aku minta satu hal"
"Apaan tuh ??"
"Kucingku"
__ADS_1
Semuanya menoleh ke arah Nia yang sedang membopong kucing itu. Ia pun menyerahkannya pada Kanaya. Setelah kucing itu pindah tangan Nia pun tersadar.
"Lah ?? Ko gua di sini ??"