Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Empat


__ADS_3

***


Karena badan Nia masih terasa pegal-pegal ia pun pergi ke tempat tukang pijat bersama dengan Rita.


"Sebelumnya gue ga pernah di pijit sih, geli ga ya ?" ujar Nia.


"Ya ga lah ! Emangnya di gelitikin ?? Geli"


"Ya kan siapa tau"


"Emang yang paling sakit yang mana ?"


"Ya kakinyalah yang kejepit"


"Oh iya, sekarang Mega ko tambah aneh aja ya ?"


"Nah, bener banget ! Apa lagi tadi di sekolahan pas matanya merah, ngerii"


"Iya ya bener bener bener ! Matanya tuh kayak ga ada hitam-hitamnya gitu ya ga sih ?"


"Iya juga ya ? Kakak kelasnya aja sampai ketakutan"


"Ga cuma kakak kelas ! Lu ama gua juga ketakutan"


"Gara-gara simbol itu !"


"Ih ! Iya deh, kesel gua jadinya sama si Zidan"


"Kenapa ya simbol itu tuh nggak bisa dihapus ?"


" Iya juga ya ? kan nggak pakai pulpen permainan, eh emang ada ya pulpen permanen ? "


"Ya gak ada lah, mana ada pulpen permanen yang ada tuh spidol, baru permanen"


"Tapi kok aneh kenapa nggak bisa dihapus ?"


"Kayaknya yang bisa menghapus cuma Zidan deh"


Tak terasa mereka pun sampai di tempat tukang pijit. Lalu mereka pun masuk ke dalam rumah tukang pijet itu, di tanya-tanya dan mulai di suruh berbaring.


"Ko bisa memar begini ? Kenapa ini ?" tanya tukang pijit itu.


"Anu... Kena pintu, hehe"


"Oalah, udah gede masih mainan pintu"


"Iya tuh bu, Nia tuh kalau di bilangin bandel"


"Baiklah coba Ibu pijit sebentar ya ? tahan dulu sebentar"


Ibu itu pun mulai memijitnya dan agak sedikit menekan yang di bagian sakit di kaki Nia. Nia meringis.


" Bagaimana apakah sakit ?" tanya ibu pijat.


"Ga sakit sih cuma lebih ke... tersiksa, hahaha" jawab Nia.


"Oalah Nia, mana ada tersiksa ! itu lagi diobatin, biar kamu sembuh" kata Rita.

__ADS_1


"Sumpah ini rasanya kayak disiksa" ujar Nia.


***


Di rumah Bima.


"Kak semalam gue makan apa ya ?" tanya Bima.


"Kenapa emangnya ?"


"Iya nggak apa-apa sih, ini lidah gue berasa depresi gitu"


" Oalah depresi lidah lu ?"


"Iya Kak nggak enak banget gitu rasanya jadi nggak pengen makan deh"


"Ya lu makan makanan favorit lu lah"


"Makanan favorit gua apaan Kak ?"


"Ya mie ayam lah, lu kan doyan banget sama mie ayam"


" Sejak kapan gue doyan mie ayam ?"


"Ya mana gue tahu, orang tiap malem lu makan mie ayam kok"


"Sumpah Di depresi banget nih lidah gua"


"Ya udah coba deh lu minum susu tuh di kulkas ada susu. Coba lu Minum dulu deh siapa tahu bisa nenangin lidah lu yang depresi hahaha."


"Oh ya kak gue pengen cerita" ucap Bima sambil mengambil susu lalu membukanya.


"Apaan ?" tanya Heru.


"Gimana ya ?" kata Bima bimbang.


"Gimana apanya ?" tanya Heru lagi.


"Iya maksudnya gue bingung ceritanya Mulai dari mana." ucap Bima sambil meminum susu itu.


"Ya terserah lu mau cerita dari mana."


"Ya soalnya ceritanya agak aneh gitu." ucapnya sambil mendekat ke arah Heru.


"Apanya yang aneh?"


"Sebenarnya tuh tiap malam ada cewek yang datang ke kamar gue." ucap Bima sambil berbisik.


" Ada cewek datang ke kamar lu? ngapain?"


"Ya kayak gitu deh."


"Maksud lu lu sama dia gituan?"


"Iya". Ucap Bima agak sedikit Canggung.


"Emang ceweknya cantik?"

__ADS_1


"Ya cantik lah Kak, kalau nggak cantik gua kagak mau. ceweknya juga tiap hari beda-beda."


"Maksud berbeda-beda?"


" Iya nggak tiap hari dia gitu. kadang ada yang mirip mantan gue ada juga yang gak tau lah, dia cantik banget gitu, dia datang ke gue dia berada di atas tubuh gue dan bener-bener wow gitu. Gimana aku nggak pengen, orang dia mancing-mancing."


"Dia yang mancing-mancing lu?"


" Iya dia yang mancing-mancing gua."


" Pantesan tiap hari lu mandi, ternyata mandi besar to ?"


" Hehehe iya kak."


" Gue juga kesel sama Deca."


"Kesel kenapa lu ?"


" Ya katanya semalam gua nginep di rumah dia, padahal semalam gue di sini aja sama lu. Terus juga katanya dari jam 11.00 sampai jam 03.00 gua sama dia berduaan doang di kamar, pagi-pagi gue datang dia kaget gitu kan ? Gue bingung. Terus siapa yang semalam sama dia ? dia ngotot aja katanya gue yang sama dia, padahal itu enggak."


Mereka berdua sama-sama diam. Lalu Heru inget sesuatu. Tapi ia hanya membatin saja dan tak di ungkapkannya pada Bima.


"Atau jangan-jangan Bima tuh bercinta sama yang waktu itu gua lihat jejak kaki basah di lantai dekat kamarnya itu ? Bukannya dia itu makhluk halus yang nempel di tubuhnya Bima ya ? Atau.... (melirik ke arah Bima)"


***


Di rumah Agung.


"Kira-kira nyari di mana ya itu dukun, kira-kira di daerah sini ada nggak ya dukun yang sakti yang bisa mengusir roh halus di sekolahan itu ? gue udah nggak tenang banget hidupnya diganggu mulu sama Kanaya. Haduh Nay bisa nggak sih lu nggak ganggu gua ? (berpikir sejenak) Pokoknya aku harus bisa nemu, berapapun bayarannya bakal dibayar yang penting sekolah gua damai aman Sentosa dari Kanaya" ujar Agung sembari menyeruput kopinya yang masih hangat.


***


Di rumah Mega.


Mega yang sedang tiduran di kamar sambil menscroll hp-nya tiba-tiba matanya mulai mengantuk. Ia Pun menaruh hp-nya di samping bantal dan ia mulai menutup matanya. Tapi tiba-tiba di kasurnya seperti ada yang berjalan. Ia merasa ada yang menginjakkan kaki di samping bantal tersebut. Mega pun membuka matanya. Tapi ternyata tidak ada siapapun di sana.


Kemudian Mega mulai menutup matanya kembali, tiba-tiba ia mencium aroma parfum di kamar itu. Mega membuka matanya kembali, kemudian Ia berlari menyalakan lampu.


"Kenapa gue merasa kalau di sini tuh ada orang ya ? Kayaknya gue nggak sendirian gitu. Terus ini bau parfum apa ya ? Kayaknya gue nggak punya deh parfum yang kayak gini ? Terus juga tadi kayak ada yang nginjak kasur gue deh. Gue yakin tadi beneran ada yang nginjak, kan gue belum tidur nyenyak, gue baru memejamkan mata." ucap Mega heran


Tiba-tiba lampu di kamar Mega pun berkedip-kedip.


"OMG !! Mamaaa !" ucap Mega mulai ketakutan.


Ketika ia hendak membuka pintu ia melihat ada bayangan yang kemudian tiduran di kasurnya. Sambil melongo antara sadar dan gak sadar Mega melihatnya dengan jelas.


"K... Ka... kaa... Kamu siapa ?" ucap Mega terbata.


Dia hanya tersenyum, lalu datang lagi yang lain dari arah jendela, lemari dan kamar mandi.


Tubuh Mega serasa berat dan tak mampu bergerak. Ia masih heran dengan apa yang ia lihat.


" 1 2 3 4 ??? 4"


Mega mencoba menghitungnya walaupun lidahnya pun terasa kelu. Mata mereka menatap ke arah Mega semuanya dan membuat Mega menjadi makin gemetar.


"Oh Tuhaaaan ? Apa ini ? Kenapa ngeri sekali ? Jantung gue berdetak secepat ini, ya Tuhaaan, tolongin gue"

__ADS_1


__ADS_2