
Bell pulang sekolah pun berdering. Terlihat anak-anak mulai meninggalkan tempat itu. Zizi berlarian ngejar Rifki di parkiran motor.
"Gue mau ngomong" ucap Zizi sedikit ngos-ngosan.
Rifki malah celingukan mencari seseorang.
"Elu nyari siapa sih ?" tanya Zizi.
"Doni lah"
"Kan gue mau ngomongnya sama elu, bukan sama Doni"
"Bukannya dia lebih asyik ya daripada gue"
"Lu apaan sih ! gue serius"
"Ya gue juga serius"
"Gue mau ngomong penting !!"
"Ya ngomong aja"
"Ya ga bisa di sini dong"
"Lha terus maunya dimana ?? tinggal ngomong aja apa susahnya"
Zizi terdiam mendengar ucapan Rifki.
"Jadi ga ? kalau nggak, gue pulang" ucap Rifki.
Akhirnya Zizi mengurungkan niatnya. Ia membiarkan Rifki pergi. Walaupun sebenarnya ini berat.
"Lu ga ngerti kan Ki, kalau Kanaya udah bebas dari segel itu" ucap Zizi dengan nada lemas.
Ia khawatir, tapi keadaannya malah kayak gini. Ia bingung harus bagaimana. Ia pun masih duduk di jok motornya sambil sedikit melamun.
"Saran dariku mending jauhi Doni"
Zizi segera mencari sumber suara itu. Namun ia tak menemukannya.
"Ayo pulang"
Tiba-tiba saja Rifki muncul di hadapannya.
"Rifki ??"
"Jangan kebanyakan melamun !! Gue tau khodam lu ga setiap saat ada bersama dengan elu !"
***
Di kost putri.
Ratih berlari mendekati Raya sambil membawa buku kimianya.
"Ray ! liet... gue dapat nilai A !! uuhh... seneng banget" ucap Ratih.
Raya hanya melihat sebentar ke arah buku itu lalu melanjutkan makan cemilannya lagi.
"Lu ga seneng Ray ??" tanya Ratih heran melihat sikap Raya.
"Seneng kok" jawab Raya singkat.
"Tapi kok raut wajahnya gitu ?"
Raya menoleh sebentar ke arah Ratih, kemudian memalingkan wajahnya. Tak lama Zizi pun datang dan bergabung sama mereka.
"Wah, lagi ngobrolin apa nih ?" sapa Zizi sambil mengambil cemilan dari tangan Raya.
"Kebetulan Zi, gue mau ngomong sama lu" ucap Raya.
Mereka pun pergi sedikit menjauh dari yang lain. Ratih sedikit kecewa dengan sikap Raya yang seolah-olah mengabaikannya.
"Raya kenapa sih ? kenapa lebih memilih menjauh dan hanya mau bercerita sama Zizi ?" ucap Ratih dalam hati.
Raya mulai menceritakan semua kejadian kemarin di kamarnya.
"Mungkin mereka pengen kenalan aja sama kak Raya"
"Apaan sih lu !"
"Yang penting mereka ga nyakitin kakak kan ?"
__ADS_1
"Ya gue tau mereka ga nyakitin secara fisik ! tapi batin gue loh Zi !!"
"Yang penting murah kan ?" ledek Zizi.
"Iya sih, gue kira ga separah ini"
"Gue rasa itu belum parah deh kak, masih lebih parah kak Tasya dan almarhum kak Dewi"
"Hufh !! kira-kira gue bakalan jadi korban selanjutnya ga sih ??"
"Korban apa kak ?? kalau ngomong yang bener ah ! ucapan adalah doa"
"Iya gue tau, tapi para hantu-hantu itu aja udah mulai kenalan sama gue kan ? takut aja malah jadi korban kayak kak Dewi"
"Terus mau pindah ?"
"Huuffh !! ga tau Zi, sumpah gue takut"
"Perkuat lagi ibadahnya, kencengin baca Al-qurannya"
"Penghuni disini jin atau setan sih Zi ??"
"Dua-duanya mungkin"
"Zi ! lu jangan nakutin gue !!"
"Kakak takut sama jin ??"
"Ya takutlah"
"Kenapa takut ?? bukankah setiap manusia itu ada jin pendampingnya ya ?"
Raya terdiam.
"Kakak tau Jin Qorin ??"
"Zizi !!!"
"Hahahaa..."
"Ga lucu tau Zi !!"
"Jinnya ada di samping kakak tuh"
***
Ruangan itu sangat gelap ketika malam hari. Tak ada penerangan sedikitpun. Lagi-lagi Zizi berada di situasi itu. Hanya sinar dari sebuah pisau yang mampu ia lihat.
"Astaghfirullah hal adziiim ! Kanaya" ucap Zizi seraya bangkit dari tidurnya.
Ia mengamati sekelilingnya. Masih sama seperti kemarin. Hanya saja kali ini Kanaya tak menunjukkan wujudnya. Ia hanya menaruh pisau itu di sana agar Zizi mengenalinya.
"Kenapa di sini lagi ??" tanya Zizi heran.
Tiba-tiba saja pisau itu melayang dan mata pisaunya mengarah ke arah Zizi. Sontak saja Zizi pun kaget. Ia pun segera berlari. Namun pisau itu terus mengejarnya.
Karena ruangan itu begitu gelap, tersandunglah Zizi, ia pun terjatuh.
"Auh !"
Tanpa ia sadari ternyata pisau itu sudah berada tepat di depan matanya.
"Astaghfirullah hal adziiim !!" teriak Zizi sambil memejamkan matanya.
KLUNTIIINGGG !!
Suara pisau itu terjatuh dan membuat Zizi mulai perlahan membuka matanya. Namun tiba-tiba ada yang menarik tangannya dan melemparkannya.
"Aduh !!"
Zizi terjatuh dari tempat tidurnya. Ia pun bangun dengan penuh kebingungan. Badannya sakit semua.
"Siapa yang melempar gue sih ?? uhhh, sakiiiit... ga bisa pelan-pelan apa lemparnya ?? aduuuhhhh..."
***
Santi, anak baru di kost itu terbangun dari tidurnya saat ia mendengar suara dengkuran orang yang begitu keras.
"Ko bisa terdengar keras banget sih di kamar gue ?"
Ia pun bangun dan mencari sumber suara itu. Tapi ia tak tahu pasti suara itu berasal dari arah mana.
__ADS_1
Saat ia berjalan ke arah meja makan tiba-tiba lampunya berkedip-kedip. Santi segera menyalakan ponselnya, namun saat kamera ponsel itu menyala lampunya kembali terang.
Kemudian Santi menurunkan ponselnya dan mematikan kameranya, tapi lampu kembali berkedip. Santi kembali menyalakan kamera ponselnya, lampu itu kembali menyala lagi.
"Ada yang ga beres di kost ini, suara dengkuran itu gue yakin bukan suara anak-anak di sini"
Kemudian Santi segera berlari ke kamar Zizi.
TOK TOK TOK !
"Zi"
Zizi yang masih sakit badannya pun dengan perlahan mulai bangun dan menuju ke arah pintu.
"Siapa yang malam-malam ke kamar gue sih ?"
KLEEK
"Kak Santi ?"
"Ayo ke lantai tiga"
"Ada apa kak ??"
"Harusnya gue yang nanya, ada apa ??"
"Apa yang kakak rasakan ?? atau apa kakak di hantui ??"
"Gue mendengar ada suara dengkuran orang, dan ga mungkin kalau itu suara anak-anak di sini. Suaranya terlalu keras"
"Hanya suara ??"
"Lampu juga berkedip-kedip, tapi saat gue ambil kamera ponsel, lampunya kembali normal"
"Dimana kakak mendengar suara itu ?"
"Kurang tau pasti, tapi sepertinya di kamar nomor dua dekat tangga"
"Itu......"
"Kamar kedua orangtuanya Bu Kiandra kan ??"
Zizi menganggukkan kepalanya.
"Kamar itu kosong kan ??" tanya Santi.
Zizi masih terdiam.
"Gue tau, cuma lu yang bisa ngeliat makhluk yang ada di dalam kamar itu"
"Nggak ko kak, kak Tasya juga bisa lihat"
"Tasya ? Bisa lihat apa dia ? dia indigo ??"
"Bukan"
"Gara-gara sakit waktu itu ??"
"Iya"
"Gimana dengan almarhum kak Dewi ??"
Zizi terdiam.
"Lu turun sekarang dan usir suara dengkuran itu"
Zizi kaget mendengar ucapan Santi.
"Kenapa ? ga berani ??"
"Bukan ga berani kak, tapi....."
"Apa ?? takut ?? sama aja !! Lu itu pembawa sial tau ga !! sebelum lu datang ke sini, terutama sekolah !! semua baik-baik saja. Setelah lu datang, semua hancur berantakan tau ga !! Pak kepala sekolah meninggal, banyak juga yang lain jadi korban. Mau lu tuh apa sih !!" ucap Santi sambil mendorong Zizi.
"Bisa ga kalau ga kasar !!" ucap Tasya yang tiba-tiba saja muncul.
"Eh !! ini bukan urusan lu ya ! ga usah ikut campur !!" ancam Santi.
"Lu cuma anak baru disini ! Ga tau apa-apa !! Bisa kan menghormati yang lebih dulu tinggal di sini ??" kata Tasya.
"Apa lu bilang ?? gue ga tau apa-apa ?? Yang ga tau apa-apa tuh elu !! Gue tau segalanya ko !! Bahkan kematian Zizi !!"
__ADS_1
DEGG !!