Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Pisau atau kayu


__ADS_3

Anak-anak di kost itu tak tau kemana hilangnya Zizi dan Kiandra. Sebagian anak ketakutan dan lari ke kamar masing-masing, ada juga yg masih mengurusi Uti.


Sementara Santi nampak kesal dengan kejadian tadi. Ia masuk ke kamarnya dan merebahkan badannya.


"Gue mau pindah aja ! ga kuat di sini, pokoknya besok harus cari kost baru" gumamnya.


TOK TOK TOOKK !!


"Kak Santi ga makan dulu ?" ucap suara dari luar kamarnya.


"Nggak !" jawab Santi cuek.


Suara itu pun pergi dan Santi baru ingat kalau semua anak-anak sudah masuk kamar masing-masing dan beberapa anak lainnya sibuk ngurusin Uti.


"Terus yang tadi nawarin gue makan itu siapa ??"


Ia pun mengecek keluar. Tapi memang sepi. Ia pun masuk kembali ke kamarnya, lalu segera menutup badannya menggunakan selimut dan memeluk bantal gulingnya.


"Ehh, bau apaan ini ya ?" ucapnya di dalam selimut itu.


Ia pun membuka selimut itu lalu menoleh ke arah bantal gulingnya.


AAAAAAAAAA


Tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka dengan angin yang berhembus kencang.


JEDEERRR !!!


Santi hanya bisa melongo sambil menelan ludahnya. Badannya terpaku tak mampu bergerak. Terlihat Zizi yang mengenakkan baju berwarna hitam berdiri tegak di depan pintu sambil tersenyum ke arahnya.


Merinding seluruh badannya melihat senyuman Zizi.


"Zi..."


Tiba-tiba terdengar suara jeritan yang begitu keras di luar ruangan itu. Sosok Zizi pun hilang entah kemana. Santi buru-buru keluar kamar dan segera mencari sumber teriakan itu. Ternyata Uti kerasukan lagi.


Uti terlihat meronta-ronta sambil berteriak. Santi hanya berdiri di sana dan diam saja, hanya memperhatikan saja. Lalu matanya tertuju pada arah belakang anak-anak. Sekilas ia melihat Zizi berjalan di antara mereka tanpa menoleh.


"Gue tau, ini ulah lu ! maksud lu apa sih buat kacau malam ini ?" ucap Santi dalam hati dengan penuh kekesalan.


"Yang hafal ayat kursi bacain dong, tolong" ucap salah satu anak di sana.


Kemudian salah satu anak di sana pun mulai membaca ayat kursi.


"Hahahaaa... hahaha" Uti tertawa begitu lepas.

__ADS_1


Anak-anak di sana pun sedikit ketakutan dan mulai menjaga jarak.


"Ga usah baca ayat kursi buat aku, kamu sholat saja jarang-jarang, hahahaa, percuma, bacaanmu pun masih salah" ucap Uti dengan suara yang parau.


Ia pun menghentikan bacaannya.


"Seberapa tau kau tentang Islam ? Bahkan mengapa huruf fa tidak ada di surat Al-fatihah pun kalian tak tau !" tanya Uti.


Anak itu tak menjawab.


"Mau lu apa ?!" ucap Santi yang tiba-tiba saja mendekat.


Uti pun menatap tajam ke arah Santi. Santi tak merasa takut, karena ia fikir ini semua permainan Zizi.


"Mendingan perbanyak istighfar dan belajar sholat agar hatimu tak di penuhi rasa dendam" tutur Uti.


"Lu cuma budak ! Jadi ga usah banyak omong !!" ucap Santi.


Uti terlihat marah.


"Kenapa ? Marah ??" tanya Santi.


Uti mengambil garpu di meja dan melemparkannya ke Santi. Untung saja tidak tepat sasaran. Tapi itu cukup membuat jantung Santi berdegup.


"Oh, mau main kekerasan ?" tanya Santi.


"Kau bukan tandinganku, mari bermain" ucap Uti.


Dalam ilusi itu Santi sedang berdiri di sebuah jalan setapak di tepi jurang. Sontak saja ia pun berteriak histeris.


"OMG !! Tidaaaak !! Ini gue dimana ?? Ko gue........"


Santi pun celingukan mencari pegangan di dekatnya. Jurang itu terlihat sangat dalam. Nampak dengan jelas kaki Santi bergetar ketakutan, ia sendiri memang takut dengan ketinggian.


Anak-anak yang melihat hal itu nampak sedikit bingung dengan gerak gerik Santi yang seperti orang gila, teriak-teriak sendiri dan selalu melihat ke arah bawah sambil terus meraba sebuah tembok.


Kemudian Santi melihat ada sebuah kayu tak jauh dari sana. Ia pun berjalan perlahan ke arah kayu itu yang sebenarnya adalah sebuah pisau dapur.


Sontak saja anak-anak di sana pun berteriak ketakutan. Santi menghentikan langkahnya, ia mampu mendengar teriakkan anak-anak itu, namun ia tak dapat melihatnya.


"Kalian dimana ?? Apa kalian ada di dekat sini ?" tanya Santi.


Karena Santi tak mendengar suara lagi, dan terasa sangat hening, ia pun melanjutkan langkahnya untuk mengambil kayu itu.


"Pindahin pisaunya !" ucap salah satu dari mereka.

__ADS_1


Dengan berpindahnya pisau itu, pindah pula kayu yang ada di pandangan Santi. Namun Santi tak putus asa, ia terus saja mengejar kayu itu.


"Jangan lari kau kayu, gue bakalan tangkap lu !"


Tiba-tiba muncul sesosok makhluk yang tak berbalut pakaian, kulit tubuhnya begitu keriput. Bagian-bagian tubuh tertentu tertutup kabut gelap. Sosok itu mulai mendekat ke arah Santi.


"Stop !! Jangan mendekat !! Jangan ganggu gue !!"


Sosok itu pun mulai menampakkan gigi-giginya yang tajam. Santi berusaha untuk terus mengambil kayu itu.


Sementara anak-anak yang lain, masih panik karena Santi terus saja mengejar pisau itu dan berteriak untuk tidak ada yang mendekat.


Pisau itu kemudian di bawa lari menuruni tangga. Yang ada di ilusi Santi kayu itu terjatuh ke sebuah tebing. Ketika anak itu berhenti, sudah otomatis kayu itu menyangkut di bebatuan dalam ilusinya Santi.


"Jangan jatuh, jangan jatuh" ucap Santi sambil perlahan menuruni tangga itu.


Anak itupun segera mencari tempat yang aman, namun ia tak sengaja menabrak kursi di ruangan itu, alhasil pisau itu pun terlempar dan jatuh.


Santi menyegerakan langkahnya karena sosok itu pun terus mengikutinya. Sedangkan anak itu masih merasakan sakit di kakinya.


"Aduuh... Woooy ! Tolongiiiin... Ambil pisaunyaaaaa... Kaki gue sakit, ga bisa berdiri"


Dari atas tangga itu beberapa anak mulai menengok ke bawah, namun karena mereka takut dengan Santi yang masih berdiri di atas tangga itu, mereka hanya saling dorong mendorong saja.


"Lu aja deh, gue takut sama Santi"


"Ga mau gua, lu aja"


Karena Santi mendengar suara itu, Santi pun menengok ke belakang. Anak-anak itu pun auto kaget dan berlari.


"Aneh, ahh ga peduli, tujuan gue cuma kaya itu" ucap Santi sambil menatap ke arah pisaunya.


Sementara anak itu masih berusaha bangkit untuk mengambil pisaunya kembali.


"Aauuuhhhh, sakit"


Santi menoleh ke arah anak itu, namun yang ia lihat bukan dia, akan tetapi sosok yang berkulit keriput tanpa rambut di kepalanya. Anak itu pikir Santi sedang menatap dirinya.


"OMG ! Mampus gua"


Sosok itu berjalan menuju pisau dapur itu. Santi pun ga mau kalau senjata satu-satunya akan di ambil olehnya, ia pun mempercepat laju langkahnya dan tak menghiraukan jurang yang terjal itu lagi.


Sosok itu menoleh ke arah Santi sambil mengambil pisau itu. Santi pun segera berlari dan mencoba menangkapnya. Pisau itu jatuh kembali, mereka pun berebut untuk mendapatkannya.


"Ini, akan jadi (merebut) milikku !!!" ucap Santi sambil terengah dan berhasil mendapatkan pisau itu.

__ADS_1


Santi pun segera bersiap untuk melawan sosok yang ada di hadapannya itu.


"Ga akan gue beri ampun"


__ADS_2