
Rifki membalikkan badannya. Kedua temannya telah di ikat di sebuah tiang rumah itu dalam keadaan tak sadarkan diri. Sedangkan para antek-antek itu lenyap tak tersisa.
"Ada apa ini ? Kemana mereka semua ?"
Para khodampun tak satupun terlihat di sana. Ia hanya menjumpai Darmaji saja di sana.
"Jangan buru-buru, kita main saja dulu."
"Apa maumu ??" tanya Rifki.
"Aku mau kau serahkan Zilvana padaku"
"Tidak !"
"Ayolaah, aku ingin bermain dengannya sebentar saja"
"Tidak !!"
"Apa kau mau main-main denganku juga ?"
Darmaji merebut paksa Zizi dari tangan Rifki. Seutas tali pun segera menghampiri Rifki dan menjerat lehernya. Rifki berusaha menahan tali itu agar ia tetap bisa bernafas dan bertahan hidup.
"Kembalikan Zizi !! Darmajiiiiii !! Kembalikaaaan !! Zizi bangun Zi !!" teriak Rifki dari atas gantungan itu.
Darmaji mulai berjalan membelakangi Rifki sambil membawa Zizi. Ia meletakkannya dengan perlahan. Sengaja menaruhnya di tengah-tengah ruangan agar tiga pemuda itu menyaksikan aksinya.
***
Di sisi lain, sedari tadi Tasya berkelakuan sangat aneh. Ia seperti kerasukan. Ia terdorong, tertarik, tercekik, terlempar dan bahkan yang terakhir ia terkena cakaran.
Ya, itu semua karena ia memakai gelang dari Darmaji. Jadi, apa yang di alami Darmaji saat berkelahi, itu juga di rasakan oleh Tasya.
"Kenapa nomor Darmaji ga aktif pa ?? Bagaimana ini ? Kasihan Tasya"
"Coba hubungi Zizi"
Mereka pun segera memencet nomor Zizi, namun tak ada jawaban juga.
"Hiks hiks... Bagaimana ini ??"
"Jangaaaaaan !!" teriak Tasya yang seolah-olah ia melihat kalau Zizi akan di nodai oleh Darmaji.
Kedua orangtuanya mencoba mendekatinya, namun ia selalu berteriak sambil menangis.
"Hiks hiks... Jangaaaan ! Aku mohon jangaaaan !!"
Ia pun mencoba berlari untuk bisa menyelamatkan Zizi. Namun ayahnya segera menarik tangannya dan ibunya menyuruhnya untuk di ikat saja.
"Lepasiiiin !!"
"Maafin papa nak"
"Lepaaaas !! Lepaaaas !!! Hiks hiks... Lepasiin"
"Coba hubungi bu Kiandra ma"
"Bu Kiandra ??"
Mereka segera menghubungi Kiandra. Dan tak lama ia pun datang ke rumah Tasya. Di sana Tasya masih menangis.
"Jangaaaaan !! Hiks hiks..."
__ADS_1
"Ko bisa begitu ??" tanya Kiandra.
"Kurang tau bu ??"
Kiandra mengamati Tasya. Ia melihat ada bekas cakar dari Harimau di tangan dan di pipi.
"Ini bukan dia yang mencakarnya sendiri kan bu ?" tanya Kiandra.
"Bukan bu, tadi dia sempat merasa tercekik, lalu menjerit sesaat ada luka goresan itu, apa dia kena guna-guna bu ??"
Kiandra melirik ke arah gelang yang di pakai Tasya. Ia segera menariknya. Namun itu sangat sulit.
"Maaf, bisa tolong lepaskan gelang ini" ucap Kiandra.
Ayahnya pun maju untuk membuka gelang itu. Tapi ia juga tak bisa membukanya. Lalu si ibu pun ikut mencobanya. Namun tak berhasil juga.
Kiandra terlihat berfikir keras bagaimana cara melepaskan gelang itu. Ia mengambil ponsel dan terlihat mencari sebuah nomor telpon.
***
Di kost putri.
Dewi yang sudah mengetahui kalau mbak Mala bukanlah manusia, kini ia tak mau makan masakannya. Ia lebih memilih beli makan di luar atau makan mie instan.
Kali ini ia pun merasa lapar. Ia memberanikan diri untuk keluar dari kamarnya. Ia berjalan perlahan sambil tengak tengok, siapa tau ketemu mbak Mala.
"Huufh ! Sepi banget gini, apa gue masak di lantai atas aja kali ya ? Yang ada temannya"
Ia pun memberanikan diri naik ke lantai 2. Tapi di lantai 2 pun sepi. Terdengar suara tv dan obrolan di lantai 3. Ia pun naik ke lantai 3.
"Ehh Dewi, sini deh, nonton bareng"
"Iya makasih, gue cuma mau numpang rebus mie aja ko"
Dewi pun pergi ke arah kompor dan mulai menyalakannya. Sesekali menoleh ke arah anak-anak itu di depan tv.
Mereka masih terlihat asyik ngobrol dan becanda sambil memakan cemilan. Tak lama air pun mulai mendidih dan Dewi pun memasukkan mie ke dalam panci.
Tiba-tiba ia merasa ada yang berdiri di belakangnya.
"Mungkin salah satu diantara mereka mau mie juga" ucap Dewi dalam hati.
Tapi semua lamunan itu buyar saat terdengar tawa dari mereka.
"Hahahaha"
DEGG !!
"Tawa mereka masih lengkap. Jadi, siapa yang ada di belakang gue ?"
Ia pun mencoba mengalihkan perhatiannya dari pikiran yang mengganggunya. Ia segera mengambil mangkuk dan menuang bumbunya di sana.
Tiba-tiba ia merasa ada yang menyentuh tangannya. Ia pun sontak berteriak.
"AAAAA !!"
"Ada apa Wi ??" tanya anak-anak itu.
Dewi membalikkan badannya. Di sana tak ada siapapun. Bahkan suara tv dan suara obrolanpun hening.
"Kemana mereka ??" tanya Dewi heran.
__ADS_1
Ia segera menoleh ke arah tv. Dan benar saja. Tak ada orang di sana. Ia segera menuang mie ke dalam mangkuk dan membawa mie itu turun. Kemudian ia segera mengunci pintu kamarnya.
"Huffh ! Huufh ! Huufhh !! Tolong jangan ganggu gue terus. Toloong, gue mohoon"
Kemudian ia mendengar ada suara orang menyapu halaman di luar menggunakan sapu lidi.
SREEKKKK SREEEKK SREEEEKKK
Jantungnya makin berdegup kencang.
"Ya Tuhaaan, apa lagi ini... Jangan ganggu, gue mohon jangan janggu ! Gue ga mau lihat !! Gue udah tau, itu bukan suara sapu lidi, gue tahu, hiks.. Hiks... Jangaan ganggu, gue tahu kalau itu tuh suara dari rambut kuntilanak yang terseret dan mengenai rumput-rumput, itu adalah suara paling mengerikan dari kuntilanak daripada hihihi-nya"
Tiba-tiba lampu pun padam.
AAAAAAA
***
"Wahai para anak muda, saksikanlah !! Akan ku buat para khodamnya menjauhinya, saat ia telah ternodai hahahahaaaa ! Hahahahaaa !! Hmmm harum sekali kau ini, hahahahaa"
Di saat itu juga mata Zizi langsung terbuka. Itu membuat Darmaji terpental jauh. Zizi segera bangun dan berdiri.
"Sudah terlalu berisik telingaku mendengar suaramu Darmaji !!" ucap Zizi.
"Sial !! Belum sempat aku menghirup wangi tubuhmu ! Kau sudah bangun !!"
"Aku hanya pura-pura pingsan saja ! Ternyata sekenarioku berhasil" ucap Zizi sambil melempar sebuah pisau ke arah tali gantungan Rifki.
Rifki pun terjatuh.
"Syukurlah, gue bangga ama lu Zi !!" teriak Rifki.
"Apa maksudmu sekenariomu berhasil ??" tanya Darmaji.
Zizi mendekat ke arah laci yang tadinya terdapat kain merah. Ia membukanya tanpa memerlukan kunci itu.
"Taraaaaa" ucap Zizi memperlihatkan laci itu sudah kosong.
"Kurang ajar !!" kata Darmaji dengan nada emosi saat tau kalau kain itu sudah tidak ada.
Ia menoleh ke arah Doni dan Zidan yang tiba-tiba saja sudah berubah menjadi bantal yang terikat di tiang rumahnya.
"Kutu kuprettt !!!"
Sementara Doni dan Zidan sedang menuju rumah Tasya untuk menyembuhkan Tasya, serta akan memberikan rambut itu pada mbak Mala dan mencoba meminta maaf atas kesalahan yang pernah Tasya lakukan.
"Hahahahaaa"
Suara tawa dari Zizi itu benar-benar memancing amarah Darmaji.
"Beraninya kau mempermainkanku !!"
"Bukankah kau mau main-main denganku ?" tanya Zizi.
"Tidak akan ku biarkan mereka menyerahkan kain itu pada Mala !!" pekik Darmaji.
"Kalau begitu, apa yang akan kau lakukan ?"
SRIIIINGGG
Suara nyaring dari belati (pedang) itu membuat Zizi sedikit mengedipkan mata.
__ADS_1
"Apa kau sudah pernah melihat ayam yang terpotong-potong ??" tanya Darmaji sambil sesekali memainkan belati itu.