Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Menjumpai kawan


__ADS_3

Uti mulai mengepalkan tangannya. Santi mencoba berjalan mundur sambil terus meminta maaf.


"Gue beneran ga sengaja Ti... sorry"


Tapi Uti sudah sangat marah. Tiba-tiba saja sosok itu merasuki tubuh Uti, Uti kejang beberapa saat, setelah itu matanya mulai memerah.


"Zi tolongin gueee !!" teriak Santi.


Uti pun segera mencekik Santi sambil terus mendorongnya ke tembok. Suasana menjadi gaduh saat anak-anak lain melihatnya.


"Dasar manusia tak tau sopan santun !! buat apa kau di sekolahkan apa bila sikapmu belum bisa menghargai orang yang lebih tua darimu !! kami sebangsa jin, iblis dan setan pun masih bisa menghormati yang lebih tua dari kami !" ucapnya sambil terus mencekik leher Santi.


Santi mencoba melepaskan tangannya, namun begitu sulit, tenaganya begitu kuat. Bu Kiandra pun mendekat dan langsung bertanya apa yang terjadi. Namun tak ada yang menjawab, karena mereka tak tau bagaimana awal kejadian.


"Kita cuma tau, tadi Santi mendekat ke arah Uti yang sedang manasin bakso, terus tiba-tiba dia teriak minta tolong sama Zizi"


"Apa yang terjadi Zi ??" tanya Kiandra.


"Dari penuturan Uti, sepertinya Kak Santi ini tidak menghargai seseorang" jawab Zizi.


"Iya bener Bu, tadi Uti bilang begitu"


"Tapi itu bukan suara Uti" ucap Zizi.


Kiandra menoleh ke arah Zizi.


"Maksudmu ???"


"Bu Kia pasti bisa melihat, sosok apa yang ada di dalam tubuh Uti"


Kiandra tak menjawab, ia berjalan mendekat ke arah Santi. Wajah Santi sudah memerah, hampir saja kehabisan nafas.


Terlihat Kiandra memberikan salam hormat kepada Uti. Kemudian ia memohon agar melepaskan Santi.


"Ingin sekali aku menghabisinya karena sikapnya ! Apalagi saat ia salah dengan apa yang ia pikirkan, ia tak mau menanyakan kebenarannya! aku ampuni kali ini, tapi, akan terus ku awasi dia !! Dia punya sifat iri dengki yang tinggi !! tak bisa menghormati orang yang lebih tua darinya"


"Terimakasih banyak, biar nanti ku ajarkan sopan santun ke dia" ucap Kiandra dengan penuh hormat dan sangat santun.


Dari jauh Zizi terus memperhatikan Kiandra. Santi pun terlepas dari tangan Uti.


"Bu Kia hebat juga Zi, bisa menangani hal semacam ini" bisik Tasya.


Zizi hanya tersenyum, dalam benaknya ia mulai yakin bahwa Kiandra ini memang sudah cukup mengenal lama para penghuni di sini. Walaupun ia selalu berdalih bahwa katanya dia baru ke Jakarta setelah sekian lama.


"Iri dengki hanya akan membawamu kedalam jurang kehancuran !! bukankah Allah tak suka itu Kiandra ??" ucap Uti.


Kiandra menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Hanya karena di hatinya ada titik hitam itu, ia lupa pada saudaranya sendiri !! nyawanya di habisi !! dan tak mau mengakui kesalahannya. Hilangkan rasa iri dengki !! Atau kau tak akan melihat indahnya surga !!"


Kiandra terlihat mengepalkan tangannya pertanda menahan amarahnya. Ia tau ia sedang di permalukan di depan Zizi.


"Apa lagi bersekongkol dengan para makhluk halus adalah kerugian besar !!"


Kiandra masih menahan amarah itu. Sedangkan anak-anak yang lain tak tau bahwa yang sedang di ucapkan Uti adalah tentang Kiandra. Mereka hanya tau kalau Uti sedang berbicara pada Santi yang tak mau menghargai sesama. Hanya Zizi yang paham dengan apa yang sedang di ucapkan Uti.


"Dan kau............"


DUUAAKKK !!!


Belum selesai bicara Kiandra meninju Uti.


"Apa salah anak ini ? mengapa kau menyakitinya ??"


"Anak ini memang tak salah apapun !! ini salah kau !! kau yang salah !! kenapa kau merasukinya ?? kenapa kau malah membuka semua keburukanku !! kalau berani, keluar dari tubuh anak ini dan lawan aku !!"


Sontak saja Santi segera berlari menjauh.


"Aku hanya mengingatkanmu Kiandra, membahagiakan kedua orang tua bukanlah hanya dengan harta, bersikap manis di hadapannya lalu di belakang kau adalah manusia paling rendah, paling hina"


Kiandra menarik baju Uti.


"Keluar kau !!! jangan bersembunyi di balik tubuh anak kecil !!" ucap Kiandra.


Seketika semua anak bergumam.


"Tumbal ????"


Zizi langsung teringat pada kak Dewi.


"Jadi ?? kak Dewi di jadikan tumbal oleh Bu Kia ??" tanya Zizi dalam hati.


"Atau sasaranmu kali ini bukan Uti ? seperti waktu itu ? harusnya Tasya ! tapi yang kena malah Dewi. Karena Tasya dalam lindungan Zizi. Iya kan Kiandra ??" tanya sosok itu.


"Dari tadi, aku sudah menghormatimu ! tapi kau terlalu merendahkanku ! mempermalukan aku di hadapan banyak anak-anak !! Kali ini aku tak memandang siapa kau !! Akan ku habisi sampai titik darah penghabisan !!" ucap Kiandra.


Kiandra menarik tubuh Uti dan melemparkannya ke arah Zizi. Sosok itu pun keluar karena tak mau kalau Uti makin terluka karena ulah Kiandra.


Sosok berambut panjang dengan gaun yang sudah lusuh menutupi kakinya, taring yang panjang, air liur yang selalu menetes, kuku yang panjang dan hitam serta dua tanduk di kepalanya


"Pernahkah kau di ajarkan cara agar tak kasar kepada seseorang ??" tanya sosok itu.


"Diam kau !! aku sudah terlalu muak mendengar bac*tanmu !!"


Tiba-tiba saja dari tangannya muncul sebuah pisau. Semua anak pun kaget dan heran melihatnya.

__ADS_1


"Maju kau !!" teriak Kiandra.


Sedangkan Zizi dan beberapa anak lainnya segera membawa Uti ke sofa.


"Seperti pisau milik Kanaya Zi" ucap Ratih.


"Mungkin mirip saja" jawab Zizi.


"Mirip ?? kebetulan sekali kalau gitu, ternyata pisau seperti itu di jual bebas di pasaran"


"Bukan sembarang pisau, itu pisau yang bisa melukai makhluk halus"


"Wow"


Ternyata Kiandra mampu menandingi kekuatan makhluk itu. Mereka sama-sama kuat, walaupun Kiandra sempat terjatuh beberapa kali dan makhluk itu pun sempat tergores pisau beberapa bagian.


Dari sini Zizi makin yakin, Bu Kia ini bukan sembarang orang seperti yang selama ini ia lihat. Ia yakin, Kiandra pasti punya guru yang hebat.


"Ga mungkin Kanaya kan ???"


***


Sedangkan di sisi lain, ayahnya Zizi sedang menemui 2 kawannya. Mereka sudah lama tak jumpa karena saling sibuk mengurus perekonomian rumah tangga. Ini kali pertama mereka jumpa kembali.


Yang satu namanya Aminudin, kerjanya hanya buruh penjual bensin. Orangnya sangat sabar dan baik hati, serta ia pun pandai mengaji, makanya tak banyak yang tau kalau ia punya ilmu yang cukup besar. Ia di kenal sebagai sosok yang pendiam namun sebenarnya ia di takuti oleh lawan-lawannya. Sayangnya ia mempunyai istri begitu cerewet dan pelit.


Satunya lagi bernama Cahya. Ia pun sangat sabar orangnya. Istrinya pun sangat ramah dan suka memberi uang kepada anak yatim-piatu. Mereka punya toko sembako yang cukup sederhana namun selalu ramai pembeli. Tak ada yang tau juga kalau diam-diam ia mempunyai bekal yang cukup untuk bisa menghadapi sosok yang sangar.


"Maka dari itu, aku sedikit menyesal telah membiarkan ia pergi seorang diri" kata ayahnya Zizi.


"Kau menyadari, bahwa anakmu ini punya khodam alias jin penjaga ?? lalu, apa permasalahannya ??" tanya Amin.


"Ada yang memanfaatkan kebaikan dan kepolosannya"


"Lalu bagaimana dengan khodamnya ?? bukankah khodamnya itu menjaga dan melindunginya ?" tanya Cahya.


Kemudian ayahnya menceritakan tentang semua kejadian yang dialami anaknya di Jakarta.


"Busyeeeett !!! itu bahaya !"


"Anakmu loh butuh bantuan orang yang lebih dewasa"


"Maka dari itu, aku datang jauh-jauh menemui kalian berdua ini, supaya kalian mau bantuin aku"


"Sedikit terlambat ga sih ??"


"Siapa tadi namanya ??"

__ADS_1


"Kanaya"


__ADS_2