Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Kematian Aludra


__ADS_3

***


DUARRRR


Suara pintu di tabrak oleh seseorang.


"Sorry sorry. huufh ! cuma mau ngasih ini" ucap Devano sambil ngos-ngosan dan memberikan bungkusan kain merah.


Disana nampak sangat canggung suasananya. Tak ada komunikasi sama sekali. Kiandra mengambilnya. Devano pun jadi bingung.


"Emm, Tasya ga apa-apa kan Tante ?" ucap Devano canggung.


Ibunya Tasya hanya menoleh ke arah Tasya yang masih terbaring di kasurnya menandakan agar Devano melihat kondisinya sendiri.


"Darimana kamu dapat ini ?" tanya Kiandra.


"Em anu, tadi... tadi di kasih sama si anak IPS, siapa namanya ya ? Si.... ( berfikir) Zidan"


Kemudian Kiandra pun bangkit dari duduknya menuju ruang tamu. Devano mengikutinya dari belakang.


"Lah ??????" ucap Devano kaget saat melihat seseorang tengah duduk di ruang tamu.


Tak lama Kiandra pun menyerahkan bingkisan kain merah itu.


"Perasaan tadi pas gue masuk ga ada orang di situ ??" tanya Devano bingung.


"Sekarang pulanglah, apa yang kau mau sudah kau dapatkan" kata Kiandra pada orang itu.


"Ko gue kayak ga asing ya sama orang itu ?" tanya Devano dalam hati.


Terlihat orang itu pun mulai berdiri. Kemudian kedua orangtuanya Tasya pun keluar dari kamar dan berjalan perlahan ke arah Devano.


Devano heran karena kedua orangtua itu nampak ketakutan saat melihat ke arah Kiandra. Tapi Devano sedikit tak menghiraukan hal itu. Ia masih fokus mengingat-ingat wajah orang yang sedang bersama dengan Kiandra.


“Siapa ya ? kayak pernah liat, tapi dimana dan siapa ??" tanya Devano dalam hati lagi.


Pergilah orang itu dengan santainya lalu menutup pintu.


"Siapa orang yang bersama Bu Kiandra Tante ?" tanya Devano.


Ibunya Tasya hanya menoleh ke arah suaminya tanpa menjawab pertanyaan Devano.Kemudian Kiandra pun izin pulang.


"Saya pulang dulu pak, Bu, kalau ada apa-apa kabarin saja, bentengi anak kalian dengan agama yang kuat. Bacakan ayat-ayat Al-qur'an selama ia belum bangun"


"i.. i... iya bu Kia, terimakasih banyak"

__ADS_1


Devano heran ketika mendengar orang tua Tasya menjawab dengan terbata-bata.


"Om dan Tante baik-baik saja kan ??"


Mereka berdua menoleh secara bersamaan ke arah Devano. Lalu mereka segera masuk lagi ke kamar Tasya dan meninggalkan Devano sendirian dalam kebingungan.


"Apa yang sebenarnya terjadi sama mereka ? Ko kayak ketakutan sama bu Kiandra."


***


"Zi, darimana lu tau kalau cara membunuh Darmaji tuh harus di lidahnya ??" tanya Rifki.


"Gua ga tau Ki, pas gua di pojokan tadi, ada suara yang selalu bilang begini 'Lempar belatinya ke arah lidahnya Darmaji ! Itu akan membuatnya susah mengucapkan mantra ! Lempar sekarang. Lempar. Lempaaaar ! Lempaaaaarrr !!' dan itu membuat telinga gue sakit, sedangkan posisi gue lagi di ancam sama pecahan botol yang bisa kapan aja atau dengan tiba-tiba bisa nusuk ke mata gue gitu aja kan ? Makanya tadi gue teriak, lalu reflek melempar belati itu"


"Wuuih keren"


"Tapi gue sadar, itu bukan suara dari khodam-khodam gue"


"Maksud lu ??"


"Gue ga tau itu suara siapa ?? Yang pasti bukan suara mbah Singadita atau Harimau putih itu, bukan mereka. Ini suaranya lebih ke suara perempuan"


***


___________________###__________________


Sebuah botol parfum terjatuh dari atas meja. Aludra terbangun dari tidur lelapnya karena kaget mendengar bunyi itu.


"Ada tikus kah ?" tanya Aludra dalam hati saat melihat botol parfum itu tergeletak di lantai.


Di lihatnya jam dinding di kamarnya. Menunjukkan pukul 03 : 09 WIB. Kemudian Aludra menarik selimutnya kembali. Ia pun kembali tertidur. Tapi tiba-tiba dia mendengar lagi suara benda jatuh.


KLETEEKK


Suara lipstik terjatuh dari meja itu membuat Aludra penasaran. Dia pun membuka matanya dan melihat sekeliling.


"Kok bisa ?"


Ia pun bangkit dari tempat tidur dan mencoba mengambil lipstik itu.


"Siapa yang malam-malam iseng ?"


Lalu Aludra menaruh lipstik itu kembali ke tempatnya, dan mengambil botol parfum yang tadi terjatuh juga. saat ia mengambil botol parfum itu sekilas ia melihat ada sesuatu di kolong tempat tidurnya. Aludra pun mencoba memeriksanya. Tapi setelah diperiksa tidak ada apa-apa di sana.


Kemudian ia pun kembali ke tempat tidurnya. Tiba-tiba selimutnya seperti ada yang menarik. Bahkan tarikan itu semakin kuat. Aludra pun melepaskan selimut itu dan segera berdiri.

__ADS_1


"Astaghfirullahal adzim"


Seketika semua benda yang ada terjatuh ke lantai semuanya. Sontak saja Aludra kaget dan panik. Ia segera berlari ke arah pintu. Tapi tiba-tiba pintu itu terkunci dengan sendirinya.


KLEKK KLEEKK KLEEEKKK !!


"Bukaaaaa !!" teriak Aludra.


KLEEKKK KLEEKK KLEEKK !!


Tiba-tiba kakinya di tarik oleh sesosok yang tak terlihat.


AAAAAAA


Aludra mencoba mencari sesuatu untuk pegangan, namun ia tak menemukan apa-apa.


BLLEEGG !!


Ia di jedotkan ke tembok kamar itu.


ADUUH !!


Nafas Aludra mulai tak beraturan. Ia mencoba menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi tak ada siapapun yang ia jumpai. Ia mencoba membalikkan badannya agar ia bisa bangun dan berdiri.


Tiba-tiba semua barang-barang yang ada di bagian atas terjatuh semua dan sebagian menimpa Aludra. Ia menutup telinga dan matanya. Ingin sekali rasanya berteriak, namun tertahan di hati.


"Hahahahaaaa"


Perlahan Aludra mulai membuka matanya. Alangkah kagetnya ia saat ada seseorang di sana dengan membawa pisau.


"Sudah saatnya kakakku tercinta balik ke alam yang lebih damai dari ini"


Berlinanglah air mata Aludra mendengar kalimat itu. Tubuhnya yang sudah babak belur di hajar Kanaya tak mampu lagi bila harus menghadapinya.


"Hiiiks... Hiiiks, ampun ! Tolong jangan bunuh kakak hiks... Hiks.. Kakak mohon, apa yang kamu mau dari kakak akan kakak berikan. Tapi kakak mohon jangan bunuh kakak.. Hiks hiks..." ucap Aludra sambil terus memohon hingga ia sampai berlutut di hadapannya.


"Bukankah kakak rela mati demi Kanaya ? (menunjuk ke arah Kanaya) Lalu demi aku ? Kenapa nggak kak !! Kenapa !!" teriaknya sambil menjambak rambut Aludra.


Aludra terdiam. Bahkan saat di jambak pun ia tak meng-aduh sama sekali. Darah di dahinya mulai terlihat mengering. Diamnya Aludra justru membuatnya makin kesal.


"Aaarrghh !!" teriaknya sambil mendorong Aludra kemudian menendang perutnya.


Aludra hanya bisa diam menahan sakitnya.


"Apa yang istimewa dari kakak !! Kenapa orang-orang yang aku cinta justru lebih mencintai kakak ! Kenapa ?? Kenapaaa !!!"

__ADS_1


Aludra meringis menahan sakit di perutnya. Belum lagi sakit di kepalanya yang kejatuhan benda-benda dari atas lemari dan rak membuatnya sudah tak bisa berkonsentrasi lagi dengan ucapan-ucapan yang ia dengar.


"Kakak tau kalau aku suka sama Agung ! Kenapa kakak ga mau ngalah !! Kenapa ? Lalu kedua orangtua kita, mereka lebih sering menyebut nama kakak di hadapan banyak orang dan selalu memuji kakak atas keberhasilan kakak ! Sedangkan aku ? Ga pernah kak !! Padahal aku owner di perusahaan aku sendiri ! Tapi ga pernah dapat pujian dari mama dan papa ! Kakak hanya punya kost 4 lantai saja tapi Mama sama papa begitu bahagia !! Hiks.. Hiks... Apa istimewanya kak ?? Apaaa ?? Hiks hiks"


__ADS_2