Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Memindah Khodam


__ADS_3

"Liliana jangaaaaaaan !!!"


Semuanya tertunduk dan memejamkan mata saat Heru terjatuh ke jurang dan ia baru sadar saat sudah hampir sampai ke tanah.


AAAAAAAA


CRAAATTTT....


Bima tak kuasa melihat kakak kesayangannya meninggal dengan tragis. Badannya gemetar dan tak kuasa berdiri. Lututnya tak mampu menopang badannya lagi. Ia pun menangis sambil berteriak.


"Heruuuuu !!! Hiks hiks hikss"


Sofia pun langsung memeluk Bima. Ia turut menangis atas kepergian Heru. Padahal ia belum sempat berdamai betul dengan Heru.


Zizi, Doni dan Mayang pun hanya bisa diam di tempat. Sesekali mereka ikut memeluk keduanya. Ikut serta terseret dalam kesedihannya.


***


"Mana Mega ??" tanya Rifki sambil ngos-ngosan.


"Ada di ICU"


"ICU ??"


"Dia mengeluarkan darah terus dari mulutnya, jadi di bawa ke ICU"


Rifki membuang nafas panjang.


"Kenapa dia harus menghalau ajian itu ? Huuufh" keluh Rifki.


"Kamu masih nanya kenapa Mega melakukan itu ? Hah !! Masih nanya ??"


"Maksud lu ??"


Zidan diam tak menjawab.


"Kalau ngomong yang jelas ! Jangan setengah-setengah !!"


Zidan menoleh ke arah Rifki. Lalu tersenyum tipis.


"Sejak kapan Mega suka sama kamu ??"


Kini giliran Rifki yang diam.


"Kamu tau ga seberapa besar rasa cintanya dia ke kamu ? Sampai-sampai dia rela mati demi kamu"


Rifki kicep (tidak bisa berkata-kata).


"Dia rela melakukan berbagai cara hanya demi mendapat perhatian darimu ! Tapi kamu gimana ke dia ?? Gimana ?? Itu kah sikap seorang lelaki ?"


Rifki menoleh ke arah Zidan. Mereka berbicara dengan santai dan dengan nada rendah. Karena mereka tau mereka sedang dalam lingkungan rumah sakit yang notabene-nya semua hanya menginginkan sebuah kedamaian.


"Apa kamu akan mencintainya setelah dia beda alam denganmu ?? Sama halnya seperti Mariska ??"


Rifki memalingkan wajahnya. Zidan ga tau kalau sebenarnya Rifki pun ada rasa sama Mega. Walau Rifki tak pernah menyadari kalau itu adalah sebuah rasa kasih sayang.


"Dia udah sekarat kayak gitu, kamu baru kasih perhatian ? Dia yang nolongin kamu, dia yang nyelamatin nyawamu. Dapat apa dia ?"


"Siapa yang jagain Mega di dalam ? Kenapa ada banyak orang di sana ?" tanya Rifki mengalihkan pembicaraan.


Zidan tersenyum tipis.


"Kanda pat"


Rifki sontak menoleh ke Zidan.


"Kanda pat ?? Ngapain mereka ? Lu ! Ahh !!!" ucap Rifki kesal tapi ia tak dapat berbuat apapun.


Rifki berdiri dan hendak pergi memasuki ruangan itu, tapi Zidan melarangnya.


"Percuma !! Ada perawat di sana, yang ga ngizinin kita masuk, selain keluarganya"


"Gua mau lihat Mega !!"

__ADS_1


"Udah aku jelasin tadi"


Rifki terlihat sangat kesal.


"Kanda pat itu ga semuanya baik ! Bisa jadi salah satu dari mereka mencelakai Mega (perasaannya mulai tercampur aduk) aarrggh !!"


"Mega pernah bilang ke aku, kalau dia di beri tanda tiga garis biru di bahu kiri"


"Tiga garis biru ?? Itu tanda dari makhluk ghoib bahwa yang bersangkutan adalah miliknya"


"Iya"


Rasanya Rifki hampir ingin menagis di sana. Dia benar-benar gelisah.


"Bentar lagi mamanya Mega datang. Bilang saja Mega jatuh dari motor"


Rifki terlihat cuek dengan Zidan. Zidan menyuruhnya duduk kembali di sampingnya dan menyuruhnya untuk tetap terlihat tenang.


Tak lama mamanya Mega pun datang, lalu menghampiri mereka sebentar sebelum ia masuk ke ruangan ICU.


"Ya udah, tante masuk dulu ya ?"


"Iya tante"


Setelah mamanya Mega masuk Rifki langsung duduk bersandar.


"Merasa bersalah ??" tanya Zidan.


Rifki tak menjawabnya. Ia masih dalam posisi yang sama sambil terus memejamkan matanya.


"Ki..."


***


"Don, pulang yuk, badan gua ga enak banget" pinta Mayang.


Kemudian Doni pun berpamitan pergi duluan. Sedangkan Bima dan Sofia pun mulai beranjak pergi menuju mobil di bantu Zizi sambil sempoyongan karena mereka tak ada lagi daya.


Sesampainya di rumah Mayang mual-mual.


"Nggak Don ! Gua ga baik-baik aja. Gua ga kuat dengan khodam ini, ga kuat Don !"


"Terus gimana ??"


"Ga tau (menggigil) ga kuat Don"


Doni berfikir keras.


"Lu punya benda keramat ?" tanya Doni.


Mayang menoleh ke arah Doni.


"Benda keramat ??" tanya Mayang.


"Iya, kalau lu ga kuat khodam ini berada di tubuh lu, mending di pindah saja ke sebuah benda"


"Ada"


"Apa itu ?"


"Keris"


"Keris ????"


"Iya, waktu itu gua ambil dari dompetnya Darmaji"


"Ok ! Mana bendanya ?"


"Ada di tas !"


Doni pun segera mengambil sebuah keris kecil seukuran korek api dari tas Mayang. Sementara Mayang makin menggigil saja.


"Ini ??" tanya Doni.

__ADS_1


Mayang menganggukkan kepalanya.


"Ikuti gue, Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rosulullah, baca 7 kali"


Mayang pun mengikuti instruksi dari Doni.


"Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rosulullah, Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rosulullah, Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rosulullah, Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rosulullah, Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rosulullah, Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rosulullah, Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rosulullah"


"Bismillahirrohmanirrohim, Bismillahirrohmanirrohim, Bismillahirrohmanirrohim, Bismillahirrohmanirrohim, Bismillahirrohmanirrohim, Bismillahirrohmanirrohim, Bismillahirrohmanirrohim"


Mayang pun mengulang-ulang kalimat yang sama.


"Lailaha illallah, Lailaha illallah, Lailaha illallah, Lailaha illallah, Lailaha illallah, Lailaha illallah, Lailaha illallah"


Mayang mulai merasakan sedikit ketenangan.


"Lalu baca Al ikhlas 7 kali" perintah Doni.


Mayang mulai fokus melantunkan kalimat demi kalimat.


"Hasbyallah wani'mal wakil, Hasbyallah wani'mal wakil, Hasbyallah wani'mal wakil, Hasbyallah wani'mal wakil, Hasbyallah wani'mal wakil, Hasbyallah wani'mal wakil, Hasbyallah wani'mal wakil, "


Mayang terus saja mengikuti alunan ayat-ayat itu.


"Ok, terakhir baca kun fayakun lalu tiup keris ini"


Mayang menatap ke arah Doni.


"Ayo lakukan !"


Mayang menarik nafas dalam-dalam.


"Kun fayakun !! Huuufh... (meniup)"


"Alhamdulillah"


Seketika Mayang pun pingsan.


"May ??"


***


"Kak Bima masih kuat nyetir mobil ?" tanya Zizi.


"Bisa ko Zi, pelan-pelan nanti"


Tiba-tiba Zizi melihat beberapa makhluk lewat di hadapannya. Zizi pura-pura tak melihatnya, ia memalingkan wajahnya ke arah lain.


Makhluk-makhluk itu berbulu panjang tapi badan mereka kerdil. Mereka berjalan menuju ke arah Darmaji. Zizi sedikit melirik ke arahnya. Terlihat makhluk-makhluk itu mulai menggotong Darmaji.


Zizi masih pura-pura tak melihatnya. Mereka pun lewat kembali ke hadapan Zizi. Zizi menatap langit agar matanya tak melirik ke arah mereka.


Mereka saling bahu membahu menggotong Darmaji. Ada yang yang memegang kepala, tangan, badan dan kaki. Mereka terdiri dari 6 makhluk.


Sofia dan Bima masih terlihat mempersiapkan diri.


"Zi, nanti pulang ke rumah gue dulu ya ? Ganti baju nanti kita ke rumah sakit, ga mungkinkan kalau kita pergi ke rumah sakit dalam keadaan baju kotor begini" ucap Sofia.


Zizi masih tak mendengarkan Sofia, pandangannya masih tertuju ke arah rerumputan di hadapannya.


"Zi !" panggil Sofia.


Bima pun menoleh ke arah Zizi.


"Ko bengong Zi ?" tanya Bima.


Zizi masih tak mendengar pembicaraan mereka berdua. Sofia dan Bima hanya saling pandang saja. Lalu Sofia menepuk pundak Zizi.


"Astaghfirullahal adzim !"


"Ngelamun ??"


"Nggak ko"

__ADS_1


"Ko di panggil diem aja ? Lagi liatin apa ?"


Zizi kicep (tak bisa berkata-kata). Ia tak tau bagaimana menjelaskannya. Karena ga mungkin ia cerita kalau ia baru saja melihat rombongan makhluk yang membawa mayat Darmaji.


__ADS_2