Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Makhluk apa ini ??


__ADS_3

***


Zizi dan Mayang yang sedang berjalan menuju kelas tiba-tiba di hampiri Rifki dan Doni.


"Selamat pagi ayang ?"


AKHEM AKHEEEMM AKHEEMMM


"Dunia berasa milik berdua, yang lain kemana Zi ??" ledek Rifki.


"Ngontrak, hahaha"


"Sirik aja kalian berdua tuh"


"Ya kan jomblo ya Zi ya ??"


"Lah, jomblo sama jomblo kenapa ga pacaran aja ??" ucap Doni.


Zizi dan Rifki menoleh bersamaan ke arah Doni dan memandang heran. Kemudian Zizi dan Rifki pun saling menatap.


Di sisi lain ternyata Mega melihat mereka berdua sedang saling tatap-tatapan. Makin geram saja hati Mega terhadap Zizi.


"Awas aja lu Zi !! Hiiiih !! Makin ke sini makin ke sana aja lu !!"


Kemudian Rifki menarik Zizi meninggalkan Doni dan Mayang.


"Kemana Ki ??" tanya Zizi.


"Siniii, gue mau ngomong"


"Penting banget ya ?"


"Soal Kanaya"


"Hah ?? Kenapa Kanaya ?"


"Kayaknya dia itu ga pindah ke Saranjana deh, auranya masih di sekitar sini"


"Lu serius Ki ??"


"Tadi malam, teman gue di cekik, katanya yang mencekiknya namanya Kanaya"


"Temen lu ?? Siapa ?"


"Sosok ghoib juga, iseng banget kan Kanaya"


"Tunggu tunggu tunggu, teman lu sosok ghoib, di cekik Kanaya ?"


"Iya, jadi tuh di kost putra, gue sama Doni ada teman sosok ghoib gitu, dia suka iseng sama Doni, nah semalam tiba-tiba datang tuh dia ke gue, soalnya Doni lagi bucin sama Mayang, jadi dia datengnya ke gue sambil megang leher. Gue tanya kan ? Katanya di cekik Kanaya."


"Ko gitu ? Kanaya bohong dong sama gue ?"


"Mending gini aja, sebelum kekuatannya pulih total, kita segel aja dia"


"Yang bisa nyegel cuma Zidan Ki !"


"Nah, deketin dia"


"Kenapa ga lu manfaatin aja Mega"


"Maksud lu ??"

__ADS_1


"Mega kan deket sama Zidan"


"Waah bener juga, suruh ambil segelnya Zidan aja ya ?"


"Pertanyaannya Mega mau ga di ajak kerja sama ?"


"Emmmm ?? Belum di coba mana tau hasilnya"


"Atau gini aja, gua deketin Zidan, lu deketin Mega"


Rifki tersenyum.


"Ko malah senyum ?"


"Mega ga perlu di deketin Zi, gue kedipin mata aja dia ga bisa tidur 7 hari 7 malem, hahaha"


"Ih... Sombong banget lu !"


"Hahahaha"


Tiba-tiba Bima dan Heru mendatangi mereka. Zizi kaget bukan main saat melihat Heru. Ingatannya masih full akan kejadian kemarin.


"Mau ngapain lu ?" tanya Zizi.


Rifki pun sudah bersiap untuk menghajar Heru.


"Zi, sorry. Kakak gua kemari mau minta maaf ke lu soal kemaren katanya" ucap Bima.


Zizi langsung berdiri dan sedikit menjauh. Di lihatnya wajah Heru yang sangat babak belur.


"Please jangan takut ! Sorry ya ? Gua khilaf, gua minta maaf" ucap Heru.


Zizi hanya menganggukkan kepala saja. Sambil menggandeng tangan Rifki.


"Kagak maki lagi itu ! Di ceramahin gua !" kata Heru.


"Iya Kak, ga apa-apa ko" ucap Zizi.


"Serius ga apa-apa ?" tanya Heru.


"Yang penting kagak di ulang lagi ame lu !" ujar Rifki.


"Iya janji ko, kapok gua ! Gilaa"


"Ya udah, lu pulang sana ! Nanti gua bawa motor sendiri aja ! Lu panggil taxi aja" kata Bima.


"Satu lagi neng, lain kali harimaunya di jaga ya ? Biar ga lepas kayak kemarin" ucap Heru kemudian pergi meninggalkan mereka.


Rifki dan Zizi hanya saling pandang saja. Sedangkan Bima pamit untuk pergi, walaupun ia masih punya sejuta pertanyaan yang belum terjawabkan. Salah satunya adalah tentang Harimaunya Zizi yang selalu di ucapkan oleh Heru.


Di sisi lain Heru menoleh kembali ke arah Zizi. Sambil sedikit bersembunyi dan memperhatikannya.


"Kemarin gagal, besok di coba lagi, siapa tau berhasil, hahaha, lu pikir gua kapok beneran sama tuh Harimau ? Kagak lah !!" ucap Heru lirih sembari di barengi senyum kelicikan.


***


Sore harinya Rifki menceritakan rencananya dengan Zizi pada Doni di teras sambil mengerjakan tugas.


"Hahahaa... Ki ! Lu tau ga ?"


"Ya nggak lah"

__ADS_1


"Makanya sini gue kasih tau. Segel itu cuma pemilik asli saja yang bisa memakainya, kalaupun lu bisa merebut segel itu dari Zidan, tetep aja lu ga bisa nyegel Kanaya. Bahkan Kanaya aja tau siapa pemilik segel asli itu. Percuma kalau mau ngalahin Kanaya pakai segel itu. Ga ada guna. Cuma ngebuang waktu lu aja. Atau.... Lu emang sengaja pengin deket sama Mega ?"


"Hidiiih"


"Hahahaaa, ya kan siapa tau"


"Nggak lah"


"Lu kenapa ga jadian aja sama Zizi ? Gue lihat lu ada binar cinta sama dia"


"Hahh (ketawa setengah) binar cinta ?"


Tiba-tiba Doni terdiam memperhatikan sesuatu.


"Lietin apa Don ?" tanya Rifki.


"Itu Ki, ada burung cantik banget" ucap Doni sambil menunjuk ke arah depan.


Rifki mencoba menoleh dan mencari apa yang Doni ucapkan. Hari sudah menjelang maghrib, rintik hujan menambah suasana menjadi sedikit gelap berkabut. Doni berdiri dan mencoba mengejar burung itu.


"Don ! Udah mau maghrib loh ?"


"Tenang aja Ki ! Sepertinya burungnya jinak, lihat saja, akan ku dapatkan dia" ucapnya sambil melangkah perlahan mendekati burung itu.


"Gerimis Don ! Nanti lu sakit gimana ?"


Doni sudah tak menghiraukan ucapan Rifki lagi. Ia sangat terpana melihat kecantikan burung itu dan ia terus mengejarnya.


"Doon !! Lu kemana ???"


Rifki terlihat mulai mengkhawatirkan Doni. Namun, Doni ntah pergi kemana.


Di tempat lain Doni hampir berhasil menangkap burung itu. Burung itu terbang rendah ke tanah. Doni perlahan mendekatinya.


"Huufh ! Hampiiiir..." ucapnya lirih.


Tapi....


Tiba-tiba saja burung itu menghilang dan berubah menjadi sebuah kepulan asap yang makin lama makin tinggi dan besar.


Doni hanya melongo saja di sana. Menatapnya dari bawah hingga mencapai tinggi hampir 1 meter. Jiwanya entah melayang kemana. Sorot matanya terus saja memperhatikan sosok yang ada di hadapannya itu.


Bahkan kini sosok itu sudah lebih dari tinggi pohon kelapa. Kemudian asap itu mulai menunduk ke arah Doni. Mata Doni sontak saja melebar. Ia baru sadar apa yang sedang ia hadapi, tapi sayang sekali sosok itu telah melihat ke arah Doni.


Ketika hampir saja sosok itu mengenai kepala Doni tiba-tiba ada sebuah cahaya yang datang ke arahnya. Cahaya itu menuntun Doni kembali pulang ke kost.


"Huuufh !! Balik juga Lu Don !!" ucap Rifki.


Doni tak bergeming. Ia hanya diam saja. Bahkan ia tak menoleh sedikit pun ke arah Rifki.


"Kenapa nih anak ??" tanya Rifki dalam hati.


Rifki tak melihat cahaya yang sedari tadi mengantarkan Doni. Doni pun terlihat memasuki kamar dan segera menarik selimutnya lalu tidur.


"Don ? Lu baik-baik aja ??" tanya Rifki yang sedikit mengkhawatirkan Doni.


Doni masih tak menjawabnya. Bahkan ia terlihat tidur sangat pulas sekali. Padahal kaki, tangan serta bajunya basah dan kena lumpur. Bahkan sandal yang ia kenakan tadi pun tak tau kemana hilangnya. Ia pulang tanpa alas kaki.


"Kenapa nih anak ? Apa yang sudah terjadi padanya ??"


Di sisi lain khodamnya berusaha melawan sosok yang telah menggoda Doni.

__ADS_1


"Don ??? Burungnya terbang ya ? Ko lu segalau itu sih ?? Don ! Doni !!"


__ADS_2