
***
Bell ganti pelajaran pun berbunyi. Pak Wahyu menghentikan mengajarnya dan akan ia sambung di lain hari.
"Zizi, tolong kumpulkan semua buku soal tadi dan nanti bawa ke ruangan saya, saya ada rapat dadakan bersama pak kepala sekolah" ucap Pak Wahyu.
"Baik pak"
"Tolong jangan berisik ! Gunakan jam pelajaran yang kosong ini untuk kegiatan yang positif !!" kata pak Wahyu.
"Misalnya ??" salah satu anak itu bersuara.
"Makaaaaan" teman-temannya menjawab dengan kompak.
"Ha ha haa"
"Sudah sudah ! Yang penting tidak mengganggu ketertiban" kata pak Wahyu.
Setelah itu Pak Wahyu pun buru-buru keluar dari ruang kelas itu dan segera menyusul untuk rapat darurat itu.
Zizi pun mulai mengumpulkan buku-buku itu. Di bantu juga oleh Rifki dan Sofia. Kemudian ia mengantarkannya ke ruang guru sendirian.
"Ada apa ya pak ? Ko tumben di adakan rapat mendadak begini ?" tanya Pak Wahyu yang datang dengan nafas terengah-engah.
"Ini gawat" ucap pak Agung.
"Gawat kenapa ??" jawab semua guru dengan kompak.
"Dia sudah datang" ucap Pak Agung menggantung lagi.
"Siapa ?" tanya para guru itu kompak lagi.
"Dia mendatangi ruanganku tadi" jawab pak Agung.
"Bukannya yang datang ke ruangan bapak itu murid saya ?" tanya pak Wahyu.
"Dia berdiri di belakang anak itu !" jawab pak Agung.
"Siapa ??" tanya mereka lagi.
"Dia membawa pisau di tangan kanannya dengan berlumuran darah" ucap pak Agung lirih bahkan sampai guru-guru pun bingung ia ngomong apa.
Pak Agung menghela nafas dan bersender di kursi itu dengan wajah yang begitu kusut.
"Bapak kenapa ??" tanya bu Dessy.
"Ada yang membuka segel ruang kelas 12 IPA 1" ucap pak Agung sambil menaruh tangannya di dagu dan pandangannya entah kemana.
"Apa ???" ucap guru-guru itu kaget secara kompak.
Pak Agung hanya melirikan matanya saja saat mendengar jawaban kompak dari mereka. Dengan begitu Zizi pun mendengarnya. Ia tak jadi memasuki ruangan itu. Ia hanya berdiri di depan pintu sembari mendengarkan percakapan mereka.
"Siapa yang membuka segel ?"
"Bukankah yang bisa hanya mbah Muryat ?"
"Dia kan sudah meninggal ?"
"Apa siswa di sini ada yang punya ilmu seperti itu ?"
"Menurut saya kalau anak indigo kayaknya bisa deh"
"Apa sebaiknya kita tanyakan saja ke anak-anak ??"
"Jangan !!"
__ADS_1
"Kalau segel itu sudah terbuka, otomatis kita semua dalam bahaya"
"Aku sudah bilang tadi, Dia mendatangiku, mengancamku, oh. Padahal anak-anakku masih kecil, istriku juga masih cantik" gerutu pak Agung.
"Apa kita kabarkan berita ini ke anak-anak ? Supaya mereka waspada ?"
"Nanti yang ada mereka ketakutan !"
"Nah, betul"
"Ujung-ujungnya nanti malah pada pindah sekolah"
"Bener banget, kita saja sangat kekurangan siswa di IPA, alasannya karena pada takut dengan ruang kelas 12 IPA 1 itu"
"Lalu bagaimana ??"
Yang lain ribut ngomongin hal ini itu, tapi pak Agung masih bengong dengan kacamata melorot ke hidung dan tangan di letakkan di dagu.
Zizi segera pergi dari tempat itu dan langsung mencari Doni. Setelah menaruh buku tugas tadi di kelasnya ia langsung berlari ke kantin.
"Rifki mana ?" tanya Zizi kepada Doni.
"Lagi pesen baso, kenapa ? Kangen ?" tanya Doni.
Zizi pun duduk dan mengambil minuman Doni dan meminumnya.
"Nah tuh datang Rifkinya" kata Doni.
"Ada apa Zi ? Kamu mau baso juga ?" tanya Rifki.
"nggak !"
"Terus ??"
Zizi tengak tengok ke kanan dan ke kiri. Ia memajukan badan dan kepalanya agar suaranya yang pelan bisa di dengar oleh Doni dan Rifki.
Mereka berdua kaget. Doni langsung memandang ke arah Rifki.
"Kenapa ??" tanya Rifki.
"Lu ngaku aja ! Kalau lu yang membuka segel itu kan ??" tanya Doni.
"Woy ! Lu lihat sendiri, gua lagi makan baso" jawab Rifki.
"semalam lu kemana ? Lu ga usah banyak alesan deh ! Apa maksud lu ngebuka segel itu ?" tanya Doni ngotot.
"Gua berani sumpah !! Bukan gua !" jawab Rifki.
"Sumpah lu palsu !! Sumpah sampah !!" kata Doni.
"Lu ga percaya sama gua ??" tanya Rifki mulai agak sewot.
"Gua nanya kemana lu semalem ? Lu pergi buat membuka segel kan ??" tanya Doni.
"Semalam gua ngerjain tugas di kamarnya Saipul ! Kalau lu ga percaya tanya sama dia ! Gua ke ganggu sama suara mobil legends dari hp lu ! Makanya gua pergi !" jawab Rifki.
"Alesan aja lu"
"Sudah !! Cukup cukup ! Ngapain sih malah bertengkar ?? Ini bukan masalah soal siapa yang ngebuka segel itu, tapi bagaimana cara melindungi semua anak dari kebangkitan arwah anak kelas 12 IPA 1 itu !!" ucap Zizi.
"Melindungi ??" tanya Doni.
"Iya, kata Pak Agung kalau segel itu di buka kita semua dalam bahaya" ucap Zizi.
"Setahuku kalau cuma membuka segel ia tidak akan membahayakan manusia, kecuali ada yang memancing emosinya" jawab Doni.
__ADS_1
"Lu lebih paham ketimbang gua, kenapa lu nuduh gua yang ngebuka segel itu ?" ucap Rifki.
Doni hanya melirik ke arah Rifki.
"Memancing emosinya ??" tanya Zizi
***
Di ruang komputer.
"Iya juga ya ? Apa aku terima saja tawaran dari Zidan ? Aku juga penasaran soalnya tentang asal usul Zizi. Darimana dia berasal sebenarnya ? Dari keluarga seperti apa ? Atauuuuuu.... Aku cari saja datanya di komputer ?? Coba deh" ucap Mega sambil mengutak atik komputer yang ada di depannya.
Ia segera mengetik nama ZILVANA ZIYA di kolom pencarian.
"Ahh, ketemu juga" ucap Mega sambil mencoba membacanya.
Mega pun sangat serius membaca biodata Zizi.
"Desa bongas sriyem ? Di mana itu ya ? Caba cari ahh" ucap sambil mencari alamat di website tertentu.
KLIKK
"Waah masih asri sekali desanya, masih hijau" ucapnya sambil mengamati pemandangan di sana.
Ia pun terus menggeser-geser untuk melihat lebih jauh lagi tentang Bongas Sriyem.
"Ternyata lumayan jauh ya dari Pemalang ? Dan dari tempat SMA yang dulu kurang lebih 2 jam jarak tempuh, waaah ini sih gila, cape di jalan kalau pulang pergi sekolahnya" ucap Mega sambil terus menatap layar komputer.
Ia mencari lagi biodatanya Zizi dan menemukan nama ayahnya di sana.
"Slamet subur ? Keren sekali namanya ?" ucapnya sambil senyum-senyum sendiri.
"Udah ketemu alamat lengkapnya ??" ucap Zidan yang tiba-tiba ada di sampingnya.
Mega pun kaget.
"Sejak kapan lu di sini ?" tanya Mega.
"Aku udah di sini sebelum kamu masuk ke sini, pas kamu masuk pun aku tau ko" jawab Zidan.
"Ini ruang komputer IPA" tegas Mega.
Zidan hanya mencibirkan bibirnya saja ke arah Mega.
Mega tengak tengok, ia takut ketahuan Rita dan Nia.
"Kalau udah ketemu ayo kita ke sana dan cari tau tentang Zilvana Ziya" ucap Zidan.
"Kita berdua ??" tanya Mega.
"Iya lah" jawab singkat.
"Aku catat dulu alamatnya" ucap Mega sambil mencatat alamat itu.
"Itu tandanya kamu setuju dengan tawaranku" kata Zidan.
"Aku cuma penasaran aja ko" jawab Mega.
"Udah kan ?? Ayo keluar" ajak Zidan.
"Oke"
Mereka pun keluar dan pas lagi jalan berduaan mereka ketemu Rita dan Nia.
"OMG ! Jadi ini alasannya lu nghindarin kita, Rit, teman kita udah punya pacar" ucap Nia sambil mencolek tangan Mega.
__ADS_1
"Pacar ???" ucap Mega dan Zidan kompak.