
"Hahahaaaa"
Doni tertawa dengan begitu keras. Sementara Rifki masih menggantung disana sambil memperhatikan Doni.
"Pancasona dan rawarontek itu hampir sama Ki !! Jadi... Ga usah sok menantang, dari tadi gue sengaja diam, dan sebenarnya sedang mempersiapkan tenaga saja, tapi... Mulutmu sangat berisik" ucap Doni.
Rifki tersenyum.
"Lu masih ingat ? Lu belajar rawarontek buat apa ?? Buat ngalahin gue ? Heheh..." ledek Rifki.
Doni membuang mukanya.
"Lu masih ingat ga ? Ketika lu bilang kenapa tukang sate keliling ga dagang siang hari ? Hehe" ledek Rifki lagi.
Doni masih tak mau menoleh ke Rifki.
"Humor lu ga ada kaitannya di sini" ucap Doni.
"Ya, gue tau ko, setidaknya kalau gue ntar meninggoy lu ga lupa sama jokes-jokes kita" jawab Rifki.
Doni sedikit melirik ke arah Rifki.
"Au, Don. Hidung gue gatel, tolong garukin dong..." pinta Rifki.
Doni menatap ke Rifki.
"Kan tangan gue di ikat, ga bisa sumpah deh Don, beneran gatel banget ini Don" kata Rifki.
SRUUUUUTTTT
"Berisik b*go !!" ucap Doni sambil melempar beberapa pisau ke arah Rifki.
Melihat pisau-pisau itu melayang ke arahnya Rifki pun memejamkan matanya.
CRUUKKKKK
"Aaagggghhhhh"
Satu pisau berhasil tembus ke Rifki hingga membelah perutnya. Darah mulai menetes. Rifki tak bisa apa-apa karena ia tak menyentuh tanah. Pancasonanya tak berfungsi. Ia berasa loading sesaat.
"Agghhhhh.... Huuufh !! Huuufh !! Huuufh !!"
"Mau mati sekarang ??" tanya Doni.
Rifki masih terdiam dan mencoba menenangkan diri dengan terus berusaha mengambil nafas.
"Ternyata gini rasanya terluka ?? Sakit juga ya Don ? Hehe"
"Masih ngebac*t aja lu ya !! Mau lagi !!!"
Doni pun menyiapkan pisau kembali dan bersiap melayangkannya ke arah Rifki.
"Rifkiiiiiii....."
Dari kejauhan Zizi berlari menuju Rifki, namun ia di hentikan oleh Doni.
"Don ! Lu apa-apaan ? Lepasin Rifki !"
"Dia yang nantangin gue ko"
"Lu teman macam apa sih ?? Hah !! Rifki teman lu Don !!"
"Bukan !!"
"Apa maksud lu bukan ? Lu ga ingat perjuangan kalian berdua selama ini ? Hah ??"
"Diam lu ! Lu ga tau apa-apa !!"
__ADS_1
"Kalau gue tau kenapa ?? Lu bisa minta baik-baik ke gue, kalau lu mau Mayang balik lagi tapi dengan syarat gue sebagai tumbalnya. Lu bisa ngomong gitu kan ??"
"Ga segampang itu !!"
" Kenapa ?? Ga berani ?? pengecut !"
PLAAKKKK
Doni sepontan menampar pipinya Zizi.
"Sekali lagi lu bilang gue pengecut ! Awas aja lu !"
"Woy !!! Laki ga kasar sama cewek !!" teriak Rifki di sela-sela perjuangannya menahan rasa sakit.
Zizi menundukkan kepalanya. Rifki kaget saat melihat banyak rombongan yang ada di belakang Doni.
"Apa ini ?? Berat sekali" keluh Doni dalam hati.
Rifki masih melongo memperhatikan para rombongan-rombongan itu. Seperti sosok yang tak mempunyai rambut dan tak berpakaian. Dari mulut mereka mengeluarkan seperti nanah kental, urat nadi mereka terlihat jelas, aliran darah yang membeku berwarna merah terang itu terlihat seperti lapisan kain yang membalut tubuh mereka.
"Hah"
Doni masih memegangi pundaknya yang terasa sangat berat. Bahkan untuk mengangkat pisau kecil itu pun rasanya sudah terlalu lemas.
"Hufh !! Siapa yang ingin main-main denganku ?" tanya Doni.
Ia belum melihat ke belakang, namun ia hanya menatap mata Rifki yang masih terbelalak ke arah rombongan itu.
DEGG !!
Doni segera berbalik arah. Alangkah kagetnya ia ketika melihat rombongan itu menatap sinis ke arahnya.
"Si... Siapa kalian..."
Mereka tak menjawab, namun mereka segera menyerbu Doni. Zizi segera berlari ke arah Rifki dan mencoba melepaskan tali-tali itu. Darahnya terus mengalir, bibirnya mulai terlihat pucat.
"Aaarrrrghhh !! Ayooo laaaahhhh" ucap Zizi sedikit kesal karena melihat Rifki makin melemah.
Tiba-tiba Kanaya datang dan menyeret Zizi pergi. Zizi yang kaget segera melempar pisau itu. Lemparan itu ternyata tepat mengenai tali yang mengikat tangan kanan Rifki.
"Rif..... Ki"
SRUUUTTTT
Zizi di bawa pergi tanpa sepatah katapun. Sementara Rifki berusaha menggapai ikatan itu dengan satu tangannya.
"Hufh !!"
Sesekali ia ingin sekali menyerah, karena talinya begitu keras sementara sisa tenaganya tinggal sedikit.
"Don......"
Ia memanggil Doni perlahan, bahkan nyaris tak bersuara. Tapi Doni sama sekali tidak mendengarkan karena sedang melawan para rombongan makhluk itu.
Cairan yang keluar dari mulut makhluk itu sangat licin dan membuat Doni terpeleset berulang kali.
"Aaarrrrghhh !! sial !!"
Rombongan itu ternyata cukup kuat, ketika melihat satu temannya terluka, mereka justru semakin galak.
DUUUAKKKK
Doni di kepung dan di hajar masal di sana. Mulutnya sudah mengeluarkan darah akibat pukulan benda keras yang mereka bawa.
"Kaa... Kana... Ya....." ucap Doni di tengah pergulatan itu.
Ia berharap Kanaya akan membantunya. Tapi, beberapa menit berlalu masih sepi-sepi saja. Bahkan penglihatan Doni mulai kabur.
__ADS_1
"Kami memang tidak sempurna seperti manusia, tapi kami tidak bisa terima apabila seorang lelaki menyakiti seorang perempuan"
Kalimat itu terngiang-ngiang di kepala Doni yang kini makin pusing saja. Ia pun terjatuh ke tanah.
BRUUUUGGGGGGG
"Dimana kau Kanaya ! Kenapa tak membantuku !! Kurang ajar kau ! Apa kau sengaja membiarkanku mati di tangan makhluk-makhluk pengikutnya Zizi ? Kurang ajar !! Aaarrrrghhh !!"
Matanya mulai berat, ia hanya dapat melihat para rombongan itu mulai meninggalkannya di sana.
"Kau salah jalan !!"
"Buta mata atau buta hati ??"
"Tak mengenal mana yang baik dan mana yang buruk"
"Di buatkan oleh cinta"
Suara-suara itu terdengar sayup-sayup di telinga Doni.
"Gue salah jalan ??" tanya Doni pada dirinya sendiri.
Sementara Zizi memberanikan diri melawan Kanaya. Ia menarik tangan Kanaya dan membanting Kanaya.
BRAAKKKKK
Kanaya yang tak siap apapun harus menerima kekalahan saat itu.
"Hahahaaaa"
Kanaya berputar-putar mengelilingi Zizi. Awalnya temponya pelan, kemudian makin cepat dan membuat Zizi pusing.
"Aaarrrrghhh !! Hentikan Kanayaaaaaa !!!"
Kanaya tak mendengarkan itu, ia terus berputar mengelilingi Zizi. Zizi terduduk dan menutup telinganya.
Ia dengan keras membacakan sebuah kalimat yang pernah Kanaya dengar. Dan itu berhasil membuat Kanaya terdiam.
"Jangan lanjutkan !!!"
Zizi terus melanjutkan bacaannya.
Kanaya makin keras berteriak ke Zizi.
"Jangan lanjutkaaaaaaaaaan !!!!!"
Tiba-tiba datanglah pak Slamet.
"Zi..."
Zizi menghentikan bacaan kalimat itu dan menoleh ke arah pak Slamet.
"Pa pa..."
"Kemari nak, peluk papa..."
Zizi mulai berjalan ke arahnya.
"Ziiii.... Jangan ! Aku papa yang asli, dia palsu !" teriak seseorang yang sangat mirip dengan pak Slamet.
Zizi pun di buat bingung.
"Kalau kau anakku, pasti tak akan melupakan aku, sini nak, aku papamu yang asli"
Tiba-tiba muncul 1 lagi yang menyerupai pak Slamet di sana.
"Hah... Papa ??"
__ADS_1