
***
"Gue kira, orang tuanya bu Lulu sudah meninggal, soalnya kamarnya selalu kosong" ucap Tasya pada Zizi di tengah sunyinya malam.
Zizi hanya tersenyum.
"Huuufh ! Gue rasa bakalan ada kejadian yang makin parah di sini Zi"
Zizi menoleh ke arah Tasya.
"Kak Tasya ini ngomong apa sih ?"
"Waktu bu Lulu belum meninggal aja, kost ini udah serem, apa lagi udah meninggal"
"Serem gimana maksud kak Tasya ?"
"Serem, apa lagi di kamar bapak ibu"
"Ada kejadian apa di sana ?"
"Ya, banyak hal"
"Misal ??"
"Ga mungkin Keisya nangis selama itu kalau ga di ganggu sama makhluk halus, tiap ke sini, masuk kamar itu, pasti nangis"
Zizi tersenyum.
"Mungkin dek Keisya kecapean aja kali kak"
"Ga mungkin ! kalau kecapean harusnya ga ngulang kejadian yang sama. Bisa aja kan dia nangis di ruang tamu atau di ruangan lain. Ga harus di kamar itu."
"Mungkin hanya kebetulan saja"
"(Menarik nafas) sebenarnya lu tau sesuatu tentang ini kan ? Jawab Zi ? Ada apa di kamar bapak sama ibu ??"
Zizi terdiam memandangi Tasya.
"Udah malam kak, ayok tidur"
Zizi pun bangkit dan beranjak masuk ke kamarnya. Tasya masih duduk di sana seorang diri.
***
Di sekolahan.
Zizi melihat Rifki berjalan sendiri dengan lesu. Ia pun berlari kecil sambil memanggil Rifki.
"Ki !! Rifki tunggu"
Rifki pun menoleh dengan lesu.
"Lu kenapa pagi-pagi lesu gitu ?"
"Ga apa-apa"
"Ga apa-apa tapi muka lu kayak baju belum di setrika gitu ! Kusut"
Rifki menghentikkan langkah kakinya. Zizi pun ikut berhenti.
"Kenapa Ki ? Ada masalah ?"
Rifki masih terdiam.
"Doni mana ? Biasanya kalian selalu bareng ?"
Rifki melirik ke arah Zizi lalu tersenyum, kemudian merangkulnya menuju kelas. Zizi sedikit heran dengan sikap Rifki, ia tau pasti ada yang di sembunyikannya.
"Pagi Don" sapa Rifki kepada Doni.
Doni bangkit dari tempat duduknya dan menenteng tas menuju meja paling pojok. Zizi pun heran.
"Ada apa Ki ?" tanya Zizi.
"Ya udah ! Jauh-jauh deh lu dari gue !!" ucap Rifki dengan lantangnya.
Doni hanya diam saja. Ia melanjutkan membaca buku.
"Makin lama makin ngeselin lu ya !" teriak Rifki lagi.
__ADS_1
"Ki !!" bekis Zizi.
Rifki terlihat menahan amarah yang besar pada Doni. Tapi Doni terlihat sangat santai.
"Lu kira cuma lu yang merasa kehilangan !! Lu pikir gua nggak ??!!"
"Ki ! Sabar. Ada apa ??" tanya Zizi kembali.
"Aarrghh !! Tanya aja sama Doni !! Kesel gua ama dia !"
KRIIIIIIIIIIINGGGGG
Suara bell masuk sekolah berbunyi nyaring dan membuat semuanya panik dan segera duduk di meja masing-masing. Menyambut kedatangan guru dan bersiap belajar.
Di tengah jam pelajaran Zizi benar-benar ga bisa berkonsentrasi. Hatinya sangat cemas. Entah karena apa.
Sayup-sayup ia melihat ada langkah kaki mendekat ke arahnya. Tapi...
"Manusia atau bukan ya ??" tanya Zizi dalam hati.
Karena ia berjalan membungkuk, tangan dan kakinya sejajar, kepalanya menunduk dan rambutnya menyapu lantai. Ia berjalan sempoyongan seolah-olah malas untuk berjalan tapi ia harus berjalan.
Zizi mencoba mengamatinya sekali lagi. Ia berjalan dari arah depan hendak menuju belakang atau....
"Menuju ke arah gue ?? Oh tidak !! Tenang tenang tenang... (menarik nafas) tenang ! tenang !"
Langkah itu makin dekat. Zizi memejamkan mata. Matanya berkedut.
"(Menarik nafas) syukurlah, khodam gue keluar, tolong bantu singkirkan dia terlebih dahulu, agar gue bisa fokus belajar" ucap Zizi dalam hati.
Terdengar langkah kaki itu terseret mundur. Mungkin juga ada sedikit kekacauan di sana karena ada perkalahian khodam.
"Siapa yang mengirim makhluk itu kesini ?" tanya Zizi dalam hati.
SREEEEKKKKKK
Lagi-lagi ia malah tak bisa berkonsentrasi karena suara gaduh itu.
TAK TOK TAK TOK TAK TOK TAK TOK
Jam dinding pun seolah-olah ikut mengganggu konsentrasinya Zizi. Tiba-tiba ada yang menarik kakinya, dan...
Zizi terbangun dari tidurnya. Guru yang sedang mengajarnya pun menoleh ke arah Zizi.
"Ada apa Zi ?"
"(Terengah-engah) izin ke toilet pak"
"Silakan"
Zizi pun mulai melangkahkan kaki keluar dan segera berlari menuju toilet. Ia membasuh wajahnya dan bercermin.
"Huufh !! Kenapa bisa gue ketiduran di kelas ? Bukankah tadi semuanya nyata ??"
***
Di kantin.
"Semalam begadang ?" tanya Sofia.
"Nggak ko"
"Kenapa ketiduran di kelas ? Untuk pak Gerry ga tau"
"Gue juga tau, malah mimpi buruk"
"Hahaha, mimpi siang-siang ga ada artinya"
Zizi terdiam.
"Bukan ada artinya atau tidak, tapi lebih ke... siapa yang mengirim makhluk itu ?" ucap Zizi dalam hati.
"Tinggal berapa anak yang masih bertahan di kost itu ?" tanya Sofia membuyarkan pikiran Zizi.
"Delapan"
"Berarti tiap lantai 2 anak ?"
"Nggak, lantai 1 masih ada Dewi, lantai 2 Diana sama Ratih, lantai 3 Intan, Tania dan Wulan dan lantai 4 gue sama Tasya."
__ADS_1
"Wow, seru ya ? Kayaknya tempatnya jadi lebih menantang ?"
"Apaan sih ?"
"Iya kan ?"
"Sama aja"
"Pasti auranya beda"
Zizi menoleh ke arah Sofia.
"Mau nyoba ?"
Sofia mengangkat alisnya.
"Hahahaaa"
"Sejauh ini sudah di temui belum sama bu Lulu ?"
DEGG !!
Seketika Zizi terdiam. Harusnya memang arwah bu Lulu bisa ia lihat di sana. Tapi sampai detik ini, kenapa Zizi merasa tak pernah melihatnya.
"Ko diam Zi ?"
"Ehh ! Maaf"
"Kenapa ??"
"Kayaknya ada yang aneh"
"Apanya yang aneh ?"
"Gini ya Sof, walaupun mode mata batin gue kadang on kadang off setidaknya kan dia terlihat di halaman rumah atau di kamarnya kan ? Tapi ini beneran ga ada ? Gue sama sekali ga lihat arwahnya bu Lulu"
"Lu serius ??"
"Wajah gue wajah serius gini Sof !"
"Lu coba tanya Rifki, siapa tau dia bisa lihat arwahnya bu Lulu ?"
Zizi terdiam dan berfikir sejenak.
"Apa yang sebenarnya terjadi ? Bahkan saat menyentuh tubuhnya pun gue ga bisa merasakan de javu pada bu Lulu"
"Maksudnya lu ga bisa flash back-in gimana kejadian yang sebenarnya terjadi gitu ?"
"Iya, ga bisa di flash back"
"Ayo cari Rifki"
***
Di kost putri pukul 4 sore.
Suasanya sudah sangat sepi. Semua pintu tertutup rapat. Tasya agak ragu-ragu dalam melangkahkan kakinya.
"Makin horor aja nih kost-an. Ya Tuhaaaan tolong lindungi gue dari setan yang suka mengagetkan"
Ia pun mulai melangkah ke anak tangga. Satu satu anak tangga ia lewati. Dan sampailah ia di lantai 3. Di sana ia agak lega karena pintu kamar bapak ibu terbuka. Ada juga suara siaran tv.
Terlihat ayahnya Aludra sedang duduk di atas kasur sambil menscrolling hp-nya. Tv di biarkan menyala dan tak ia pedulikan. Sedangkan ibunya tak tau dimana.
"Huufh ! Setidaknya masih ada kehidupan di sini" ucap Tasya sambil tersenyum tipis.
Tiba-tiba matanya tertuju pada bagian atas lemari. Ada sosok hitam besar di sana sedang menatap ke arah lelaki paruh baya itu.
Jantung Tasya terpacu. Nafasnya sedikit sesak menahan rasa takut. Ia segera berlari ke lantai 4 dan...
BRUUUKKK !!
"Aduuuh kak Tasya !"
"(Terengah-engah) sorry"
"Kak Tasya kenapa ??"
Tasya diam saja. Ia bingung apakah ia harus bercerita pada Zizi atau tidak. Kalau pun cerita, apakah Zizi bakalan percaya ?
__ADS_1