
***
TOK TOK TOK !!
"Zi ! Zi !! buka pintunya Zi !!"
Suara teriakan itu membuat Zizi sedikit kaget. Pasalnya ia baru saja memejamkan mata beberapa menit yang lalu, tapi sudah di ganggu.
"Huuffh ! Astaghfirullah... siapa sih ? apa sudah siang ???" tanya Zizi sambil mengucek matanya dan mencoba bangun.
"Zi ! buka pintunya Zi ! cepetan Zi"
"Iya iyaa !" jawab Zizi agak sedikit kesal.
KLEEKK
"Kak Tania ? ada apa kak ??"
"Itu, anu... emmm... Dewi"
"Kenapa kak Dewi ??"
"Tadi kepleset di kamar mandi, dan....."
Belum selesai Tania bicara Zizi segera lari ke lantai bawah. Di sana sudah ada banyak orang, termasuk Bu Kiandra dan mba Mala. Mereka segera membawa Dewi ke Rumah Sakit.
Dengan mata yang masih mengantuk, badan yang masih sangat lemas Zizi memperhatikan keadaan di sana. Rasanya sungguh tidak adil.
"Mereka bilang Dewi baik-baik saja, tapi.... (menghela nafas)"
Zizi masih diam mematung di tempat. Kemudian datanglah Tania mengagetkannya.
"Jangan melamun"
Zizi menoleh ke arah Tania.
"Apa yang terjadi ??"
"Tadi kita kumpul di sini, makan-makan, ga pake sendok kan ? tangan kita kotor nih, terus HP-nya Dewi bunyi tuh, Dewi larilah ke kamar mandi buat cuci tangan, ehh baru masuk dia teriak, sontak saja kita langsung nyusulin dong, ternyata dia udah ada di bawah dengan darah yang sangat banyak, mungkin saja terpeleset"
"Dimana HP-nya kak Dewi sekarang ?" tanya Zizi.
"(Menoleh ke meja makan) tadi di sana"
Zizi pun mencoba mencarinya. Tak lama hp itu ketemu juga. Sayangnya hpnya terkunci dengan sandi, jadi Zizi ga bisa menggali lebih dalam persoalan ini.
"Zi, gue di suruh nyusul ke Rumah Sakit sama Bu Kia" ucap Diana.
"Iya kak, hati-hati di jalan"
"Gue ikut ya ?" kata Intan.
"Ya udah Ayuk buruan"
Mereka berdua pun pergi meninggalkan Zizi dan Tania di sana. Sedangkan Zizi masih mencoba mengutak-atik hp itu.
"Semalam tuh, gue kayak mimpiin Dewi gitu deh Zi"
"Mimpi apa kak ?"
"Semalam dia itu kayak ketakutan gitu, terus ngetok-ngetok pintu kamar gue, udah gue bukain kan, dia masuk, tak lama katanya dia mendengar ada suara orang berbicara di mesin cuci, gue sih ga denger, terus kita cek, ga ada apa-apa, tapi tiba-tiba Dewi pingsan saat ia melihat ke arah mesin cuci itu menggunakan kamera hpnya."
Zizi menghentikan scroll hp, ia tertegun dengan ucapan Tania.
"Masih ada lanjutannya Zi, setelah Dewi pingsan kita semua angkat dia ke sofa, lalu Bu Kiandra pulang dan menanyakan tentang keadaan di sana, kita cerita tuh di situ, kalau Dewi itu pingsan setelah melihat sesuatu di mesin cuci"
"Apa jawaban Bu Kia ?"
"Katanya mungkin kecapean atau kurang tidur saja, lalu nih ya, abis itu Dewi sadar nih, tapi sambil berteriak manggil nama Bu Lulu, nangis pula tuh anak"
__ADS_1
"Nangis sambil manggil Bu Lulu ??"
"Iya, terus pas lihat Bu Kia, Dewi tuh ketakutan gitu, abis itu......"
"Abis itu ?? apa kak ??"
"Abis itu..... (berfikir) hehe, lupa Zi"
Zizi mengangkat alisnya, ia bisa menyimpulkan bahwa itu bukan mimpi. Karena Tania mampu menceritakan semua alurnya dengan baik.
"Ada apa sebenarnya ? kenapa Dewi mampu melihat Bu Lulu walau lewat mimpi ?? apa karena Bu Lulu udah bebas dari belenggu Darmaji ??" tanya Zizi dalam hati.
KRIIINGGG KRIIINGGG
Tiba-tiba terdengar suara hp berdering.
"Diana ??"
"Angkat Zi"
"Haloo, iya kak, ada apa ??"
"Hiks.. hikss...."
Terdengar suara isak tangis di ponsel itu. Tubuh Zizi langsung terasa sangat lemas tak bertenaga, ia jatuh terduduk di kursi. Tak perlu di jelaskan Zizi sudah mampu menebaknya. Tania merebut hp itu dari tangan Zizi.
"Halo, Diana. Ada apa ?? Dewi baik-baik saja kan ?"
"Hiks., hiks.. Dewi Tan, Dewi..."
"Dewi kenapa ???"
"Dewi meninggal., hiks hiksss"
DEGG !!
Entah kemana pikiran Tania saat itu, ia pun merasakan apa yang di rasa oleh Zizi. Mereka tak menyangka kalau harus kehilangan Dewi secepat itu.
***
Walau masih banyak pertanyaan yang mengganjal Zizi tetap menampakkan raut wajah yang biasa saja, tapi sebenarnya matanya selalu tertuju pada Kiandra.
"Zi, nanti bantuin beresin bajunya Dewi ya kost" ucap Intan mengagetkan lamunan Zizi.
"Oh, iya kak"
"Lu ngelamun ?"
"Nggak ko kak"
"Hufh ! ga cuma lu yang kehilangan dia ko, semuanya"
"Iya kak, masih syok aja, secepat itu dia pergi dan meninggalkan banyak pertanyaan"
"Maksudmu ??"
"(Tersenyum) Ga apa-apa ko kak"
"Dia kehabisan darah pas di tengah perjalanan, darahnya benar-benar keluar sangat banyak Zi, ga bisa di hentikan sementara"
Zizi terdiam mendengarnya.
"Kenapa yang gue jaga hanya Tasya, sedangkan Dewi yang pernah bercerita ketakutan malah gue abaikan" ucap Zizi dalam hati.
***
"Aku rasa perjuanganmu akan sia-sia dalam menjaganya"
"Selama saya masih mampu, tidak ada kata sia-sia"
__ADS_1
"Kau hanya suruhan saja, bukan pemilik aslinya"
"Saya tau itu"
"Bagaimana kalau kita mengadakan perjanjian"
"Perjanjian apa ??"
"Dalam perkelahian kali ini, jika kau kalah, pulang lah, dan tak usah menjaganya lagi"
"(Terdiam sejenak) jika saya yang menang ?"
"Itu mustahil"
"Tidak ada yang mustahil bagi Allah"
"Ok ! kalau kau menang aku janji tidak akan mengusiknya kembali, dan akan patuh serta tunduk terhadapnya"
"Apa kau yakin dengan apa yang kau ucapkan ??"
"100% yakin"
DEGG !
"Bagaimana ?? apa kau setuju ??"
"(Sedikit ragu) saya setuju"
"Hahahaha, akhirnya akan ku kuasai dirinya, hahahaha"
"Jangan berbahagia dulu, pertarungan kita saja belum di mulai"
Ia menoleh dan mulai menatap dengan tatapan yang tajam.
"Akan ku kalahkan dirimu !! dengar itu !! akan ku kalahkan dirimu !!!"
***
Malam ini cuaca sedang gerimis. Zizi dan yang lainnya sedang berada di kamar Dewi mengemas semua barang-barang miliknya.
"Padahal sebentar lagi kita lulus, dan pernah berencana mau lanjut di universitas yang sama nantinya" ucap Intan membuka obrolan di sana.
Zizi menoleh ke arah pojok kamar itu dan kaget saat melihat Dewi di sana dengan raut wajah begitu pucat tanpa aliran darah sedikitpun.
"Astaghfirullah hal adziiim !!"
Semua anak di sana pun langsung menoleh ke arah Zizi.
"Ada apa Zi ??"
"Emm... itu, lupa belum ngerjain PR"
"Oalaaah, kirain ada apa"
"Ini bentar lagi selesai ko"
"Ehh, kalian sadar ga sih ? sebelum Dewi meninggal mimpi kita tuh sama"
"Maksudnya sama ??"
"Ya sama, mimpi Dewi yang ketakutan terus ngetok-ngetok pintu kamar, terus pingsan di dekat mesin cuci, abis itu Dewi bangun manggil nama bu Lulu, terus saat melihat Bu Kia, Dewi menjadi sangat ketakutan, sama kan ?? kalian juga mimpi gitu ??"
"Lah iya juga ya ? apa mungkin ini sebenarnya sebuah pertanda"
"Sebuah pertanda apa ?"
"Ya sebuah pertanda kalau Dewi mau meninggal"
"Bener ga sih Zi ??"
__ADS_1
Zizi hanya memandangi wajah teman-temannya itu satu persatu tanpa menjawab pertanyaannya. Sebab ia tak mau menduga-duga, ia hanya ingin kebenaran yang akan ia ungkap.