Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
Jangan halangi aku


__ADS_3

***


Setelah mengkloningkan dirinya menjadi empat, kini Kanaya masing-masing mulai mencari lawannya, diantaranya adalah Zizi, Papanya Zizi (Pak Slamet), pak Amin, dan pak Cahya.


Mereka bersiap siaga, Kanaya pun mulai beraksi, ia menghentakkan kakinya di depan pak Amin, karena kaget pak Amin langsung terbang melayang.


"OMG ! Ternyata pak Amin bisa terbang ? Kenapa dia selama ini bungkam ? Andai saja istrinya tau, pasti ia tak akan sebawel itu dan tak berani ngomel-ngomel sama pak Amin" ucap Zizi dalam hati.


"Bersiaplah kau, ayo maju, demi kebenaran aku siap menumpahkan darah" ucap pak Amin masih dalam keadaan tak menyentuh tanah.


Kemudian ia menoleh ke arah Zizi dan seketika itu ia pun terjatuh.


"Aduuuuh, itu hanya intro Zi, sssttt !! Jangan bilang siapa-siapa ya ?" ucap pak Amin.


"Awas pak !!" teriak Zizi saat melihat Kanaya menyerangnya


HIIIAAAKKKKK


Dan kanaya mulai menyerang empat orang (Zizi, pak Slamet, pak Amin dan pak Cahya) itu secara bersamaan. Ternyata pak Amin pandai dalam berkelahi, sesekali ia mengikuti Kanaya terbang.


"Kau pikir hanya kau yang mampu terbang ?"


Kanaya tak mempedulikan ucapan recehannya, ia hanya ingin menyelesaikan itu dan kembali ke urusannya sendiri agar tak ada yang menghalanginya.


"Mendingan kau diam saja !! Aku muak denganmu !! Harusnya tak perlu kau ada di sini !! Agar rencanaku berjalan dengan lancar"


"Kalau memang sudah menjadi takdir Zizi, pada akhirnya nanti ia pun akan menjadi milikmu !! Tapi... Kalau dia belum ada takdir untuk meninggal hari ini, mau kau racuni sekalipun ia akan tetap selamat"


"Aaarrrrghhh !! (marah) dia harus menjadi milikku ! Apapun yang terjadi !! Dia sudah di janjikan sebagai tumbal terakhir ! Jangan kau coba-coba menghalangiku !!"


Kanaya mengeluarkan taring dan kukunya yang panjang, serta ia berganti dengan gaun berwarna hitam. Rambutnya terurai acak-acakan, matanya merah menyala dan wajahnya di penuhi dengan darah.


"Astaghfirullah hal adziiim"


Pak Amin mengusap dadanya saat melihat Kanaya yang begitu menyeramkan. Kabut berwarna hitam pun turut mengiringinya.


"Astaghfirullah hal adziiim, kemana hilangnya dia ??"


SHIITTTTT


"Aughhhhhhh !"


Pisau itu menggores perut bagian kiri pak Amin. Ia mencoba terus menahan rasa sakitnya, namun Kanaya yang tak punya hati malah memanfaatkan hal itu, ia pun mencabik-cabik tubuh pak Amin dengan emosi yang begitu tinggi.


"Mati kau ! Mati kauuu !! Ma tiii kauuuuuuuu !!!"


Tapi Kanaya tiba-tiba tersadar bahwa pak Amin tidak ada lagi di tempatnya, ia mencabik-cabik apa ?? Kanaya pun bingung, tengok kanan kiri dan tetap waspada.


"Sudah banyak ku hadapi makhluk-makhluk sepertimu, tapi baru kali ini aku menemukan yang begitu ambisius dalam membunuh. Di sini artinya kau memang tak suka berurusan dengan seseorang terlalu lama. Namun cara yang kau tempuh itu salah"


"Diam kau !"


HIIIAAAKKKKK


"Bismillahirrahmanirrahim......"

__ADS_1


AAAAAAAAAA


Kanaya tersungkur mundur. Sepertinya ia mengalami luka dalam, mulutnya mulai mengeluarkan darah.


"Cuih !! Rupanya kau punya ilmu yang cukup tinggi" ucap Kanaya.


Mereka pun melanjutkan perkelahiannya. Ia melempar pisau-pisaunya berulang kali ke arah pak Amin. Pak Amin selalu berusaha menghindari serangan itu.


Tiap kali ia mencoba mengakap pisau itu, yang ia tangkap hanyalah segenggam abu saja. Kanaya terus saja melawannya hingga pada saat pak Amin berada di posisi yang sudah tak bisa lagi bergerak.


Kanaya memberinya sebuah pisau untuk bunuh diri. Mengisyaratkan agar ia menusukkannya di perut bagian kiri yang tadi telah Kanaya gores.


Tubuh pak Amin sudah gemetar karena melihat sosok Kanaya makin menyeramkan saja. Hanya ada sosok tengkorak hidup yang ada di hadapannya yang mana di setiap lubang berisi belatung yang cukup banyak dan membuat merinding.


Setiap Kanaya membuka mulut belatung-belatung itu terjatuh dan bergerak-gerak.


Di saat pak Amin sedang memperhatikan para belatung itu, Kanaya langsung menancapkan pisaunya di sana.


CRAAATTTTT


AAAAAAAAAA


Pak Amin menoleh ke arah pisau itu. Ia hanya bisa memejamkan matanya sambil terus menahan sakitnya.


"Jangan halangi aku !"


Kalimat itu terngiang-ngiang selalu. Walaupun ia melihat sekeliling tak ada siapa-siapa. Namun suaranya selalu menggem di telinga.


Sementara Pak Cahya pun segera mengayunkan pedangnya dan bersiap melawan Kanaya yang lain.


"Aku bukan arwah penasaran !" jawab Kanaya.


"Hahaaa, penasaran sama mantan pacar dan mantan sahabatnya, hahaha" ledek pak Cahya.


"Kurang ajar sekali ! Hiaaakkkkk !!!!"


"Ngaku saja lah, ga usah malu-malu"


SRIIINGGGG SRIIINGGGG


Kecepatan tangan Kanaya dalam menguasai pisaunya membuat pak Cahya sedikit kewalahan menangkis serangan itu.


SREEEEEEKKKKKKKK


Kanaya mendorong pedang itu dengan pisaunya.


"Jangan harap kau bisa menghalangi jalanku !"


KLUNTINGGGGGGGG


Pedang itu terlepas dari tangan pak Cahya. Dan Kanaya langsung menodongkan pisau itu ke lehernya. Pak Cahya berusaha menjauhkan pisau itu, Kanaya pun dengan sekuat tenaga tetap menjaga agar pisau itu bisa menancap di leher pak Cahya.


"Allahu Akbar !!"


Makin marahlah Kanaya dan segera menjatuhkan tubuh pak Cahya ke tanah, mengunci tubuh itu dengan satu tangannya dan kedua kakinya.

__ADS_1


SRIIIINGGG


Pisau itu kembali ke tangan Kanaya dengan sangat cepat. Langsung saja Kanaya mencoba mengambil mata dari pak Cahya.


"Tidaaaak !! Lepaaas !!!"


Ujung pisau itu benar-benar sudah di depan mata pak Cahya. Dengan sisa tenaga yang ada pak Cahya mencoba melepaskan diri. Ia mendorong tubuh Kanaya sekuat tenaga agar bisa terlepas dari jeratnya.


DUUAAAKKK


Tatapan Kanaya makin tajam. Ia sedikit memainkan selendangnya dan memutar-mutar pisau di tangannya. Sedikit menambah gerakan tari yang cukup menyeramkan.


Pak Cahya hanya memperhatikan sambil terus membaca tasbih dalam hatinya. Tariannya sungguh aneh, badannya memutar tetapi kepalanya tetap diam di tempat.


"Astaghfirullah hal adziiim"


Kanaya tersenyum, inilah caranya memudarkan rasa iman di hati seseorang, yaitu menakut-nakuti mereka dengan hal-hal di luar nalar.


Kemudian Kanaya berubah menjadi banyak sosok di sana dan mulai mengelilingi pak Cahya.


"Kalau manusia, gampang di deteksi karena mempunyai bayangan, tapi ini kan makhluk halus, bagaimana cara mencari sosok aslinya ??"


Sosok-sosok itu mulai menyerang pak Cahya satu persatu. Kemudian ketika mereka kalah, mereka hilang menjadi abu.


"Kalau begini terus ini akan mengulur waktu yang lama, harus bisa secepatnya mencari sosok aslinya"


SRIIIINGGG


Ia memainkan pedang itu dan mencari tempat yang sedikit terang agar pedang itu memantulkan sebuah cahaya. Karena sosok-sosok makhluk halus tidak menyukai pantulan cahaya.


CRIIIIIIINGGGG


AAAAAAAAAA


Ternyata hanya ada beberapa saja yang musnah, masih banyak lagi yang masih bertahan. Mau ga mau kini pak Cahya harus menebasnya satu persatu.


BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM...... ALLAHU AKBAR !!!


SRIIINGGGG


SRIIIINGGG


SRIIINGGGG


Kemudian pak Cahya melempar pedang itu ke salah satu sosok yang mengenakan pakaian seragam sekolah.


Padang itu melilit tubuhnya hingga ia sulit bergerak. Semakin banyak gerak semakin kencang ikatan itu.


AAARRRRGHHH !!!


Teriak Kanaya sambil melempar pisaunya ke arah pak Cahya. Pak Cahya berusaha menghindar namun ia terjatuh dan pisau itu mengenai mata kanannya.


"Agghh !!"


Segera ia mencabut pisau itu. Namun matanya mengeluarkan darah, mungkin cukup dalam.

__ADS_1


Pak Cahya berusaha mengelap darah yang bercucuran itu. Sayangnya darah itu tak mau berhenti, ia pun mulai kehabisan banyak darah dan akhirnya tak sadarkan diri.


__ADS_2