Karisma Sang Pemilik Khodam

Karisma Sang Pemilik Khodam
jangan becanda lu !


__ADS_3

"Kalau lu mau pergi dari sini !! Pergi sekarang !!"


"Oh !! Bilang aja lu mau numbalin gue kan ?? Biar gue mati dan lu aman dari ancaman ini ??"


"Tania !! Intan !! Bisa diem ga !!!"


"Lu yang diem Wi !! Mulutnya Intan tuh ga bisa di jaga !!"


"Ehh Tania !! Yang salah tuh elu !! Baru masuk kamar aja udah ngoceh-ngoceh nyesel. Kalau lu nyesel ya silakan keluar !!"


"Udah deh !! Kalau gini terus kalian berdua saja yang keluar !!"


Ucapan Dewi membuat Intan dan Tania diam. Dan itu membuat semuanya jadi canggung. Intan pun memisahkan diri dari mereka. Ia lebih memilih duduk di pojokan sendirian.


***


Di rumah sakit Zizi berusaha mencari keberadaan Kiandra. Tapi ia sama sekali tak melihatnya.


"Dimana dia ?? Waah bahaya kalau gue ga bisa menemukannya. Gue harus tau apa yang akan ia lakukan selanjutnya terhadap Tasya"


Ia mencoba mencari di ruang ICU. Namun tak ada juga. Banyaknya orang di sana membuat Zizi merasa kesulitan untuk menemukan wanita itu.


"Kemana dia ??"


Zizi pun memilih duduk di kursi ruang tunggu dan mencoba menyandarkan badannya di sana.


"Kenapa di sini gue merasa sendirian ? Kemana teman-temen gue yang dulu selalu ada buat gue ? Ngebantu permasalahan gue ? Kenapa disini gue merasa gue yang lagi di permainkan. Tanpa keahlian apapun, bahkan hanya sekedar bekal keberuntungan"


Lalu ia kepikiran tentang kunci yang pernah ia simpan.


"Jangan-jangan mbak Mala di kost lagi nyariin kunci itu ??"


***


Di kost putri.


Mereka masih terjaga di kamar Dewi. Tak ada yang berani memejamkan mata, takut di tinggalkan. Mereka hanya saling peluk satu sama lain. Dewi mencoba menghubungi Zizi tapi tidak bisa.


"Nomor Zizi ga aktif"


"Mungkin ngedrop kali, kan dia pergi ga bawa charger"


"Terus gimana ini ?? Masa kita harus begadang kayak gini ? Besok hari senin. Kita harus sekolah."


"Ya abisnya mau gimana lagi"


Tiba-tiba mereka mendengar suara nyanyian lirih dari mulut Intan.


"Lingsir wengiii...."


Sontak saja semuanya menoleh ke arahnya perlahan. Memperhatikan Intan dengan seksama. Ia yang sedang menunduk sambil memainkan rambutnya.


"Tan ???"


Salah satu di antara mereka mencoba memanggilnya. Tapi Intan tak menoleh dan tak menjawab panggilan itu.


GLUTAAKKK


Bunyi sebuah benda jatuh di luar kamar itu membuat semua anak pun kaget dan sontak saja membuat mereka berdiri.


"Aaa... Gimana ini ??"


"Intan ga kesurupan kan ???"


Pernyataan itu membuat semua anak di sana melongo.


"Tan ?? Lu baik-baik aja kan ??"


Intan masih duduk di sana dengan bersandar di tembok pojok kamar itu. Lagi-lagi ia menyanyikan lagu itu.

__ADS_1


"Lingsir wengi... Sliramu tumeking sirno..."


"Tan !! Jangan becanda !!!" ucap Dewi.


"Itu larangan kost ini Tan !! Di larang nyanyi jawa !!" kata Diana.


"Ojo tangi nggonmu guling... Awas jo ngetoro..."


"Intan !! Becanda lu kelewatan tau ga !! Kalau gue tadi salah, ok gue minta maaf" ucap Tania.


"Iya Tan. Jangan gitu dong. Suasana udah mencekam gini lu malah nyanyi jawa"


Setelah itu Intan diam. Tak lagi ada suara nyanyian. Itu justru membuat semuanya panik dan makin ketakutan.


"Ya Allaaah, tolong kirim satu malaikatmu buat jagain kita di sini, takut gue..."


TOK TOOK TOOKKK


Anak-anak di sana saling pandang saat mendengar pintu itu di ketuk.


"Siapa ??" tanya Dewi.


"Ini gue Zizi kak !!"


"Alhamdulillaaah"


Mereka pun segera membuka pintu itu dengan wajah yang penuh harapan.


KLEEKK !!


"Zizi"


Semua anak-anak pun segera merapat ke pintu.


DEGGG !!


Ternyata disana sepi. Tak ada Zizi.


DEEP DEEEPP


Lampu ruangan lantai satu mulai berkedip-kedip. Mereka baru ingat pesan Zizi.


"Jangan pernah buka pintu kamar ketika ada yang mengetuk. Siapun itu jangan di percaya"


Semua anak di sana lemes karena tak mendengarkan ucapan Zizi.


"Ini gimana ???" ucap Wulan gemeteran.


Mereka menoleh ke arah Intan yang sudah berdiri di belakang mereka dengan tatapan yang aneh.


"Lingsir wengi sliramu tumeking sirno... Ojo tangi nggonmu guling... Awas jo ngetoro... Aku lagi bang wingo wingo... Jin setan kang tak utusi... Dadyo sebarang... Woyo lelayu sebet"


"Itu kidung pemanggil kuntilanak" ucap Ratih.


Semua menoleh ke arah Ratih.


"Kuntilanak ??"


"Jangan becanda lu"


Tiba-tiba mereka mencium aroma wangi dari ruangan itu.


"Melati ??"


Sontak saja itu membuat mereka mencari dari mana sumbernya.


TAP TAAP TAAAP


Suara itu ada di lantai atas. Sepertinya mau turun ke bawah.

__ADS_1


"Dimana mbak Mala ??"


"Oh iya ya, mbak Mala"


"Mbak Mala... Mbaaakk !!"


DEEPPP


Tiba-tiba lampu ruangan itu mati. Dan membuat semuanya panik berhamburan entah kemana, yang penting mencari tempat berlindung.


"Wiii... Lu dimana ??" panggil Wulan yang masih berdiri di ruangan itu sambil memperhatikan tangga lantai dua.


Sedangkan yang lain berlari bersembunyi.


"Mana Wulan ??" tanya Dewi.


Yang lain hanya saling pandang saja karena mereka juga tak melihatnya. Sementara Wulan di sana memperhatikan Intan yang sedang menaiki tangga menuju lantai atas.


Wulan pun dengan perlahan mengikutinya. Karena ia melihat di lantai atas lampunya tak padam.


Dengan perasaan was-was Wulan mulai menaiki tangga itu. Angin berhembus menerpa tubuh Wulan. Ia mulai merasa merinding.


"Ko gue jadi merinding ya ??"


Tiba-tiba ada yang menarik tangannya.


"Wulan lu apa-apaan sih ?? Ngapain ngikutin Intan ??!!" ucap Dewi sedikit berbisik tapi dengan nada tegas.


"Apaan sih lu bikin kaget aja !!"


"Ya elu ngapain di situ ??"


"Gue penasaran. Lantai atas lampunya ga ada yang mati, tapi kenapa lantai satu mati ??"


JEDEERRR


AAAAAAAA


Suara pintu kamar Dewi tertutup dengan amat keras dan membuat semua anak kaget serta berteriak. Mereka pun saling berpelukan.


"Kita kemana ini ??"


"Naik ke lantai atas !!"


Mereka pun berbondong-bondong menaiki tangga menuju lantai dua.


"Kita ke....."


Suara Ratih terpotong saat ia melihat ada yang sedang duduk di meja makan lantai dua. Anak-anak yang lain pun menoleh ke arahnya.


Dengan penuh gemetar dari ujung kaki hingga ujung rambut, mereka menyaksikan sendiri apa yang mereka lihat.


"Kkkkuunn....."


AAAAAA


Semua pun membubarkan diri, ada yang balik badan lalu kejedot pintu, ada yang turun lagi ke lantai satu. Bahkan ada yang nekad naik lantai 3. Mereka memasuki kamar masing-masing.


Dengan nafas terengah-engah mereka mencoba mengunci pintu dan segera bersembunyi dalam selimut.


TOK TOOK TOOKKK !!


Secara ga sadar suara itu ada di setiap pintu kamar anak-anak itu. Mereka mencoba tetap diam dan tak menghiraukannya.


Mereka hanya mencoba mengingat pesan Zizi, agar tak membuka pintu kamar saat ada yang mengetuk, siapapun itu jangan percaya.


"Zi... Ini gimana nasib kita yang di sini ?? Kita bahkan terpisah kayak gini ? Gue ga tau yang lain dimana. Apa cuma gue yang masuk ke kamar sendirian ??"


Pertanyaan itu ada di hampir semua anak yang ada di kost itu. Mereka mengkhawatirkan yang lain dan diri mereka sendiri.

__ADS_1


"Harus dimana gue sembunyi ?? Apa harus gue tetap berdiam diri di sini sedangkan yang lain ga tau gimana keadaannya ?? Tapi sumpah kuntilanak itu serem banget"


__ADS_2