
Sesuai janji, Reagan mengantar si kembar kembali ke rumah sakit. Memang sedari pagi Azalea sudah menelponnya, dan memintanya untuk membawa si kembar.
"Masih belum mau pulang loh." Dengus Alexix.
"Betul! El belum mau pulang." Seru Elouise menimpali perkataan sang kembaran.
Mendengar itu, Reagan pun merangkul keduanya. Dia juga senang ada si kembar di rumahnya, karena merasa ada teman. Tapi, tetap saja. Dia tidak bisa menahan keduanya lebih lama.
"Akhir pekan nanti, om jemput kalian untuk liat pertandingan hacker. Oke?"
Mendengar itu, sontak Elouise dan Alexix pun menatapnya dengan tatapan terkejut. Ketiganya bahkan menghentikan langkah sejenak.
"Beneran? Enggak tipu-tipu kan?" Tanya Elouise dengan semangat.
"Kalau tipu-tipu, awas aja. Nanti jodohnya telat." Ancam Alexix.
Mendengar ancaman Alexix, sontak Reagan melototkan matanya. Apa-apaan keponakannya itu. Dia sudah berusia matang dan belum kunjung menikah.
"Enggak bakalan. Nanti kalian bilang sama mama mau lihat pertandingan. Udah gitu aja. Palingan, mama kalian ngertinya kalau kalian mau lihat pertandingan bola." Ujar Reagan dengan santai.
Keduanya pun percaya, mereka melanjutkan langkahnya. Saat akan sampai ke depan pintu ruang rawat Alan, Reagan terkejut saat mendapati wanita yang tak asing di matanya.
"Kau?!"
Wanita itu menoleh, dia yang tak lain dan tak bukan adalah Airin. Sontak, keduanya saling tatapan dengan ekspresi terkejut. Berbeda dengan si kembar yang menatap keduanya dengan tatapan bingung.
"Ngapain kamu disini?" Tanya Reagan.
"Aku yang harusnya tanya, kamu ngikutin aku yah?" Seru Airin dengan tatapan tajam.
Mendengar itu, Reagan pun meletakkan tangannya di pinggang. Lalu, dia mengusap hidungnya dengan singkat.
"Mbak, dengar. Untungnya saya ngikutin Mbak apa yah? Emangnya mbak nya kaya? Kan enggak, bawa emas? Kan enggak juga. Kalau mbaknya bawa anak saya, baru saya kejar."
"Kamuu!!" Airin menunjuk tepat di depan wajah Reagan. Hal itu, membuat tatapan keduanya bertemu dan saling mengunci.
"Mau berantem jangan disini. Minggir-minggir, lelah kali aku berdiri " Ketus Alexix. Dia sangat tidka suka waktunya terbuang sia-sia.
berbeda dengan Elouise, dia justru berjongkok sembari menopang wajahnya dengan kedua tangannya. Senyum anak itu mereka, seakan dia sedang melihat adegan sinetron secara langsung.
"Oh ya, mana motorku?" Tagih Airin.
"Ada di rumah, kau ambil saja ke rumahku." Ujar Reagan dengan santai.
"Whattt!!!" Pekik Airin.
Mungkin kebisingan mereka terdengar hingga ke dalam. Membuat Azalea pun memutuskan untuk keluar sembari menggendong Caramel.
Cklek!
"Ada apa ini ribut-ribut yah?" Tanya Azalea menatap Reagan dan Airin secara bergantian.
__ADS_1
Tatapan Azalea beralih pada Airin, dia menatap wanita itu dengan tatapan penuh selidik. Lalu, tatapannya beralih pada Reagan.
"Apa dia kekasihmu?" Tanya Azalea.
"Nanti eh! Maksudnya, sebentar eh ... bukan!!" Seru Reagan sembari menutup mulutnya karena selaku keceplosan.
Mendengar itu, Azalea pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia kembali menatap Airin. Namun, kali ini dia menatap Airin dengan tatapan lembut.
"Mbak nya cari siapa yah?" Tanya Azalea.
"Saya cari Alan Annovra." Ujar Airin dengan sopan.
"Mencari suami saya? Ada keperluan apa yah mbak?" Jujur saja, ketika wanita mencari suaminya. Pikiran Azalea selalu saja negatif. Padahal dia percaya, suaminya tak akan mengkhianatinya.
"Iya, maaf sebelumnya. Kenalkan, saya Airin." Seru Airin sembari menyodorkan tangannya.
Dengan ragu, Azalea pun menyambut uluran tangan Airin. Kedua nya bersalaman dengan singkat.
"Saya anak mama Arumi. Bolehkah saya berbicara dengan suami mbak?" Tanya Airin.
Mengetahui hal itu, Azalea pun segera menutup pintu. Dia seakan khawatir Alan akan mendengarnya. Lalu, dia menarik tangan Airin untuk menjauh.
"Mbak, bukan saya mau melarang mbak untuk bertemu mas Alan. Tapi untuk sat ini, mas Alan tidak mau menerima masukan apapun. Dia akan mengamuk," ujar Azalea.
"Gak papa kok mbak, sebentar aja. Saya ingin menjelaskan mengapa mama Arumi meninggalkan Alan." Kekeuh Airin.
"Mbak Airin, saya mohon maaf sekali. Alan tidak seperti yang lain. Dia Tidak bisa mengontrol emosinya jika di sangkut pautkan dengan masa lalunya. Sedari kemarin, saya mencoba memberinya pengertian dengan cara yang halus. Namun, belum juga ada perkembangan. Saya harap, mbak Airin mengerti." Terang Azalea.
"Saya kasihan dengan kondisi mama mbak. Mama cuman bengong, sulit di bujuk makan. Dia cuman mau Alan, tolong mbak. Saya mohon. Mama Airin memang hanya ibu sambung saya. Tapi dia sudah sebagai ibu saya sendiri. Saya gak tega melihat dia seperti itu." Ujar Airin sembari menangkupkan tangannya.
Melihat itu, Azalea pun menurunkan tangan Airin. Dia sedikit menggelengkan kepalanya. Airin menurunkan tangannya, dan menatap Azalea dengan tatapan berkaca-kaca.
"Saya mengerti. Jika mbak Airin memaksanya, saya tidak yakin." Ujar Azalea, mencoba membujuk Airi.
"Bolehkah saya mencobanya? Saya sangat yakin, jika penjelasan saya tentang mama Arumi. Pasti akan membuat hati Alan sedikit terbuka." Bujuk Airin.
Azalea menghela nafas pelan, dia tengah memghadapi seseorang yang sulit di beri pengertian. Dia melihat, jika Airin adalah seseorang yang tak gampang menyerah dan sangat keras kepala. Wanita itu terus percaya dengan pendiriannya.
"Baiklah, silahkan. Tapi bagaimana respon suami saya nanti. Saya minta, jangan temui dia dulu sampai keadaan mentalnya kembali pulih. Apa anda paham?"
Airin mengangguk, senyumnya pun mengembang. Dia sudah yakin akan menemui Alan. Tak lupa, dia mengucapkan terima kasih. Walau Azalea hanya mengangguk pelan.
Cklek!
Tatapan Airin langsung tertuju pada Alan yang tengah menatapnya. Raut wajah pria itu terlihat cemas. Mungkin, dia pikir kapan istrinya akan kembali.
"Kamu siapa? Dimana istriku?" Tanya Alan dengan tatapan dingin.
Airin mendekat pada brankar Alan. Tangannya saling meremas untuk memberi kekuatan pada dirinya yang sedikit khawatir. Apalagi, tatapan tajam Alan yang sangat menghunus ke arahnya.
"Alan, aku Airin. Kamu pasti mengenal Mama Arumi," ujar Airin dengan gugup.
__ADS_1
Mendengar nama Arumi, seketika raut Alan bertambah datar. Suasana di kamar itu semakin dingin. Azalea dan Reagan yang berada di ambang pintu pun menyaksikannya dengan tatapan was-was.
"Airin mama sambungku. Aku akan menjelaskan tentang ...,"
"Pergi." Satu kata yang terucap dari bibir Alan.
"Alan, kau harus dengar. Mama Airin berusaha mencarimu, ibu tirimu lah yang salah. Jangan salahkan Mama Airin, selama ini dia juga menderita jauh darimu." Pekik Airin.
Tangan Alan meraih gelas, hal itu tentu membuat Azalea terkejut. Dia ingin menghampiri suaminya, tapi dirinya teringat dengan Caramel.
"Mas ja ....,"
PRANG!!!
Alan melempar gelas itu ke lantai. Raut wajahnya terlihat sangat memerah. Matanya memerah dan berkaca-kaca. menatap Airin dengan sorot mata yang tajam.
"Kau tanyakan padanya, mengapa dia lebih memilih meninggalkanku pada ayahku dan menikah dengan pria lain. Dan justru, dia membesarkan anak dari orang lain. Sementara anaknya, dia tidak tahu betapa sulitnya kehidupan anaknya yang harus tinggal di panti asuhan padahal dia memiliki seorang ibu!! KAU .... tidak akan mengerti bagaimana rasanya ada di posisiku. Airin."
Deghh!!
Airin benar-benar syok, dia tak menyangka jika respon Alan akan seperti ini. Alan, belum menerima kenyataan. Hatinya masih tertutup, rasa bencinya terus menguap. Alan masih membenci masa lalunya, pria itu belum sepenuhnya ingin berdamai dengan masa lalunya.
"Mas, tenanglah." Ujar Azalea, berniat akan menghampiri Alan. Namun sebelum itu, Alan justru membuang wajahnya.
"Reagan, bawa istri dan anakku pulang. Jangan lupa, usir wanita itu."
"Mas." Pekik Azalea tak terima.
Alan hanya diam, dadanya terasa bergemuruh. Sedari tadi, tangannya terkepal ingin meluapkan segala emosinya yang tersimpan. Alan bahkan tidak tahu, mengapa tubuhnya merespon seperti ini saat Airin kembali membela Arumi.
"REAGAN!!!" Bentak Alan.
"Ba-baik. Ayo Lea, kembar!!" Ajak Reagan dengan terburu-buru.
Tes!!
Air mata Arumi luruh, dia betul-betul tak menyangka jika Alan sebenci itu dengan ibunya.
"Dia tetap mama mu Alan, dia yang sudah melahirkanmu. Setidaknya, kau mengingat jasanya. Bukan malah menghakimi masa lalunya seperti ini. Tidak ada seorang ibu yang tega meninggalkan anaknya," ujar Airin dengan suara bergetar.
Alan tertawa sumbang, dia beralih menatap Airin. Ekspresi dingin Alan, membuat Airin memundurkan langkahnya.
"Jika seperti itu, apakah panti asuhan masih berdiri sampai saat ini? Semua teman ku di sana, tak jauh beda denganku. Di buang, dan di telantarkan oleh ibu mereka. Apapun alasannya, dia tetap meninggalkanku dan memilih melanjutkan kehidupannya. Tanpaku."
"Alan ...,"
"Pergilah, semakin kau memaksaku. Semakin pula aku membencinya."
___
Sabar ... sabar, nanti Alan luluh juga kokš¤
__ADS_1