Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Calah apa lagi aku lupana


__ADS_3

Calandra memperhatikan tuan Arley dengan mata menyipit, sama seperti Tuan Arley. Keduanya saling menatap hingga Calandra memutuskan untuk membuka suara.


"Mana ada! Kata bunda, Cala milip papanya bunda. Bukan olang ini. Ciapa lagi olang ini, mentli?" Seru Calandra tak terima.


"Papa? Mendiang suami mama? Bukankah, mendiang suami mama orang Malays1a. Kenapa jadi. ..." Alan hanya mampu berbicara dalam hatinya.


"Ih miliiiipp loohh!!" greget Caramel.


Sedangkan Arley, dia hany diam menatap Calandra. Memang dia akui, wajah Calandra seperti orang bule walau tak sebule itu. Namun, Arley yang merupakan keturunan Amer1ka asli mengakui jika ada darah bule pada anak itu.


"Cudahlah, ngomong cama Cala cepelti ngomong cama ci gemblot. Nda di dengel, ngegas telus." Kesal Caramel.


"Kau!!"


Dertt!!


Dertt!!


Ponsel Tuan Arley berbunyi, dia mengambil ponselnya yang berada di saku celananya. Lalu, dia melihat siapa yang menghubunginya.


"Tuan Alan, maaf. Habis ini saya masih ada urusan. Mungkin, kapan-kapan lagi kita berbincang. Asisten saya akan mengurus semuanya," ujar Arley dengan buru-buru.


Ketika Arley beranjak, Alan pun turut beranjak. Keduanya saling berhadapan dan berjabat tangan.


"Kita belum menentukan harga deal nya," ujar Alan.


"Tidak perlu, jadikan itu sebagai milik putrimu. Aku terhibur dengan candaan putrimu," ujar Arley dengan tersenyum tipis.


"A-apa?! Kau menyerahkan barang itu secara cuma-cuma? Ini bukan mainan, ini ...,"


Tuan Arley memotong pembicaraan Alan, dia menepuk bahu Alan. Matanya menatap Alan dengan lekat, "Itu hanya sebagian kecil dari uangku, tidak masalah. Anggaplah sebagai hadiah pertemuan kita. Kau harus bahagia, karena kau memiliki anak." Puji Arley.


"Terima kasih." Ujar ALan dengan tulus sembari tersenyum.


Arley mengangguk, "Kapan-kapan, ajak istrimu ke Amer1ka. Biar dia bertemu dengan istriku." Ajak Arley.


Tentunya, Alan menggeleng. Kali ini, kehamilan Azalea sangat membuat istrinya itu tak berdaya. Setiap pagi harus merasakan mual, selalu apa-apa mual. Bahkan menc1um aroma parfum saja mual. Alan menjadi bingung sendiri, padahal kehamilan sebelumnya tak sampai seperti ini.


"Maaf tuan Arley, seperti nya saya tidak bisa mengajak istri saya kesana dalam waktu dekat ini," ujar Alan, dia menolaknya dengan sopan.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Tuan Arley dengan kening mengerut.


"Karena, istri saya sedang hamil. Kehamilannya kali ini, sangat membuatnya lemah." Terang Alan yang mana membuat tuan Arley tersenyum.


"Ya, jaga istri anda baik-baik. Setelah lahiran, kabari saya.Saya akan datang," ujar Tuan Arley.


Alan mengangguk, dia mengantar tuan Arley keluar. Sementara Calandra dan Caramel, masih berada di sana.


"Kau lihat nda? Olangna danteng, tingginaaaa kayak menala epel. Udah gitu ...,"


"Diam lah! Mulutmu bau kencul!" Kesal Calandra. Lalu, beranjak duduk di hadapan Caramel.


Mendengar Calandra yang mengatakan mulutnya bau, seketika Caramel menc1um nafasnya sendiri. "Mana ada bau kencul," ujar Caramel dengan kesal.


.


.


.


Malam hari, Alan dan Reagan berbincang di halaman belakang rumah. Keduanya tengah meminum kopi sembari menikmati angin malam.


"Airin masih suka main ke rumah mommy?" Tanya Alan.


"Aku pun sama, mama selalu marah jika aku pulang larut. Tapi, bagaimana lagi. Kerjaan menumpuk, itu semua juga kita lakukan untuk keluarga. Mereka tak mengerti," ujar Alan.


Keduanya saling curhat, sesuai dengan pikiran seorang pria. Padahal, wanita juga ingin di perhatikan. Soal kerjaan, mereka berdua lah yang terlalu berambisi.


"Benar, kalau kita tidak kerja. Siapa yang memodali mereka belanja kan, hahaha!" Pekik Reagan.


"Adikmu punya usaha sendiri kalau kamu lupa." Sinis Alan.


Seketika, tawa Reagan terhenti. Dia baru ingat akan sesuatu. "Eh iya, Airin juga punya usaha toko bunga. Kalau gitu ... apa wanita sebenarnya gak butuh laki-laki?" Pekik Reagan dengan pikiran k0ny0lnya.


Alan memukul bahu Ringan dengan sedikit keras, hingga membuat abang iparnya itu diam sembari mengelus bahunya.


"Terus yang suntik calon anaknya ke perut, siapa? Gak mungkin langsung jadi sendiri tampa ada yang nyuntik. Pengacara kok pikirannya minus." Kesal Alan.


"Eh iya juga." Ujar Reagan sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.

__ADS_1


Keduanya kembali terdiam dan fokus pada kopi masing-masing. Setelah beberapa menit, Reagan kembali berbicara.


"Tadi pagi, ada yang mengawasi Caramel dan Calandra. Tapi jujur, aku tidak tahu siapa yang dia awasi. Apakah putrimu, ataukah putraku. Tapi yang jelas, ada yang mengawasi mereka," ujar Reagan dengan menatap Alan dengan sorot mata yang serius.


"Apa? Siapa dia? Mengapa dia mengamati anak-anak!" Tanya Alan dengan aura yang mencekam.


"Apa kau tahu? Saat pulang sekolah, orang itu berani bertemu dengan anak-anak. Dia memanggil nama Calandra dengan nama Arion." Jawab Reagan yang mana membuat alis Alan terangkat.


"Arion ... apa mungkin, dia ayah kandung Calandra?!"


Degh!!


.


Sementara itu di kamar, Calandra dan Caramel sedang mengerjakan tugas dari guru mereka. Yaitu mewarnai pemandangan. Sedari tadi, Calandra dan Caramel bingung ingin menggambar apa. Keduanya beralih menatap Elouise dan Alexix yang sedang asik rebahan di ranjang Caramel dengan gadget di tangan mereka.


"Abang, bantuin." Ujar Caramel dengan memelas.


Mendengar itu, Elouise hanya meliriknya sekilas. Lalu, lanjut bermain gadgetnya. Berbeda dengan Alexix yang tak menengok, tapi menyahuti perkataan sang adik.


"Usaha dulu, jangan apa-apa minta abang buat kerjain." Ketus Alexix.


Caramel menggembungkan pipinya, lantaran kesal dengan respon mereka berdua. Lalu, otak kecilnya tercetus sebuah ide.


"Puna adek, itu memang enak. Jadi adek lebih celu. Kalau ada pe el cucah culuh abang bantuuuu. Kalau abang nda mau bantu tinggal teliak ...."


"MAMAAAAA!!! ABANG NDA MAU BANTU BUAT PE EL CALAMEEEELL!!"


Suara melengking Caramel bisa sampai ke lantai satu. Tentunya, mendengar itu Azalea langsung menuju lantai atas. Bukan hanya itu, teriakan Caramel bahkan membuat Alexix dan Elouise melempar ponsel mereka.


"Anak set ..." Ucapan Alexix berhenti kala melihat Alan yang berdiri di ambang pintu dengan mata melotot tajam.


"Anak setia kawan. Jangan teriak yah pinter, nanti yang lain pada terkejut. Jangan jadi beban dunia yah, cukup jadi beban rumah aja." Ujar Alexix semanis mungkin.


Alan menggelengkan kepalanya saat melihat putrinya yang tertawa melihat raut wajah ketakutan Alexix.


"Heh petasan merc0n! Bikin gosip kita putus aja! Udah, kerjakan pr yang bener. Jangan bisanya mama mama, mamam tuh mama!" Seru Teagan, karema acara mengobrolnya dengan Alan jadi tertunda akibat teriakan Caramel.


Saat dirinya di ejek petasan banting, Caramel tak terima. Dia menggulung kengan baju nya sampai ke lengan atas, lalu menatap Reagan sembari tangannya dia letakkan di pinggang.

__ADS_1


"CITU KALAU NGOMONG JANAN ACAL YAH! BUKANNA BANTUIN ANAKNA NGELJAIN PE EL! MALAH NGEGOCIP! DOCA TAU NDA!" Seru Caramel dengan emosi yang menggebu.


"Huh ... huh ... huh ... calah apa lagi aku lupana." Lirih Caranel, sembari mengusap d4danya.


__ADS_2