
Di mall, Azalea berjalan di belakang Alan. Wanita itu takut berjalan di samping Alan. Apalagi melihat banyak orang yang menatap Alan karena mengenalinya. Alexix pun berjalan di sebelahnya, sambil menggandeng tangannya. Anak itu, tak mau lepas dari sang mama.
Langkah Alan terhenti, membuat Azalea yang tak sadar menabrak punggung pria itu. Alexix pun kaget melihat ibunya yang menabrak punggung sang papa.
Bugh!
"Awshh!!"
Alan berbalik, dia menatap Azalea yang tengah mengusap keningnya. "Jalan tuh liat-liat! Ngapain kamu jalan di belakangku hah? Memangnya aku ajudan mu!" Omel Alan.
Mendengar ocehan Alan, seketika Alexix mendesis kesal. "Papa ni! Olang mama lagi cakit duga!" Galak kali jadi olang!" Omel Alexix.
Azalea menatap sekelilingnya, beberapa orang terkejut mendengar suara cempreng Alexix yang memanggilnya dengan sebutan mama. Namun, ada satu hal yang Azalea bingungkan. Tak ada yang merekam atau mengambil fotonya membuat Azalea sedikit tenang.
"Tidak usah khawatir, tidak di izinkan mengambil gambar apapun di dalam mall ini," ujar Alan yang sepertinya mengerti ketakutan Azalea.
"Kenapa begitu?" Bingung Azalea.
"Karena mall ini milikku," ujar Alan dengan santai.
Azalea mengangguk paham, tak heran jika Alan memiliki mall sebesar ini. Bahkan, jika pria itu membeli pulau. Azalea tak akan terkejut.
"Berjalanlah di sampingku!" Titah Alan.
Mendengar perkataan Alan, seketika mata Alexix berbinar terang. "Iya!! Cini!! Lekci di gandeng mama cama papa. Cepelti ini!!" Seru Alexix meraih tangan Alan dan juga Azalea hingga dia berada di tengah-tengah orang tuanya.
Alan dan Azalea saling tatap, keduanya saling menatap dengan penuh kecanggungan. Kemudian, keduanya melanjutkan berjalan mereka sembari menggandeng putra mereka.
"Kalau El liat ini mecti ili dia." Batin Alexix dengan senyum mengembang.
Alan menuntun keduanya masuk ke dalam sebuah butik. Dia melepaskan genggaman tangannya pada Alexix ketika dua orang karyawan butik itu mendekatinya.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya salah satu dari mereka.
"Ya, pilihkan baju yang bagus untuk dia. Yang paling mahal, dan nyaman bahannya." Pinta Alan.
Sontak, keduanya menatap Azalea. Berbagai pertanyaan di benak kedua karyawan butik itu tentang status Azalea.
"Apa perkataanku kurang jelas?" Tanya Alan dengan alisnya yang terangkat sebelah.
Kedua karyawan itu terkejut, keduanya bergegas mengambil beberapa pakaian yang cocok untuk Azalea.
"Nona, kami membawakan model terbaru. Dress ini sangat sederhana tapi elegan, seperti nya anda wanita yang tidak suka pakaian terlalu mencolok. Jadi, kami mencarikan baju yang soft,"
Azalea menerima beberapa pakaian dari karyawan itu, lalu matanya menatap Alan yang tengah menanti jawabannya.
__ADS_1
"Boleh aku coba dulu?" Tanya Azalea.
Alan mengangguk, "Cobalah," ujarnya.
Azalea masuk ke dalam ruang ganti, dia memakai dress berwarna biru dengan d4da yang sedikit rendah. Bagian punggungnya juga sedikit terbuka. Azalea melihat pantulan dirinya, sangat cantik. Dia menyukai dress tersebut. Tapi, bagian d4danya terlalu rendah dan ia tidak suka.
Azalea keluar, dia ingin meminta pendapat yang lain tentang bajunya.
Sreek!!
Alan yang tadinya sedang duduk di sofa sembari memainkan ponselnya langsung mengalihkan pandangannya setelah mendengar suara gorden ruang ganti yang terbuka.
"Bagaimana?" Tanya Azalea pada Alan yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri.
alan tak menjawab, dia terpukau dengan penampilan Azalea. Hanya rambut wanita itu yang harus di percantik. Dari segi wajah, Azalea memang sudah cantik tanpa memakai apapun.
"Mas? jelek yah? Aku pilih yang ini deh," ujat Azalea membuat kening Alan mengerut.
Pria itu beranjak berdiri, dia mendekati Azalea dan memutari wanita itu. "Kalau jelek, kenapa di pilih?" Tanya Alan.
"Apa yang tidak kamu suka, aku suka. Jadi, aku pilih baju ini," ujar Azalea.
"Tidak! D4danya terlalu rendah, punggungnya terbuka. Aku tidak mau pria di luar sana menatap tubuhnya dengan tatapan lapar. Ganti!"
"Ini hanya dress untuk di rumah!" Seru Azalea dengan mata membulat saat mendengar penolakan pria itu.
"Hanya mereka? kamu kan juga gak boleh! terus, ngapain liat?!" Sahut Azalea membuat Alan meneguk kasar lud4hnya.
Melihat kegugupan pria itu, Azalea menyeringai. Dia sengaja mengerjai Alan. Hanya ingin melihat reaksi pria itu.
"Apa bajunya tidak cocok?" Tanya karyawan butik yang datang menghampiri mereka.
"Co ...,"
"Enggak! pilihkan jangan yang terbuka! Saya tidak mau dia terlihat seksi di kata pria lain." Potong Alan.
Karyawan butik itu semakin penasaran dengan status Azalea. Alan, CEO muda yang terkenal akan kesuksesannya membawa seorang wanita. Sungguh, akan menjadi trending topik kalau foto keduanya sampai di berita. Namun sayangnya, mereka tak bisa memfotonya diam-diam karena peraturan mall disini yang menjaga privasi sesama.
"Baik tuan, nona mari ikut saya." Linta karyawan itu.
Azalea mengangguk, kembali meninggalkan Alan yang sedang kesal padanya.
"Apa dia ingin memancing kemarahanku lagi?!" Kesal Alan.
"Eh?! dimana Alexix?!"
__ADS_1
Alan tersentak, dia melupakan putranya. Dia lalu mencari keberadaan putranya. Jangan sampai bocah itu kembali menghilang. Alexix lebih sulit di atur dari pada Elouise.
Langkah Alan terhenti, saat matanya menangkap dimana Alexix sedang berada di pakaian dalam wanita. Bahkan, anaknya itu banyak mengambil BH wanita.
"Alexix!!" Pekik Alan.
Alexix tersentak kaget, dia berbalik dan mendekati Alan yang juga menghampirinya dengan raut wajah kesal.
"Kamu ngapain?!" Pekik Alan.
"Liat kaca mata, kayak punya mama di lumah na." Seru Alexix menunjukkan pakaian untuk menutup d4da berwarna hitam pada Alan.
Alan mengambilnya, dia melihat pakaian dalam itu dengan kening mengerut.
"Ini ada ukurannya Lexi, gak bisa sembarang ambil," ujar Alan.
"Tangan papa kan becal, di ukul aja pakai tangan papa."
"Heh! Sembarangan kamu! enggak! enggak! Udah, jangan disini lagi!!" Alan kembali menaruh benda itu. Lalu, dia menarik Alexix menjauh dari sana.
.
.
.
Reagan tengah beristirahat di hotel, sedari tadi dia mencoba menghubungi Azalea. Namun, wanita itu tak kunjung mengangkat telponnya.
"Kemana Azalea? Kenapa sedari tadi, dia sulit sekali aku hubungi." Geruti Reagan.
Saat akan kembali menelpon Azalea, sang ibu menelponnya. Membuat Reagan mau tak mau mengangkatnya.
"Halo mom?"
"Halo sayang, kapan kamu akan pulang? Kau bilang, kamu akan membawa calon menantu mommy? Apa Lea-Lea mu itu calon menantu mommy hm?" Seru sang mommy.
Reagan menghela nafas pelan, "Mom, doakan anakmu ini. Agar Azalea mau menerimaku." Lirih Regan.
"Loh apa dia menolakmu? Kenapa? Apa kamu kurang tampan? Tenang, mommy akan permak kamu. Kalau kurang kaya, kayaknya enggak deh. Kamu kaya, kalau baik kamu sangat baik. Apa yang kurang dari putra mommy ini hm?"
Reagan menatap nanar ke arah depan, ada satu hal yang belum ia ceritakan pada sang ibu.
"Mom, sebenarnya ... Azalea sedang ada masalah."
"Oh ya? apa itu?" Tanya sang mommy.
__ADS_1
"Azalea ... dia janda dua anak,"
"Apa?!"