
Mobil Alan terhenti di depan sekolah Caramel, siang ini dia akan menjemput putrinya. Baru saja sampai, ternyata Reagan sudah menunggunya. Pria itu membuka pintu mobil Alan dan menatapnya.
"Apa?" Sewot Alan.
"Terus gimana? Tadi aku udah liat di cctv, ternyata gak ada cctv yang mengarah ke tempat persembunyian dia biasanya. Mau lapor polisi?" Tanya Reagan.
Alan menghela nafas pelan, dia menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok. Matanya menatap ke sekitar, depan sekolah putrinya hanyalah tanah lapang. Yang bisa di mintai CCTV nya hanya sekolah, tapi sekolah malah tidak ada CCTV yang ke arah tempat biasanya pria misterius itu mengawasi anak-anak.
"CALAAA! CALAAA!! JANAN KENCENG-KENCENG LALINAAAA!!"
Alan dan Reagan mengalihkan fokus mereka pada Caramel yang tengah berlari mengejar Calandra. Entah apa yang terjadi pada kedua anak itu. Yang jelas, terlihat sekali jika Calandra tengah merajuk.
"Apa? Gula cama ci Marcel aja cana! Nda ucah deket-deket cala!" Ketus Calandra sembari menarik gagang pintu mobil sang ayah.
"Calamel cuman bilang calange doang!" Rengek Caramel.
"Telcelah! Mau Calange, mau celengan, mau calang. Gula cama ci cadel jelek itu aja! Nda ucah cama Cala!" ketus Calandra.
Calandra memasuki mobil sang ayah, dia segera menutup pintu dan menghiraukan rengekan Caramel. Sementara Reagan dan Alan saling tatap, raut wajah keduanya sudah tak bisa di deskripsikan.
"Lan, aku ramal ... mereka jodoh." Bisik Reagan.
Mendengar itu, Alan pun mendelik pada iparnya itu. "Aku tidak ingin berbesanan dengan orang Seperti mu! Sudah sana!" ALan mendorong Reagan agar dia bisa menutup pintunya.
TIN!!
TIN!!
Alan menyalakan klakson mobilnya agar sang putri bisa segera masuk. Mendengar dirinya di klakson, Caramel pun berdecak sebal.
"Ish! Apalah papa ini! Nda bica beli waktu Calamel untuk meluluskan macalah. Apa calahku lupana." Gerutu Caramel.
Caramel akhirnya memutuskan untuk berjalan ke mobil Alan. Mungkin, nanti dia akan membujuk Calandra. Dari pada sang papa terus mengklakson dirinya.
Alan melirik ke arah putrinya yang membuka pintu di sampingnya, raut wajahnya terlihat kesal. Dia sudah menduga hal itu.
"Cabaaall!! nda tau apa olang lagi meluluskan macalah." Gerutu Caramel.
Alan hanya mendiamkan saja, dia segera menjalankan mobilnya setelah putrinya duduk dengan aman. Untuk menghilangkan rasa bosannya, Caramel berceloteh. Alan sedikit terhibur dengan celotehan putrinya yang menurutnya lucu.
"Papa, nanti beli jajan yah." Pinta Caramel.
"Enggak! Kemarin diam-diam kamu beli jajan. Dapet uang dari mana kamu?" Sewot Alan.
__ADS_1
Seketika, mata Caramel melirik sinis. "Emangna Calamel cuman punya Papa doang? Calamel punya mama, minta lah cama mama. Papa cama mama duitna lebih banyak mama." Ketus Caramel.
"Enak aja! Harta Papa lebih banyak dari mama yah!" Pekik Alan tak terima.
"Ooo begitu, yacudah. Nanti Calamel minta mama buat cali cuami balu. Bial ambil dulu haltana, telus balik lagi cama papa. Jadi banak haltana mama nanti." Seketika, Alan melototkan matanya. Enak saja istrinya di suruh cari suami baru, tidak akan ALan biarkan hal itu terjadi.
Mobil Alan terhenti di lampu merah, dia mengamati angka lampu yang masih di bilangan tiga puluh. Artinya, Alan akan berhenti sekitar setengah menit.
"Caramel, jangan lepas sabuk pengaman!" Tegur ALan.
"Cecek loh papa!! Cuman cebental doang!" Bantah Caramel.
Alan hany bisa menggelengkan kepalanya, matanya melihat ke kanan. Keningnya mengerut saat melihat mobil yang persis ada di sebelah kanannya. Alan melirik ke arah putrinya, lalu kembali beralih menatap mobil itu.
"Caramel, ulangi bagaimana ciri-ciri mobil kemarin?" Tanya Alan.
"Ooo, mobilna hitam. Milip kayak mobilna opa, catu melek kali. Ada golesanna di pintu kanan. Telus, ...."
Mendengar itu, seketika Alan memutuskan untuk keluar dari mobilnya. Karena dia tak bisa memastikan goresan yang ada di pintu kanan, dia pun menghampiri bagian kanan mobil.
"Goresan panjang." Gumam Alan ketika mencari goresan yang putrinya maksud.
Ketika Alan mendapati bahwa ternyata mobil itu memiliki goresan, seketika mata Alan membulat sempurna. Dia yakin jika mobil ini lah yang mengincar anak-anak.
Saat Alan akan mengetuk jendela mobil itu, tiba-tiba saja mobil itu jalan dengan kecepatan tinggi. Alan berdecak keras, dia bergegas kembali masuk ke dalam mobilnya dengan tergesa-gesa.
"Papa, kenapa papa ...,"
BRUM!!
"AAAA!!"
Caramel lupa memasang sabuk pengamannya, jadilah dia terhantuk dashboard saat Alan menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"CABAAL DULU BICA NDA?! PALA NA CALAMEL KECUNDUL JADINA KAN!!" Pekik Caramel dengan kesal.
"Diam dan duduk tenang, dari kamu masih janin juga sudah sering papa sundul." Ujar Alan dengan nada pelan. Dia masih fokus mengejar mobil yang menjadi targetnya.
Kedua mobil itu saling kejar-kejaran, sepertinya mobil itu mengetahui jika Alan sedang mengejarnya. Beruntung, jalanan sepi. Sehingga Alan bisa menambah kecepatan mobilnya.
Caramel yang sudah memakai kembali sabung pengamannya tetap saja takut. Dia memejamkan matanya sembari berceloteh.
"Janan tenapa-napa, Calamel belum besal. Belum melacakan cinta. Janan dulu kenapa-napa. Punya papa kok celet kali pikilanna." lirih Caramel.
__ADS_1
Sementara di belakang, Reagan juga ikut mengejar. Dia merasa aneh mengapa mobil Alan melaju dengan sangat dan seperti ingin mengejar mobil lain.
"Kejal yah! kejall!!" Greget Calandra.
"Sabar, Ini udah kecepatan maximum. Kamu gak liat dia pakai apa? Ferrari," ujar Reagan dengan kesal.
"Mobilna kan cama! Ayah aja yang nda bica nyetil!" Kesal Calandra.
Reagan tak menghiraukannya, dia masih sibuk memperhatikan kemana Alan dan mobil misterius itu pergi. Jantungnya terasa berdetak leboh cepat, saat melihat mobil Alan yang berkali-kali berusaha menyerempet mobil itu.
"Bahlul banget otak si Alan. Lupa kali kalau dia lagi bawa putrinya. Kalau Caramel kenapa-napa gimana? Bisa habis dia sama bini nya." Gumam Reagan.
Reagan kembali menambah kecepatannya, berharap dia bisa mengejar Alan. Sementara Reagan, dia menatap mobil yang Alan kejar dengan tatapan yang rumit.
"Itu ... mobil yang selalu memantau Cala." Lirih Cala.
"Apa?! Apa kau bilang?!" Pekik Reagan yang mendengar ucapan putranya.
"Om Alan cedang mengejal mobil olang itu!! Kejal ayah?! Buluaaaann!!" Pekik Calandra.
Reagan akan kembali menambah kecepatannya, tetapi dia malah melihat mobil Alan yang berhasil menabrak mobil itu ke samping.
CKIITT!!
Reagan mengerem paksa mobilnya, jantungnya berdegup kencang. Dia melihat Alan yang keluar dari dalam mobil menuju mobil yang berhasil ia hentikan. Buru-buru, Reagan keluar untuk menghampiri iparnya itu.
"KELUAR!!" Sentak Alan.
Saat Reagan akan berjalan ke arah Alan, matanya mendapati mobil lain yang berhenti. Tak lama, keluar para pria berbaju hitam dan menodongkan senjata ke arah mereka.
"Lan, mundur dulu Lan." Pekik Reagan.
Alan menoleh, dia menatap orang-orang yang menodongkan pistol padanya. Seketika, sebelah sudut bibirnya terangkat. Matanya melirik ke arah mobil polisi yang turut berhenti di belakang mobil Reagan. Ternyata, Alan sudah menghubungi polisi untuk membantunya.
Reagan beralih menatap mobil itu, dia melihat pintu itu akhirnya terbuka. Dirinya penasaran siapa orang yang ada di mobil itu. Bahkan, dia tak sadar jika Cala sudah berdiri di sampingnya.
"Kalian mencariku? Untuk apa?" Tanya pria yang tak lain adakah Lucian. Pria itu langsung menatap ke arah Reagan dan Alan yang tengah memandangnya.
"Ayah, dia olangna." Unjuk Calandra.
Tatapan Reagan dan Alan berubah tajam. Tapi tidak dengan Lucian, dia justru menatap Alan dan Reagan dengan tatapan menyeringai.
"Kalian pasti akan menyesal telah mengejarku."
__ADS_1