Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Tamu spesial


__ADS_3

Alan sedang berkutat dengan berkasnya, dia tengah pusing membaca laporan yang tak sesuai. Padahal sudah saatnya makan siang, tapi Alan menundanya untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Cklek!


"Tuan, anda kedatangan tamu dari Amer1ka." Ujar Kendrick yang datang memberi kabar.


Tangan Alan yang sedang menari di atas keyboard seketika terhenti. Kening langsung mengerut dalam, mengingat tentang jadwalnya siang ini.


"Sebentar, bukannya besok?" Tanya Alan.


"Hari ini tuan, bukan besok." Jawab Kendrick.


Alan menepuk keningnya, dia bahkan sampai melupakan hari. Bergegas, dia membereskan berkasnya untum menyambut tamu yang datang.


"Biarkan dia masuk Kendrick," ujar Alan.


Kendrick menganggukkan kepalanya, dia bergegas keluar untuk memanggil tamu Alan. Tak lama, dia kembali. Pria itu membuka pintu Alan dan menyambut tamu bosnya itu.


"Selamat datang Tuan Arley." Sapa Kendrick


Seorang pria tampan, dengan rajang tegas. Matanya berwarna biru, dengan wajah bulenya. Pria itu langsung tertuju pada Alan yang berdiri menghampirinya. Dia adalah, Arley Ead Delwyn. Seorang pengusaha yang di kenal dengan miliarder sang raja bisnis. Bisnisnya bahkan lebih besar dari Alan, sebab pria itu salah satu orang yang menduduki peringkat tinggi kerajaan bisnis di b3nua Amer1ka dan As1a.


"Wow, saya tidak menyangka jika anda benar-benar akan datang ke kantor saya yang kecil ini. Tuan Arley." Sapa Alan dengan tatapan terkejut.


"Anda selalu berlebihan, Tuan Alan." Ujar Arley dengan bahasa indonesia.


"Mari, silahkan duduk." Ajak Alan.


Arley menghampiri Alan yang mengajaknya duduk di sofa. Karena Arley membawa kedua bodyguard nya, mereka pun berdiri tak jauh dari Arley untuk berjaga-jaga.


"Apa anda menyetujui rencana kerja sama yang saya ajukan?" Tanya Alan.


"Kapal pesiar?" Tebak Arley


Alan menyunggingkan senyumnya, dia melirik ke arah karyawannya yang membawakan kopi untuk mereka berdua. Lalu, Alan kembali menatap Arley.


"Benar, saya menginginkan kapal pesiar milik anda," ujar Alam dengan senyum mengembang.


Terlihat, satu sudut bibir Arley terangkat. "Untuk apa anda membelinya?" Tanya Arley.


Alan mengalihkan tatapannya dari Arley, matanya mengerjai saat membayangkan sesuatu.


"For my little princess. She will be birthday next month."

__ADS_1


"Woaahh, you're a cool dad." Seru Arley dengan menepuk tangannya.


"Thank you." Sahut Alan sembari menatap Arley dengan senyuman.


Alan mengajak Arley untuk menikmati kopi, pria bule itu ternyata sangat menyukainya. Mereka sedikit berbincang tentang masalah bisnis.


"Jadi, apa sudah deal?" Tanya Alan.


"Sebelum itu, jelaskan bagaimana rasanya memiliki seorang anak?" Tanya Arley dengan tatapan yang rumit.


Alan sedikit bingung di buatnya, dia menatap Arley dengan kening mengerut. "Bukankah anda memiliki seorang putri?" Tanya Alan.


Arley menggeleng, "Tidak, aku tidak memiliki seorang anak. Putri yang kau lihat dalam berita, adalah putri angkatku." Ujar Arley.


"Apa kau tidak ingin memiliki anak? Seperti kebanyakan orang sekarang, childfree?" Tanya Alan dengan ragu. Dia ingat sekali, putri Arley bahkan sudah berumur enam tahun.


Arley menggeleng, dia mengalihkan tatapannya dari Alan. Pria itu menunjukkan raut wajah yang sedih. Melihat itu, Alan mengerti jika ada yang salah.


"Aku di vonis tidak bisa memiliki anak karena sebuah kecelakaan empat tahun yang lalu." lirih Arley.


Deghh!!


"Tuan Arley, saya turut sedih mendengarnya. Maaf, jika pertanyaan saya mungkin menyakiti anda." Ujar Alan dengan perasaan tak enak.


"Tidak papa. Jangan terlalu formal, kita adalah teman bukan?"


CKLEK!


BRAK!!


"PAPA!! KENAPA NDA JEMPUT CA ...." Perkataan Caramel menggantung saat matanya bertubrukan langsung dengan pria bermata biru itu.


"Heee ... ciapa ini, danteng kali." Pekik Caramel dengan tersenyum lebar.


Caramel langsung berjalan mendekati Arley, dia menghiraukan tatapan tajam sang papa. Sementara Alan, matanya langsung beralih pada seseorang yang membawa putrinya. Bergegas, Alan menghampiri Reagan dan Calandra yang sudah memasuki ruangannya.


"Kenapa kau membawanya kemari!" Bisik Alan dengan penuh penekanan.


"Dia sendiri yang minta. Itu juga salahmu, karena kamu tidak menjemputnya. Sepanjang jalan aku sudah lelah mendengar ocehannya. Sekalian saja aku membawanya kesini, karena ada hal penting yang aku ingin bicarakan padamu." Terang Reagan.


Alan menghela nafas pelan, dia tak jadi marah pada Reagan. Pria itu lupa menjemput putrinya, jika dengan supir. Caramel tidak akan mau, entah karena apa. Juga, terlihat sekali jika pembahasan yang akan Reagan bahas adalah hal yang serius.


"Baiklah, tunggu saja di ruang tunggu. Nanti setelah tamuku pulang, aku akan menemui mu disana," ujar Alan.

__ADS_1


Reagan melirik sejenak ke arah tamu Alan, "Nanti saja, aku titip Calandra. Nanti sore aku jemput,"


"Apa?! hei!!"


Belum sempat Alan berkata, Reagan pun beranjak dari sana tanpa menunggu penjelasan darinya. Tentu saja, Alan kesal. Abang iparnya itu seenaknya padanya. Pria itu pun kembali berjalan menghampiri Arley yang sedang berbincang dengan Caramel.


"Om danteng, mau nda jadi pacalna Calamel?" Tanya Caramel dengan senyuman manisnya.


Raut wajah Alan dam Calandra berubah datar, keduanya menatap Caramel dengan tatapan tajam. Melihat ekspresi keduanya, membuat Caramel bertanya.


"Apa? Nda ada calahna ci? Om na ganteng, kata om Legan cinta nda pandang umul," ujar Caramel membela diri.


"Jangan celing main cama ayah Cala, jadi lucak kan 0takmu." Sahut Calandra dengan nada tak bersahabat.


Seketika, Caramel mendelik sinis pada Calandra. Cembalangan! 0tak Calamel bagus, makana cali yang danteng. Nda yang bul1k." Pekik Caramel


Alan menggelengkan kepalanya pelan, dia mendudukkan dirinya kembali ke sofa tepat di hadapan Arley.


"Maafkan putri saya, dia memang sedikit lincah dalam berbicara." Ujar Alan dengan perasaan tak enak.


"Tidak, saya justru merasa terhibur dengan tingkahnya. Ehm begini saja, kau tidak perlu membayar kapal itu. Biar putrimu menjadi putriku, bagaimana?"


Mendengar itu, seketika raut wajah Alan menjadi dingin. Berbicara perihal putrinya, adalah hal yang menurutnya sangat sensitif. Putrinya adalah miliknya, tak boleh ada seorang pun yang memilikinya.


"Jangan menatap saya seperti itu tuan Alan, saya hanya bercanda." Seru Arley dengan tersenyum tipis.


"Putriku segalanya, dia hidup saya. Tuan Arley," ujar Alan dengan tegas.


"Heum, saya mengerti." Seru Tuan Arley.


Tatapan Arley beralih pada Calandra yang duduk di samping Alan. Tak sengaja, tatapan Calandra terhenti pada Arley. Keduanya saling menatap hingga sepersekian detik.


"Apa dia juga putra anda?" Tanya Tuan Arley, menunjuk Calandra dengan dagunya.


"Tidak, dia keponakan saya. Pria yang tadi datang adalah kakak ipar saya." Jawab Alan.


Tuan Arley mengangguk, dia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. Menatap Calandra dengan kening mengerut dalam.


"Siapa namamu?" Tanya Tuan Arley.


"Calandra Ablicham Xavel." Jawab Calandra dengan tatapan datar.


Bukannya tersinggung dengan tatapan Calandra, justru tuan Arley menyunggingkan senyuman ringan. Alan, pria itu menatap Calandra dan Tuan Arley secara bergantian. Ada hal yang janggal yang Alan rasakan. Wajah mereka, Alan benar-benar mengamatinya. Tapi sebelum Alan berkata, Caramel sudah menyerobot pertanyaan dalam hatinya.

__ADS_1


"Om danteng cama Cala kok milip yah? Cala, kau nda milip cama bapakmu. Malah lebih milip cama om danteng ini." Pekik Caramel yang mana membuat suasana berubah tegang.


____


__ADS_2