
Alan tengah menghadiri sebuah pesta yang koleganya adakan, dia tengah duduk di sebuah kursi sembari berbincang ringan dengan sang pemilik acara.
"Tuan Alan sudah menikah?" Tanya Rekan bisnis nya itu.
Alan mengangguk, "Ya, saya sudah punya dua putra," ujar Alan.
"Wah, kenapa istrinya di sembunyikan dari publik? Saya penasaran, wanita beruntung mana yang berhasil meluluhkan pria sukses seperti anda." Pujinya
Alan tersenyum tipis, dia tak menanggapi dengan serius apa yang rekannya itu katakan. Tak lama, seorang pelayan datang dengan membawakan nampan berisikan minuman anggur. Sang pemilik acara, mengambil dua gelas dan menyerahkannya satu pada Alan.
" Minum?"
Alan menggeleng, dia memang bukan peminum. Sehingga, dirinya menolak. Tapi dengan cara yang sopan.
"Saya tidak minum." Tolak Alan membuat rekannya itu mengangguk pelan.
Walau tidak pernah minum, Alan tahu jika anggur itu adalah anggur mahal. Bahkan, minum segelas kecil saja. Akan membuat seseorang mabuk bahkan tak sadar.
"Tuan, maaf. Saya harus menyampaikan sesuatu." Alan mengalihkan fokusnya pada Kendrick yang tiba-tiba mendatanginya.
Alan menatap ke arah rekannya, dari tatapan itu. Dia seakan meminta izin, untuk berbicara dengan asistennya.
"Yasudah, kalau begitu nikmati pesta jaya. Saya sapa tamu yang lain dulu." Alan menanggapinya dengan mengangguk pelan. Lalu, tatapannya kembali pada Kendrick setelah rekannya itu pergi.
"Ada apa?" Tanya Alan.
"Tuan, apa ponselmu tak aktif?" Tanya Kendrick.
ALan mengangguk singkat, "Tak sengaja terjatuh saat mengantar kedua putraku, membuat layarnya mati. Ada apa?" Tanya Alan langsung ke intinya.
Kendrick memainkan ipadnya, tak lama dia membalikkan ipadnya ke arah Alan untuk menunjukkan sesuatu.
"Dia ...." Tangan Alan terkepal erat, urat-urat lehernya terlihat menonjol. Matanya memerah, menahan gejolak emosi yang tiba-tiba bangkit.
"Pria itu mendatangi nona siang tadi, kedua bodyguard sudah menghubungi anda. Tapi kata mereka, ponsel tuan mati. Saat saya ingin mengabarkannya hal ini pada anda, tuan Hervan mengirimkan foto ini pada saya. Dia menanyakan, apa anda mengenal pria ini? Dia melihat jika sedari tadi siang nona Azalea bersamanya. Dan dia bahkan menc1um kening ...." Kendrick tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya saat melihat muka merah padam Alan.
"Tu-tuan, jangan emosi dulu. Bisa jadi salah paham." Takut Kendrick.
Alan mengatur nafasnya, tangannya meraih gelas yang ada di meja. Dirinya tak menyadari, jika gelas yang ia raih adalah gelas anggur yang sebelumnya rekannya tawarkan. Lalu, pria itu meneguknya hingga habis. Membuat, mata Kendrick seketika melotot ke arahnya.
"TUAN!!" Pekik Kendrick.
Kendrick menatap nanar gelas yang sudah kosong itu, dia meringis menatap Alan yang kini beranjak berdiri dan pergi begitu saja.
"Astaga, aku harus bagaimana ini. Susul aja deh, takut tepar di jalan. Kan gak lucu, orang besok mau gajian. Kalau tepar, gak jadi gajian saya." Gumam Kendrick, buru-buru dia mengejar Alan yang sudah lebih dulu pergi dari gedung pesta itu tanpa berpamitan pada sang pemilik acara.
Namun, sayang seribu sayang. Kendrick sudah tak dapat melihat keberadaan mobil Alan lagi. Seketika, bahunya merosot lemas.
"Terus, saya pulangnya gimana dong? Kan kesini sama bos, pulangnya sama siapa? Jelangkung? Kan gak lucu." Lirih Kendrick dengan frustasi.
Sementara di mobil, Alan mengendarainya dengan kecepatan penuh. Penglihatannya mendadak mengalami masalah. Entah mengapa, dia melihat jalanan menjadi berbayang. Kepalanya terasa sangat pusing, beberapa kali Alan menggelengkan kepalanya untuk menghalau rasa pusing yang mendera.
"Kau harus jelaskan padaku Lea, maksud pelukan dan perlakuan dia atasmu. Aku masih sah sebagai suami, tidak akan pernah terima hal itu!" ujar Alan, dengan suara rendah. Sorot matanya, menatap tajam lurus ke depan.
.
__ADS_1
.
Azalea sudah sampai di mansion Alan di antar oleh Reagan, wanita itu masih dalam kondisi yang syok. Untuk itu, Reagan memilih untuk mengantarkan Azalea pulang ke mansion Alan.
"Istirahat lah, besok aku akan kesini lagi menjemputmu." Ujar Reagan sembari menepuk kepala adiknya.
Azalea menghela nafas pelan, dia pun menganggukkan kepalanya.
"Apa Elouise dan Alexix sudah tidur?" Tanya Reagan.
Azalea membuka ponselnya, dia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Astaga! Reagan! cepat pulang, nanti mas Alan keburu pulang. Dia pasti akan memukulmu!" Seru Azalea dengan panik.
Reagan enggan beranjak, dia justru menatap Azalea dengan sebelah alisnya yang terangkat.
"Dia harus tau kalau kamu adikku" ujar Reagan.
"Ck, tes DNA nya ada di ruang rawat daddy. Aku gak bawa, Mas Alan gak bakal percaya dengan omongan kamu. Udah sana pulang!!" Seru Azalea.
Reagan menghela nafas kesal, "Baiklah, besok aku akan kesini dan menjelaskannya pada suamimu." Ujar Reagan.
"Tapi sebelum itu, bisakah kamu memanggilku abang? Aku lebih tua darimu." Pinta Reagan.
Rasanya, Azalea masih terlihat canggung. Walau Reagan adalah kakaknya, tetapi pria itu pernah mencintainya. Rasanya, lucu sekali kalau Azalea pikir-pikir.
"Cepat katakan, aku tidak akan pulang sebelum kau mengatakannya." Kekeuh Reagan.
Azalea menghela nafas pelan, "Baiklah, abang." Ujar Azalea, membuat senyum Reagan mengembang.
"Yasudah, abang balik ke rumah sakit yah." Pamit Reagan.
Azalea mengamati kepergian abangnya itu dengan senyum mengembang. Hari ini, perasaannya sangat bahagia. Setelah mobil Reagan keluar dari mansion, Azalea pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.
.
.
Sesampainya Alan di mansion, pria itu langsung keluar dari mobilnya. Sejenak, dia berdiri sembari memegang mobilnya untuk menumpu tubuhnya yang sempat oleng.
"Tuan, tuan tidak papa?!" Seru bodyguard yang datang menghampirinya.
"Apa Istriku sudah pulang?" Tanya Alan dengan tatapan sayu.
"Sudah tuan, tadi di antar oleh pria yang membawanya siang tadi."
Mendengar itu, Alan menjadi bertambah marah. Dia mendorong kasar tubuh bodyguard nya yang ada di hadapannya. Dengan sempoyongan, Alan berjalan masuk ke mansionnya.
Walau kepalanya pusing, Alan bisa dengan cepat sampai di lantai atas. Sejenak, dia berhenti menatap pintu kamarnya yang sedikit terbuka.
"Kau benar-benar memancing amarahku, Lea." Lirih Alan.
BRAK!!
Azalea yang baru saja keluar dari kamar mandi tersentak kaget. Bahkan, dirinya baru saja selesai mandi dan masih memakai bathrobe. Azalea menatap ke arah Alan, yang tengah menutup pintu dan menguncinya.
__ADS_1
"Bisa pelan-pelan gak mas buka pintunya? Si kembar udah tidur!" Tegur Azalea.
Alan hanya diam, matanya menyorot tajam wanita yang tengah memakai bathrobe itu. Kakinya mulai melangkah perlahan ke arah Azalea, matanya menatap Azalea yang menatap bingung ke arahnya.
"Mas, kamu ..."
BRUGH!!
Alan mendorong kasar Azalea ke ranjang, dia menahan kedua tangan Azalea di atas kepala dengan tangannya. Perlakuan Alan, membuat Azalea memekik keras.
"MAS!! KAMU MAU NGAPAIN HAH?!" Jujur saja, Azalea merasa takut saat ini. Apalagi, melihat tatapan pria itu yang tak biasanya. Di tambah, Alan mendekatkan wajahnya pada leher Azalea.
Azalea tentu memberontak, indra penciumannya menangkap sesuatu yang janggal dari bibir suaminya.
"MAS! KAMU MABUK YAH!!" Pekik Azalea.
"Memangnya kenapa kalau aku mabuk? Apa pedulimu? Lea, apa kau tahu? kau sangat menyakitiku." Perkataan Alan yang melantur, membuat Azalea yakin dengan tuduhannya.
Wanita itu berusaha untuk mendorong tubuh Alan. Namun, semakin dia menyingkirkan tubuh Alan. Semakin pula pria itu menahan dirinya.
"Mas, tolong jangan seperti ini. Aku takut " Ujar Azalea dengan suara bergetar.
"Takut? Untuk apa kamu takut denganku? Lea, kau memilih bercerai denganku karena kau ingin menikah dengan pria itu kan? Bahkan, kalian pergi bersama. Berpelukan, bahkan pria itu menc1um keningmu. Kau juga menerimanya, kenapa kamu menjadi seperti Selia hah?!"
Azalea menggeleng, air matanya membasahi pelipisnya. Tangannya terasa sakit karena cengkraman yang Alan lakukan semakin kuat.
"Ibuku sudah pergi meninggalkanku, cinta pertamaku juga meninggalkanku. Dan kamu, mau ikut jejak mereka juga? Tidak akan pernah terjadi. Lea, kau harus tetap berada di sisiku."
"Mas! Sadarlah!!" Sentak Azalea.
"Aku sadar, aku bisa melihat wajah cantikmu ini. Maka dari itu, aku memutuskan untuk menghamilimu kembali. Agar, kamu tidak bisa bercerai denganku dan menikahi pria itu." Ujar Alan, tangannya mengelus lembut rahang istrinya.
Mendengar hal itu, seketika Azalea melototkan matanya. Tubuhnya bergetar ketakutan saat tangan Alan menarik tali bathrobe yang ia kenakan.
"Mas, mas! kamu sudah berjanji padaku, ingat janjimu. Kau tidak akan menyentuh ku sampai kau mencintaiku!!" Panik Azalea, isakan tangisnya di gubris oleh pria itu..
"Lupa kan soal janji, kau juga mengingkari janjimu! Aku akan menghamilimu Lea!! Diam dan nikmatilah! Bukanlah dulu kau sangat suka di sentuh olehku hm?"
"Aku bukan Lea mu yang dulu, tolong lepaskan aku! Jika tidak, aku akan membencimu mas!!" Histeris Azalea.
Alan menatap ke arah bibir Azalea, lalu tatapannya beralih pada mata wanita itu yang sedari tadi sudah mengeluarkan air matanya.
"Aku tidak peduli, kau harus kembali melahirkan keturunanku. Lea,"
Deghh!!
"Enggak!! maaass!! Lepaskan hiks ... lepaskan aku!"
Malam itu, membuat dunia Azalea hancur. Alan meminta haknya dengan paksa, pria itu melanggar janjinya. Kisah lima tahun lalunya, kembali lagi terjadi malam ini. Namun bedanya, kali ini Azalea di paksa untuk melakukannya walau wanita itu sudah memohon padanya. Alan tak peduli dengan jeritan kesakitan dan tangis istrinya itu.
"Aku membencimu." Lirih Azalea, sebelum dirinya kehilangan kesadarannya.
____
Maaf kalau semisal ceritanya ngebosenin😭 author masih berusaha buat bikin yang greget. Karya on going ku ada dua, kalau mau yang berkonflik kembar genius. kalau mau yang komedi find me daddy. Jadi pas tuh kan ya, abis kesel disini. Ke sebelah deh🤭
__ADS_1
Terima kasih yang sudah baca sampai di tahap ini, lagi ada di puncak konflik yah. Jadi, sorry kalau kalian jadi esmosi bacanya😭😭