Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Kembali pulang


__ADS_3

Arley menatap wajah duplikat dirinya, tangannya terangkat menyentuh kedua bahu Calandra. Matanya berkaca-kaca, dia hampir menitikkan air matanya. Jantungnya berdebar tak karuan, saat menyaksikan jika dirinya sudah memiliki keturunan.


"Calandra, putraku." Lirih Arley.


Arley menarik Calandra dalam pelukannya, dia memeluk erat tubuh mungil putranya itu. Sedangkan Calandra, dia hanya terdiam, matanya menatap Reagan yang memandang ke arah mereka. Lalu, Arley melepaskan pelukannya. Dia mengecup semua sisi wajah Calandra dengan sorot mata bahagianya.


"Putraku, sayang. Daddy sangat merindukan kehadiranmu. Daddy sangat menantikan dirimu. Maafkan daddy karena telat menemuimu, dan membiarkanmu tersiksa selama ini." Ujar Arley dengan suara bergetar.


"Daddy? Cala cuma punya ayah dan papa." Ujar Calandra dengan polosnya.


Arley menggeleng, "Bukan, daddy adalah ayah kandung kamu. Wanita yang bersamamu tadi, adalah ibu kandungmu. Kami orang tua kandungmu." Ujar Arley dengan air mata yang mengalir di pipinya.


Calandra menggeleng, dia beralih menatap Reagan dengan raut wajah yang panik. "Ayah, dia ngomong apa. Cala nda ngelti hiks ... ayah kan ayahna Cala, kenapa dia bilang bukan." Calandra mengadu pada sang ayah.


Reagan menatap Alan, seketika Alan menganggukkan kepalanya. Dengan tarikan nafas panjang, Reagan memberanikan diri untuk mendekat. Dia berlutut di hadapan putranya, dan memegang kedua bahu putranya mengarahkan menghadapnya.


"Cala, dengar. Mungkin, ini adakah berita yang mengejutkan bagimu. Tapi, ayah yakin. Kamu adakah anak yang pintar. Sebelumnya, maafkan ayah dan bunda. Kami benar-benar menyayangimu nak, sampai kapanpun. Walaupun, ada satu hal yang harus kami beritahukan padamu." Reagan menarik nafas sejenak, dan menghembuskan dengan kasar.


"Kamu, bukan anak kandung bunda dan ayah. Pria ini, adalah ayah kandungmu. Dan wanita yang di tahan bersamamu kemarin, adalah ibu kandungmu. Mereka selama ini terpisah darimu karena keadaan, itulah mengapa kamu tinggal dengan ayah dan bunda." Terang Reagan.


Air mata Calandra menetes, dia menggeleng samar. Bahunya bergerak naik turun, hidungnya kembang kempis. Dada Calandra terasa sesak, dia terkejut dengan pernyataan yang sang ayah berikan.


"Nda, Cala anak bunda cama ayah. Ayah janan cuka belcanda, Cala nda cuka." Ujar Calandra dengan suara bergetar.


Reagan menghela nafas pelan, dia memeluk putranya dan mengusap punggung nya. Mata Reagan beralih menatap Arley yang tengah menangis karena jawaban putranya.


"Calandra butuh waktu, dia masih terkejut dengan kejadian ini. Berikan dia waktu sebentar, aku janji akan menjelaskannya pelan-pelan." Ujar Reagan pada Arley dengan tulus.


Mau tidak mau, Arley mengangguk. Dia bangkit berdiri dan mengusap air matanya. Reagan pun segera beranjak, dia membawa putranya ke gendongannya. Calandra memeluk erat leher Reagan, seakan takut kehilangan sang ayah.


"Kita akan kembali sekarang?" Tanya Alan.


"Ya, aku akan langsung ke rumah sakit. Kau kembali saja, kasihan Azalea," kata Reagan.


Alan mengangguk, tatapannya beralih pada Arley yang tengah menunduk.


"Kau bagaimana?" Tanya ALan.


"Aku ... aku ingin menemui Sherly. Tapi, sepertinya saat ini tidak mungkin." Ujar Arley dengan nada lirih.


Alan menepuk bahu Arley, dia memberi kekuatan untuk temannya itu. "Tidak ada yang tidak mungkin. Semua punya kesalahan. Kau berbohong, karena takut Sherly tak menerimamu. Sekarang, jujurlah. Agar sherly mau memaafkanmu. Jika tidak, lepaskan. Dia juga berhak bahagia dengan pilihannya," ujar Alan dengan bijak.

__ADS_1


Arley mengangguk, "Terima kasih atas saranmu. Mungkin, aku akan kembali ke hotel duku. Besok, aku harus menjemput putri angkatku." Ujar Arley.


Alan mengangguk, dia menatap Reagan sembari mengangguk kan pelan kepalanya. Lalu, dia kembali menatap Arley. "Kami pulang dulu, hati-hati "


Alan dan Reagan berbalik menjauh, para bodyguard Alan sudah standby di bandara untuk menyambut kedatangannya. Sementara Arley, dia hanya terdiam sembari menundukkan kepalanya.


"Apa aku berhak mendapat maaf dari mereka." Lirih Arley.


.


.


.


Cklek!


Caramel yang sedang memakan jajannya tiba-tiba terkejut dengan suara pintu terbuka. Raut wajahnya terlihat panik, bahkan jajan yang dirinya pegang sampai terjatuh. Namun, saat melihat siapa yang datang. Rasa keterkejutan Caramel menghilang, raut wajahnya menjadi berbinar.


"PAPAAAA!!" Teriak Caramel.


Alan tersenyum, dia berlutut dan menyambut putrinya dalam pelukan nya. Dia mengecup sayang pipi Caramel. Namun, rasa bahagia itu luntur saat dirinya mencium arona gurih dari pipi putrinya.


"Apa kau makan makanan yang tidak sehat lagi princess." Tanya Alan dengan suara datar.


"Oh, kau memakan ciki lagi. Karena papa tidak ada di rumah, jadi kamu memakannya hm?" Tanya Alan.


"Solly papa, nda ada jajan di lumah. Adana ciki, nda mungkin Calamel makan batu. Iya kan? Pintal na Calamel, nda calah aku lupana." Seru Caramel dengan tersenyum lebar.


"Kau ...,"


"Alan, kau sudah pulang?"


Alan dan Caramel sama-sama menoleh, keduanya melihat Erlangga yang datang menuju ke arah mereka. Alan berdiri, dia menghampiri ayah mertuanya dan memeluknya.


"Calandra selamatkan?" Tanya Erlangga.


Alan mengangguk, dia melepaskan pelukan mereka dan menatap ayah mertuanya dengan senyuman tipis. "Sudah, Cala sudah kembali. Ada banyak hal yang mau aku ceritakan. Tapi, mungkin nanti." Ujar ALan.


Erlangga mengangguk mengerti, "Pergilah temui istrimu, dia sedang tidak sehat. Sedari kemarin, dia terus menelpon. Hatinya sangat gelisah, kasihan dia." Pinta Erlangga.


Alan mengangguk, dia langsung memasuki kamarnya. Saat membuka pintu kamarnya, mata nya langsung menangkap sang istri yang tengah tertidur dengan lelap. Jarum infus tertempel di tangannya. Tentu, ALan bertanya-tanya akan hal itu.

__ADS_1


"Tidak ada makanan yang masuk, semuanya dia muntahkan. Entahlah, mungkin calon anak kalian merasa kalau papa nya tidak ada di dekatnya. Jadilah dia ngambek tidak mau menerima makanan." Ujar Erlangga yang berdiri di sebelah Alan.


Setelah Caramel membelikan ketoprak, Azalea memakannya dengan lahap. Namun, setelah habis makanan itu dia lahap. Azalea mengalami mual muntah yang parah, dia bahkan kembali memuntahkan isi perutnya hingga dirinya lemas seperti saat ini. Erlangga langsung memanggil seorang dokter untuk memeriksa putrinya.


"Kenapa daddy tidak membawanya ke rumah sakit." Protes Alan.


"Bagaimana mau membawanya, jika istrimu saja menolak untuk di bawa."


Alan menghela nafas pelan, dia beranjak mendekati istrinya. Lalu, duduk di tepi ranjang Sepertinya Azalea sangat lelah hingga tak sadar Alan sudah ada di sebelahnya.


"Dad, kita bawa ke rumah sakit saja." Ujar Alam pada mertuanya itu.


Mendengar suara orang, akhirnya Azalea membuka matanya. Dia terkejut dengan kehadiran Alan di sebelahnya.


"Mas Alan. Kau sudah kembali?" Azalea akan duduk, tetapi Alan menahannya.


"Kita ke rumah sakit yah." Bujuk Alan.


"Calandra bagaimana? sudah ketemu kan? dia gak papa kan?" Bukannya menjawab, Azalea malah bertanya tentang Calandra.


"Kita bahas nanti, kita ke rumah sakit duku." Ujar Alan.


"Aku tidak mau." Saat Azalea akan duduk, tiba-tiba dia merasakan sakit di perutnya. Dia meremas perutnya dengan kuat. Hal Itu, tentu membuat Alan panik.


Tampa menunggu persetujuan istrinya, Alan langsung membawa istrinya ke gendongannya. Erlangga yang peka segera memegang botol infus dan mengikuti Alan hingga ke mobil.


"Pelan-pelan." Pinta Erlangga saat Alan memasuki mobil.


Saat Alan akan memposisikan Azalea di kursi mobil, tiba-tiba dirinya tersentak saat melihat dress putih yang Azalea kenakan terdapat noda darah.


"Dad, bukankah orang hamil tidak mengalami datang bulan?" Tanya Alan dengan suara bergetar.


Erlangga langsung melihat ke arah dress Azalea, seketika matanya membulat sempurna.


"Cepat! Kita harus ke rumah sakit!" Seru Erlangga.


"Mas, perutku sakit." Lirih Azalea sebelum kegelapan merenggut kesadarannya.


"LEA! LEA!"


__

__ADS_1


Oh ya, find me daddy sudah ada season 3 nya yah. Kembar jenius tetap up 2-3 sehari kok, tenang aja🤗🤗


__ADS_2