Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Kakak ipar VS adik ipar


__ADS_3

Alan tengah berkutat pada laptopnya, hari ini dia terpaksa harus ke kantor lantaran ada masalah yang harus dia tangani.


"Tuan, perusahaan Lin mengajukan kerja sama." Ujar Kendrick sembari menyerahkan sebuah berkas.


"Tolak." Jawab Alan dengan enteng.


"Eh?!" Kendrick mengerjapkan matanya, bisa-bisanya tuannya itu menolak tanpa melihatnya lebih dulu.


"Belum dapet jatah kayaknya." Batin Kendrick, melihat wajah masam bos nya itu.


Karena tak ingin terkena masalah, Kendrick pun memutuskan untuk keluar. Dia harus menghubungi perusahaan Lin karena Alan menolak ajakan kerja samanya.


Sementara Alan, dia melirik ke arah ponselnya. Tak ada pesan apapun dari istrinya. Pria itu menghela nafas kecewa.


"Gak ada bahasa sayang lagi apa, sudah makan belum? Ish! Gak ada romantisnya!" Kesal Alan.


Cklek!


"Kendrick! Sudah ku bilang, kalau masuk jangan buka pintu terlalu. ..." Alan mematung saat melihat siapa yang datang.


"KAU!!" Alan sontak berdiri, dia menatap pria yang baru saja masuk dengan tatapan melongo.


"Kakak iparmu baru saja kembali, kenapa responmu begitu sekali huh?" Sinis nya, dia yang tak lain adalah Reagan.


Dengan santainya, Regina duduk di hadapan meja Alan. Dia menaikkan satu kakinya dan menumpu pada kaki yang lain.


"Duduklah, kenapa kau berdiri seperti itu? Aku tidak datang untuk menjadi pengacara perceraian mu dengan adikku," ujar Reagan membuat Alan mendengus sebal.


"Kau pulang karena sudah menikah?" Tanya Alan.


"Bukan." Jawab Reagan.


"Sudah punya calon?" Tanya Alan dengan sebelah alisnya yang terangkat.


"Bukan juga." Jawab Reagan, membuat Alan kesal di buatnya.


"Kalau belum ngapain pulang huh?" Sinis Alan, dia seakan khawatir Reagan akan kembali merebut istrinya. Walau Alan tahu, jika Reagan dan Azalea adalah saudara. Entah mengapa, dia perlu waspada.


"Jangan khawatir, perasaanku pada Azalea sudah hilang. Sampai saat ini, aku hanya menganggapnya adik saja. Lagian, hidup akan terus berputar. Gak mungkin kan kalau aku terus berputar di masa lalu?"


Alan mengangguk yakin, "Setuju! Bagus! Lebih bagus lagi jika kamu punya istri empat! Biar gak ada kesempatan kamu buat suka lagi degan istriku!" Sentak Alan.


Mendengar itu, Reagan pun mendelik sebal. Memangnya dia punya apa hingga memiliki istri empat.


"Kamu mau punya istri empat Lan?" Tanya Reagan dengan iseng.


"Mau lah! Siapa yang enggak mau. Punya istri empat, satunya nemenin di kantor. Satunya di rumah, satunya di kamar satunya. ..,"


"Lea, kau dengar kan?"


Krek!!


Rahang Alan terjatuh, dia melongo saat melihat Reagan menunjukkan ponselnya. Terlihat, jika Reagan sedang melakukan panggilan video call pada Azalea. Sehingga, kini Alan bisa melihat raut marah wanita itu.

__ADS_1


"MALAM INI GAK USAH PULANG!! CARI AJA ISTRI LAINMU ITU!! GAK USAH CARI AKU!!"


"Sayang, yang! Ini kerjaan Reagan, beneran! aku di jebak!" Seru Alan panik.


"GAK PEDULII!!"


Tuutt!!


Azalea mematikan sambungan itu, membuat wajah Alan seketika menjadi datar. Dia menatap Reagan yang justru bahagia di atas penderitaannya.


"Hahahaha!!"


"Ketawa lagi!" Ketus Alan.


"Rasain!! Nanti malam, tidur di luar!" Ledek Reagan.


"Sebenarnya, yang aku permasalahkan bukan itu sayangnya." Lirih Alan.


"Terus?" Sebelah alis Reagan terangkat satu, karema bingung dengan jawaban Alan yang aneh menurutnya.


Tring!!


Alan meraih ponselnya, seketika matanya melotot saat melihat notif yang sangat menyeramkan.


"Kenapa?" Tanya Reagan dengan penasaran.


"TUH KAAANN!! HILANG SUDAH DUA M KUU!!"


"Kok bisaa?!!" Pekik Reagan dengan mata melotot.


"Pulang-pulang, pasti ada Dealer mobil dateng hiks ... kemarin baru beli tas puluhan juta. Sekarang lebih parah. Alamat lembur lagi buat ngembaliin uangnya." Histeris Alan.


Reagan membulatkan mulutnya, dia jadi mengerti permasalahan adik iparnya itu.


"Ooo begitu ... lebih takut duit hilang dari pada istri marah rupanya." Gumam Reagan.


.


.


.


Reagan mampir ke rumah Alan, dia ingin bertemu dengan adik tercintanya. Sesampainya di sana, dirinya sudah di sambut Caramel yang sedang duduk di teras sembari memakan biskuit bayi miliknya.


"Eh, ada bayi cantik siapa ini hm? Anaknya siapa ini? Ihh kok cantik sekali." Puji Reagan sembari berjongkok di depan Caramel.


Caramel mengerjapkan matanya, kedua sudut bibirnya mengembangkan senyuman cantiknya. Tak dapat di percaya, Caramel justru malah mengedipkan matanya.


"Idih, kedip mata. Genit kayak bapaknya yah." Seru Reagan.


Reagan meraih Caramel untuk ia gendong, beruntungnya bayi itu tak memberontak. Justru, dengan lapang hati ia di gendong oleh paman tampannya itu.


"Loh, abang!" Azalea datang dengan terburu-buru.

__ADS_1


"Kok Caramel di biarkan main sendiri sih dek, kalau hilang bagaimana?" Omel Reagan.


"Caramel lagi aktif-aktifnya, meleng dikit langsung ilang. Udah turunin bang, capek abang nanti. Udah gendut dia."


Mendengar kata sindiran dari sang mama, seakan mengerti Caramel pun menatap tak suka pada Azalea.


"Mamamamama!!!" Omel Caramel.


"Udah sini Caramel, kamu gendut. Kasihan om Reagannya capek." Azalea merentangkan tangannya. Namun, Caramel justru melengos.


"Gendut-gendut cantik kok " Puji Reagan, membuat Caramel tersenyum cerah.


Azalea bersedekap dada, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan putrinya yang centil.


"Ngapain lagi kamu kesini?" Ketus Alan yang bari saja datang dengan cangkir kopi di tangannya.


"Mas!!!" Tegur Azalea.


"Papapa!!" Melihat sang papa, Caramel justru merentangkan tangan padanya.


Dengan senang hati, Alan meraih putrinya. Tatapan putrinya jatuh pada kopi yang Alan pegang.


"Nih bayi sukanya kopi." Gumam ALan. Pasalnya, dia pernah menyuapkan kopi pada Caramel. Dia pikir, agar putrinya tak lagi penasaran. Namun, siapa sangka jika putrinya justru menyukainya.


"Caramel sama mama dulu gih, papa mau ngobrol sama om Reagan. " Alan mendekatkan Caramel pada Azalea. Menyadari hal itu, Caramel melengos. DIa tidka mau di gendong Azalea.


"Nen mau?" Ajak Azalea.


mendengar itu, langsung saja Caramel merentangkan tangan pada sang mama.


"Dasar! Susu aja cepet!" Omel Azalea sembari meng3cup pipi bulat putrinya.


"Yaudah, aku ke kamar dulu." Pamit Azalea.


Seelpas.kepergian Azalea, Alan dan Reagan saling menatap.


"Kita bicara di taman belakang." Ajak Alan.


Reagan dan Alan pun berada di taman belakang, keduanya saling menikmati kopi sembari melihat taman.


"Kapan kau akan menikah?" Tanya Alan tanpa menatap Reagan.


"Tidak tahu, aku belum menemukan wanita yang pas dengan kepribadianku. Di luar negri, aku tak suka dengan wanitanya. Terlalu matre," ujar Reagan dengan entengnya.


"Lalu, kamu mau yang seperti apa?" Tanya Alan.


"Seperti istrimu." Ujar Reagan, dan dengan santainya. Setelah mengatakan itu dia menyeruput kopinya.


"Ramah sekali jawabannya." Ujar Alan dengan tatapan tajam.


Mendengar itu, Reagan tertawa keras. "Bercanda, aku hanya ingin istri yang bisa menerima kelebihan serta kekuranganku. Itu saja, simple sebenarnya," ujar Reagan.


"Tapi ada point terselipnya, yang terpenting putih. Aku suka wanita putih." Bisik Reagan.

__ADS_1


Alan menepuk bahu kakak iparnya itu dengan lumayan kencang.


"Mau ku kenalkan dengan kucing betinaku? Dia putih, seputih salju. Mau?" Seketika, raut wajah Reagan berubah gelap.


__ADS_2