
Azalea menyampaikan keadaan Alan pada Airin. Bahwa, suaminya sudah siap bertemu kembali dengan Arumi. Mendengar hal itu, tentu saja Airin merasa bahagia. Dia segera pulang untuk menyampaikan kabar bahagia ini pada sang mama.
Sementara Reagan, dia masih stay di sana karena ingin menemani adiknya itu yang sepertinya kewalahan mengurus ketiga anaknya. Bahkan, harus mengurus Alan yang sakit.
"Abang gak pulang?" Tanya Azalea pada Reagan yang sedang mencoba menidurkan Caramel. Dia menggendongnya sembari menimang bayi itu agar segera tertidur.
"Nanti." Jawab Reagan dengan berbisik pelan.
Azalea hanya bisa menggelengkan kepalanya. Abang nya itu sudah ahli mengurus anak, tapi masih saja jomblo.
"Bang, cari istri gih. Udah cocok tuh," ujar Azalea dengan iseng.
Reagan melirik sekilas Azalea, sebelum kembali menatap Caramel yang sudah sayup-sayup menatapnya. Botol susunya sudah habis setengah, mungkin bayi itu sebentar lagi akan tertidur.
"Calonnya baru muncul, lagi otw usahanya," ujar Reagan.
"Benarkah? Siapa?! temen kerja?" Tanya Azalea dengan antusias.
"Sayaaangg!! Anaknya mau tidur itu loh! Nanti aja tanya-tanya nya." Tegur Alan yang mengamati keduanya dari brankar.
Bibir Azalea cemberut sebal, dia pun berjalan menghampiri si kembar yang sedang mengerjakan tugas sekolah mereka. Karena hari ini keduanya membolos, jadilah ada pr susulan yang gurunya berikan.
"He, kenapa kau jawabnya begini?!" Pekik Alexix saat melihat jawaban sang kembaran.
"Aoa? Emang Lexi jawabnya gimana?" Tanya Elouise, dia pun mengintip pada lembar jawaban sang kembaran.
"Jangan liat! Salah jawabanmu itu yang nomor empat!" Seru Alexix sembari menyembunyikan bukunya.
Elouise kembali melihat nomor yang Alexix maksud, keningnya mengerut dalam. Apa yang salah dari jawabannya? Elouise sudah merasa jawabannya sudah benar. Tak ada yang salah.
"Nda salah kok, bener. Kan fungsi hati tempat menemukan cinta dan kasih sayang. Memangnya hati Lexi fungsinya apa? Jul1d doang bisanya." Ketus Elouise.
Mendengar itu, sontak Alexix menarik buku Elouise. Matanya menatap tajam pada Elouise. Begitu pun sebaliknya.
"Kau ini belajar nda sih! Makanya! Kalau guru nerangin, jangan menghayal terus! Penerus m1cin dasar!" Omel Alexix.
"Heh!! Nda sadar diri kau rupanya hah?!" Seru Elouise tak mau kalah.
Alexix pun membiarkan Elouise mengomelinya. Dia justru melihat soal yang sudah adiknya kerjakan. Benar saja, kebanyakan soal Elouise menjawabnya dengan salah.
"Apa lagi ini, ngaco kali kamu tuh! Tebu dan sagu menyimpan makanan pada batangnya, sedangkan manusia menyimpan makanan pada kulkas? Str3s kayaknya kamu El," ujar Alexix.
"Situ yang str3ss! Memangnya selama ini Lexi simpen makanan dimana? Gak mungkin di lemari baju kan? Yang stres siapa? El atau Lexi?!"
__ADS_1
Sedangkan para orang dewasa, ketiganya di buat bingung dengan perdebatan keduanya. Bagaimana tidak? Jawaban Elouise dan Alexix sama-sama benar. Tapi beda konsep.
"Ya bener sih jawaban El, tapi gak gitu juga." Batin Reagan.
"Ni lagi apa coba! Apa yang di maksud dengan mamalia?" Tanya Alexix dengan berkacak pinggang.
"Maksudnya itu ...,"
"Kau jawab mama nya Lia ku timpuk mukamu pakai buku." Seru Alexix.
"Maaaa!!" Elouise beranjak dari sana, dia mengadu pada Azalea.
Begitu lah kakak pertama, tak ada sabarnya jika mengajari adiknya. Namun, Alexix seperti itu karena tidak ingin adiknya terkena masalah.
"Liat abang, matah terus. Gak rencana ganti anak apa ma?" Tanya Elouise dengan bibirnya yang cemberut kesal.
"Bukan aku yang di ganti, kamu lah itu yang di ganti. Pintar sekali jadi anak. Jual aja pa, ganti sama anak baru." Sahut Alexix yang mana membuat Elouise akhirnya menangis.
"MAAA!!! HIKS. .. HUAAA!!"
.
.
.
"Beli kopi sama jajan." Gumam Reagan sebelum menuruni mobilnya.
Reagan pun memasuki mini market itu, dia membeli barang-barang yang ia butuhkan. Setelah dapat, dia pun langsung ke kasir tanpa mencari yang lain lagi. Tapi, saat sedang mengantri. Di depannya, seorang kasir tengah berdebat dengan seorang wanita.
"Maaf mbak, belanjaannya sudah masuk. Jadi, tidak bisa di batalkan," ujar kasir itu.
"Tapi mas, saya lupa bawa dompet. Nanti saya balik lagi kok buat bayar dan ambil barangnya." Ujar wanita itu dengan kekeuh.
"Maaf mba, mungkin mbaknya bisa menghubungi orang rumah? Banyak kejadian seperti ini, dan kami lah yang harus membayar belanjaan pelanggan. Tolong kerja samanya mbak," ujar kasir itu.
Wanita itu tampak tak asing bagi Reagan. Yah, dia kembali berjumpa dengan Airin. Senyum Reagan mengembang, pria itu keluar dari barisan dan melangkah menuju Airin.
"Pake ini aja mas." Ujar Reagan sembari menyodorkan kartunya.
Airin langsung menoleh, matanya terbelalak lebar saat melihat Reagan yang berdiri di sampingnya.
"Reagan?!" Pekik Airin.
__ADS_1
"Pake aja mas, maafkan calon istri saya. Dia kadang lupa bawa saya." Gurau Reagan dengan senyuman manisnya.
Mendengar itu, Airin pun tak terima. Matanya melotot ke arah Reagan, berharap pria itu meralat ucapannya tadi.
"Baik mas, saya hitung dulu yah." Ujar sang kasir.
"Sekalian sama belanjaan ini mas, masukkan aja sama nota saya." Reagan menyerahkan belanjaannya yang hanya dua macam barang saja.
Setelah transaksi sukses, kasir itu pun kembali memberikan kartu Reagan. Lalu, dia menatap Airin yang tengah mengambil belanjaannya.
"Punya pasangan ganteng dan tajir begitu kok di lupain terus sih mba? Hati-hati loh, nanti di rebut orang." Ujar sang kasir dengan raut wajah yang sinis.
"Mas nya mau? Ambil aja, asal waras." Ketus Airin dan memutuskan segera beranjak pergi dari sana.
Melihat kepergian Airin, Reagan pun segera menyusulnya.
"Nanti uang kamu saya ganti besok." Ujar Airin dengan ketus.
"Gak usah, anggap aja itu hadiah dariku," ujar Reagan dengan santai.
"Hadiah apaan? Memangnya kamu siapa huh?" Sewot Airin sembari menatap tajam Reagan.
"Calon suamimu," ujar Reagan dengan menaik turunkan alisnya.
"Ngaco! Ingat istri di rumah, jangan jadi laki-laki murahan."
Perkataan Airin tak membuat Reagan merasa tersindir, dia justru merasa lucu dengan perkataan wanita itu.
"Istri? Saya masih belum menikah mbak," ujar Reagan sembari menahan tawa nya.
Mendengar itu, Airin pun salah tingkah. Dia menutup mulut nya, merasa malu dengan apa yang dirinya ucapkan barusan.
"Mbaknya kan udah janda, jadi boleh dong ... saya yang maju." Ujar Reagan secara terang-terangan.
"Maaf, kamu bisa cari yang masih belum pernah menikah." ujar Airin dengan cuek.
"Tapi saya tertariknya dengan yang sudah pernah menikah. Gimana dong mbak?" Ujar Reagan dengan nada lirih yang di buat-buatnya.
"Cari sana, di luaran sana banyak janda. Lagian kok aneh, dimana-mana mau nikahnya sama yang perawan. Kok sama yang janda." Ketus Airin.
Airin pun memutuskan untuk pergi tanpa pamit pada pria itu. Entah mengapa, Reagan selalu membuat Airin terjebak dengan perkataannya. Hal itu, tentu saja membuat Airin salah tingkah di buatnya.
Melihat kepergian Airin, Reagan menghela nafas pelan. Tangan kanannya ia masukkan ke dalam saku celananya. Sementara, tangan kirinya tengah membawa kantong belanjaannya.
__ADS_1
"Gadis? Mana maeeenn, janda dong. Lebih berpengalaman." Gumam Reagan dengan senyum mengembang.