Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Kenapa kau meminumnya?


__ADS_3

Azalea tertawa lepas, saat dirinya tengah bercerita pada kedua orang tuanya mengenai si kembar. Sembari menunggu suaminya kembali, Azalea memutuskan untuk menghabiskan waktunya untum bercerita mengenai si kembar.


"Keduanya memiliki sifat yang berbeda, tapi sama cerdasnya. Elouise si penurut, dan Alexix yang memiliki pendirian kuat. Sekalinya dia bilang mau, mau. Sekalinya tidak, tidak. Kalau Elouise, dia mau menurut ketika aku sudah menatapnya dengan sedih," ujar Azalea.


"Elouise punya sifat seperti mu, penyayang. Sedangkan Alexix, dia seperti ayahnya yang punya pendirian kuat. Semoga kelak, keduanya bisa saling menguatkan." Sahut Erlangga.


"Benar, tidak semua sifat anak itu sama. Walau mereka kembar, pasti berbeda. Termasuk kedua putramu." Seru Diandra.


"Ya, aku beruntung sekali memiliki mereka. Jika kalian bertemu dengannya, pasti kalian akan lelah dengan sifat keduanya yang sangat di luar nalar. Kecadelan mereka, membuatku gemas." Heboh Azalea.


Diandra tersenyum, dia mengusap kepala putrinya dengan sayang. "Lusa, ajak mereka kesini. Lagian, lusa weekend kan? Kami ingin bertemu dengannya." Pinta Diandra.


Mendengar itu, Azalea meringis. Apalagi, melihat Erlangga yang belum sepenuhnya sembuh. Keadaan pria itu juga masih belum di katakan baik-baik saja. Kakinya, belum mampu menopang tubuhnya. Di tambah luka perban di kepalanya dan luka goresan di tangannya yang belum sepenuhnya kering.


"Sepertinya tunggu daddy sembuh dulu deh mom," ujar Azalea.


"Loh, kenapa? Daddy juga ingin bertemu dengan cucu-cucu daddy. Selama ini daddy selalu mendambakan cucu. Kamu tau sendiri kalau Reagan betah sekali menjomblo," ujar Erlangga.


"Ehm itu, si kembar sangat aktif. Mulutnya tak berhenti berbicara, apalagi dengan kondisi daddy yang seperti ini. Aku takut, daddy akan ... stres." Ujar Azalea, dan mengecilkan suaranya di akhir kata.


Diandra dan Erlangga saling pandang, keduanya tak mengerti mengapa Azalea mengatakan hal tersebut. Bukannya menerima keputusan Azalea, Erlangga malah semakin penasaran dengan cucunya itu.


"Jangan lusa, bawa mereka kesini besok."


"Ha?!" Beo Azalea dengan wajah melongo.


"Bawa mereka, daddy semakin penasaran." Seru Erlangga, membuat Azalea merasa apakah dirinya salah bicara?


"Ta ... tapi ...,"


Cklek!


Semuanya sontak menatap ke arah pintu, terlihat Reagan dan Alan yang sudah kembali dari kantor polisi. Raut wajah tegang keduanya masih sangat terlihat, terlebih Alan. Azalea bisa melihat jelas jika pria itu sedang menahan amarahnya.


"Sudah? Bagaimana?" Tanya Diandra.


Reagan hanya diam, dia memaksakan senyumnya untuk terbit. Dia khawatir, akan semakin banyak masalah nantinya.


"Lea, ayo pulang. Kita harus menjemput si kembar." Ajak Alan.

__ADS_1


"Iya tapi ...,"


"Lea, pulanglah. Kasihan suamimu, mungkin dia lelah." Pinta Reagan.


Azalea menatap bingung kedua pria muda itu, seperti seakan menutup sesuatu darinya.


"Mom, dad. Kita pulang dulu, besok jika ada waktu kami akan kesini lagi." Pamit Alan dengan sopan.


"Baiklah, hati-hati yah nak. Titip putri mommy." Ujar Diandra dengan kelembutan.


Alan mengangguk, dia mendorong kursi roda Azalea keluar dari kamar itu. Sementara Reagan, dia menatap kepergian keduanya dengan tatapan yang sulit.


"Reagan, ceritakan lah. Azalea sudah pergi," ujar Erlangga dengan tegas. Pria itu seakan tahu, mengapa putranya meminta Azalea untuk pulang.


Terdengar, helaan nafas dari Reagan, pria itu melepas jaketnya dan melemparkannya ke sofa.


"Orang yang nabrak daddy, adalah paman Azalea," ujar Reagan membuat keduanya terkejut.


"Kalau begitu, bebaskan saja!" Seru Erlangga, membuat Diandra dan Reagan sontak menatapnya dengan tatapan tak percaya.


"Dad! Dia sudah menabrakmu! Kenapa di bebas kan!" Pekik Reagan.


Reagan menepuk keningnya, dia menghela nafas kasar sebelum dirinya memilih untuk duduk di sofa.


"Bukan dia yang merawatnya, tapi kakaknya. Azalea di temukan dalam kondisi membiru, kakaknya membawanya ke rumah sakit. Paman Azalea itu, dia tak peduli dengan kakaknya maupun Azalea. Yang dia pikirkan hanya uang, uang dan uang. Bahkan, dia hampir menjual putri daddy ke seorang pria tua untuk menjadi istri ke sekian."


"APA?!" Pekik Erlangga. Sedangkan Diandra, dia menutup mulutnya tak percaya.


Reagan sudah tahu, jika orang tuanya pasti akan terkejut dengan ceritanya. Dia juga begitu marah saat tahu adiknya di jual demi sebuah hutang.


"Tapi untungnya, Alan datang dan membelinya. Dengan maksud, ingin menyelamatkan Azalea. Setelah mereka menikah, Azalea tak pernah lagi bertemu dengan pamannya. Dia ... takut bertemu dengan pria itu, daddy."


"Dia juga cerita, pamannya tak memperlakukannya dengan baik. Tadi mommy dengar ceritanya, mommy sedih. Bahkan untuk makan ayam saja, dia sulit mendapatkannya." Sahut Diandra dengan mata berkaca-kaca.


"Makanya, saat kami bertemu kembali dengan paman Azalea, Alan begitu marah. Apalagi setelah tahu, jika dia juga turut menjual putrinya untuk membayarkan hutang judinya."


Mata Erlangga berkaca-kaca, tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya. Hatinya terasa seperti panas membara, dia sangat marah ketika tahu putrinya di perlakukan seperti itu.


"Bayar pengacara lain yang akan membantumu di sidang nanti. Jika bisa, jebloskan dia ke penjara seumur hidupnya. Biar dia tak lagi menyaksikan perubahan dunia. Beban dunia seperti nya, tak pantas untuk di kasihani." Geram Erlangga.

__ADS_1


Sementara di perjalan pulang, Alan dan Azalea diam membisu. Keduanya tak ada yang berbicara, hingga mobil Alan terhenti di lampu merah.


"Mas." Panggil Azalea.


Alan hanya berdehem, Azalea semakin takut di buatnya.


"Kamu marah sama aku?" Tanya Azalea.


Terdengar, helaan nafas berat dari pria itu. Lalu, tatapan pria itu beralih menatap istrinya dengan kelembutan.


"Tidak, aku tidak marah denganmu." JAwab Alan.


"Kalau begitu, kenapa kamu mendiamiku?" Tanya Azalea.


Akan kembali menatap jalan, tangannya mencengkram persneling mobilnya. Melihat cengkraman tangan Alan, Azalea pun meletakkan tangannya di atas tangan berurat suaminya itu.


"Apa ada masalah?" Tanya Azalea.


Lagi-lagi, Alan menghela nafasnya. Jujur saja, emosinya masih sulit ia kontrol. Tiba-tiba, dia melepas tangan Azalea yang memegang tangannya. Lalu, dia membuka laci dashborad dan mengambil botol obatnya. Setelah itu, Alan mengambil air dan meminum obat itu dengan cepat.


Azalea mengamati apa yang suaminya lakukan dengan tatapan terkejut. Dia sangat syok ketika melihat nafas suaminya yang terlihat berat.


"Mas." CIcit Azalea.


Alan menoleh, keadaannya sedikit tenang. Emosinya sedikit mereda. Tangannya meraih tangan Azalea dan menggenggamnya.


"Maafkan aku, jika aku membuatmu takut. Aku belum bisa mengontrol emosiku. AKu sudah coba ke psikiater, hanya saja ... belum ada perbaikan. Tapi kamu tenang saja, aku akan berusaha untuk menahan amarahku di depanmu dan anak-anak." Ujar Alan. Lalu, pria itu menarik tangan Azalea dan meng3cup punggung tangan istrinya itu.


"Kenapa?" Tanya Azalea dengan suara bergetar.


"Hm?" Sahut Alan dengan alis terangkat satu.


"Kenapa kamu harus meminumnya, kamu akan terus ketergantungan. Obat itu, semakin merusak tubuhmu." Seru Azalea dengan suara bergetar.


Alan tersenyum melihat tatapan khawatir istrinya itu. Dia merasa senang, karena Azalea kembali memperhatikan keadaannya. Sama seperti dulu.


"AKu sudah mulai mengalami perubahan Lea, biasanya aku bisa menghabiskan satu botol hanya dalam waktu satu minggu. Kini, satu botol sebulan pun belum habis. Sabar yah, perlahan aku akan melepas obat itu. Dokterku belum memintaku untuk menghentikannya, kamu tahu bagaimana jika aku marah. Maka dari itu, jangan pernah tinggalkan aku." Ujar Alan, mengakhiri perkataannya dengan menatap dalam mata cantik sang istri.


____

__ADS_1


__ADS_2