Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Melukai hati kedua putraku


__ADS_3

Azalea beranjak pergi, meninggalkan Alan yang mematung di tempat. Wanita itu berlari menaiki tangga, akan tetapi. Sebelum sampai di undakan terakhir, langkahnya terhenti seketika. Setelah dia mendapati Elouise yang berdiri di ujung tangga sembari menatapnya dengan tatapan berkaca-kaca.


"El." Lirih Azalea dengan tatapan teduhnya.


Elouise tak berkata apapun, dia berbalik dan berlari ke kamarnya. Azalea segera menyusul putranya itu. Sesampainya di kamar Alexix, betapa hancurnya Azalea melihat kedua anak kembarnya tengah menyelimuti diri mereka sembari menangis. Isakan tertahan itu sungguh menyayat hati Azalea.


"Maafkan mama." Lirih Azalea.


Azalea memilih untuk keluar, dia berjalan menuju kamar tamu yang terletak tak jauh dari kamar si kembar. Dia memilih untuk tidur di sana malam itu, hingga terbangun esok harinya.


Sedangkan Alan, dia memilih untuk masuk ke kamar rahasianya. Di sana, dia meluapkan emosinya. Dia menarik guci hingga pecah, bahkan dia menarik kursi dan membalikkannya. Beruntung, kamar itu memang di desain kedap suara. Sehingga, orang luar tak ada yang mendengarnya.


"ARRRGHH!!! KENAPA DIA?! KENAPA DIA INGIN BERCERAI DARIKU?! APA SALAHKU?! AKU TIDAK MELANGGAR APA YANG MENJADI PERSYARATANNYA SEDIKIT PUN! APA BELUM CUKUP USAHAKU SELAMA INI?!" Teriak Alan.


PRANG!!


Lagi-lagi, Alan memecahkan guci mahal yang ada di kakar tersebut. Dad4nya terlihat kembang kempis, menahan gejolak emosi yang menyesakkan. Di saat dirinya sedang mengatur nafas, tatapan matanya mengarah pada bingkai besar yang ada di hadapannya.


Alan menegakkan tubuhnya, matanya memerah berkaca-kaca. Menatap Azalea yang tersenyum di foto itu.


"Apa kau ingin menjadi seperti ibu dan cinta pertama ku, Lea? Aku sudah menjadikanmu yang terakhir, tapi kenapa kamu ingin pergi juga dariku? Apa tidak cukup mereka saja yang meninggalkanku? Kenapa kamu harus seperti mereka hiks ...." Alan menjatuhkan tubuhnya, hingga beberapa pecahan guci mengenai tangannya sampai terluka.


Alan menutup wajahnya, dia menangis terisak. Kisah kelamnya kembali teringat, suara-suara menyeramkan kembali bersemayam di kepalanya.


"Mama, Alan mau ikut mama."


"Maaf nak, mama tidak bisa membawamu. Mama tidak mau hidup susah, kau akan aman disini."


"Apa kau pikir, aku mau menikah dengan pria miskin seperti mu? Kau hanya pria b0doh yang terjerat kecantikanku. Semua wanita butuh uang, hanya modal tampan tak akan membuatku bahagia."


"Kau di pecat! Begini saja tidak bisa! Gara-gara kamu, aku rugi banyak! Kerja gak becus! Kamu gak akan bisa ganti kerugianku! Dasar pria miskin!!"


Alan memegangi kepalanya, dia menjambak kuat rambutnya. Dirinya kembali teringat ketika dia di dorong, bahkan di lud4hi oleh bos tempatnya bekerja.


"CUIH! Pria tak berguna seperti mu, tak perlu hidup."


"ENGGAAAKK!! AKU BERKUASA! AKU MENJADI ORANG YANG PALING DI SEGANI SEKARANG! AKU BISA MEMBAYAR OMONGAN ORANG-ORANG YANG TELAH MENGHINAKU! AKU BUAT DIA BANGKRUT DAN TAK AKAN BANGKIT LAGI. AZALEA, DIA HANYA SEORANG WANITA YANG TAK MAMPU BERBUAT APAPUN. AKU BISA MEMAKSANYA UNTUK TERUS DISISIKU!"

__ADS_1


Karena kelelahan, Alan tak sadar tertidur di tengah kekacauan yang telah ia buat.


Pagi hari, Azalea masuk ke kamar putranya. Berniat, ingin membangunkan keduanya. Namun, belum saja dia membangunkan keduanya. Rupanya putra kembarnya sudah terbangun, bahkan sudah bersiap dengan seragam mereka.


"Oh, sudah pada siap yah." Sapa Azalea dengan tersenyum tipis.


Elouise dan Alexix menatap Azalea dengan datar, keduanya sibuk menyisir rambutnya tampa memperdulikan keberadaan sang mama.


"Sini, mama bantu." Sat Azalea akan merebut sisir itu dari Alexix, rupanya anak itu justru menjauh.


"Oh, Lexi mau sisir sendiri yah. Gak papa." Azalea mencoba tak memasukkan nya ke dalam hati penolakan Alexix. Dia berakhir pada Elouise yang sepertinya kesulitan menyisir.


"El, sini mama ...."


"Nda ucah, El bica cendili."


"Tapi El kesulitan sayang, biar mama bantu." Bujuk Azalea.


Elouise menggeleng, dia malah berlari keluar sembari berteriak memanggil Bi Sari.


"BI CALIII!! EL MAU DI CICILIN!!" Teriak Elouise.


"Lexi, mama minta maaf. Mama ...."


"Lekci dan EL nda mau picah lagi. Kenapa kita halus milih antala mama dan papa? Apa Lekci halus di tindal mama lagi? Balu sebental mama cama Lekci, mama ingin pelgi lagi?" Tanya Alexix dengan suara bergetar.


"Lexi, kamu belum mengerti masalah orang dewasa nak. Mama gak akan pernah tinggalin kamu."


"BOHONG! MAMA PACTI MAU BALIK CAMA OM LEGAL ITU KAN?!"


"Enggak, Lexi! Mama ..."


Alexix keluar sembari membawa tas dia dan adiknya, meninggalkan Azalea yang mematung menatap kepergian kedua putranya dengan hati yang sakit.


Azalea menggeser tatapannya, disana sudah ada Alan berdiri menatapnya dengan tatapan rumit. Karena lengan kemeja pria itu di gulung hingga siku, Azalea bisa menangkap beberapa luka goresan di sana. Sejenak, wanita itu tertegun dengan apa yang dirinya lihat.


"Keputusanmu, menghancurkan hati kedua putraku. Lea." Ujar Alan dengan suara dinginnya.

__ADS_1


Azalea mengangkat wajahnya, dia menatap tepat pada mata sang suami dengan tajam. "Aku sudah lelah, untuk kali ini ... aku ingin egois memikirkan hatiku. Bukan hati siapapun."


Alan menggelengkan kepalanya pelan, "Kau ibu yang sangat egois, terimalah kebencian anak-anakmu. Aku akan membuat keduanya membencimu jika kau sampai bercerai denganku." Ancam Alan.


"Aku tidak takut! Mereka lahir dari rahim ku, aku yakin ... mereka tidak akan pernah membenciku! Mereka tidak seperti mu, yang membenci ibunya sendiri!"


.


.


.


Di rumah sakit, Erlangga sudah siuman. Dia mendapat jahitan di belakang kepalanya, dan juga tangan kanannya di gips karena mengalami keretakan tulang. Kini, Diandra tengah menyuapi suaminya sarapan. Sedangkan Reagan, sedari semalam dia tak banyak bicara. Hanya diam sembari melamun.


"Kenapa lagi dia sayang?" Tanya Erlangga, sembari melirik ke arah putranya yang duduk di sofa.


"Enggak tahu, dari semalam udah begitu." Jawab Diandra.


Setelah sarapan Erlangga habis, Diandra memberikan minum pada suaminya itu. Tak lupa, dia memeriksa infus suaminya, yang ternyata sudah habis.


"Mas, sebentar. Aku panggil suster dulu buat ganti infus kamu." Pamit Diandra.


"Pencet tombol ini aja." Saran Erlangga sembari menunjuk tombol merah di sampingnya.


"Lama nanti datengnya, udah yah. Sebentar kok." Kekeuh Diandra.


Erlangga menghela nafas pelan menatap kepergian istrinya itu. Lalu, tatapannya beralih ke samping. Seketika, dia di buat terkejut dengan kehadiran Reagan yang sudah berdiri di sampingnya.


"ASTAGA!" Pekik Erlangga sembari memegangi dad4nya. Matanya nelotot menatap raut wajah datar Reagan.


"Ngagetin aja si kamu; Kalau daddy jantungan gimana!!" Kesal Erlangga.


Tak ada respon dari sang putra, membuat Erlangga kembali menatapnya dengan kening mengerut.


"Kenapa natap daddy begitu?" Tanya Erlangga dengan bingung.


"Apa Daddy pernah selingkuh dari mommy?"

__ADS_1


"Ha?"


__ADS_2