
Persidangan pun di mulai, Reagan bersiap berdiri ketika hakim telah datang. Setelah hakim duduk, mereka pun kembali duduk. Sedari tadi, Reagan selalu mencuri pandang ke arah calon mantan istri kliennya. Lalu, tatapannya beralih pada istri dari kliennya yang tengah hamil itu.
"Di guna-guna kali yah, masa gak bisa bedain mana yang cantik ama enggak." Batin Reagan.
Reagan kembali serius, dia mengajukan keinginan kliennya pada hakim. Begitu pun pengacara dari lawannya Reagan. Keduanya saling berbicara mengenai perceraian yang akan terjadi.
"Saudari Airin Renata, apakah anda menerima segala keputusan suami anda untuk bercerai?" Tanya Hakim pada wanita yang menjadi istri dari Tuan Farel.
Sosok wanita cantik bernama Airin itu menatap suaminya sekilas, tanpa takut dia kembali mematap ke arah hakim dengan.
"Saya menerimanya," ujar Airin tegas.
Reagan mengangguk, dia membenarkan tuntutan Airin. "Bagus, teruskan." Batin Reagan.
Keputusan Airin, di terima oleh Hakim. Keduanya sudah melewati masa mediasi dan tak menemukan titik keluarnya juga. Hingga, hakim pun memutuskan bahwa perceraian keduanya di kabulkan.
"Dengan ini, kalian resmi bercerai!"
Tok!
Tok!
Tok!
Mendengar itu, Airin dan Farel berdiri, tatapan Farel beralih pada wanita yang telah menjadi mantan istrinya itu. Airin berjalan ke arahnya tanpa menundukkan kepalanya, seolah wanita itu menganggap jika perceraian bukanlah kekalahan dirinya.
Farel berpikir, jika Airin akan datang menghampirinya. Namun, di luar dugaan. Airin justru melewatinya tanpa memperdulikan keberadaannya.
"Sombong sekali dia." Desis wanita yang ada di sebelah Farel.
Mendengar itu, sontak Reagan menoleh. Dia menatap wanita yang entah mengapa, Reagan tak suka dengannya.
"Bukan sombong nona, tapi berkelas. Dia tahu, jika mendekati suami orang adalah perbuatan rendahan."
"Kau menyindir ku hah?!" Sentak wanita itu.
Reagan menyeringai, dia membereskan berkas-berkasnya. Lalu, beranjak berdiri. Matanya menatap tajam wanita yang sombong itu.
"Saya tidak menyindir anda, tapi jika anda merasa tersindir. Itu artinya, perkataan saya tepat sasaran." Celetuk Reagan, sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Sayaaangg!!" Rengek wanita itu pada Farel.
Ternyata, sedari tadi Farel tak memperhatikan perdebatan mereka. Dia sibuk melihat mantan istrinya yang menjauh pergi.
"Apa? Sudah ayo pulang, aku lelah." Ajak oria itu.
Wanita itu mendengus sebal, dia dan suaminya berjalan pergi tanpa mengucapkan terima kasih pada Reagan.
__ADS_1
"Benar-benar sampah masyarakat huuuhh," ucapnya sembari menggelengkan kepalanya.
Reagan berjalan menuju mobilnya, langkahnya terhenti karena tak sengaja dirinya melihat seorang wanita tengah berjongkok di samping motor maticnya. Dia pun memutuskan untuk mendekati wanita itu.
"Ada yang bisa saya bantu mbak?" Tanya Reagan.
Wanita itu menoleh, kedua tatapan mereka bertemu. Reagan terkejut setelah mengetahui jika wanita itu adalah mantan istri kliennya.
"Loh mbaknya kan ... istri klien saya kan?!" Pekik Reagan.
"Mantan." Ketus wanita itu.
"Eh iya, mantan. Kenapa motornya mbak?" Tanya Reagan dengan lembut, dengan sedikit modus.
"Gak bisa nyala." Jawabnya dengan singkat.
"Saya bantu boleh mbak?" Izin Reagan.
Tanpa berucap sepatah kata pun, wanita itu menyingkir. Dia membiarkan Reagan untuk mengecek motornya.
Reagan mengecek keadaan motor wanita itu, tak ada yang salah. Hanya saja, Reagan mendapati permasalahannya. Mengapa motor wanita itu tak bisa nyala.
"Mungkin mbaknya pertama kali pake matic kali yah. Kan standarnya masih turun, gimana mau nyala motornya." Batin Reagan.
Seketika, ide jail terlintas dalam benak Reagan. Dia pun merubah ekspresi wajahnya menjadi serius
"Waduh mbak, ini kayak nya aki nya rusak deh makanya gak bisa nyala." Seru Reagan.
Reagan menyeringai tanpa Airin lihat, sebab wanita tersebut sibuk dengan melihat motornya.
"Mbaknya saya antar pulang saja, nanti motornya saya suruh orang bengkel buat ambil. Gimana?" Saran Reagan.
Wanita itu menatap Reagan sekilas, "Enggak deh, saya tuntun motornya aja sampai ke bengkel," ujar Airin.
"Oo gitu, hati-hati yah mbak. Banyak begal sekitar sini, apalagi kalau nemu sasaran empuk seperti mbak nya. Untung-untung cuman di ambil motornya, kalau di gorok kan ...,"
"Saya ikut kamu deh!" Seru Airin dengan perasaan cemas.
Senyum Reagan mengembang, rencananya berhasil. Padahal, mana ada begal di sekitar sana. Apalagi pengadilan ini dekat dengan asrama polisi dan asrama tentara.
"Ayo mbak, mobil saya ada di sana." Unjuk Reagan.
Wanita itu mengangguk, dia berjalan lebih dulu. Sementara Reagan, dia berjingkrak girang.
Airin terhenti di sebuah mobil berwarna silver yang merknya sangat umum sekali di jalanan. Melihat itu, Reagan segera menarik wanita tersebut.
"Mbak!! Salah mobil!!" Pekik Reagan, sejak kapan dirinya memiliki mobil murah di rumahnya? Secara tak langsung, Airin mengira dirinya adalah pengacara sulit.
__ADS_1
"Loh, terus yang mana? Gak mungkin mobil sport itu kan?" Unjuk Airin pada mobil merah yang berada di samling mobil berwarna silver itu.
"Secara ... kamu kan cuman pengacara, bukan CEO." Ledek Airin.
Rait wajah Reagan berubah datar, dia mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam sakunya. Lalu memencetnya.
TIN! TIN!
Mulut Airin menganga, dia menatap tak percaya pada pria tampan yang dengan pedenya memakai kaca mata hitamnya. Lalu, pria itu memasuki mobilnya.
"Mau di antar pulang gak mbaak?!" Seru Reagan dari dalam mobilnya.
"Beneran mobilnya ternyata." Gumam wanita itu dengan takjub.
.
.
.
Azalea masih berusaha membuat Alan tenang, dia selalu menyempatkan diri untuk menjelaskan pada Alan tentang Arumi.
"Jangan bahas itu, mas gak suka." Ketus Alan.
"Mas, keadaan mas itu sama seperti si kembar. Posisi bu Arumi dulu seperti mas, hanya saja beda permasalahan." Bujuk Azalea.
"Tapi tetap saja, si kembar aku yang urus dengan baik tanpa kekurangan. Gak bisa kamu sama kan sama kehidupan ku dulu. Kamu gak tahu gimana rasanya tinggal di panti, padahal kamu masih punya orang tua. Kamu gak tau gimana rasanya, di rendahkan karena di buang orang tua sendiri."
Azalea menghela nafas pelan, dia meraih kepala Alan masuk ke dalam pelukannya. Sejenak, Alan membalas pelukan Azalea.
"Aku belum siap menerima kenyataan ini, tolong berikan aku waktu. Aku lelah, biarkan aku istirahat dulu." Lirih Alan dengan suara bergetar.
"Baiklah, aku berikan mas waktu untuk menerima semuanya. Tapi, mas janji. Jaga sikap mas pada mama Arumi, hm."
Dengan patuh, Alan mengangguk. Dia masih memeluk istrinya dengan erat, tatapan matanya terlihat sangat kosong.
"Maaaa!!!!"
Alan dan Azalea tersentak kaget, keduanya melepaskan pelukan mereka. Keduanya terkejut saat melihat Caramel yang sudah terbangun dan dengan mandirinya. Bayi itu turun dari sofa dan berjalan ke arahnya.
"Eh, anak mama sudah pintar turun sendiri yah," ujar Azalea menghampiri putrinya itu.
Azalea membawa Caramel ke gendongan nya, bayi itu langsung menunjuk apa yang dia mau.
"Nen?" Tanya Azalea yang di balas anggukan oleh Caramel.
"Kasihan anak mama, laper yah." Azalea pun memutuskan untuk duduk di sofa, dia pun menyusui putri kecilnya itu.
__ADS_1
Sementara Alan, dia terdiam karena memikirkan Arumi. Benarkah wanita itu ibu kandungnya? Jika iya, alasan apa yang membuat Arumi meninggalkannya bersama sang ayah?
"Apapun alasannya, kau tetap meninggalkanku." Batin Alan.