Kembar Genius Milik Ceo Galak

Kembar Genius Milik Ceo Galak
Ici dompet citu nda bica bayal halga diliku


__ADS_3

Caramel sudah selesai mandi, dia pergi ke kamar sang mama. Terlihat Erlangga tengah membujuk Azalea untuk makan. Namun, Azalea seakan tak nafsu untuk makan sesuap nasi pun.


"Telpon mas Alan Dad, mereka sudah menemukan Cala apa belum." Tanya Azalea dengan suara lirih.


"Telponnya belum aktif, mungkin mereka masih di perjalanan. Lea, tolong jangan seperti ini. Bayimu juga perlu makan. Jika Alan pulang nanti, dia pasti akan marah." Bujuk Erlangga.


"Aku kepikiran dengan Cala hiks ... bagaimana jika dia di siksa seperti waktu dulu. Aku menemukannya dalam keadaan hampir meninggal. Bagaimana jika ...,"


"Mama."


Azalea sontak menoleh, dia melihat putrinya berjalan kecil menghampirinya. Raut wajah cemas Caramel membuat Azalea menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.


"Sini sayang." Pinta Azalea.


"Mama gak makan? Mama mau makan apa? Mama cuka ketoplak nda? Biacana di lual ada yang jual." Ujar Caramel dengan penuh perhatian.


"Iya, kamu mau ketoprak? Mungkin kamu bosan makanan rumah dan Resto, biar daddy suruh maid belikan." Sahut Erlangga.


Azalea lapar, membicarakan soal ketoprak. Azalea jadi menginginkan makanan itu. Dia pun akhirnya mengangguk, membuat Erlangga tersenyum lebar.


"Bial Calamel aja yang beli cini! Uangna mana?!" Seru Caramel saat Erlangga akan segera beranjak.


Kening Erlangga mengerut, tumben sekali cucunya menawarkan diri ketika di suruh.


"Mana cini!" Pekik Caramel.


Erlangga mengeluarkan dompetnya, dia mengambil uang berwarna biru dan menyerahkannya pada Caramel.


"Nda ada walna melah?" Tanya Caramel sembari mengintip isi dalam dompet Erlangga.


"Banak walna melahna kok ya! Minta celatus, bial hubungan kita nda telputus." Seru Caramel sembari menyodorkan tangan gembulnya.


Erlangga menggelengkan kepalanya, dia memberikan uang seratus dan berniat megambil uang biru yang dia berikan tadi. Namun, saat dia ingin mengambilnya. Justru, Caramel malah menjauhkan uang itu.


"Balang yang udah di kacih, nda boleh di ambil lagi. Kata om Leagan, nanti bibilna doel." Ujar Caramel dengan tersenyum cerah


Raut wajah Erlangga berubah masam, "Reagan sudah besar, tapi ada kopiannya sekarang. Astaga ... kenapa harus ada modelan Reagan lagi dalam keluargaku." Batin Erlangga.


"Nda ucah pacang muka teltekan, Calamel nda minta cemua halta. Cudahlah, mau jajan dulu." Ujar Caramel sembari berlalu pergi.


Erlangga hanya melongo melihat kepergian cucunya itu, tatapannya beralih pada Azalea yang tersenyum menatap kepergian putrinya.


Caramel sudah sampai di gerbang, dia memanggil satpam untum membukakan gerbang. Namun, satpam tak ingin membukakannya.


"Haduh non, jangan sendiri yah. Tadi nyonya pesan. Saya suruh temenin non keluar." Ujar satpam.

__ADS_1


Tak mungkin Azalea membiarkan putrinya sendiri, belajar dari kejadian Calandra. Dia membiarkan putrinya keluar, tapi tetap dalam pantauan.


"Cendili aja bica." Ujar Caramel dengan santai.


"Katanya, kalau non kecil gak mau. Pulang lagi saja ke mansion." Ujar pak satpam


Caramel mendengus sebal, dari pada dia tidak jajan. Mending dia nurut dengan pinta sang mama.


"Yacudah, tapi jaga jalak yah. Janan dekat-dekat." Ujar Caramel.


Pak satpam menggangguk, dia meminta temannya untuk bergantian berjaga. Sementara dia, mengikuti Caramel dari belakang.


Melihat ada gerobak ketoprak, Caramel bergegas berlari menghampiri. Pak satpam pun turut berlari mengejar Caramel.


"Abang! Ketoplakna catu! Janan pedas, nanti adekna Calamel kepanacan dalam pelut." Seru Caramel.


"Oke, siap neng." Seru Penjual ketoprak.


Sembari menunggu, Caramel menoleh ke sana dan kesini. berharap ada pedagang lain, tapi tak dia temukan.


"Nda ada gelobak lain?" Tanya Caramel pada Penjual ketoprak itu.


"Sekarang masih pagi dek, siangan nanti baru banyak yang datang jualan." Jawabnya.


Sembari menunggu, Caramel duduk di kursi yang di sediakan oleh pedagang ketoprak itu. Pak satpam pun tetap memperhatikan Caramel. Hingga, ada seseorang yang menghampiri pak satpam dan menanyakan Alamat. Sehingga, dia tak lagi memantau Caramel.


Caramel melihat kucing berwarna putih yang sangat cantik, persis seperti kucingnya yang ada di mansion. Dia pun menghampiri kucing itu.


"Ih, milip ci gemblot." Pekik Caramel sembari mengelus kucing itu.


"Kau suka kucingnya? Bawalah."


Caramel terkejut, dia mendongakkan kepalanya. Seorang oria berkaca mata hitam menatapnya dengan tersenyum lebar.


"Ampil copot jantung Calamel tau nda!" Pekik Caramel dengan kesal.


Pria itu hanya menatap Caramel tanpa berniat melakukan apapun.


"Napa liat-liat? Kucingna citu ini?" Tanya Caramel sembari membawa kucing itu ke gendongannya.


"Kamu bisa membawa kucingnya." Ujar pria itu dengan tersenyum menyeringai.


"Tapi, kau harus ikut denganku. Di rumahku, masih ada banyak kucing yang seperti itu. Apa kau mau?"


Mendengar itu, Caramel menggeleng. Dia menurunkan kucingnya dan kembali menatap pria itu.

__ADS_1


"Nda bica di cogok kucing, Calamel." Ujar Caramel.


"Ha? Maksudnya?" Pria itu sepertinya tak mengerti dengan kecadelan Caramel.


"Calamel cukana duit. Money money." Ujar Caramel sembari menggesek jari telunjuknya dan jempolnya.


Pria itu mengerti, dia mengeluarkan dompetnya dan menunjukkannya pada Caramel.


"Aku punya duit banyak, ikutlah denganku." Ujar pria itu.


Caramel mengintip isinya, "Heleh, nda ada banakna. Kaltu hitamna cuman catu. Punya papa Calamel ada banak. Cudahlah, Calamel nda mau. Ici dompet citu nda bica bayal halga diliku." Caramel kembali ke penjual ketoprak itu.


Pria itu mengamati Caramel dengan tersenyum, dia sempat menggelengkan kepalanya.


"Tuan, bagaimana? Kita jadi menculiknya?" Tanya anak buahnya.


Pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah jhon, paman dari Jessica. Dia mengamati Caramel yang sudah menyelesaikan pesanannya dan berlalu pulang.


"Anak itu sangat cerdas. Bahkan, bujukan ku tak dia hiraukan. Benar-benar anak yang pintar. Tapi, sepertinya akan sulit mendapatkannya. Malam ini, kita harus kembali ke Jepang. Jessica sudah tertangkap, tak menutup kemungkinan para polisi juga ikut mencari kita. Mungkin, saat dia besar nanti, kita akan bertemu lagi dengannya." Ujar Jhon dengan mengangkat sebelah sudut bibirnya. Menatap punggung kecil Caramel yang semakin menjauh.


.


.


.


Pesawat yang Alan dan lainnya tumpangi sudah sampai di bandara indonesia. Lucian menyiapkan helikopter untuk membawa adiknya segera ke rumah sakit. Sementara yang lainnya, akan menyusul dengan sebuah mobil.


Saat Lucian akan membawa adiknya masuk ke dalam helikopter, Arley datang untuk menahannya. Pria itu menatap Lucian dengan mata berkaca-kaca.


"Kak, bisakah aku ikut denganmu? Aku ingin bersama dengan istriku." Ujar Arley.


"Kau pikir, setelah apa yang terjadi. AKu akan menyerahkan kembali adikku, pada oria pembohong seperti mu? Gak akan!" Sentak Lucian, dia sedikit mendorong tubuh Arley untuk menjauh.


Helikopter yang membawa Lucian dan Sherly sudah mengudara. Arley hanya menatap kepergian helikopter itu dengan air kata yang jatuh di pipinya.


"Ini."


Arley menunduk, dia mendapati sosok bocah menggemaskan yang menyodorkan sebotol air padanya.


"Kau." Arley berjongkok di hadapan Calandra, matanya menatap putra yang selalu dia tunggu kehadirannya.


Reagan akan menghampiri putranya, dia tak bisa membiarkan Arley mendekati Calandra. Saat Reagan ingin beranjak, Alam justru menahannya. Iparnya itu menatap Reagan dengan menggelengkan kepalanya.


"Jangan egois, Calandra perlu tahu siapa orang tua kandungnya. Serahkan semua keputusan pada Calandra, dia berhak menentukan hidup nya " Ujar Alan yang mana membuat Reagan kembali menatap ke arah ayah dan anak yang pernah terpisah oleh jarak.

__ADS_1


__ADS_2