
"Ayo nyonya, terus dorong."
Airin mengalami pecah ketuban saat di acara perayaan hari lahir Caramel. Tampak, saat ini Airin tengah mengejan untuk mengeluarkan bayinya. Reagan dengan setia berada di samping istrinya dan terus menggenggam erat tangan istrinya itu.
"Ayo, dikit lagi nyonya. Dorong terus!" Seru sang dokter.
Mendengar perkataan itu berulang kali, membuat Ragan pun kesal. "Terus terus lagi! Kapan bayinya keluar dok!! Gak lihat apa, istri saya sudah lelah!" Kesal Reagan.
"Sabar tuan, ini baru kepalanya." Sahut sang dokter.
"Sabar terus! Istri saya bisa pingsan lama-lama kalau begini! Di tarik aja apa gak bisa?!" Pekik Reagan dengan tatapan tajam.
"Kalau tuan terus bicara, lebih baik tuan keluar saja." Pinta sang dokter.
"Kau!!" Reagan menatap dokter itu tak percaya.
"Suster siapkan gunting, kita harus memperlebar jalan lahirnya agar bayinya cepat keluar." Terang sang dokter.
Mendengar itu. seketika Reagan membelalakkan matanya. Dia menghentikan seorang suster yang akan memberikan gunting itu pada dokter yang tengah menangani istrinya.
"Tar dulu! Itu gunting buat apa?! Kalau jalan lahirnya di potong jadi besar dong dok! Gak! Gak bener ini rumah sakit! Nyusutnya gimana nanti! Dokter gak kasihan sama saya?!" Lekik Reagan dengan kesal.
Airin yang tengah kesakitan pun turut merasa kesal, "MAS! KAMU KELUAR AJA DEH!! PANGGIL MAMA BUAT NEMENIN AKU!!" Teriak Airin.
"Sayang! Kok kamu gitu sih!! Kan aku cuman ...,"
"OEKK!! OEKK!!"
Reagan terhenyak sejenak saat dirinya mendengar suara bayi yang begitu kencang menerpa pendengarannya. Dengan keadaan yang masih syok, Reagan berbalik. Dia menatap dokter yang tengah menggendong bayinya.
Air mata Airin luruh, inilah momen yang dirinya tunggu selama bertahun-tahun. Kini, dirinya resmi menjadi seorang ibu. Senang? Tentu saja. Airin sungguh bahagia atas kelahiran bayinya. Sakitnya telah terbayarkan dengan mendengar suara tangisan sang anak.
"Selamat, tuan nyonya. Bayinya laki-laki." Ujar Dokter sembari membawa bayi itu pada Airin.
Reagan masih syok, dia tak tahu harus bagaimana. Matanya menatap dokter yang tengah memasukkan tangannya ke arah jalan lahir bayinya. Keterdiaman Reagan buyar, dia langsung memekik keras.
"DOK!! KENAPA DI MASUKIN TANGANNYA!!" Pekik Reagan.
"Di bersihkan tuan." Jawab dokter itu dengan santai.
Dokter itu pun mengeluarkan sesuatu yang tersisa tertinggal di dalam rahim hingga bersih. Lalu, dia mengambil benang dan jarum untuk kembali menjahit robekan yang telah dia buat.
"Terus itu ngapain lagi dok?!" Pekik Reagan.
"Di jahit tuan," ujar dokter itu
"Oh di jahit, biar rapet lagi ya dok?" Ujar Reagan dengan tersenyum sumringah.
Dokter itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia mulai menjahit robekan yang ada di jalan lahir. Tanpa bius, membuat Airin pun meringis kesakitan. Bahkan, menurutnya sakitnya melebihi saat dia melahirkan putranya.
"Pelan-pelan dok! Satu satu dulu! Istri saya kesakitan!" Pekik Reagan dengan panik saat melihat Airin kesakitan.
Dokter hanya diam, dia masih fokus dengan kerjaannya. Setiap jarum yang masuk, Reagan hanya bisa meneguk kasar lud4hnya.
__ADS_1
"Dok, gak bisa di bius dulu? Itu sakit loh dok." Ringis Reagan.
Mungkin karena kesal, dokter itu menghentikan kegiatannya.
"Jika anda terus mengoceh, lebih baik anda keluar tuan. dari pada saya salah jahit," ujar dokter itu.
"Eh jangan dok! Yaudah deh saya keluar, jangan di jahit semua yah dok! Sisain buat saya." Ujar Reagan sebelum dirinya beranjak pergi meninggalkan ruangan persalinan itu.
Selepas kepergian Reagan, dokter itu pun mengajak Airin mengobrol. "Suami anda sangat aneh yah nyonya," ujar dokter itu.
"Iya dok, mau gimana lagi. Pilihannya cuman dia si." Kekeh Airin.
Setelah keluar dari ruangan, Reagan sudah di serbu pertanyaan oleh mertua dan ibunya. Pria itu hanya menghela nafas lelah.
"Sudah lahir mom, bayinya laki-laki." Ujar Reagan.
"YESS!!" Pekik Diandra dengan senang.
"Terus Airin gimana?" Tanya Arumi yang penasaran dengan keadaan putrinya.
"Lagi di jahit." Jawab Reagan
Sepertinya Reagan telah kehabisan tenaga, dia berjalan lesu menuju kursi tunggu dan duduk di sana. Alan yang melihat Reagan seperti itu pun tertawa kecil. Dia menghampiri iparnya itu dan duduk di sebelahnya.
"Bagaimana rasanya? Benarkan kataku, jantungmu pindah ke lambung?" Ledek Alan.
Dengan tanpa tenaga, Reagan menoleh pada Alan. "Bukan pindah lagi, sempat keluar jantungku lan. Mungkin dia menjadi putra bungsuku. Rasanya, aku sudah tidak sanggup melihat Airin melahirkan lagi. Apa kau tahu? Dia bahkan di jahit tanpa bius. Itu sangat mengerikan. Di sunat saja masih di berikan bius, bahkan di bius banyak sekali. Tapi lihat wanita, sama sekali tidak di bius." Lirih Reagan.
Reagan berdiri, dia berjalan mendekati Diandra. Semua orang menatap heran pada Reagan, terlebih Diandra. Tiba-tiba saja pria itu memeluk Diandra, yang mana membuat semua orang syok melihatnya.
"Maafkan Reagan mom kalau selama ini Reagan sering bantah mommy, buat kesal mommy, buat mommy sedih, buat mommy marah juga. Ternyata, perjuangan mommy melahirkan Reagan sangatlah sulit hiks ... maaf kan Reagan mom."
Semua orang mengerti, mereka membulatkan mulut mereka. Diandra langsung menepuk bahu lebar putranya itu. Dia juga turut menitikkan air mata karena mendengar perkataan Reagan.
"Mommy selalu memaafkan semua kesalahan mu nak. Berbanggalah, sekarang kamu telah menjadi ayah dari dua orang putra." Lirih Diandra.
Reagan dan Diandra melepaskan pelukan mereka, keduanya sempat terkekeh karena menangis bersama. Biasanya, kedua orang itu selalu berdebat dan Diandra yang biasanya sering mengomel. Tapi kali ini, keduanya menangis bersama.
"Mommy." Panggil Reagan dengan suara serak nya karena habis menangis.
"Hm?" Sahut Diandra yang fokus mengeringkan pipinya yang basah dengan tisu.
"Gak ada niatan mau kasih Azalea adik? Kan mommy baru punya dua."
Pertanyaan Reagan, tentu membuat semua orang melongo. Kecuali Diandra, dia langsung memukul putranya dengan tas mahal miliknya.
"KAMU GAK LIAT MOMMY UDAH TUA HAH? SEMBARANGAN AJA KAMU!!" Pekik Diandra.
"Kan cuman nanya doang mommy, dimana salahnya." Ringis Reagan.
.
.
__ADS_1
.
Sementara itu, di dalam sebuah tempat yang gelap. Terlihat, seorang wanita yang memakai baju tahanan tengah menatap tembok. Tangannya menggambar sesuatu di tembok itu, hingga sebuah bunyi gesekan besi membuat kegiatannya terhenti.
"Tahana 156, ada yang menjenguk anda." Ujar seorang polisi sembari membuka gembok sel tahanan.
Tap!
tap!
Tap!
Terdengar, suara langkah kaki. Suara itu terhenti setelah sampai di depan sel tahanan. milik wanita itu. Suasana semakin mencekam, keadaan semakin menakutkan
"Jessica." Panggil seseorang.
"Om jhon, bagaimana keadaan putriku dan suamiku?" Tanya wanita itu yang tak lain adalah Jessica.
Jhon mendatangi jessica yang kini menjadi tahanan. Dia tak merasa kasihan dengan keadaan Jessica sekarang. Justru, jhon datang dengan tersenyum menyeringai.
"Aku datang, untuk menjemput perjanjian kita. Jessica."
Degh!!
Jantung Jessica berdegup kencang, perlahan dia menoleh ke arah Jhon. Dirinya pikir, jhon ada di luar sel nya. Betapa terkejutnya dia saat melihat jhon yang sudah ada di hadapannya.
"Om, a-aku ...."
SETT!!
.
.
Di kamar putrinya, Arley tengah menemani putrinya tidur siang. Sedari tadi dia mengelus rambut panjang putrinya, hingga putri kecilnya itu tertidur.
Dertt!!
Dertt!!
Ponsel Arley berdering, tanpa melihat siapa yang menelponnya Arley segera mengangkatnya.
"Halo?" Ujar Arley sembari beranjak perlahan dari ranjang putrinya.
"Tuan, kami ingin mengabarkan. Jika, tahanan atas nama Jessica. Telah meninggal dunia."
Deghh!!
"A-apa?!"
____
bijaklah dalam membaca yah kawan, jangan tiru!!
__ADS_1